Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 28


__ADS_3

Angkasa sudah begitu rapi dengan pakaiannya. Bahkan tanpa polesan apapun di wajahnya, ia sudah tampak luar biasa. Bahkan sekarang penampilan Angkasa membuat Selena hampir sesak nafas pagi hari. Wanita itu terkejut karena kemarin Angkasa masih demam, tapi sekarang Angkasa sudah sangat rapi akan pergi ke kantor.


"Kamu mau pergi sekarang?" Tanya Selena yang sempat terkagum di depan pintu kamar Angkasa. Bahkan ia baru akan turun ke lantai bawah untuk membuat sarapan.


Mereka menuruni anak tangga bersama sambil Angkasa merapikan kancing lengan baju. "Iya, hari ini banyak sekali pekerjaan yang belum aku selesaikan. Aku rasa aku akan pulang larut malam."


"Aku akan membuat sesuatu dengan cepat. Kamu tunggulah dulu. Ya?" Ucapnya sambil mencari bahan-bahan makanan. Pria itu setuju dan memeriksa file di tablet. Angkasa begitu fokus pada benda pipih itu.


Di sela-sela makan mereka, Selena memerhatikan setiap gerak Angkasa yang mengunyah makan sambil sesekali menengok ke layar tablet yang menyala. Wanita itu memutar bola matanya dengan malas, bahkan sahabatnya itu tidak lagi seperti dulu dalam hal menikmati hidangan di hadapannya.


"Aku sudah selesai." Ucap Angkasa yang langsung beranjak. Dengan lekas Selena ikut mengantarkan Angkasa ke luar sana.


"Sa, siang ini kita bisa makan di luar?" Tanya Selena hati-hati. Angkasa berhenti di depan pintu mobil.


"Kenapa?" Tanyanya. Selena berpikir sejenak. "Tapi, aku hari ini sibuk sekali."


"Tapi..."

__ADS_1


Angkasa masih menunggu kalimat Selena. Tapi wanita itu urung melanjutkannya. "Tak apa. Lain kali saja."


***


Siangnya Selena berangkat ke sebuah restoran untuk menemui seseorang. Dia sungguh merindukannya, sebab sudah begitu lama mereka tidak bertemu. Orang itu rupanya telah sampai sebelum Selena dan dengan sabar menunggu. Dia bahkan belum memesan apapun sejak datang.


Selena memasuki restoran tersebut dan setelah mengedarkan mata, ia menemukan seseorang yang menatapnya dari kejauhan lengkap dengan senyuman khasnya yang manis. Valdo.


"Oh ya, di mana Angkasa?" Tanya Valdo ketika istri Angkasa Bachtiar ini sudah duduk di hadapannya. Selena sempat terkekeh mendengar kalimat pertama dari Valdo.


"Bagaimana tidak, hanya dia teman terbaik main basketku." Ya, Valdo begitu merindukan Angkasa. Sayangnya, Valdo tidak bisa bertemu dengan Angkasa siang ini. Selena tidak bisa memaksa jika ini terkait masalah kantor, karena itu adalah tanggung jawab Angkasa.


"Maaf, Val. Angkasa sangat sibuk hari ini, aku tidak bisa membawanya kemari hari ini. Aku pikir kalian bisa bertemu lain waktu." Ujar Selena. Raut wajah Valdo memang tampak baik-baik saja, namun bagi Selena tidak demikian.


"Tak apa, Sel. Masih banyak waktu." Sahut Valdo. Kemudian Valdo menyeruput es kopi miliknya yang sudah datang. "Ah, Sel, aku sudah mendengar mengenai hubunganmu dengan Angkasa. Aku turut senang atas pernikahan kalian. Sayang sekali aku tidak bisa datang."


Ada sedikit perubahan raut wajar dari wanita itu ketika Valdo menyebutkan tentang pernikahan. Sekelebat gambaran tentang kata "pernikahan" baginya kembali menghuni otaknya. Bagaimana dulu hancurnya ia ketika awal drama itu dimulai. Meski akhirnya Selena kembali tersenyum, berharap Valdo tak menyadari hal ini. "Terima kasih. Tak apa, kamu pasti sangat sibuk waktu itu, kamu masih di luar negeri juga, aku bisa mengerti. Lagipula kamu sudah mengirimkan hadiah pernikahan."

__ADS_1


"Hei, apakah hadiah pernikahan itu bisa menggantikan kehadiranku?" Canda pria itu. Sikap ini bahkan masih persis seperti waktu dulu.


"Aku pikir kamu sudah semakin dewasa, tapi ternyata itu hanya penampilanmu saja." Ledek Selena.


Valdo tak terima dikatai seperti itu. Ia membenarkan jasnya dan sedikit berpose dengan bersedekap ingin terlihat keren. "Apa aku terlihat seperti anak kecil?"


"Sikapmu masih sama seperti dulu. Kamu ternyata tidak benar-benar berubah." Nadanya terdengar sendu dan matanya sedikit mulai berkaca-kaca. "Syukurlah."


Valdo juga sangat merindukan wanita ini, wanita sahabat terbaik Angkasa. Yang ia tahu selalu dilindungi Angkasa bagaimana pun caranya. "Aku juga, Sel. Aku juga sangat merindukanmu. Angkasa. Lapangan basket sekolah. Dan jitakan Angkasa di dahiku jika aku mencoba menggodamu." Kemudian keduanya tertawa.


Di lain sisi, ada seseorang yang menatap tajam ke arah mereka berdua. Orang itu baru saja memasuki restoran dan menemukan bahwa istrinya sedang tertawa bahagia bersama pria lain. Ia segera menghampiri keduanya dan meninggalkan seseorang di sampingnya.


***


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?

__ADS_1


__ADS_2