
"Akan ada saatnya orang-orang yang menghinamu terdiam tak berkutik."
°°°°°
Murid-murid yang pernah membully Key maju ke depan dan berlutut di depan gadis cantik itu dengan wajah yang pucat pasi.
"Maafkan aku, Key. Aku benar-benar khilaf. Aku begitu depresi sehingga aku melampiaskannya kepadamu," kata Zea dengan raut wajah bersalahnya.
Key mendecih. "Alasan!" batinnya.
Depresi apanya, jika setiap di sekolah Zea selalu terlihat tertawa terbahak-bahak bersama teman se-gengnya.
Sekeras apa pun seseorang berusaha menyembunyikan rasa sakitnya, pasti akan terlihat jelas dari sorot matanya.
belum lagi, dari laporan yang pernah Key dapatkan, gadis itu sedang tidak memiliki masalah sama sekali. Hidupnya hanya sekitar sekolah, clubbing, mall, dan rumah.
"Aku harap kita bisa berteman baik dan memulai segalanya dari awal."
Key tertawa geli mendengar perkataan Zea. "Berteman baik?" Bertanya dengan nada mencemoohnya.
"Iya, Key. Aku akan menjadi teman yang baik untukmu." jawab Zea dengan penuh senyuman.
Key memilin-milin ujung rambut ikalnya. "Sorry, gue gak mau berteman dengan orang yang pernah membully gue."
Zea terdiam tak berkutik mendengar jawaban sinis Key.
Plakk!
Semua yang berada di dalam aula kaget dengan kejadian tak terduga itu. Mommy Key menampar Zea secara tiba-tiba. Ara yang terkenal sangat lemah lembut mampu membuat mereka kaget akan sikap kasarnya hari ini.
"Kau benar-benar tidak tau malu! Setelah membully putriku, kau dengan tidak tahu malunya menawarkan sebuah pertemanan." desis Ara.
Zea terisak dengan tangan yang berada di pipi kanannya yang memerah. Alex mendekati sang istri untuk menenangkannya.
"Aku yang melahirkan Key, merawatnya dengan penuh kasih sayang, dan tidak pernah bermain tangan kepadanya. Sedangkan kau yang hanya orang baru di dalam kehidupan anakku berani sekali kau melukainya." Dada Ara naik turun, amarahnya benar-benar sedang di ubun-ubun sekarang. Melihat anaknya di bully oleh Zea dari layar membuatnya seketika dikuasai amarah.
"Kau dan ibumu sama saja! Perusak! Penganggu! Penjilat!" umpat Ara.
Laura, ibu Zea. Teman sekelas Ara dulunya. Ia dan Laura bersahabat semenjak kelas sepuluh. Ia sudah menganggap Laura saudara kandungnya sendiri hingga ia tak segan untuk memberikan Laura barang-barang mewah dan membelikan semua yang diinginkan Laura. Suatu ketika, semuanya terungkap. Laura ternyata tidak sebaik yang dia pikirkan. Laura yang dia anggap sebagai sahabat sekaligus saudara hanya memanfaatkannya dan tega menghianatinya. Laura berselingkuh dengan Alex, pria yang sekarang ini menjadi suaminya.
"Sudah, sayang."
Alex memeluk Ara tetapi wanita cantik tersebut segera mendorong tubuh Alex dengan kuat. "Kau jangan ikut campur, Alex!" desisnya kesal.
__ADS_1
Ara menjambak rambut Zea tanpa ampun. dia begitu gelap mata. "Anak dan ibu sama saja. Sudah puas kau menyakiti anakku hah?"
Zea meringis kesakitan saat Ara semakin memperkuat jambakannya. "Lepaskan. Sakit." ringisnya pelan.
Ara melepaskan jambakannya dan membersihkan tangannya dengan tisu basah. Seolah ada kuman yang menempel di tangannya.
"Aku ingin perusahaannya hancur!" perintah Ara mutlak.
"Ta--"
"Ingin menolak, heh? Masih suka ke wanita ****** itu?!" Ara menatap Alex dengan sinis saat pria itu mencoba membantah.
"Astaga, sayang. Kamu jangan fitnah dong." Alex mengusap-ngusap dadanya sendiri.
"Hancurkan perusahaan dia kalau begitu!"
"Oke, oke." pasrah Alex dan mengeluarkan ponselnya. Sebenarnya dia tidak ingin menghancurkan perusahaan orangtua Zea karena tidak ingin menyangkut pautkan urusan pribadi dengan urusan perusahaan. Tapi jika istri tercintanya menginginkan hal tersebut, dia bisa apa?
"Om, jangan, om. Tolong maafin aku, om." Zea menatap Alex dengan tatapan menyedihkannya. Berharap Alex akan luluh sehingga perusahaan orangtuanya tidak hancur.
"Udah sih, pa. Hancurkan saja!" celetuk Axel yang sudah sangat geram dari tadi.
"Apa papa terima dengan perlakuannya ke princess? Selama ini kita selalu menjaga princess dengan sangat baik, memperlakukannya layaknya porselen, tapi dia dengan seenak jidatnya melukai princess yang selalu kita jaga dari kecil, dad." Axel memprovokasi sang daddy.
