
Angkasa pulang ke rumah dengan wajah murung. Sama sekali tak ada senyuman atau semangat seperti tadi pagi pria itu menjahili istrinya, Selena. Sudah jam sebelas pagi, sudah menjelang siang ketika Angkasa pulang. "Apa kamu sudah makan?"
Pertanyaan hangat itu rupanya tak didengar oleh Angkasa yang pikirannya masih belum sepenuhnya melupakan pembicaraan dengan Ruby di kafe. Namun, matanya jelas tertuju ke mata Selena. Mata yang menatap dengan penuh rasa bersalah.
Baru setelah Selena menggoyangkan tangannya ke kiri dan ke kanan di depan matanya, Angkasa tersadar. "Kenapa melamun? Kamu ada masalah?"
Pria itu hanya tersenyum masam, lalu memeluk Selena. Selena bahkan merasakan betapa rapuhnya Angkasa saat ini, mungkin pekerjaannya sedang ada masalah, batinnya. Untuk sekarang yang lebih penting adalah agar Angkasa baik\-baik saja. Dan ia sangat yakin kalau suaminya bahkan tidak menyentuh makanan sejak pagi tadi.
Tangan Selena membelai lembut bahu Angkasa. "Maaf."
"Apa kamu membuat kesalahan? Kenapa harus minta maaf?" Tanya wanita itu. Ia merasa Angkasa menjadi aneh setelah mendapat pesan tadi pagi.
"Aku pasti membuatmu khawatir." Pelukan itu melonggar. Selena mengangguk pelan. "Bisa aku istirahat? Entah kenapa aku sangat lelah."
Selena membiarkan Angkasa untuk beristirahat. Walau ia sangat ingin mengetahui apa yang tengah terjadi terhadap Angkasa. Dengan melihat kondisinya sekarang sudah cukup membuat wanita itu juga bersedih.
__ADS_1
***
"Hei, jangan cemberut begitu. Jelek." Ejek Angkasa di sela-sela Selena mengaduk bubur untuk menyuapinya. Sejak Angkasa pulang dari kafe, pria itu hanya tidur sampai sore, tentunya dengan perut kosong dan dengan hal-hal yang memusingkan kepalanya.
Selena mendesah lesu. "Masih sempat\-sempatnya kamu bercanda. Kamu tahu tidak aku sangat khawatir kamu tiba\-tiba demam tinggi?" Mata wanita itu bahkan berkaca\-kaca. Ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tak jatuh di hadapan Angkasa yang sedang sakit.
Angkasa hanya bisa mencoba menenangkan Selena dengan mengelus tangannya yang kini sedang memegang sendok. "Aku minta maaf. Aku hanya tidak mau kamu merasa bersalah. Aku hanya kelelahan."
Tak dipungkiri Angkasa sangat takut saat ini jika suatu hari nanti ia melukai Selena. Takut Selena akan menangis seperti ini dan mungkin lebih dari ini. Perasaan ini selalu membayanginya, perasaan yang tak dapat ia atasi. Angkasa menyapu butiran kristal bening yang membasahi pipi Selena. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Jangan menangis seperti ini. Aku tidak menyukainya."
Namun, tangis Selena justru semakin kencang. Tangan Angkasa akhirnya meraih Selena ke dalam dekapannya untuk menenangkan istrinya tersebut. Sambil tangannya mengusap rambut wanita itu. "Sel, aku memang pengecut. Tak pernah sehari pun aku membahagiakanmu selama menjadi istriku. Justru kamu sering menangis. Entah berapa kali sudah aku menyakitimu, kamu masih saja sangat mengkhawatirkan keadaanku. Maafkan aku, Sel."
__ADS_1
***
Setelah mendapatkan pesan dari Ruby, Angkasa segera pergi dengan melajukan motornya. Sepanjang perjalanan otaknya terus saja berpikir apakah yang ingin Ruby bicarakan kepadanya pagi ini. Sesampainya di kafe, Angkasa langsung mencari keberadaan wanita itu. Ia menemukannya. Langkahnya sempat tercekat. Seketika ia merasa bersalah menemui Ruby dengan cara membohongi Selena. Sekarang wanita itu sudah berada di hadapan Angkasa. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Aku lelah, Sa. Untuk terus dibayang-bayangi rasa bersalah terhadap Selena." Angkasa bergeming. Ia tak tahu bagaimana harus menanggapi apa yang Ruby katakan.
Sama sekali Angkasa tak memberikan respon apapun terhadap apa yang telah dikatakan Ruby. Bahkan setelah wanita itu berbicara panjang lebar. Hingga akhirnya Ruby memutuskan pergi setelah ia rasa Angkasa benar-benar mengabaikannya. Wanita itu tak meminta lebih dari seorang Angkasa Bachtiar. Ia hanya ingin mengakhiri apa yang sudah mereka mulai.
Sebelum ditetapkan perjodohan antara Angkasa dan Selena, pria itu menemui mantan kekasihnya yang pernah menjalin hubungan di masa putih abu-abu. Ruby, wanita yang sudah beberapa tahun ini tak pernah ia temui terhitung setelah kelulusan SMA.
Mereka kembali dipertemukan di perusahaan milik keluarga Angkasa. Keduanya benar-benar tak menyangka akan dipertemukan dengan status wanita itu menjadi sekretaris barunya. Sejak saat itu, hubungan mereka yang sempat renggang kembali membaik. Dan tepat seminggu sebelum Angkasa mengetahui perjodohannya dengan Selena, pria itu memberanikan diri untuk kembali menyatakan perasaannya terhadap Ruby.
Sekarang Ruby ingin mengakhiri semua yang mereka mulai, sebelum Selena mengetahui semuanya dan itu akan sangat buruk. Ruby sama sekali tak berniat ingin merebut Angkasa ketika ia mengetahui pernikahan keduanya. Itu memang situasi yang sulit bagi Ruby, karena bagaimana pun Selena juga sahabatnya. Namun, justru Angkasa yang selama ini tak ingin melepaskan Ruby. Ia tak ingin mengingkari janjinya dulu yang takkan melepaskan tangan Ruby lagi.
Karena itulah Angkasa selalu menghindar dari Selena dan menyakitinya terus menerus sejak awal pernikahan. Lalu sekarang, rasa bersalahnya semakin besar manakala mengetahui Selena masih sangat memedulikan dirinya. Dan sekarang ia juga tak bisa melepaskan Selena, bukan karena ia terikat janji dengan mendiang Ayah mertuanya, melainkan ia tak ingin kehilangan Selena untuk alasan apapun. Meski besar kemungkinan Selena akan pergi jika mengetahui apa yang telah ia dan Ruby sembunyikan.
***
__ADS_1
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next?