Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 18


__ADS_3

Angkasa menatap wajah lelah Selena yang terlelap dalam tidurnya. Hatinya juga teriris dengan kejadian ini. Sedari tadi Angkasa tak dapat tidur karena harus menjaga Selena, bahkan sampai sekarang wanita itu sudah tertidur ia masih belum bisa memejamkan matanya.


Ia takut wanita itu akan terbangun dan kembali mencari Ayah dan Bunda. Juga pikirannya selalu saja terbayang bagaimana jika kedatangan mereka ke tempat jatuhnya pesawat itu justru membuat Selena semakin terluka. Jikalau berita yang mereka dapati terlalu menyakitkan.


Berulang kali Angkasa memejamkan matanya, bukan untuk mengistirahatkan otaknya, namun untuk menghilangkan suara bising di otaknya yang terus saja membuat kegaduhan. Ditambah kata-kata Ayah untuknya selalu terbayang. Ia semakin merasa bersalah. Ia terus memohon agar mertuanya selamat, entah mereka harus berapa lama menemukan, entah sampai kemana mereka mencari.


***


Di kerumunan orang berbaju putih itu, mereka yang mengaminkan setiap bait doa dari sang ulama, di dekat pusara itu ada Selena yang terlihat sendu memandangi makam baru tersebut. Ia berlutut di dekat makam yang di nisannya bertuliskan Deny Mahendra, ayahnya dan memandangi nisan bertuliskan nama Maya Saputeri, sang Bunda. Mereka yang telah tenang di alam sana.


Selena hanya diam. Tak menangis. Hanya memandang nanar kedua makam tersebut, sesekali ia tertunduk lemah sambil memejamkan mata. Di sampingnya ada sang suami yang senantiasa merangkulnya.


Angkasa sempat khawatir kalau Selena akan semakin histeris ketika acara pemakaman, namun kini semua kekhawatirannya tak terbukti. Namun, ia tahu ini bukan berarti istrinya baik-baik saja. Ia tahu kalau ini pasti sangat menyakitkan sampai Selena tak berdaya bahkan untuk menangis.

__ADS_1


"Sel, mereka sudah tenang disana." Bisik Angkasa. "Kamu harus melanjutkan hidup sebaik mungkin."


Kalimat itu tak digubris Selena sedikitpun, wanita itu justru mengusap nisan Ayahnya. Lalu, satu persatu orang-orang pergi dari area pemakaman. Hanya menyisakan pasangan itu.


"Kita pulang, ya?" Ajak Angkasa dengan hati-hati.


"Tapi mereka?" Akhirnya mulut Selena terbuka. Angkasa berusaha memberikan pengertian. Pertanyaan begitu polos dengan matanya membengkak karena dari kemarin menangis, kini memandang ke arah Angkasa di sebelahnya.


"Ayah, Bunda. Selena pamit dulu, ya." Hanya kalimat itu yang bisa wanita itu sebelum pergi.


Akhirnya Angkasa berhasil menggiring Selena berjalan. Tidak hanya bagi Selena, Angkasa pun begitu berat meninggalkan makam tersebut. Hatinya juga sama hancurnya karena ia tak menyangka kalau mertuanya akan pergi secepat itu dan dengan cara yang seperti itu.


***

__ADS_1


Mereka semua pulang ke rumah keluarga Selena. Rumah yang akan segera kosong yang terdapat banyak sekali kenangan indah di dalam sana. Selena hanya bisa berbaring di tempat tidur kedua orang tuanya sambil ia mengingat apa saja yang telah terjadi di rumah ini.


Di ingatan Selena jelas melekat ketika pertama kali ia pindah kemari dari Amerika Serikat. Saat ia dan Bunda mendekorasi rumah ini dan membantu Ayah yang sibuk memindahkan koleksi bukunya ke rak buku di ruang kerja. Ketika mereka merayakan ulang tahun Selena yang ke tujuh belas di rumah ini bersama Angkasa yang ikut andil memberikan kejutan.


Begitu banyak kenangan yang ia lalui di rumah ini, sampai kenangan yang mengubah total kehidupan Selena, saat hari pernikahan telah ditetapkan. Dirinya yang mengurung diri di kamar ketika ia mengetahui bahwa calon suaminya adalah sahabatnya, Angkasa. Betapa susahnya Ayah dan Bunda, serta kakak-kakak sepupunya membujuknya keluar kamar saat itu.


Air mata Selena jelas tak terbendung lagi. Meski ia tak lagi histeris, melihatnya seperti ini rasanya juga menyiksa batin setiap orang di rumah ini. Terutama Om Tirta yang datang ke Selena dengan perasaan bersalahnya.


***


Semoga kalian suka. ☺


Next?

__ADS_1


__ADS_2