
Meninggalkan Selena yang menangis di rumah, Angkasa memang pergi ke kantor. Sepagi ini. Tak ada siapapun selain keamanan yang sedang berjaga di depan kantor. Angkasa sebelumnya mampir ke apartemennya untuk mandi dan berganti pakaian. Ia dulu tinggal di apartemen itu sebelum menikah dengan Selena dan jaraknya jauh lebih dekat ke kantor.
Angkasa tak semudah itu frustasi karena pekerjaan yang menumpuk. Tapi juga bukan sepenuhnya disebabkan oleh Selena dan justru dia tak bersalah apapun. Hanya saja hatinya selalu dibayang-bayangi sesuatu yang mengusik.
"Aku memang bodoh, Sel. Selalu saja menumpahkan semuanya ke kamu. Tapi kamu akan jauh membenciku jika kamu terus bersamaku."
Angkasa baru ingat kalau hari ini ia dan Selena harus mengantar kepergian kedua orang tua Selena ke bandara. Sekarang ia justru sudah di sini dengan menyesali perbuatannya. Ia segera keluar karena ia bisa saja terkena macet dan pesawatnya berangkat satu jam lagi.
Angkasa sangat menghormati kedua orang tua Selena, jauh sebelum ini, bahkan setelah hubungannya dengan Selena seperti sekarang, ia masih tetap menghormati dan menyayangi mereka. Seperti ke orang tuanya sendiri.
Selena sedang menunggu taksi online yang ia pesan di depan rumah. Sesaat sebelum ia masuk ke dalam taksi itu, mobil Angkasa datang dan membunyikan klakson. Angkasa keluar dan menarik tangan Selena. Wanita itu masih terperangah dengan sikap Angkasa yang sekarang.
"Pak, maaf dia tidak jadi pergi." Ucap Angkasa kepada sopir tersebut dan langsung menggiring Selena masuk ke dalam mobilnya.
Angkasa membukakan pintu untuk Selena yang tadi pagi setelah bangun tidur ia bentak. Apa Angkasa memiliki kepribadian ganda? Mengapa ia bisa menghilangkan amarahnya yang tadi? Ia bisa saja tidak peduli lagi dan membatalkan janji untuk pergi bersama ke bandara bersama Selena.
__ADS_1
***
Selena begitu erat memeluk Ayah dan Bundanya secara bersamaan. Tentunya dengan air mata yang sudah mengucur sejak tadi. Ayah terus mengusap-usap pundak Selena.
"Jangan seperti ini sayang, Ayah dan Bunda selalu ada untuk kamu. Kita tidak benar-benar pergi. Kalau kangen kamu bisa hubungi kami, begitu pun dengan kami. Kalau Angkasa cuti, kalian bisa pergi ke sana. Sekalian berbulan madu." Ucapan Ayah benar-benar tak berefek apapun untuk meredakan tangisnya.
"Bunda sayang kamu, sayang. Kamu jangan begini, kamu pasti bisa jauh dari kami. Walau berat, tapi ke depannya kita bisa lewati ini. Hanya untuk sementara, kami nanti kembali lagi kemari. Dan kamu, ingat 'kan apa yang kemarin Bunda bilang? Kamu punya liontin itu sekarang, anggap saja Bunda ada di dekat kamu saat kamu pegang liontinnya. Untuk memeluk kamu."
Bunda terus menyeka air mata Selena yang terus-terusan mengalir.
"Kamu jaga dia ya, Sa. Ayah percayakan dia sama kamu. Ayah dan Bunda juga sangat menyayangi kamu." Ayah memeluk Angkasa erat. Beliau benar-benar menyerahkan tugas ini kepada Angkasa untuk mengurus anak semata wayangnya. "Walaupun dia masih suka manja dan cengeng, kamu harus bisa bersikap dewasa. Ayah percaya kamu."
"Iya, Yah. Angkasa... Angkasa akan menjaga Selena." Tenggorokannya seakan begitu susah mengatakannya, bukan karena ia tak ingin, namun karena rasa bersalah itu. Ia malu, sangat malu.
Akhirnya tiba saatnya berpisah. Ayah dan Bunda harus segera berangkat. Tangis Selena semakin tak terbendung. Giliran Angkasa yang mengambil alih menahan tubuh Selena yang rapuh.
__ADS_1
"Sudah, Sel. Berhenti. Mereka akan sangat bersalah jika kamu terus seperti ini." Akhirnya Angkasa menenangkan dirinya. Namun, Selena tak memedulikan itu. Ia tak dapat membendung perasaannya kini.
Angkasa mendekap erat tubuh Selena. Sekarang justru seakan sisi Angkasa yang dulu kembali lagi. Ini hanya sementara, pikir Selena. Ia sudah sangat muak dengan sikap Angkasa yang hanya berpura-pura peduli jika saat bersama Ayah dan Bundanya. Namun, Selena terlalu lemah untuk melepaskan dekapan Angkasa. Sebab ia benar-benar membutuhkan dekapan itu. Untuk menguatkan dirinya.
"Aku mau ikut mereka, Sa. Biarkan aku pergi." Lirih pelan Selena.
"Tidak bisa, kamu harus tetap di sini. Jangan kekanak-kanakan seperti ini. Kamu sudah dewasa."
"Lalu apa dengan sikap kasarmu tadi kamu bisa dikatakan dewasa?" Kata-kata itu menancap tepat di hati Angkasa. Ia tak marah sedikit pun, itu memang benar adanya. Angkasa berpikir Selena berhak mengatakan itu padanya.
"Sudahlah, Sel. Kita bisa pergi menemui mereka nanti. Secepatnya."
Selena masih bisa berdecih pelan di pelukan Angkasa. "Bahkan setelah ini kamu akan kembali mengabaikanku, jadi kamu tidak perlu menghiburku seperti ini."
***
__ADS_1
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next?