
"Terkadang rasa nyaman yang terlalu berlebihan membuat aku lupa kalau kita hanya sebatas teman."
°°°°°
Jantung Key berdegup sangat kencang saat wajahnya dan wajah Rafa hanya berjarak se senti meter.
Jika dia menoleh ke Rafa, maka bibirnya akan langsung menyentuh pipi laki-laki tampan itu.
Punggungnya bersentuhan dengan dada bidang Rafa yang terbalut seragam sekolah. Membuat jantungnya semakin berdegup sangat kencang. Ia hanya bisa berharap Rafa tidak mendengar degupan jantungnya yang menggila.
Sampai sekarang, status mereka hanya teman. Padahal mereka sudah banyak melakukan hal-hal yang dilakukan oleh pasangan pada umumnya. Seperti berkencan, pergi sekolah bareng, selalu berdua kemana-mana, dan hal lainnya.
TTM mungkin itu lah istilah yang cocok untuk mereka. Teman Tapi Mesra.
"Kalau enggak sampai buat ngambil bukunya, minta tolong dong sama gue." Key menahan nafas ketika suara Rafa membuat bulu kuduknya meremang. Laki-laki itu berbicara tepat di samping telinganya. Nafas segar Rafa bahkan tercium di indra penciumannya.
Gadis cantik itu menghela nafas lega saat Rafa selesai mengambil buku yang diinginkannya. Ia berbalik.
Alangkah kagetnya dia saat melihat Rafa masih berdiri menjulang tinggi di hadapannya.
Lagi-lagi dengan tidak tau malunya, jantungnya berdegup sangat kencang. Sampai-sampai Key takut Rafa mendengarnya.
"Ini buku lo. Lain kali jangan sungkan minta tolong sama gue. Jangan suka memaksain diri sendiri, Key." Rafa mengusap puncak kepala Key hingga gadis cantik itu melayang tinggi.
Key berusaha menghilangkan rasa gugupnya akibat kedekatan mereka. "Iya, makasih." Ia menahan nafas lagi saat Rafa maju selangkah dan menangkup pipinya.
"Pipi lo kenapa, Key? Kok merah? Lo sakit?"
Key mengumpat kesal mendengar nada khawatir Rafa. Tidak tahu kah laki-laki tampan nan tidak peka itu kalau dia malu? Huh, menyebalkan.
"Panas, Raf." ketusnya dan mendorong dada Rafa pelan. Ia duduk di pojok perpustakaan dan mulai membaca bukunya.
Rafa menyusul Key dan duduk di samping gadis itu. Dia menatap Key dengan bertopang dagu. Membuat Key merasa risih diperhatikan terus menerus sehingga Key meraup wajah Rafa gemas. "Jangan liatin gue terus!"
"Habisnya wajah lo terlalu menarik untuk di liatin."
Mau tak mau, sudut bibir Key tertarik ke atas mendengarnya. "Ya iyalah. Gue gitu loh." katanya pede.
__ADS_1
"Key, lo mau baca buku di sini? Kenapa kita gak ke taman aja atau rooftop aja?"
"Di sini aja deh."
"Oh oke.
"Kalau lo bosan di sini, lo kembali aja ke kelas. Gue gapapa kok sendirian."
"Gak. Gue gak bosen kok di sini asal sama lo."
Key mengalihkan pandangannya ke buku yang di pegangnya. Mau bagaimana pun, Key tetaplah seorang remaja yang sedang dalam masa labil. Mendengar seorang pria berkata seperti itu tentu saja dia merasa baper.
Keheningan tercipta di antara mereka. Akan tetapi mereka menikmatinya. Key dengan bukunya dan Rafa dengan mengamati Key yang selalu terlihat cantik dan menggemaskan di matanya.
Diam-diam Rafa memotret Key yang sedang membaca buku. Selama ini, Rafa memang sering sekali memotret gadis yang dicintainya dalam diam. Kemudian ia mencetak foto tersebut dan memajangnya di dalam kamarnya.
****
Sepulang mengantar gadis yang dicintainya pulang dengan selamat. Rafa kembali ke rumah.
"Kamu mau makan apa malam ini, sayang? Biar ibu siapkan untuk kamu nantinya."
Selama ini, Bu Hanum lah yang paling berperan penting dalam pertumbuhannya sampai ia berumur 17 tahun ini. Bu Hanum adalah wanita yang mengajarinya berbicara, berjalan, menemaninya belajar, membuatkan makanan kesukaannya, mau pun mengambilkan rapornya setiap kali pembagian rapor.
