
Angkasa baru saja menyelesaikan rapatnya dan masih sangat banyak pekerjaan yang belum terselesaikan. Baru saja keluar dari ruang rapat, Angkasa yang akan menuju ruangannya terhenti ketika Ruby mengatakan ingin mengajaknya makan siang di restoran sekaligus membicarakan sesuatu yang belum selesai. "Apa kita bisa makan siang sekaligus membahas yang kemarin belum selesai?"
Angkasa hanya mengiyakan tanpa harus berpikir panjang lagi. Ia sudah siap menghadapi kemungkinan kalau akan ada yang kecewa dengan keputusan yang dia ambil. "Baiklah."
Mereka hanya pergi ke restoran terdekat karena begitu banyak pekerjaan yang menunggu. Lalu, setelah sampai mata Angkasa terfokus ke satu arah. Kemudian pria itu langsung menghampiri ke dua manusia yang begitu menyita perhatiannya, sekaligus membuatnya tak suka.
Angkasa langsung menarik tangan Selena, membuat wanita itu berdiri di sampingnya. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Angkasa?! Kamu..." Namun, Angkasa seolah tak memberikan Selena kesempatan untuk bicara.
"Kenapa kamu tidak mengatakan apapun akan ke tempat ini?" Bahkan Angkasa sekarang mengatakan hal yang terdengar asing di telinga Selena, istrinya sendiri. Pria itu bahkan belum melihat siapa yang tadi tertawa bersama Selena. Valdo hanya tersenyum geli seolah sedang menonton drama romantis ketika melihat reaksi Angkasa yang di matanya itu adalah sebuah kecemburuan.
"Wah, sepertinya kau benar-benar mencintai Selena." Ucap Valdo pada akhirnya. Suara itu membuat Angkasa menatap ke arah samping.
"Valdo?! Kau??" Angkasa terkejut dengan kehadiran sahabat yang telah lama pergi ke luar negeri itu. Kemudian, matanya kembali ke arah Selena berdiri. "Kamu tunggu di luar."
__ADS_1
Selena pikir setelah melihat Valdo, kekesalan Angkasa akan mereda, namun nyatanya tidak. Justru Angkasa memintanya pergi dari hadapan Valdo secepatnya. Mau tidak mau, dengan berat hati Selena pergi ke luar dan menunggu Angkasa yang ingin bicara sebentar dengan Valdo.
"Val..." Ucapan Selena menggantung ketika mendapat tatapan tajam suaminya. Selena hanya berdecak sebal meninggalkan keduanya di meja tersebut. Bahkan Selena tak melihat keberadaan Ruby yang datang bersama Angkasa.
Angkasa lalu duduk di kursi yang tadinya diduduki Selena. Ya, Angkasa juga sangat merindukan sahabatnya ini, tapi pertemuan mereka sekarang bisa dikatakan kurang mengenakan. "Hai, Val ! Aku benar-benar minta maaf."
"Itu wajar. Memang begitu seharusnya kau bereaksi jika menemukan istrimu bersama pria lain." Kata Valdo. Angkasa berusaha mencerna apa yang dikatakan Valdo.
"Aku tidak mengerti maksudmu." Jawab Angkasa. Jawaban itu menggelitik Valdo. Dan Angkasa semakin tak mengerti dengan reaksi Valdo yang satu ini.
***
Selena dan Angkasa masih belum mengatakan satu kata pun di mobil yang tengah melaju itu. Selena juga sangat kesal dengan tindakan yang diambil Angkasa. Bagaimana bisa dia memintanya pergi, padahal ia baru saja bertemu dengan Valdo.
Bahkan setelah sampai di rumah Selena enggan mengatakan apapun, walau itu untuk menunjukkan rasa kesalnya atas sikap Angkasa. Wajar jika ia marah, kesal, atau apapun itu, dan itu jelas terlihat dari wajah cantiknya. Angkasa tidak langsung kembali ke kantor setelah ia mengantar Selena. Pria itu bahkan itu turun dari mobil.
__ADS_1
Baru saja Angkasa keluar dari mobil dan ingin mengatakan sesuatu, Selena telah berjalan pergi. Mau tidak mau Angkasa mengekori kemana wanita itu melangkah. "Sel, Sel !"
Akhirnya di depan pintu rumah Angkasa berhasil menahan lengan Selena. Pria itu kemudian melepaskan lengan itu. "Harusnya kau mengatakan akan menemuinya."
Selena menghela nafas berat. "Aku ingin mengatakannya, tapi kamu bilang kalau kamu sangat sibuk. Bagaimana mungkin aku mengganggu pekerjaanmu?"
Dan Angkasa seperti tak mendengarkan yang baru saja dikatakan istrinya itu. "Kau... Kau harus mengabariku terlebih dahulu jika mau pergi ke suatu tempat. Aku hanya khawatir kalau kamu akan kenapa-kenapa."
Setelah ia rasa urusannya selesai, Angkasa ingin pergi lagi ke kantor. "Kekanak-kanakan sekali." Lalu wanita itu tenggelam di balik pintu. Tentu saja Angkasa mendengar hal itu. Ia bahkan berpikir, mengapa ia melakukan hal seperti tadi dan mengatakan hal semacam itu.
***
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next?
__ADS_1