
Rafa menggendong tubuh Key ala bridal style saat memasuki mansion Key karena gadis itu tertidur pulas di dalam perjalanan. Mungkin karena gadis itu terlalu lelah.
"Makasih ya, Raf. Udah nganterin Key ke kamarnya." ujar Ara yang tiba-tiba saja sudah berdiri di ambang pintu kamar Key setelah Rafa meletakkan tubuh Key dengan hati-hati di atas tempat tidur.
Rafa berbalik dan tersenyum ke arah Ara. "Nggak usah berterimakasih, mom. Ini kan memang tugas Rafa."
Ara berjalan mendekat. "Key beruntung banget ya dapetin cowok seperti kamu. Selama kamu menjalin hubungan dengan Key, mom lihat wajah Key selalu bahagia. Mom senang banget lihat Key bahagia." Ia membelai wajah Key yang sedang tertidur dengan nyenyaknya.
Selama anak perempuannya menjalin hubungan dengan Rafa, tak pernah sekalipun ia melihat Key menangis karena Rafa. Ia selalu melihat wajah Key yang bahagia. Key memang tidak pernah curhat kepadanya, tapi ia tahu anaknya itu baik-baik saja.
Rafa hanya diam dengan senyum mengembang karena ia merasa bahagia mendengar penuturan Ara. Ternyata usahanya untuk membahagiakan Key tidak sia-sia.
"Kamu tau, Raf?"
"Apa, mom?"
Ara menatap Rafa dengan tatapan sendunya. "Mom nyesal banget pernah memaksa Key menerima perjodohannya dengan Vino. Padahal mom tahu kalau Key sedang menjalin hubungan dengan kamu, kalau bukan karena janji kami dulu, mom tidak akan menyuruh dan memaksa Key menerima perjodohan itu," Ara menghela nafas, ia kembali melanjutkan ucapannya sambil menatap Key yang sedang tertidur dengan tatapan sendu. "Rasanya mom pengen bunuh diri saat Key melarikan diri dari rumah. Mom benar-benar nggak menyangka hal itu akan terjadi. Kalau mom tau hal itu akan terjadi, mom tidak akan menjodohkannya." lirihnya.
Rafa melangkahkan kakinya mendekati Ara. Lalu ia mengelus pundak Ara dengan sayang. "Mom gak usah ingat masa itu. Key aja gak pernah membahas masalah itu lagi, mom."
Ara memeluk tubuh Rafa penuh kasih sayang. "Maafin mom ya, Rafa. Mom hampir saja memisahkan kalian berdua."
Rafa tertegun sejenak ketika Ara memeluk tubuhnya. Jadi ini rasanya pelukan seorang ibu? Batinnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia membalas pelukan Ara, tanpa sadar air mata meluncur bebas ke pipinya. Di benamkan wajahnya ke bahu wanita itu.
Ara melepaskan pelukan mereka saat merasa bahunya basah. "Kamu menangis?" tanya Ara kaget dan panik. "Kenapa menangis? Apa mom terlalu erat memeluk kamu hingga membuat kamu kesakitan?!"
Rafa menggeleng sambil tersenyum dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. Ia berusaha menahan tangisnya namun ia tidak bisa.
Ara menghapus air mata Rafa dengan ibu jarinya. "Kenapa menangis? Ayo cerita ke mom." kata Ara penuh perhatian.
Rafa tersenyum. "Rafa hanya merasa sedih, mom."
"Sedih kenapa?"
"Sedih karena mengingat mama Rafa."
"Kenapa mama kamu, Raf?"
"Mama tidak pernah memperlakukanku seperti mom memperlakukanku. Mama selalu sibuk dengan urusannya sendiri, begitupun dengan papa. Mereka bahkan hanya pulang sekali dalam 5 bulan atau bahkan tidak pulang hampir selama satu tahun." Rafa tertunduk sedih.
Ara menutup mulutnya karena kaget. Ia pikir selama ini Rafa tidak pernah kekurangan kasih sayang orangtuanya walaupun orangtua Rafa sering bepergian keluar kota ataupun keluar negri untuk mengurusi perusahaan mereka, seperti dirinya dan Alex yang sering bepergian keluar negri tapi mereka tidak pernah membuat Key merasakan kekurangan kasih sayang.
"Pelukan mom membuat hatiku menghangat." jujur Rafa.
Ara mengenggam tangan Rafa dan menatap laki-laki itu dengan tatapan sayang. "Jangan bersedih, mereka pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Makanya mereka bekerja keras." hibur Ara.
