
Selena hanya tertawa kecil dan menghindari pertanyaan Angkasa. Setelah cek kehamilan dan berpamitan ke Dokter Fiona, mereka kembali ke rumah. Selama ini ia berterima kasih karena Dokter yang lebih tua lima tahun darinya itu sudah memperlakukannya lebih dari seorang pasien. Itulah yang membuatnya nyaman berbagi kisah dan menghilangkan kesepian.
"Kamu ganti baju dulu." Pinta Selena.
"Kenapa memangnya?" Alih-alih mendapat jawaban, Selena hanya menatapnya. Ia pun mengganti pakaiannya dengan kaos biasa.
"Yang benar saja, kau ingin aku berkebun?" Angkasa tak percaya dengan permintaan itu. "Kau tahu sendiri aku tak suka hal seperti ini. Kotor dan bagaimana jika banyak kuman?"
Selena mendekat dan meledek Angkasa. "Hei, aku mengenalmu, itu bukan karena kamu takut kotor atau ada kuman, tapi karena kau takut dengan cacing atau ulat."
Angkasa kesal karena Selena mengetahui kelemahannya. Ya, Angkasa memang takut dengan ulat, cacing, dan semacamnya. Dan sewaktu di sekolah Selena melihatnya yang ketakutan setengah mati ketika ada ulat menempel di lengan bajunya dan Selena tertawa keras sambil menyingkirkan ulat tersebut. Momen itu tak mungkin terlupakan.
"Kau sungguh mengesalkan." Tapi Angkasa hanya bisa menuruti perintah Selena. Inilah ternyata yang disebut Selena pelajaran tambahan untuknya.
Selena menyerahkan pot yang berisi bibit pohon ke Angkasa. "Ini ambil. Kau harus menggali tanah dan memindahkan bibit ini kesana. Lagipula kalau ada ulat aku bisa menyingkirkannya untukmu. Dia juga takkan menggigitmu."
Angkasa masih takut dan merasa geli. Tapi, apa boleh buat jika dia terus dipaksa. "Bagaimana jika aku berhasil?"
"Apa maksudmu?" Tanya Selena balik.
"Aku harus mendapatkan imbalan dari usahaku. Ini tidak mudah untukku."
Selena langsung setuju. "Baiklah, apa maumu?"
Angkasa mendekat dan tersenyum miring. "Kau harus memanggilku dengan kata 'Sayang' atau 'Mas Angkasa'."
Mata Selena membulat. Meski ia saling mencintai dengan Angkasa, ia tetap saja masih canggung dan apalagi jika harus mengubah panggilan, itu tak pernah ia pikirkan. "Apa? Tidak, kita bahkan seumuran."
"Ayolah, kau sudah bersedia akan mengabulkan permintaanku." Angkasa terlihat begitu memohon.
"Baiklah. Itu jika kau berhasil. Lagipula mungkin saja di dalam sana ada sesuatu yang menunggumu." Selena berusaha menakut-nakuti Angkasa. Pria itu benar-benar kesal diremehkan. Meski takut ia memberanikan diri melakukannya.
__ADS_1
Berhasil. Meski butuh banyak keberanian, Angkasa berhasil menggali tanah dan menanam pohon sesuai permintaan sang istri. "Kau lihat? Aku berhasil?"
Selena kesal, terlebih ia malu akan diminta memanggil suaminya dengan panggilan manis.
"Kau sudah berjanji."
Selena menghela napas. Menatap Angkasa yang tak sabar menunggu kata-katanya yang akan keluar. "Iya."
"Iya apa? Kau harus jelas, Sayang."
Ah, Angkasa membuatnya malu dan berdebar kencang karena panggilan itu. Bagaimana bisa Angkasa memanggilnya dengan begitu mudah. "Iya, kamu berhasil."
"Aku tidak dengar."
Selena merasa dikerjai oleh Angkasa, padahal seharusnya tidak begini. "Iya, Mas Angkasa berhasil." Kemudian Selena pergi ke dalam rumah dengan wajah bersemu merah. Angkasa bahagia mendengar ucapan manis dan wajah lucu Selena tadi.
