Fake Nerd And Most Wanted Boy

Fake Nerd And Most Wanted Boy
Part 44


__ADS_3

"Selamat ulang tahun ya, Key. Maaf aku telat ucapinnya," kata Nana takut-takut.


Key melirik sekilas dan tersenyum datar. "Makasih."


"Raf, pinjam catatan ekonomi kamu dong. Catatan aku hilang," kata Nana sambil tersenyum sungkan.


Wajah Key menjadi datar sedatar-datarnya. Dia duduk di tempat duduknya dengan kesal. Si baNana itu selalu saja mengajak Rafa berbicara. Bukannya dia bermaksud bersikap posesif, hanya saja Key takut melihat sifat terbuka Rafa pada Nana.


Key takut Rafa jatuh hati kepada Nana. Key takut Rafa meninggalkannya. Key takut Rafa jatuh ke tangan Nana.


Dari tatapannya saja, Key tahu. Nana memiliki perasaan khusus ke Rafa. Dan itu adalah perasaan cinta.


Key meletakkan kepalanya di atas tumpuan tangannya. Gadis itu tersenyum miris kala mendengar tawa Rafa.


Di sini, apakah dia salah? Apakah salah dia cemburu melihat Rafa bersama gadis lain? Gadis yang terlihat sangat jelas tertarik dengan kekasihnya.


Yang menjengkelkan, kekasihnya seolah menerima kedatangan gadis itu. Oh, atau memang sudah menerima? Entahlah. Hanya Rafa dan tuhan yang tahu.


Tak kuat lagi mendengar tawa Rafa dan Nana yang terdengar sangat bahagia. Key berdiri dan berjalan ke arah pintu.


"Mau kemana, princess?"


"Ke toilet, bang. Kenapa? Abang mau ikut?" canda Key.


"Gak deh, princess. Makasih." tolak Axel mentah-mentah membuat Key tertawa geli.


"Ya udah, Key pergi dulu. Nanti kalau ibu masuk bilang aja ijin sebentar ke wc ya."


"Siap, princess."


Key kembali melanjutkan langkahnya. "Key, mau gue temenin gak?"


Key berbalik dan menatap Tasya. "Gak usah. Lanjutin aja buat pr mtk lo." Tasya terkekeh dan mengangguk.


"Haha.. Kamu lucu sekali, Rafa."


"Apanya yang lucu. Itu memalukan tau."


Key mempercepat langkahnya. Dia sudah tidak kuat mendengar canda tawa sepasang insan yang sedang berbahagia itu.


"Baru pagi, gue udah di buat cemburu sama mereka." kesal Key. Tangannya saling meremas satu sama lain, seolah-olah ia ingin meremas Nana.


Key mencuci wajahnya di wastafel. Di pandangi wajahnya di kaca. "Gue masih tetap cantik kok. Gak mungkin kan Rafa berpaling dari gue?" gumamnya.


"Rafa berpaling ya? Ke Nana?" Key berpose memikir di depan cermin.


Prank!


Tanpa di sangka Key meninju kaca wastafel hingga pecah. "Itu gak akan terjadi. Yah, gue gak boleh berpikiran negatif." Key membasuh tangannya yang terluka akibat pecahan kaca. "Ini beneran gue kan? Kenapa gue seemosional ini?" ringis Key, heran dengan perubahannya sendiri. Merapikan rambutnya sekilas. "Ya udahlah, kalau Rafa berpaling dari gue. Gue tinggal cari yang baru kan? Gue kan cantik. Siapa sih yang enggak mau dengan gue." Bicara memang mudah tapi melakukannya itu sulit.


****

__ADS_1


"Raf. Lo sadar gak sih?" celetuk Axel kala Rafa dan Nana tidak lagi berbicara.


"Hm?"


"Lo udah buat adek gue cemburu."


Rafa tertawa, merasa lucu dengan ucapan Axel.


Axel mengerutkan dahinya heran. "Kenapa lo ketawa?"


Rafa berusaha menghentikan tawanya. "Key gak mungkin cemburu, Xel. Lagian gue kan cuma ngobrol biasa sama Nana, masa iya dia cemburu?"


Axel mendengus. "Serah lo deh. Tapi satu hal yang gue tekankan ke lo. Jangan pernah menyakiti princessku. Dia adalah segalanya bagi gue, Raf."


Key yang baru saja datang, terharu mendengar ucapan abangnya.


"Tentu saja. Gue gak akan menyakitinya."


Tapi secara tidak langsung lo udah menyakiti gue, Rafa.


"Awas aja lo kalau sampai nyakitin princess gue."


Gue sayang lo bang.


"Guys, nanti kita jalan yuk sepulang sekolah." ajak Key antusias.


