
Butiran air berlomba-lomba turun dari langit. Membasahi bumi. Memberikan kesegaran bagi para tumbuhan yang tandus.
Beberapa butiran air hinggap di jendela, mengintip para manusia yang memilih bergelung nyaman di dalam selimut.
Saat hujan begini memang suasana yang sangat cocok untuk tidur. Hawa dingin yang menusuk membuat tidur akan semakin nyenyak.
Beruntungnya, hari ini hari libur. Tidak perlu berangkat ke sekolah maupun berangkat ke kantor.
Sampai jam 10 pagi pun tidur, tidak akan masalah.
Di tengah cuaca yang dingin itu, terlihat seorang wanita cantik yang berkutat di dapur.
Celemek merah melekat di tubuh rampingnya. Rambut pirangnya diikat tinggi hingga menampilkan leher jenjangnya.
Tangannya memotong bahan makanan yang akan di buatnya pagi ini dengan cepat dan terlihat seperti chef profesional. Meskipun profesinya bukan chef, melainkan boss.
Jika mengingat masa lalu, dulu, dia bahkan tidak bisa memasak. Menggoreng telur saja pakai helm dan sarung tangan agar tidak dikenai percikan minyak. Berbeda dengan sekarang.
Keadaan yang membuatnya terbiasa. Serta keinginan memberikan yang terbaik untuk suami dan anaknya meski dengan hal yang sederhana.
Selang beberapa detik kemudian, ia tinggal menunggu masakannya matang.
Hawa yang tadinya dingin dan terasa membekukan, kini malah terasa panas akibat berkutat di dapur. Peluh bahkan terlihat di dahinya.
Di ambang pintu dapur Rafa muncul dengan wajah bantalnya. Matanya masih memicing, seperti orang yang berjalan dalam tidurnya. Mulutnya menguap lebar. Tangannya menggaruk kepalanya yang gatal. Melangkah mendekati Key yang sedang memasak dengan langkah terhuyung.
"Masak apa, sayang?"
Key tersentak karena Rafa tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Kamu nih ya, ngagetin aku aja." dumelnya kesal.
Rafa terkekeh dan mengecup bahu terbuka Key. "Maaf."
Key melirik suaminya. Rafa terlihat meletakkan dagu di bahunya dengan mata terpejam.
Sangat lucu, kikiknya dalam hati.
"Kalau masih ngantuk kenapa ke sini?" kekeh Key seraya mengelus puncak kepala Rafa.
"Kamu gak ada di samping aku pas bangun, jadi aku susul ke sini deh. Gak bisa tidur lagi kalau gak ada kamu."
Key terkekeh geli lagi.
"Bisa gitu ya?"
"Iya. Karena tanpa pelukanmu, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak."
"Tapi kamu bisa memeluk guling sebagai gantinya."
"Kamu tidak bisa digantikan dengan guling, sayang." Rafa mengecup leher jenjang Key dengan lembut dan mendiamkannya di sana.
"Uluh uluh, bayi besarku."
Rafa menghembuskan nafas hangatnya di leher Key hingga wanita cantik itu bergidik menahan geli.
Ketika soup ayamnya telah matang, Key langsung memindahkannya ke dalam mangkuk besar dengan susah payah karena bayi besarnya masih memeluknya dengan erat dan mengecupi lehernya.
"Aromanya membuatku lapar, sayang." Rafa tiba-tiba melepaskan pelukannya dan berdiri di samping Key. Matanya terbuka guna mengamati soup ayam yang menggoda seleranya.
__ADS_1
"Mending kamu bangunin Raka dan Queen sekarang sana. Baru kita sarapan."
Rafa mengangguk dan mengecup pipi Key secepat kilat sebelum pergi. Hal tersebut membuat Key mengulum senyum.
Wanita cantik itu meletakkan soup ayam buatannya ke atas meja makan. Disusul dengan meletakkan nasi dan peralatan makan lainnya.
Membuka celemek dan meletakkan kembali pada tempatnya.
Duduk manis di kursi makan sembari menunggu suami dan anaknya bergabung. Tak lupa pula mengisi gelas dengan air putih.
Sembari menunggu, Key memainkan ponselnya. Apalagi kalau bukan melanjutkan drakor yang belum sempat selesai di tontonnya.
Meski sudah menjadi mama gini, Key masih sangat suka menonton drakor dan tetap menjadi kpopers. Kadang, ia mengajak Queen untuk melihat MV boyband Korea.
"Hati-hati, Raka. Nanti kamu jatuh."
Suara teriakan Rafa membuat Key mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Bibirnya menyunggingkan senyum kala melihat Raka turun dengan wajah ceria. Begitu pun ketika melihat Queen yang menyandarkan kepala manja ke bahu Rafa dengan mata terpejam.