"Iya, mom. Tapi terkadang Rafa berpikir untuk apa semua kekayaan yang mereka kumpulkan jika mereka tidak memperhatikanku." sedih Rafa.
"Jangan seperti itu, Rafa. Lagipula keluarga mom akan selalu terbuka untuk menerima kehadiranmu. Jadi jangan merasa sendiri karena kami selalu ada disampingmu."
Hati Rafa terenyuh mendengar ucapan Ara. "Terimakasih, mom." Rafa memeluk tubuh Ara saking bahagianya.
"ASTAGA!! MOM DAN RAFA!! KALIAN BERSELINGKUH DIBELAKANGKU? SUNGGUH TERLALU!! DARI SEKIAN BANYAKNYA PEREMPUAN DIMUKA BUMI INI KENAPA KAMU MALAH BERSELINGKUH DENGAN MOMMYKU, RAFA???????" teriak Key sangat keras hingga berhasil membuat Ara dan Rafa melepaskan pelukan mereka dan menutup telinga.
"Sa---"
BRAK!!!!
__ADS_1
"APA??? RAFA DAN MOM BERSELINGKUH? INI SUNGGUH GILA!" teriak Axel yang tiba-tiba saja datang di kamar Key bersama dengan Alex.
"HAH?? APA BENAR?? SUNGGUH TEGA SEKALI KAMU ARA SAYANG." teriak Alex.
Ara memijit kepalanya yang mendadak pusing mendengar kedua anak dan suaminya berteriak menuduhnya berselingkuh. Sungguh! Ini lucu sekali. Sedangkan Rafa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Akibat kekasihnya ia dan Ara malah disangka yang tidak-tidak. Rafa gemas sekali kepada Key, saking gemasnya ia ingin membungkam mulut Key dengan bibirnya agar tidak berbicara sembarangan lagi yang berhasil membuat semua orang kacau dan heboh.
Alex menyeret Ara keluar dari kamar Key. Sementara itu Axel berjalan ke arah Rafa dengan cepat, lalu mencengkram kerah baju Rafa dengan kuat. "Apa benar itu, Raf?" sinisnya.
Rafa menatap Axel dengan tatapan yang sangat datar. "Menurut lo?" Cetus Rafa. Sementara Key yang berada di atas ranjang tertawa keras melihat semua orang datang ke kamarnya. Terlebih lagi melihat reaksi daddynya.
Rafa dan Axel mengarahkan tatapannya ke Key yang sedang tertawa terbahak-bahak. Rafa mendengus kesal lalu mendorong Axel.
"HAHA... KALIAN LUCU SEKALI." teriak Key sambil tertawa keras.
Rafa mendekat ke arah Key, lalu memeluk tubuh Key dengan erat.
"Gara-gara kamu nih. Semuanya kan jadi pada heboh." gerutu Rafa.
"Hehe... Aku kan cuma bercanda, Rafa." kekeh Key tanpa merasa bersalah sama sekali. Axel yang mendengar ucapan adiknya mendengus jengkel lalu meninggalkan kamar adiknya.
Tiba-tiba saja Key tertawa keras sambil berteriak histeris karena Rafa menggelitiki pinggangnya. "AMPUN RAFA!!! JANGAN GELITIKIN AKU LAGI!!!"
"AAAAAAA!!!"
"RAFA!!!!"
Akhirnya Rafa menghentikan kegiatan menggelitiki Key. Lalu ia menjatuhkan badannya ke atas kasur dan memeluk tubuh Key dengan erat.
"Aku capek..." keluh Rafa tiba-tiba.
"Yang benar nih? Aku boleh nginap disini?" tanya Rafa senang.
"Iya."
Rafa memeluk Key sambil berucap dengan nada girangnya. "Yes. Bisa tidur berdua sama kamu malam ini." Key melongo mendengar ucapan Rafa.
"Ish. Tentu saja kamu menginap di kamar lain, Rafa sayang. Bukan menginap di kamarku." dengus Key yang membuat Rafa melepaskan pelukannya dan menatap Key dengan tatapan menyedihkannya.
"Lah? Kok gitu sih?"
"Kita belum muhrim kali. Dosa!"
Rafa menyengir dan membenarkan. "Ya udah deh. Tapi untuk sekarang ini aku tidur di sini ya. Entah kenapa tubuhku rasanya lelah sekali hari ini."
