Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 10


__ADS_3

Selena berjalan ke kelasnya. Angkasa sudah datang dan hanya duduk saja sambil memainkan ponsel. Gadis itu menaruh tasnya kemudian duduk di kursinya yang tepat di depan Angkasa. Pria itu hanya memberikan senyuman sebagai sapaan darinya.


“Sa !”


Angkasa melihat ke arah Selena. “Apa?”


“Ke kantin, ya?” Ajak gadis itu. Angkasa tampak malas, Selena pun bisa melihat itu. Angkasa malas ke kantin karena mungkin ia akan bertemu dengan Ruby yang kemarin menolak cintanya.


“Malas. Kamu sendiri saja.”


Selena merebut ponsel itu dari tangan sahabatnya. Wajahnya berubah cemberut. Angkasa tahu Selena pasti kesal.


“Kenapa diambil?” Tanya Angkasa, namun tak diberikan jawaban. Pria itu menghela napas. “Oke, ayo !”


Senyum Selena mengembang seketika. Angkasa juga ikut tersenyum. Bagaimana pun pria itu adalah sahabatnya, jadi Selena merasa harus menghiburnya ketika sedang seperti ini. Seseorang yang baru saja patah hati mungkin bisa saja terlarut dalam kegalauannya jika dibiarkan menyendiri begitu saja.


Di kantin Angkasa hanya memesan jus wortel kesukaannya. Itu pun ia minum sambil melamun. “Segitunya ya patah hati?”


Celetukan dari Selena membuat Angkasa tersadar. “Tidak. Siapa juga.”


Tingkah Angkasa justru membuat Selena semakin ingin menggodanya. “Ada yang gengsi.”


“Kita bahas yang lain saja.” Kata Angkasa.


“Kenapa?” Tanya gadis itu.


“Kamu mana mengerti sakit hati, kamu 'kan tidak pernah jatuh cinta.” Kini giliran Angkasa yang meledek sahabatnya itu. Selena tertawa, namun ia juga berpikir, apakah perasaannya yang selalu perih kala melihat Angkasa bersama gadis lain itu dikarenakan ia telah jatuh cinta pada pria itu. Jatuh cinta pada Angkasa.

__ADS_1


Di tengah obrolan itu, tak terasa bel penanda bahwa jam pelajaran segera di mulai pun menggema ke seantero sekolah. Mereka kembali ke kelas dan berencana kembali ke kantin di jam istirahat. Seperti biasanya.


Mereka berdua tak begitu mengalami kesulitan dalam pembelajaran, jadi mereka bisa santai-santai saja di tengah teman-teman lainnya yang stres melewati mata pelajaran Fisika. Kadang Selena menengok ke belakang, ke Angkasa, takut-takut sahabatnya itu masih melamunkan masalah kemarin. Namun nyatanya tidak, justru Angkasa heran mengapa Selena menengok ke belakang.


Di jam istirahat, mereka memang kembali ke kantin. Hanya mengobrol dan meminum jus kesukaan masing-masing hanya untuk melewatkan jam istirahat. Di tengah obrolan itu Valdo datang dan duduk di sebelah Selena.


“Hai, Val !” Sapa Selena.


“Hai juga cantik.” Sapaan bernada gombal itu pun kontan membuat Angkasa tak tahan untuk tak meminta Valdo jauh-jauh dari Selena.


Angkasa melayangkan tatapan tajam. “Pindah.”


Valdo yang kesal itu pun mau tak mau pindah sekarang ke sebelah Angkasa. “Ya ampun, Sa, segitunya tidak terima aku dekat-dekat sama dia. Kamu cinta sama Selena?”


Alhasil Valdo justru mendapat jitakan dari teman main basketnya itu. Keras pula sampai membuatnya meringis. “Sakit, Angkasa !”


“Jangan bicara sembarangan. Dia sahabatku, jadi wajar aku tidak mau dia diganggu sama pria sepertimu.”


“Sel kita jadikan ke lapangan basket?” Tanya Angkasa.


Valdo semakin kesal dibuat Angkasa. “Aku baru saja datang.”


Selena dan Angkasa terkekeh. Karena tak tega, Selena pun mengajak serta Valdo. “Ayo Val ikutlah.”


Sesampainya di tengah lapangan mereka bertiga membuat kompetisi siapa yang menang, dia berhak ditraktir makan siang di kantin di istirahat kedua nanti.


Selena termasuk gadis yang jago dalam bermain basket, meski dia tidak mau ikut turnamen atau perlombaan ketika ada pekan olahraga, dia hanya mengatakan dia bermain basket hanya untuk bersenang-senang saja.

__ADS_1


Lima menit setelah berlomba merebut bola dari Angkasa, Selena menghentikan aktivitasnya dan membuat Valdo yang menyadarinya heran. Angkasa masih belum menyadari itu dan sibuk memasukkan bola ke ring.


Selena menarik tangan Valdo menjauh dari lapangan.


“Kalian mau kemana?” Teriak Angkasa. Sebelum dia berencana menyusul dua orang yang pergi tanpa kata itu pun, sudah ada suara yang menghentikan langkahnya.


“Angkasa !”


Angkasa berbalik. “Ruby?”


Orang itu adalah Ruby yang membuat Selena pergi dari lapangan, bahkan mengajak serta Valdo yang tak tahu apa-apa. Setelah dirasanya sudah cukup jauh, Selena baru melepaskan tangan Valdo dan duduk di kursi terdekat. Dari tempat itu mereka masih dapat melihat Angkasa dan Ruby di tengah lapangan.


“Kenapa kamu pergi karena ada Ruby?” Tanya Valdo. Selena tak memberikan ekspresi apapun meski matanya masih terus tertuju kepada dua objek yang jauh itu.


“Mereka harus bicara.” Jawabnya.


Valdo kemudian terkejut ketika matanya melihat sendiri bagaimana Angkasa menggenggam tangan Ruby. Bahkan dari jarak mereka, senyuman manis Ruby dapat tertangkap jelas.


“Mereka?”


“Mereka pasti sudah bersama.” Ucap Selena santai. Valdo lebih terkejut lagi dengan apa yang dikatakan Selena. Dia bisa tahu apa yang dipikirkannya, batin Valdo.


“Bagaimana bisa, Sel? Lalu kamu?”


Selena hanya tersenyum tipis. Valdo memang mengetahui bagaimana perasaan Selena terhadap Angkasa, ketika itu memang Selena tak yakin dengan perasaannya, namun Valdo benar-benar tak mengira bahwa gadis ini merelakan cintanya dimiliki yang lain.


***

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?


__ADS_2