"Yeyy, mama masak soup ayam." girang Raka melihat menu yang terhidang di atas meja.
Key terkekeh senang melihat keantusiasan sang anak. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Key selain melihat anak-anaknya senang.
"Honey, kita sudah sampai," kata Rafa seraya mencubit pelan pipi chubby Queen.
"Queen masih ngantuk, pa. Masih pengen tidur." gumam Queen dan mencari posisi ternyaman.
"Honey, nanti makanan di habisin sama Bang Raka. Mau?" Key menakut-nakuti, berhasil membuat Queen membuka mata.
"Jangan! Queen lapar!!" rengeknya lucu.
Queen mengerucutkan bibirnya sebal. "Iya. Queen udah bangun, bang."
Rafa mengecup pipi Queen sekilas sebelum meletakkan anak bungsunya di kursi, samping Raka.
Key mengulum senyum untuk yang kesekian kalinya melihat Raka menciumi pipi anak bungsunya dan memeluknya sekilas.
Rafa duduk di samping Key. Wanita cantik itu dengan sigap mengambilkan nasi dan soup ayam untuk Rafa.
Rafa mencium pipi Key sekilas. "Makasih, sayang."
"Sama-sama."
Key juga mengambilkan makanan untuk anak bungsunya. Sementara Raka dengan mandirinya mengambil sendiri.
Sarapan pagi kala itu mereka habiskan dalam diam meski terkadang Queen dengan manjanya meminta Key untuk menambahkan soup lebih banyak ke dalam piringnya.
****
Ponsel Rafa bergetar berulang kali, membuat Key yang sedang menonton drakor sangat terganggu.
"Raf, handphone kamu bunyi terus tuh!" Mengguncang pelan bahu Rafa yang sedang tiduran di sampingnya.
"Liat aja, sayang. Aku capek lihatnya."
Key mendengus. Mengambil ponsel Rafa yang berada di sampingnya.
__ADS_1
08xx
Rafaa!!
Kamu dimana?
Lagi apa?
Sudah makan?
Kamu sibuk gak?
Jalan, yuk?!
Love you hehe.
Besok kita makan malam bareng ya, Raf?
Key merasa marah melihat pesan yang masuk ke dalam hp rafa.
"Ini siapa?!" bentak Key seraya melemparkan ponsel tersebut ke kepala Rafa.
"Arghh! Sakit, sayang." Rafa terduduk dan mengelus belakang kepalanya yang nyut-nyutan.
"SIAPA YANG CHAT KAMU ITU?!"
Bentakan Key membuat Rafa terlonjak kaget. Ia menatap Key tidak percaya.
"JAWAB! JANGAN MENATAPKU SEPERTI ITU."
Rafa mengelus telinganya yang berdengung. Tangan kirinya meraih ponsel dan melihat siapa yang dimaksud Key. Decakan kesal keluar dari mulutnya ketika melihat layar ponselnya.
Kembali menatap Key dan tersenyum lembut. "Jangan marah, sayang. Dia hanya perempuan yang tidak tahu malu dan selalu mengejarku. Tapi tenang saja, aku tidak pernah menanggapinya."
"Lalu kenapa kamu gak memblokir nomornya?" Nada suara Key kembali rendah.
"Sudah berulang kali aku memblokir nomornya tapi dia selalu saja menghubungiku dengan nomor baru. Kalau tidak percaya, kamu cek saja sendiri."
Key berdecak keras. "Ih, nyebelin banget tuh cewek. Dimana dia bekerja?"
"Di perusahaan Aji, sebagai sekretaris."
"Berarti sering ketemu dong?! Kan kamu sedang ada proyek baru dengan Aji?!" pekik Key kesal.
Rafa mengangguk polos.
"Awas aja tuh cewek! Aku akan bikin dia kapok deketin kamu!"
"Terserah kamu aja, sayang. Yang perlu kamu tahu, hatiku tidak akan pernah berpaling darimu. Ingat lah, itu. Hanya kamu yang ada di hatiku dan tidak akan pernah terganti!"
Key mendengus. "Buktikan saja. Aku gak butuh mulut manis doang."
Rafa mencium bibir Key yang sedang mengerucut dengan secepat kilat. "Apa sudah cukup membuktikan?" Alisnya naik turun menggoda.
Key menepuk dada bidang Rafa pelan. "Dasar suami mesum."
Dan begitu lah hubungan rumah tangga mereka. Penganggu selalu ada. Siap menguji hubungan mereka kapan pun. Namun, mereka menghadapinya dengan kepala dingin sehingga tidak pernah terucap kata 'cerai' dari mulut mereka berdua.
__ADS_1
Saling memahami dan percaya adalah kunci keberhasilan dari sebuah hubungan.
#5#