"Tentu saja." Ia mengelus rambut Rafa hingga Rafa tertidur pulas.
"Manisnya..." gumamnya ketika melihat wajah Rafa yang sedang tertidur. Key memotret wajah tampan cowokny dan mempostingnya ke instagram.
####
Seorang gadis kecil terlihat sedang berlari-larian di taman bersama seorang anak laki-laki seumuran dengannya.
"Afa... Berhenti di sana. Jangan mengejar El lagi. El udah nggak kuat lari," kata gadis kecil tersebut dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Makanya jangan lari lagi, El." sahut anak laki-laki yang bernama Afa itu dengan santainya.
__ADS_1
"Gak mau. Nanti Afa gelitikin El." rengek El sambil terus berlari.
Afa berhenti. "El, beli ice cream yuk." ajaknya hingga membuat El langsung berlari ke arah Afa dengan semangatnya.
"Ayukk..." girangnya sambil menarik tangan Afa dengan semangat.
"Pelan-pelan aja, El."
"Ish. Cepat Afa. Nanti ice creamnya habis."
Afa terkekeh. "Ice creamnya gak akan habis kok, El."
Afa merangkul bahu El yang lebih pendek darinya.
"Afa... El sayang Afa. Afa sayang El kan?" tanya El dengan polosnya.
"Tentu saja, El. Afa sangat menyayangi El."
"Kalau nanti kita berpisah, jangan lupain El ya."
"Kok El ngomong gitu sih?"
"Aishhh... Afa banyak tanya." dengus El.
Afa terkekeh. "Tenang aja, El, Afa gak akan pernah lupain El. Kalau misalkan kita berpisah nanti, Afa akan mencari keberadaan El sampai ketemu," kata Afa kecil sungguh-sungguh.
####
Rafa tersentak dari alam mimpinya saat mendengar teriakan Key yang cetar membahana.
"BANGUN!!" Rafa duduk dan menyandarkan dirinya ke sandaran tempat tidur sambil mengucek kedua matanya. "Kenapa teriak-teriak sih, Key?" tanya Rafa serak, suara khas orang baru bangun.
"Aku sudah bangunin kamu sejak tadi tapi kamu malah nggak bangun-bangun, makanya aku teriak." dengus Key. "Padahal tadi gue bangunin dia lembut banget. Pake bisikan lembut, ciuman, dan menggoncang badannya dengan lembut." gumam Key kesal.
Rafa terkekeh mendengar gumaman Key yang masih dapat di dengar olehnya. "Jadi kamu cium aku tadi? Cium apa hayo? Kening, mata, hidung, pipi, dagu, atau... Bibir?" goda Rafa sambil mencolek dagu Key.
Key menatap Rafa dengan tatapan sebal. "Idih. Siapa juga yang cium kamu." elaknya.
"Padahal aku dengar sendiri loh. Jujur aja kali." goda Rafa lagi.
Key memutar bola matanya. "Ok. Aku cuma cium kening kamu? Puas?!" dengus Key.
"Yah, sayang banget. Kok nggak cium bibir aja sih, Key?" goda Rafa sambil mengerucutkan bibirnya.
Key bergidik ngeri melihat Rafa memanyunkan bibirnya. Dengan secepat kilat ia meninggalkan Rafa tapi sebelumnya ia mengatakan sesuatu yang membuat mata Rafa membelalak kaget.
"Cepat mandi, ini udah pagi. Pakaiannya udah aku taruh di samping kamu."
Selama itu kah ia tidur? Rafa menggeleng tidak percaya. Berarti gue tidur bersama Key semalam? Rafa tersenyum sendiri memikirkan hal itu.
Rafa mengambil pakaian yang dimaksud Key. Dan pergi ke dalam kamar mandi.
Tapi... Kenapa gue bisa memimpikan dia lagi? Batin Rafa.
Sementara itu...
"Astaga! Tadi malam gue tidur sama Rafa? Bagaimana reaksi semua orang ya? Apa mereka tidak tau?" gumam Key panik sendiri. "Lagian pelukan Rafa nyaman banget sih. Siapa yang akan menolak pelukan senyaman dan sehangat itu? Gue rasa nggak akan ada deh. Jadi, ini semua salah Rafa dong!" cetus Key. Ia mondar mandir tidak jelas di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
"Kenapa mondar mandir gitu, sayang? Gak capek apa?" tegur Rafa yang membuat kegiatan mondar mandir Key terhenti.
-Tbc-