
"Mau dengar ceritaku juga?" Tanya Angkasa tiba-tiba. Selena mengernyitkan kening, tak lama kemudian ia bersedia. "Sejak hari pertama kau datang ke sekolah, kau sudah menyita perhatianku. Hanya dengan lewat ketika aku bermain basket di lapangan bersama Valdo. Kau bahkan masuk ke kelas yang sama denganku."
Mereka tenggelam dalam kenangan. "Kau ingat saat aku memintamu menjadi sahabatku seolah aku sedang mengajak berkencan? Konyol bukan? Tapi, kau bisa saja menghindar jika aku benar-benar mengajakmu berkencan seperti keinginanku. Untuk itulah aku ingin membuatmu selalu di dekatku, meski menjadikanmu sahabatku. Kita semakin dekat dan perasaanku semakin dalam. Aku selalu saja kesal ketika kau asik berbicara dengan Valdo. Ide itu muncul, aku ingin kau cemburu jika aku juga dekat dengan wanita lain. Sayangnya kau terlalu naif dan rencanaku gagal total. Kau bahkan mempersatukan kami."
Angkasa menatap raut keterkajutan di wajah Selena. Ia tersenyum dan senyuman itu tak tampak sedikit pun kebohongan dari Angkasa. Tak ada kepalsuan.
"Melihat kau tak bereaksi apapun, itulah kenapa aku masih bersamanya sampai hari itu tiba. Dia mengakhiri hubungan di hari kelulusan, itulah cara terbaik agar kau tak mempunyai kesempatan memperbaiki hubungan kami. Selama ini dia tahu aku tak mencintainya, karena aku lebih mengkhawatirkanmu dibandingkannya. Dan kami kembali bertemu di perusahaan."
"Lalu?"
"Lalu... kau ingat hari di mana kita bertemu dan kau menceritakan kau tak sengaja mendengar rencana perjodohanmu dengan seorang pria?" Selena mengangguk.
"Meski belum jelas, kau mengatakan tak ingin melakukannya. Kau menolak keras hal itu. Berbagai alasan kau katakan dan alasan yang selalu aku ingat adalah kau hanya ingin menikah dengan pria yang kau cintai. Dalam hati aku berharap pria beruntung itu adalah aku. Beberapa waktu kemudian kesalahan bodoh itu aku lakukan. Aku kembali menjalin hubungan dengan Ruby, meski awalnya ia ragu. Tapi, akhirnya dia setuju. Dan ternyata pria beruntung itu benar-benar aku. Aku berusaha menentang Papa yang membuat keputusan itu, bukan karena aku tak menginginkanmu. Tapi, karena aku tak ingin menyakitimu."
Mereka mengingat hari itu. Ketika mereka protes kepada orang tua mereka masing-masing ketika perjodohan itu ditetapkan. "Di satu sisi aku tak ingin menyakiti Ruby untuk kedua kalinya, dia akan menganggapku mempermainkan hatinya. Di satu sisi lagi karena mengingat kau hanya ingin menikah dengan pria yang kau cintai. Karena jika kau bersamaku, kau tidak akan bahagia, itu akan menyiksaku. Untuk itulah aku tak melepaskan Ruby, aku ingin dia terus bersamaku meski kami tak seperti benar-benar berkencan. Aku ingin kau membenciku. Agar kau sendiri yang akan meninggalkanku."
Angkasa tersenyum ke Selena. Ia masih menggenggam erat tangan istrinya tersebut. "Dan ketika melihat kau mengalami masa tersulit, aku tak ingin melakukannya lagi. Aku ingin kembali melindungimu dan aku sangat bahagia mengetahui kau juga mencintaiku. Tapi aku terjebak dengan hubunganku bersama Ruby, dia meminta kami mengakhirinya bukan hanya sekali. Sering kali ia lakukan, tapi aku tak ingin dia merasa dipermainkan. Aku hanya diam."
__ADS_1
"Ini tak pernah terpikirkan olehku." Kata Selena. Wanita itu mengetahuinya sekarang kalau segala perhatian yang diberikan Angkasa sejak dulu itu hal yang istimewa.
"Jangan pernah pergi lagi. Aku takkan sanggup lagi berlari mencarimu." Pinta Angkasa. Selena mengangguk.
"Apa kau kemari bersama Ruby?" Tanya Selena. Sempat ragu, namun akhirnya Angkasa mengangguk dan mengatakan Ruby menginap di hotel.
"Entah ini rencana Ruby atau bukan. Tapi, kau benar-benar menemukanku." Angkasa dan Selena bahagia, sangat.
Takdir yang manis kembali mempertemukan mereka. Meski telah lama Angkasa berlari mencari tempat persembunyian Selena, ia bersyukur melihat wanitanya tinggal di tempat yang hangat. Ia ingin menebus semua hari-hari yang dilewati Selena tanpanya.
***
Mamanya begitu terkejut mendengar suara Angkasa di telepon. "Angkasa?"
Angkasa tidak percaya orang tuanya ternyata punya andil besar terkait keberadaan istrinya saat ini. "Mama tega sekali tak memberitahuku di mana Selena. Aku bahkan menyewa beberapa orang untuk melacak keberadaannya di luar negeri. Mama ini ibu kandungku bukan?"
Selena yang keluar dari kamar mandi hanya terkekeh melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil sedang merajuk. "Ah, kekanak-kanakan sekali."
__ADS_1
Angkasa menatap kesal Selena yang mengejeknya. "Mama sepertinya suka sekali melihatku yang menyedihkan seperti kemarin."
Mama tersenyum bahagia di tempatnya. Akhirnya harapannya terwujud. "Mana mungkin Mama suka melihat anak kesayangannya seperti kemarin. Mama melakukan itu karena itulah cara terbaik yang bisa Mama lakukan. Kalau tidak, mungkin saja kita akan benar-benar kehilangan Selena."
Angkasa mengerti. "Iya, Angkasa tahu. Dan terima kasih karena telah menjaga Selena dengan baik."
Kemudian ponsel itu ia serahka kepada pemiliknya. "Ma, ini Selena."
"Kamu bahagia bukan sekarang? Mama sangat menunggu hari ini."
"Sangat. Oh iya, besok kita akan kembali ke Jakarta. Hari ini Selena juga akan pergi cek kandungan ke Dokter Fiona dan sekaligus berpamitan." Betapa tak sabar Mama menunggu sampai besok dan melihat anak dan menantunya kembali bersama. "Dan hari ini, aku akan memberikan pelajaran tambahan untuk Angkasa."
Angkasa bingung apa maksud dari kalimat terakhir yang diucap istrinya kepada sang Mama. "Hei, apa maksudmu?"
***
Semoga suka. Salam manis, Bie.
__ADS_1
Next?