"Gue ada acara sama abang lo." ringis Tasya merasa bersalah.


Key cemberut mendengar ucapan Tasya. Kemudian gadis itu menatap Chilla, Aura, dan Elly. "Kami juga ada acara." Jawab Elly mewakili.


"Nanti kan bisa."


"Iya deh, Ra. Gue ajak Rafa aja."


Key pergi ke tempat Rafa. "Raf, nanti kita jalan yuk? Aku bosan, gak ada kerjaan sepulang sekolah." adu Key.


"Sorry, sayang. Aku udah janji nganter Nana ke toko buku." Rafa meringis merasa bersalah.


"Kapan kamu janjian sama dia?"


"Tadi malam, sayang."


"Dia kenapa gak pergi sama yang lain saja?" tanya Key tidak suka.


"Nana baru di sini, sayang. Dia pindahan dari Surabaya. Dan dia belum punya teman."


Key menghela nafas. "Aku ikut," katanya mantap.


"Tapi---"


"Kamu nih ya! Mau nolak aku untuk ikut?! Takut gak bisa selingkuh dengan tenang??" bentak Key marah sambil mengebrak meja.

__ADS_1


Rafa yang tersulut emosi pun ikut berdiri. "Dengar yah, Key. Aku gak pernah berselingkuh dengan siapapun. Jaga ucapan kamu."


"Tapi kenyataannya berbeda kan?? Semenjak dia datang kesini, kamu berubah Rafa. Kamu berubah!"


"Bukan aku yang berubah tapi kamu yang cemburuan! Kamu yang selalu berpikir negatif tentang aku! Harusnya kamu itu percaya sama aku!"


"Iya. Aku cemburu. Kamu puas?!"


"..."


"Memangnya kenapa kalau aku cemburu? Apa salah? Kamu kan kekasihku!" lirih Key.


Rafa menatap Key datar. "Dengar yah, Key. Aku gak suka kamu curigaan sama aku. Aku---"


"Cukup! Kamu berubah Rafa!"


"Kamu yang childish."


Key menatap Rafa dengan mata berkaca-kaca. Mereka tak sadar mereka menjadi bahan tontonan.


"Kamu yang gak peka!" bentak Key.


"Aku gak peka apanya, Key? Kamu yang egois di sini. Masa aku berbicara dengan Nana saja kamu cemburu."


"Itu karena aku sayang."


"Sayang? Kalau sayang, harusnya kamu percaya sama aku."


"Kamu---" Key menunjuk wajah Rafa dengan jari telunjuknya. Ia memotong ucapannya sendiri. "Aku minta kamu buat pilih aku atau Nana? Aku emang posesif, egois, childish, atau apapun yang kamu katakan tadi. Tapi gadis posesif, egois, dan childish ini mencintaimu."


Rafa terdiam di tempat. Tak menyangka Key akan menyuruhnya memilih. "Aku memang mencintaimu, Rafa. Tapi aku tidak ingin di sakiti oleh orang yang aku cintai."


"Apa kamu tidak sadar? Nana itu mencintaimu!"


"Jadi, Kamu pilih aku atau dia, Rafa??"


"Kamu pilih aku yang bad girl ini atau Nana yang polos itu?" tanya Key dengan tegas. Key memang cinta sama Rafa. Tapi dia tidak suka merasakan sakit hati.


Rafa menatap Key dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Seisi kelas tegang mendengar perdebatan sepasang kekasih itu. Di dalam hati mereka menyalahkan kedatangan Nana.


"Arghh.." suara rintihan itu membuat Rafa mengalihkan pandangannya.


Disana, tempat Nana duduk. Gadis itu meringis kesakitan sembari memegangi perutnya. Tidak ada yang membantu gadis itu. Mungkin karena nerd dan menganggap gadis itu PHO.


Rafa melangkah lebar-lebar ke arah Nana dengan khawatir. Key yang melihat hal itu merasa kecewa dan sakit hati.


"Kamu pilih dia, Rafa. Aku gak nyangka sama kamu. Baru aja kamu bilang gak akan menyakiti aku. Tapi apa? Kamu menyakitiku. Sakit, Rafa." isak Key sembari menutup wajahnya.


Rafa hendak berbalik. Namun tak tega mendengar rintihan kesakitan yang di keluarkan Nana. "Rafa,, sakitt.. Aku gak kuat lagi."


"Maaf, Key. Nana sedang butuh aku." gumam Rafa. Pria itu menggendong Nana ala bridal style ke luar kelas.

__ADS_1


Key semakin terisak. Tak menyangka Rafa lebih memilih gadis itu daripada dirinya.


-Tbc-


__ADS_2