***
Beberapa bulan ini Selena begitu manja kepada Angkasa. Bahkan ia tak ingin jika suaminya itu lembur, seolah ia sedang menebus semua hari yang ia lewati tanpanya. Namun, dia tetaplah menjadi istri yang baik dengan mengurus segala keperluan Angkasa ketika akan bekerja dan selalu menyambut Angkasa dengan hidangan enak.
"Mas tidak akan lama 'kan di kantor?" Tanya Selena seperti anak kecil, begitu polos.
Angkasa mengelus rambut Selena. "Tidak akan. Aku tidak akan menyiksamu dengan terus merindukanku, Sayang."
Baru beberapa langkah Angkasa berjalan, perut Selena mengalami kontraksi hebat. Ini sudah kedua kalinya dalam minggu ini. Angkasa bergegas membantu Selena berbaring di tempat tidur. "Apa sebaiknya kita ke Rumah Sakit saja? Kamu terlihat sangat kesakitan."
Selena hanya mengangguk, rasa sakitnya begitu hebat. Dengan sigap Angkasa menggendong istrinya ke mobil dan segera menghubungi orang tuanya di rumah.
Angkasa begitu resah mondar-mandir di depan ruang bersalin. Mama bahkan beberapa kali meminta Angkasa duduk dan sedikit lebih tenang. "Tidak, dia sekarang sedang kesakitan."
Selama beberapa hari terakhir Angkasa juga sedikit khawatir tentang hari ini. Ia mengkhawatirkan istrinya itu berjuang melahirkan anak mereka dan itu mempertaruhkan nyawa. Angkasa begitu resah sekarang dan prosesnya yang begitu lama pasti sangat menyiksa Selena pikirnya. Ia kemudian masuk ke ruang bersalin dan membuat orang-orang terkejut.
__ADS_1
Angkasa memegang tangan Selena dan menguatkan istrinya. Selena bahkan menangis. Tapi tak lama kemudian akhirnya suara tangis bayi menggema di ruangan, bahkan terdengar sampai keluar ruangan.
Angkasa menyandarkan kepalanya ke bahu Selena yang masih terbaring lemah. "Kamu pasti sangat kesakitan. Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu."
Bayi laki-laki itu begitu lucu dan tampan seperti Angkasa. Mama dan Papa sangat bahagia atas kelahirannya, tak hanya itu bahkan Ruby dan Valdo datang memberikan selamat dan hadiah untuk bayi menggemaskan itu.
"Sayangnya Bunda dan Ayah tidak sempat melihat cucu pertama mereka." Lirih Selena. Angkasa memeluk Selena.
"Sayang, mereka pasti juga bahagia di sana melihat kamu bahagia. Kita hanya bisa terus mengirimkan doa untuk mereka."
Selena tersenyum. Angkasa selalu bisa menenangkannya.
"Bayi kalian lucu sekali." Ruby juga sangat bahagia atas kelahiran cucu pertama di keluarga Bachtiar ini.
"Benar, tapi bayiku nanti juga akan sangat lucu." Jawab Valdo. Angkasa tertawa.
"Apa kau sudah memiliki calon istri?" Angkasa mengejek.
"Bayi ini sepertinya lebih tampan dari Ayahnya." Celetuk Valdo. Mereka semua terkekeh kecuali Angkasa. Valdo begitu jahil.
"Setidaknya dia tidak mirip denganmu. Kau bahkan belum menikah, tapi terus mengejek orang yang sudah menikah." Angkasa kesal.
"Bagaimana kalian bisa bersahabat, padahal kalian selalu beradu mulut seperti anak kecil." Ucap Selena.
"Entahlah." Angkasa dan Valdo kompak menjawab.
Semua yang di sana kembali tertawa dengan hal sesederhana itu. Semua yang terjadi di masa lalu takkan bisa terhapus karena ia menjadi kenangan, baik itu manis atau pahit, bersedia atau pun tidak. Karena keduanya menyadari kalau mereka harus menerima sesuatu itu dengan lapang dada, apapun yang telah terjadi. Lalu, mereka bisa hidup dengan tenang dan bahagia.
~ Selesai ~
Terima kasih untuk kalian semua yang telah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini sampai akhir.
__ADS_1
Sampai jumpa di cerita lainnya.
Salam manis, Bie.