Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 8


__ADS_3

“Tadi Selena bicara di telepon sama Bunda, tapi Bunda tidak bilang apapun. Ayah bohong ‘kan sama Selena?”


Wanita itu benar-benar tak percaya dengan pernyataan Ayahnya yang mengatakan akan kembali pindah ke Amerika Serikat.


“Ayah serius. Kamu harus tahu Bunda tidak akan pernah bisa mengatakan hal ini, dia terlalu sedih dan juga sangat berat meninggalkan kamu. Om Tirta perlu bantuan Ayah di sana untuk mengurus perusahaan baru yang kita dirikan, Ayah harus menetap dan Ayah tidak mungkin meninggalkan Bunda sendirian di sini.”


Kali ini air mata Selena benar-benar jatuh membasahi pipi. Ia seka pelan sekali pipinya sendiri. “Selena mau ikut.”


“Tidak bisa, Sel. Kamu sudah menjadi istri Angkasa.” Kata Ayah mencoba memberikan pengertian ia sendiri paham kalau Selena takkan menerimanya semudah itu.


Selena menggeleng-gelengkan kepala. “Pokoknya Selena mau ikut kalian. Kemana pun kalian pergi. Ayah dan Bunda tidak boleh meninggalkan Selena sendiri di sini.”


Ayah meraup tangan Selena. Mencoba menenangkan anak semata wayangnya itu. “Kamu harus mengerti, kalau sekarang kamu bukan hanya anak Ayah dan Bunda, tapi kamu istri Angkasa. Dan di sini ada Angkasa, kamu tidak sendiri.”


“Angkasa tidak peduli sama Selena, Yah. Jadi Selena mau ikut kalian !” Selena benar-benar tidak menerima kenyataan ini. Ia bahkan masih belum menerima kenyataan yang mengatakan ia dan Angkasa sudah dalam ikatan pernikahan, sekarang ia dihadapkan dengan kenyataan akan ditinggal Ayah dan Bundanya lebih jauh lagi.


Tepat saat itu, Angkasa kembali menghampiri anak dan Ayah itu. Pria itu bisa melihat bagaimana Selena begitu sedih. Air matanya tak terbendung. Angkasa sudah mengetahui hal ini, itulah mengapa ia membuat Selena datang ke kantornya karena ia pun tak bisa mengatakan hal itu kepada istrinya.


Ayah tersenyum simpul ke Angkasa di sampingnya. Lalu beralih ke Selena. “Ayah mau selesaikan urusan Ayah dulu. Nanti malam kamu dan Angkasa datanglah ke rumah, kita makan malam bersama. Kita akan bicarakan semuanya.”

__ADS_1


Selena masih saja tertunduk. Ia tak memberikan jawaban apapun untuk Ayahnya kali ini. Angkasa juga tidak membantu apapun, bahkan dia tidak bisa sedikit saja bersandiwara untuk menenangkan Selena yang menangis.


Ayah menepuk bahu Angkasa. “Tolong kamu beri pengertian kepada istri kamu.”


Dua lelaki itu pergi meninggalkan Selena yang masih duduk di tempatnya. Ayah juga tak sanggup melihat Selena yang demikian, namun mau bagaimana lagi jika mereka memang harus pindah. Ini benar-benar tidak ia rencanakan sama sekali.


Tidak lama kemudian, datanglah Ruby, sekretaris Angkasa yang juga teman Selena untuk bercerita. Walau tidak senyaman untuk berbagi cerita dengan Angkasa, tapi mau bagaimana lagi, ia tak memiliki orang selain Ruby yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Ya, dia hanya memiliki Angkasa, itu pun dulu.


Ruby datang dengan mengusap bahu Selena. Selena yang melihat Ruby langsung berhambur memeluknya. Ia benar-benar membutuhkan pundak. Ia masih saja terisak. Dan Ruby juga merasa sedih melihat temannya seperti ini.


“Kamu kenapa, Sel?” Tanya Ruby pelan. Berharap Selena mau menceritakan beban itu. “Kenapa kamu menangis seperti ini?”


Tangis wanita itu belum juga reda. Ruby akhirnya meminta izin kepada Angkasa untuk mengajak Selena ke kafe untuk menghibur wanita itu. Angkasa pun mengizinkannya karena memang hari ini Angkasa tidak ada pertemuan dengan klien, jadi sekretarisnya juga bisa bebas.


Ruby akhirnya mendapat jawaban dari pertanyaannya. Pantas saja Selena sesedih ini. Dia tahu betul bagaimana kasih sayang anak yang tak ingin berpisah dari orang tuanya. Seperti Ruby dulu yang tak ingin Ayahnya pergi dari rumah ketika orang tuanya memutuskan berpisah.


“Sabar ya Sel. Aku paham kalau kamu sedih begini. Tapi mereka pergi bukan karena mereka tidak menyayangi kamu.”


“Aku ingin ikut mereka, By.”

__ADS_1


Ruby melepaskan pelukan mereka. “Lalu bagaimana dengan Angkasa?”


Selena tersenyum masam. “Bahkan kamu juga mengatakan hal yang sama seperti yang Ayah katakan tadi.”


“Kamu tidak mungkin meninggalkan Angkasa di sini sendiri.”


Selena menatap Ruby dan kali ini ia menampakkan senyum tipis. “Oh ya, aku belum cerita apapun dengan kamu.”


Ruby mengerutkan kening. “Cerita apa?”


“Hubunganku dengan Angkasa tidak seperti dulu lagi. Setelah pernikahan itu. Entah kenapa, kita berdua sama-sama tidak bisa menerima semua ini. Kita bagai dua orang asing yang tinggal di satu atap, bahkan merasa asing untuk diri kita sendiri.”


Ruby sebenarnya sudah mengetahui hal itu dari Angkasa, jadi ia tidak begitu terkejut lagi. Selama ini Angkasa pun menceritakan keluh kesahnya dengan Ruby jika Angkasa benar-benar merasa lelah.


“Apa aku harus mengakhiri semuanya dengan Angkasa? Karena aku bahkan tidak bahagia dengan dia.”


Ruby tercekat mendengar perkataan istri Angkasa Bachtiar ini.


***

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?


__ADS_2