Fake Nerd And Most Wanted Boy

Fake Nerd And Most Wanted Boy
Part 20


__ADS_3

"Terimakasih sudah hadir di dalam hidupku dan memberi warna baru."


°°°°°


Setelah Rafa menyatakan perasaannya dengan sangat tidak romantisnya, mereka duduk di atas kursi yang saling berhadapan dengan meja panjang sebagai pemisahnya.


"Hei, lucu banget deh liat wajah ketakutan Key tadi." ungkit Elly sambil terbahak.


"Hooh. Gue ada rekamannya loh gaes."


"Kirim dong ke gue, Chil."


"Oke. Ntar di grup gue kirimin."


"Ah, gue gak sabar buat post di instagram."


Key merenggut kesal mendengar ucapan sahabat laknatnya.


"Key, liat deh ini. Lo lucu banget tau haha." Tasya menyodorkan hp nya ke Key hingga Key dapat melihat seorang gadis yang sedang berjongkok ketakutan. Oh, jangan lupakan dengan ucapan ngawurnya. Malu banget dia.


"Kalian jahat banget deh. Harusnya ulang tahun gue tuh dirayain dengan sangat manis tapi kalian malah membuat gue ketakutan setengah mati." protes Key.


"Biar beda dari orang lain dong. Kami kan kreatif. Ya gak, guys?" tanya Aura.


"Iya dong. Kami gitu loh."


Key berdecak kesal. "Siapa yang ngusulin kayak gini?"


"Tasya." sahut mereka kompak.


Si pelaku mendapat pelototan gratis dari Key.


"Mianhe, mbf." cengir Tasya.


Key berdecak sambil geleng-geleng kepala heran. "Kalian nih ya. Orang membuat kejutan yang romantis, kalian malah membuat kejutan yang menakutkan." omelnya hingga membuat yang lainnya cengengesan.


"Maaf ya, aku gak bisa menjadi laki-laki yang romantis buat kamu. Tapi tenang aja, setelah ini aku akan mencari tahu caranya di google hehe."


Key menghembuskan nafas pelan. "Gak usah. Cukup menjadi dirimu sendiri."


Rafa tersenyum lebar dan mengangguk. Key di buat semakin gemas. Mereka mengobrol sambil menikmati makanan ringan yang tersedia di atas meja.


"Oh iya! Sampai lupa kan. Sekarang kita foto bareng yuk!" seru Tasya semangat.


"Ayok!"


"Atur posisi."


Mereka berdiri dan mengatur posisi.


"Siapa yang jadi fotografernya?" tanya Key.


"Kita atur otomatis aja kameranya."


Key mengangguk saja mendengar jawaban Kelvin. Mereka bersepuluh tersenyum manis ke arah kamera yang sudah disetel oleh Kelvin. Tak cukup hanya sekali, mereka berfoto berulang kali dengan pose yang berbeda-beda. Setelah selesai berfoto, mereka kembali duduk dan minum karena tenggorokan mereka terasa kering.


"Daddy menyuruh kita segera pulang, princess," Kata Axel yang baru saja membaca pesan yang dikirimkan sang daddy.


"Loh, kenapa? Ini kan baru jam tujuh malam."


"Katanya ada hal penting dan mendesak. Kita sudah harus tiba jam setengah delapan di rumah."

__ADS_1


Key merasa sangat tidak enak jika harus pergi sekarang. Sahabat-sahabatnya sudah menyiapkan acara dengan sangat baik. Masa iya di pulang terlebih dahulu.


"Pergi aja. Kita gapapa kok. Ya kan, guys?"


"Hooh. Santai aja kali."


"Oke. Kalau begitu Key pamit dulu ya, Raf." pamit Key ke laki-laki tampan yang membuat hidupnya terasa lebih berwarna.


****


"Untung saja kamu sudah siap. Kita langsung pergi aja."


"Hah? Kemana, dad?" bingung Key.


"Ke restoran, princess."


"Dalam rangka apa nih, dad?"


"Ulang tahun kamu, princess."


Mata Key seketika berbinar. "Jadi kalian gak lupa dengan hari ulang tahun Key?"


"Enggak lah, princess. Masa kami lupa sih dengan hari ulang tahun kamu." kekeh Ara.


"Oke! Ayo kita pergi."


"Kamu mau bareng dad atau bareng Abang Axelmu?"


"Sama Bang Axel aja deh, dad. Yok, bang." Key langsung menggandeng tangan Axel kembali ke dalam mobil.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di sebuah restoran. Mereka masuk ke dalam ruangan VIP yang telah dipesan sebelumnya.


"Kamu mau pesan apa, princess?"


"Oke."