Alex segera menelpon seseorang. "Hancurkan perusahaan L&K! Sekarang juga!"
"Bagus!" Ara bertepuk tangan dengan senang.
Murid lainnya yang pernah membully Key menelan kasar saliva mereka. Mereka benar-benar dalam bahaya. Semoga saja mereka tidak bernasib seperti Zea.
Key berjalan mendekati orangtuanya dengan perasaan jengkel. Ia ingin dirinya yang memberi pelajaran ke Zea dan yang lainnya. "Mom, dad, aku harap kalian tidak ikut campur lagi. Ini masalahku dengan mereka." cetusnya tanpa basa-basi.
"Prin---"
"Aku mohon, mom."
"Huh, baiklah."
Alex merangkul bahu Ara, menenangkannya lagi. Key menatap para pelaku dengan tangan yang terlipat di depan dada.
"Aku juga minta maaf, Key. Aku hanya melakukan apa yang diperintahkan Zea." Key mendengus tak suka. Ikha melemparkan kesalahan yang dibuatnya ke Zea. Benar-benar tidak berperiketemanan. Fake friend.
"Aku minta maaf, Key. Aku hanya disuruh Zea untuk membullymu dengan imbalan yang cukup besar."
__ADS_1
"Maafkan aku, Key. Aku akan menerima apa pun sanksi yang akan kamu berikan kepadaku."
Dalam hati, Key merasa salut dengan Widia karena gadis itu begitu sportif mengakui kesalahannya. "Lo boleh kembali ke belakang!"
Widia mengangkat kepalanya sehingga matanya bertemu langsung dengan mata Key. "Apa hukuman yang kamu berikan atas perbuatanku kepadamu?" tanyanya lirih.
"Tidak ada."
"Kenapa?" Widia bertanya dengan nada tercekat.
"Lo sportif dalam mengakui kesalahan yang lo buat."
"Tapi aku salah, Key. Hukum saja aku. Aku ingin menembus rasa bersalahku kepadamu." kata Widia lemah.
"Sudah lah. Pergi saja sebelum gue berubah pikiran." sembur Key. Sudah diberi kebaikan malah neko-neko. Kan Key kesal jadinya.
Takut- takut Widia berdiri dan kembali ke barisan. Key menatap para pelaku yang tersisa di hadapannya. 13 orang. Ada Zea, Ikha, dan yang lainnya.
Key menatap mereka muak. Suara tangisan mereka membuat telinga Key sakit. "Mom, dad. Tarik saham perusahaan kita di perusahaan mereka," kata Key ke sang daddy.
"Dengan senang hati, princess."
Di dalam barisan, Angel menatap Key dengan tatapan penuh kebencian. Rasa bencinya berhasil menghilangkan rasa takutnya. Sindiran dan bisikan para murid, membuat telinganya terasa sangat panas sedari tadi.
Tatapan para murid dan guru membuat dirinya marah..Pujian untuk Key membuat hatinya semakin terasa panas. Seharusnya segala jenis pujian hanya untuk dirinya, bukan untuk Key. Belum lagi melihat keluarga bahagia di hadapannya. Ia semakin merasa sangat marah dan kesal kepada Key. Gadis itu terlalu sempurna dibanding dirinya. Iri, dengki, dan kebencian mengisi relung hatinya.
Karena Key, nama baik yang selama ini dijaganya hancur dalam sekejap mata. Karena Key, orang yang selalu menatapnya kagum beralih menatapnya jijik dan mencemooh. Tangannya mengepal erat. Kuku panjang menusuk telapak tangannya.
Wajah datar Key seketika menyeringai melihat Angel maju ke depan dan berdiri di hadapannya. Mata Angel menatapnya lurus dengan tatapan kosong. Key sendiri tidak dapat menebak arti tatapan Angel. "Mau apa lo, malaikat berhati iblis?" kekeh Key.
"Gue minta maaf."
Key menyeringai. "Maaf? Ha-ha-ha" ia tertawa paksa.
"Tolong maafin gue." Air mata Angel keluar bak sungai kecil. "Gue menyesal melakukan ini." Ia menunduk dengan tangan yang berada di sisi rok. Tubuhnya bergetar.
"Boleh gue memeluk lo untuk yang terakhir kalinya sebagai sahabat? Tidak masalah kalau setelah ini lo gak menganggap gue sama sekali. Gue sadar, gue bodoh. Gue terlalu dibutakan oleh rasa iri." isak Angel.
"Baiklah." jawab Key datar. Jujur, dia merasa sedikit sedih tapi dalam kamus hidupnya tidak ada kesempatan kedua untuk orang yang telah menghianatinya.
Angel tersenyum lebar dan menerjang tubuh Key dengan pelukan. "Terimakasih." bisik Angel.
"AAAAA!"
__ADS_1
Teriak para siswi histeris melihat pemandangan yang tersuguhkan di hadapan mereka. Darah.
-Tbc-