
Angkasa berlari pergi meninggalkan Ruby dan langsung mengejar jejak langkah istrinya. Selena begitu cepat hingga taksi yang dinaiki Selena telah pergi. Angkasa mengacak rambutnya dengan frustasi dan menyalakan mesin mobil untuk meninggalkan area restoran.
Pikiran Angkasa sangat kacau membayangkan hal terburuk yang mungkin bisa saja terjadi. "Tidak, Sel. Kamu tidak akan pergi kemana pun."
Ia hampir sampai ke rumah dan melihat sebuah taksi baru saja singgah di depan rumahnya. Ia hanya bersyukur kalau Selena pulang ke rumah. Ia mencari Selena ke kamar, sebelum masuk ia menghela napas dan tak ingin mendapati jika istrinya akan kembali terpuruk seperti saat kepergian orang tuanya kemarin. Ia sungguh tak sanggup lagi jika Selena begitu. "Sel..."
Selena yang duduk di pinggir tempat tidur sambil menangis tak merespon panggilan Angkasa yang berjongkok di depannya. Isak tangis Selena tak mau berhenti. "Sel, aku tahu ini berat untuk kamu terima. Pasti sangat menyakitkan, tapi rasa bersalahku juga terus saja menyiksaku. Ya, semuanya benar. Aku dan dia memang kembali bersama sebelum pernikahan kita dan aku menyembunyikannya darimu, tapi perasaanku saat ini bukan sebuah kebohongan. Aku sungguh mencintaimu, aku sungguh tak ingin kehilanganmu karena kebodohanku ini."
__ADS_1
Selena berusaha menenangkan diri. Ia mencoba menguasai diri dan menatap ke arah samping, kemudian menumpu manik penuh sesal Angkasa. Kedua tangan mungilnya bahkan mengusap pipi Angkasa yang juga dibasahi air mata. "Yang kulakukan hanya mencintaimu, jauh sebelum ini dan kau sudah tahu itu. Tapi bukan berarti aku sangat ingin menikahimu dengan keegoisanku, aku juga tidak menginginkannya karena aku rasa kita takkan berhasil. Lalu, hari itu benar-benar datang dan kita menjadi begitu asing bahkan untuk diri kita sendiri."
Angkasa hanya menyimak kalimat-kalimat Selena. Selena masih saja tersenyum ketika membahas hal yang menyakitkan dan membuat Angkasa semakin sakit pula mendapat senyuman seperti itu. "Tapi kita bisa melewatinya, bahkan sampai aku mendengar kata-kata yang selama ingin aku dengar. Kau bilang kau mencintaiku juga, apa aku sedang bermimpi, itu yang aku pikirkan. Bahkan sampai kemarin, tidak, sampai di restoran sembariku menunggumu aku masih tidak menduga kalau kita sampai ke titik ini."
Angkasa tak kuasa. Ia ingin memeluk Selena dan mengatakan semuanya akan kembali baik-baik saja. Tapi, ia ingin Selena menumpahkan segala perasaannya yang tertahan. Ia bahkan siap jika Selena akan memaki dirinya saat ini. "Aku salah. Kehadiranku ternyata membuat luka di hati orang lain. Aku menyakitinya dengan cara bersamamu, juga dengan cara aku menceritakan tentangmu kepadanya, bagaimana kebersamaan kita. Aku yang salah di sini. Seharusnya aku mengetahuinya sejak awal hubungan kalian."
Angkasa akhirnya melepas tangan Selena dari wajahnya. "Sudah, Sel. Lebih baik kamu maki aku sekarang, tapi jangan seperti ini. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, aku yang seharusnya disalahkan. Aku mohon, kamu jangan pergi."
__ADS_1
Hening. Angkasa bingung mendengar perkataan istrinya yang tak terduga. Angkasa mengingat-ingat. "Aku tidak mengerti."
Selena melepaskan pelukannya dan tersenyum manis dengan mata sembab. Angkasa berusaha memahami semua itu. "Malam ini sepertinya langitnya akan indah dipenuhi bintang-bintang. Apa sebaiknya kita melihatnya dari atas balkon dengan teleskopmu?"
Senyuman Angkasa mengembang dan mengangguk pelan berkali-kali. Namun, matanya masih saja berkaca-kaca. "Ya, mari kita menghabiskan malam bersama bintang-bintang di atas sana."
***
__ADS_1
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next?