Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 33


__ADS_3

"Kamu belum selesai membacanya?"


Selena tak berniat mengalihkan pandangan sekali pun ketika Angkasa muncul dari balik pintu kamar mandi. Baginya Angkasa beberapa hari terakhir Angkasa manis tapi juga menyebalkan. Seperti sekarang Angkasa justru mengomentari aktivitasnya membaca novel, Angkasa benar-benar suka sekali membuyarkan imajinasinya dan merusak suasana hati ketika ia sedang asik membaca.


Merasa diabaikan, Angkasa merebut novel itu dari kuasa Selena. "Angkasa ! Kembalikan sekarang !" Tanpa ragu Selena protes.


Pria itu memandangi sampul novel yang ia pegang tinggi hingga Selena tak mampu meraihnya. "Apa bagusnya pria ini?"


Cukup komentar seperti itu membuat Selena ingin mencubit mulut Angkasa. "Apa urusanmu? Kamu saja kemarin begitu sibuk dengan berkas-berkas kantormu. Apa aku mengganggumu? Apa aku merebutnya darimu, tidak 'kan?"


Angkasa menurunkan tangan kanannya dan mengembalikan novel itu ke empunya. "Kamu sangat sensitif, apa kamu sedang..."


"Kenapa kalau sensitif? Kamu tidak suka mempunyai istri sepertiku?" Kemudian Selena kembali menyandarkan tubuhnya di bahu ranjang. Pikirannya tak dapat fokus seperti tadi. Ia memikirkan perkataan Angkasa yang menyinggung tentang tamu bulanannya, ia tersadar kalau ini sudah terlambat dari tanggal biasanya.


Selena menghela napas dan meletakkan novel itu di atas nakas dan merebahkan tubuhnya yang cukup lelah di samping Angkasa.


"Sel..." Panggil Angkasa. Selena memiringkan kepalanya ke arah Angkasa. "Terima kasih untuk perdebatan malam ini."

__ADS_1


Alih-alih meminta maaf, Angkasa justru berterima kasih. Dan sesederhana itu pula Selena terkekeh dan itu tandanya Selena sudah memaafkan dan menghapus kekesalan di hatinya. "Iya, sama-sama."


"Bagaimana kalau besok kita makan siang bersama?" Lagi-lagi Angkasa mengajaknya makan siang bersama di luar.


"Kenapa kamu begitu terobsesi mengajakku makan siang? Tidak bisa." Dan untuk kedua kalinya pula Selena menolak.


Pria itu bingung. "Kali ini apa alasanmu?"


"Aku ada janji dengan teman kuliahku, Vera." Jawaban itu sukses membuat Angkasa frustasi. Tangannya mencubit pipi Angkasa pelan. "Lain kali, ya?"


***


Setelah Angkasa berangkat ke kantor, Selena bergegas masuk ke kamar mandi. Rasa mual kembali menyiksanya pagi ini setelah sebelumnya ketika bangun tidur ia beberapa kali muntah.


Barulah ketika sudah mulai mereda, ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya di kamar, kemudian kembali ke kamar mandi. Ia sedikit ragu, tapi tak dapat dipungkiri kalau di hatinya tertanam harapan kalau di tubuhnya benar-benar ada nyawa lain yang hidup.


Dua garis merah di alat tersebut menjadi jawaban, tak hanya itu ia juga benar-benar akan menemui Vera, teman kuliahnya, yang menjadi dokter kandungan untuk kembali memeriksakan kehamilan sekaligus mengatasi mual hebatnya. Tentunya Angkasa sama sekali tidak mengetahui tentang alat tes kehamilan tersebut, meskipun kemarin sepulang dari rumah keluarga Bachtiar, mereka ke apotik tapi Angkasa hanya menunggu di mobil.

__ADS_1


Rasa haru menyelimuti dirinya kini. Wanita yang menatap dirinya di pantulan cermin itu mengusap pelan perutnya yang masih rata. Ia ingin segera memberitahukan semua ini kepada Angkasa. Secepatnya.


Malamnya Selena menyiapkan hidangan kesukaan Angkasa sesuai dengan resep yang diberikan Mama Angkasa. Selena mengubah rencananya, ia mengurungkan niat untuk memberitahu suaminya itu setelah pulang dari dokter kandungan. Ia menundanya sampai besok, Selena berencana akan meminta Angkasa makan siang bersamanya seperti keinginan Angkasa baru-baru ini.


"Kenapa kamu tersenyum seperti itu dari tadi? Itu cukup... menakutkan." Angkasa benar-benar tak kenal waktu jika ingin menggoda Selena. Bahkan di suasana sekarang, di hadapan semua hidangan enak yang ingin ia santap ia seperti ingin membangunkan Singa yang lapar. Tapi tidak, Selena benar-benar tak berdaya ingin marah bahkan kesal sekali pun tidak.


Wanita itu hanya menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Aku hanya sangat bahagia sekarang. Aku sangat bersyukur atas hidupku."


"Sepertinya aku benar-benar menikahi wanita yang luar biasa. Syukurlah, walau kadang kalau sedang marah bisa mengalahkan Singa betina. Tapi, Sel, aku sangat bersyukur kamu ada di hadapanku sekarang. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana jika kamu tidak ada, tidak, kamu harus terus bersamaku."


Ya, benar, mereka memang sebahagia itu.


***


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?

__ADS_1


__ADS_2