Lihat lah, begitu berjasanya Bu Hanum dalam hidupnya dibandingkan ibunya sendiri.
Ibu kandungnya bernama Lisya. Seorang wanita karir. Peran wanita itu dalam hidupnya hanya melahirkan dan mencukupi kebutuhan materialnya.
Rafa bahkan sudah lupa kapan terakhir kalinya ia bertemu dengan maminya.
Terkadang ia menjadi ragu dan sering bertanya-tanya dalam diam. Apakah dia anak kandung ortunya atau tidaknya? Karena selama ini mereka tidak terlihat menyayanginya. Mereka cendrung tidak peduli dengannya. Mereka bahkan jarang makan bersama atau pun berbicara banyak hal. Mereka terlalu sibuk dengan dunianya sendiri hingga melupakan Rafa.
Dulu ketika dirinya masih kecil, tentu saja Rafa merasa sangat sedih ketika orangtuanya tidak pernah punya waktu untuknya.
Namun, seiring berjalannya waktu, Rafa tidak peduli lagi. Ada atau tidaknya mereka sudah tidak berarti bagi Rafa karena ia sudah memiliki Bu Hanum.
Mengenai Bu Hanum, wanita berumur 45 tahun itu tak memiliki suami mau pun anak karena mereka sudah meninggal akibat kecelakaan maut yang menimpa mereka 13 tahun silam.
__ADS_1
Bu Hanum sangat menyayangi Rafa. Hanya Rafa orang yang dia sayangi di dunia ini semenjak mereka pergi.
"Terserah ibu aja. Rafa akan tetap menghabiskan semua masakan ibu yang selalu lezat."
Rafa memeluk tubuh wanita yang disayanginya dengan lembut. Bu Hanum membalas pelukan Rafa dan menepuk-nepuk punggung Rafa lembut.
"Kenapa, sayang? Ada sesuatu yang menganggumu?"
Bu Hanum tentu sangat mengenal kepribadian Rafa karena dia lah yang memperhatikan dan membesarkan laki-laki itu.
Rafa melepaskan pelukan mereka dan menuntun Bu Hanum duduk di atas sofa. Ia membaringkan kepalanya di atas pangkuan Bu Hanum dengan manja.
"Rafa menyukai seseorang, bu."
"Hanya menyukai?" Bu Hanum mengelus puncak kepala Rafa dengan penuh kasih sayang.
"Tidak hanya menyukainya, bu. Tetapi Rafa juga mencintainya."
"Siapa namanya dan bagaimana orangnya, sayang?"
"Namanya Keyra, bu. Dia sangat cantik dan menggemaskan. Rafa sangat ingin menyatakan perasaan Rafa tapi Rafa takut dia tidak mencintai Rafa." adu Rafa.
Bu Hanum terkekeh. Rafa tidak pernah menceritakan masalah perempuan kepadanya. Ini lah pertama kalinya Rafa menceritakan tentang gadis yang dipujanya. "Kalau kamu memang mencintainya nyatakan saja perasaanmu, sayang." nasihat Bu Hanum.
"Tapi Rafa takut di tolak, bu." cicit Rafa layaknya anak kecil.
"Perasaan orang siapa tidak ada yang tahu, sayang. Siapa tahu dia juga mencintaimu. Meski pun kamu di tolak nantinya, itu lebih baik daripada memendam perasaan sendiri."
"Tapi, bu. Kalau dia menolak perasaan Rafa nantinya pasti semuanya akan terasa berbeda."
"Mungkin awalnya iya, tapi lama kelamaan juga akan kembali seperti semula."
Rafa bangkit dari tidurnya. Ia memeluk dan mencium pipi Bu Hanum sekilas. "Makasih, bu. Rafa sedikit mendapat pencerahan hehe."
Rafa berjalan dengan riang ke kamarnya. Dia sudah memantapkan hatinya. Secepat mungkin dia akan menyatakan perasaannya kepada Key.
Key itu banyak peminatnya. Bisa-bisa ia kalah star oleh pria di luaran sana. Beberapa minggu ini saja seorang Davino mengejar-ngejar gadis yang dicintainya. Untung saja Key tidak menanggapi Davino sama sekali. Walau begitu, dia tetap cemburu.
__ADS_1
-Tbc-