Sembari menunggu pesanan, mereka mengobral. Lebih tepatnya Axel yang menceritakan sikap Key seharian ini.


"Tau gak, mom? Selama di sekolah Key sangat lesu karena mengira mom dan dad lupa hari ultahnya." adu Axel sambil tersenyum jahil ke sang adik.


"Haha. Maafkan kami, princess. Kami memang sudah berencana akan merayakan ulang tahunmu di sini dengan tamu spesial tentu saja."


Key mengerutkan dahinya bingung mendengar penuturan sang mommy. Tamu spesial? Siapa? Pikirnya.


"Panjang umur sekali mereka. Tuh tamu kita udah datang." kekeh Alex.


Dahi Key semakin mengernyit melihat laki-laki yang sangat dikenalinya. Davino, laki-laki yang selalu mengejar-ngejarnya tanpa tau malu.


Alex berpelukan ala pria dengan Angga-papa Davino. Sedangkan Ara cipika-cipiki dengan Maria-mama Davino.


"Kalian udah lama? Maaf, tadi agak ada kendala sedikit." sesal Angga.


"Kami juga baru sampai kok."


"Jeng, ini anak kamu? Wah, cantik banget." heboh Maria sambil mencubit pipi Key gemas.


Key meringis namun tetap memberikan senyuman manisnya.


"Hai, tante." sapanya sopan.


"Hai juga, sayang. Btw jangan panggil tante dong. Panggil mama aja kayak si Davino."

__ADS_1


Key tersenyum. "Oke, ma."


Pandangan Maria beralih ke Axel yang tampak sedang berbicara dengan Davino. "Anak laki-lakimu juga tampan. Kamu beruntung sekali memiliki putra putri yang rupawan." cetus Maria.


"Ya, aku beruntung sekali memiliki mereka." sahut Ara sambil tersenyum manis ke arah kedua anaknya.


Pelayan datang dengan membawa pesanan. Angga memesankan makanan untuk keluarga kecilnya.


"Key, lo cantik malam ini." bisik Davino dengan wajah yang condong ke depan. Duduk mereka memang berhadapan.


"Ya. Gue kan emang selalu cantik." sahut Key tak acuh.


"Dan lo akan menjadi milik gue secepatnya, Key."


"Mimpi aja lo!"


"Liat aja nanti." Davino tersenyum misterius.


"Ekhem! Jangan bisik-bisik dong. Kami kan kepo jadinya." goda Maria hingga Key dan Davino menatap wanita itu. Key dengan senyuman canggungnya dan Davino dengan senyuman lebarnya.


"Oh ya. Kita mulai saja. Mama sudah tidak sabar." Maria meletakkan kotak berukuran sedang di atas meja. Ia membuka kotak tersebut dengan hati-hati. Kemudian menyalakan lilin.


"Mama membuat kue ulang tahun ini khusus untukmu, sayang. Semoga kamu suka."


Key tersenyum lebar ke Maria. "Suka kok, ma. Makasih."


Maria ikut tersenyum. Mereka mulai menyanyikan lagu ucapan selamat ulang tahun, kecuali Key. Gadis cantik itu lagi-lagi tersenyum penuh haru.


Semuanya berjalan begitu cepat. Pemotongan kue sudah selesai dan makan malam pun juga baru saja selesai.


"Ekhem!" Key yang sedang melamunkan Rafa langsung tersentak kaget. Untung saja jantungnya tidak melompat.


"Kenapa kamu melamun, princess?"


"Hehe, Key gak melamun kok, mom." elak Key.


"Princess." panggil Alex hati-hati.


"Apa, dad?"


"Kami berniat menjodohkan kalian berdua."


Key terdiam mematung dengan wajah tak percayanya. Axel menatap adiknya khawatir.


"Kami sudah merencanakan ini jauh-jauh hari. Dan kami harap kalian menerima perjodohan ini." imbuh Angga.


Key menatap daddy, mommy, dan orang tua Davino dengan linglung. "Dijodohin?" lirihnya tak percaya.


"Mama harap kalian menerima perjodohan ini, sayang." tutur Maria.


Ara hanya diam karena merasa khawatir melihat raut wajah anak perempuan kesayangannya.


"Jadi, bagaimana keputusan kalian?"


"Aku menerima perjodohan ini, pa." jawab Davino mantap.


Key menghela nafas kasar. "Maaf, aku tidak bisa menerima perjodohan ini." katanya tenang.


Semua orang di dalam ruangan terdiam membisu.


"Ehm, mungkin karena ini terlalu mendadak. Kami akan memberi kamu waktu untuk berpikir, sayang." kata Maria. Demi apapun, Maria sangat menginginkan perjodohan ini terjadi.

__ADS_1


-Tbc-


__ADS_2