Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 38


__ADS_3

Angkasa juga dibuat bingung dengan pertanyaan Sandra. Sepupu Selena itu akhirnya mempersilakan Angkasa masuk. Sandra mulai merasa cemas terhadap pernikahan adik sepupunya dan Angkasa, karena melihat raut wajah Angkasa yang tak bersemangat.


"Kamu baik-baik saja? Di mana Selena?" Jelas Angkasa terkejut, apa Selena tak ada di sini, pikirnya.


"Apa Selena tidak datang kemari?" Nada itu terdengar begitu lemah. Jika tidak di sini, lalu Selena pergi kemana lagi.


Sandra berusaha tenang, meskipun ia tengah begitu mengkhawatirkan keadaan sang adik. "Angkasa, kamu bercanda? Bukankah dia bersamamu?"


Angkasa hanya menggeleng. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia seperti orang yang kehilangan harapan, tubuhnya sudah begitu lelah dan kepalanya rasanya sangat pusing. Kemana lagi pikirnya harus mencari wanitanya itu, apa dia baik-baik saja di sana, ia merutuki kesalahan besarnya ini.


Pria itu tak tahu akan menceritakan dari mana, dengan susah payah juga ia menceritakan semuanya kepada Sandra. Beruntunglah di sana hanya ada Sandra dan sang Mama yang dengan sabar mencoba memahami, Om Tirta sedang di perusahaan, dan Jennie, jika saja dia juga berada di sana, dia bisa saja hilang kendali karena Angkasa telah mempermainkan hati adiknya.


"Jadi sekarang Selena menghilang?" Tante Anggun masih tak percaya apa yang dikatakan terkait keponakannya tersebut. "Angkasa, tolong temukan Selena, bagaimana pun caranya. Anak malang itu, bagaimana bisa dia pergi tanpa memberitahu bahkan keluarganya di sini. Tante tidak akan menyalahkanmu, tapi Tante mohon, temukan Selena, Tante takut terjadi hal buruk kepadanya."

__ADS_1


Sandra memeluk sang Mama untuk sedikit menenangkan beliau. Bagaimana pun Tante Anggun adalah yang sangat mengkhawatirkan Selena setelah Bunda sejak dulu. Membayangkan Selena sendiri entah di mana, membuatnya tak tenang, terlebih dengan apa yang telah ia alami.


Angkasa juga pergi ke kediaman keluarga Selena di Amerika Serikat, namun ia tak menemukan istrinya di sana. Sebelum pergi ke Bandara, Angkasa juga pergi ke rumah Ayah mertuanya dan di sana hanya ada Pak Danu, penjaga rumah. Ia terlambat. Awalnya Pak Danu ingin berbohong, namun melihat raut putus asa Angkasa, beliau mengatakan kalau Selena memang ingin ke Amerika seperti dugaanya.


"Lalu kamu di mana, Sel? Aku tidak suka main petak umpat, kau tahu itu."


***


Mama mertuanya masih berada di rumah itu bersama Selena. Beliau tak langsung pergi, terutama mengetahui kalau di rahim menantunya ada calon cucu yang ia nantikan selama ini. Beliau ingin merawat Selena dengan tangannya sendiri. Beliau juga telah membelikan segala keperluan agar calon cucunya mendapat nutrisi yang baik.


Seminggu kemudian, walau berat Mama kembali ke Jakarta. Bahkan Selena sendiri memaksanya kembali, karena selain dirinya, ada Papa mertuanya yang juga sangat membutuhkan Mama di samping.


***

__ADS_1


Lima bulan lamanya Angkasa hidup dengan penuh rasa sesal karena masih tak dapat menemukan istrinya, tentunya rasa sesal yang terus hinggap karena kebodohannya waktu itu. Ia tak dapat memaafkan dirinya sendiri. Ia juga terus mencari Selena lewat agen yang telah ia sewa, bahkan ia meminta untuk mencari di setiap kota di Amerika Serikat. Karena ia telah mencari Selena di setiap daerah di Indonesia, namun Selena menghilang darinya tanpa jejak sedikit pun.


Yang ia lakukan hanya terus bekerja seperti orang gila, itulah bagaimana ia bertahan selama beberapa bulan terakhir. Lalu, ia pulang ke rumah orang tuanya sesekali ketika diotaknya rasa sesal itu semakin keras meneriakinya. Karena setiap kali ia pulang ke rumahnya sendiri, ia selalu berharap Selena ada di rumah menyambutnya dengan senyuman hangat, lalu itu membuat dadanya kian sesak.


Tubuh gontai Angkasa memasuki rumah setelah ada Asisten Rumah Tangga yang membukakan pintu. Ia hanya ingin tidur sampai besok pagi tanpa harus terbangun dan membuatnya terjaga semalaman lagi.


"Angkasa, kamu datang. Kamu sudah makan?" Mama bertanya ketika Angkasa muncul di hadapan. Beliau memperhatikan bagaimana keadaan anaknya, begitu menyedihkan.


"Angkasa hanya ingin tidur." Suara itu terdengar lemah dan sangat lelah.


Di seberang sana, Selena terpaku mendengar percakapan antara ibu dan anak tersebut. Terlebih ketika ia mendengar suara Angkasa, ia sangat merindukannya. Tak terasa air matanya menitik satu persatu. Seperti apa yang dikatakan Mama padanya via telepon tadi Angkasa benar-benar kacau hidupnya, ia tak pernah hidup seperti ini. Dan suara Angkasa membuktikan.


***

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?


__ADS_2