
"Satu-satu aku sayang ibu.
Dua-dua aku sayang ayah.
Tiga-tiga aku sayang abang.
Empat-empat aku sayang Afa.
Satu, dua, tiga, empat. Sayang semuanya..."
El menyanyikan kata-kata itu sambil bertepuk tangan dengan rianya di dalam segerombolan yang berisikan anak yang seumuran dengannya.
"Wah, suara El merdu banget."
"El, sayangnya cuma sama Afa? Sama kita enggak?"
"Sayang." sahut El dengan polosnya.
"Kok kita gak masuk ke dalam nyanyiannya El?"
"Kalau kalian masuk, nanti kepanjangan lagunya." sahut El sembari terkekeh.
"Ish, El nggak asik."
"Kok gitu sih? Cie cemburu ya?" goda El sambil mencolek lengan temannya itu.
"Siapa yang cemburu?"
"Ya Rio lah. Masa Ala sih?" kekeh El.
"Sttt... El nyanyi lagi dong." pinta gadis yang seumuran dengannya.
"Oke."
"Yeayyy!!"
"Nyanyi apa nih, Sa?"
"Nyanyi cicak di dinding."
"Stop. El ikut Afa deh. Afa udah bosan tau nunggu El." keluh Afa sambil menarik-narik lengan kecil El.
"Maaf udah buat Afa nunggu. Hm, kalau begitu aku pergi dulu ya teman-teman. Besok El akan nyanyi lagi buat kalian semua." Anak-anak lainnya menyahut dengan penuh antusias.
"Afa, sebelum ke rumah mampir ke toko ice cream sama toko permen dulu ya." pinta El dengan wajah menggemaskannya.
"El makan ice cream mulu, trus sekarang El juga mau makan permen. Memangnya El gak takut nanti gigi El bolong?" Afa menakut-nakuti El.
El menjadi panik sendiri. "Afa, lihat gigi El dong. Gak ada yang bolong kan?" tanya El sambil membuka mulutnya lebar-lebar.
Afa melipat tangannya di depan dada, lalu memajukan wajahnya mendekati mulut El, dan mulai meneliti gigi El.
"Ya ampun. Gigi El bolong." kata Afa berpura-pura panik.
El menutup mulutnya lalu menatap Afa dengan tatapan yang berkaca-kaca. "Gigi El bolong? Huwaaa!!! Nanti El gak cantik lagi." tangisnya.
Afa menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Memangnya apa hubungan gigi bolong dengan cantik?"
"Kata Tisa kalau gigi kita bolong, kita gak akan cantik lagi." sahut El dengan polosnya.
"Hehe. Afa bercanda kok El." Aku Afa kemudian.
"Ish, Afa jahat." El menggembungkan pipinya kesal.
"Lagian kalau pun El gak cantik, Afa tetap sayang kok sama El. Mau El gigi bolong, gendut, pendek, dan jelek. Afa tetap sayang El."
"Yang benar?"
"Iya."
"Fa, ini barang dari El. Jaga baik-baik ya," kata El tiba-tiba lalu meletakkan sebuah cincin yang berukiran nama mereka berdua dibagian dalam di atas telapak tangan Afa. "Nanti kalau misalkan kita berpisah jangan lupain El ya? Tetap sayang El juga."
__ADS_1
"Kok El ngomongnya tentang berpisah mulu sih dari kemarin-kemarin? Memangnya El mau pergi ya?" tanya Afa bingung.
El menjadi gelagapan. "Enggak kok. Memangnya El mau pergi kemana? Rumah El kan di sini."
"Little girl. Untung lah mommy ketemu kamu disini. Sekarang ayo kita pergi," kata seorang wanita cantik tiba-tiba turun dari mobilnya lalu menghampiri El serta menggendong tubuh mungil El.
"Pergi kemana, mom?" tanya Afa.
"Pergi ke negara lain, sayang. Keberadaan mom udah gak aman lagi disini. Kalau gitu mom pergi dulu ya. Langsung pulang ke rumah ya, Afa. Mama kamu udah nungguin kamu daritadi."
Wanita cantik itu langsung masuk ke dalam mobil, tak memperdulikan El yang meronta ingin di turunkan.
"AFA!!!"
****
Rafa tersentak, lagi-lagi ia memimpikan masa lalunya. Ah, memimpikan El membuatnya sangat merindukan gadis mungil nan lucu itu.
"Aku benar-benar merindukannya." gumam Rafa. Rafa menutup matanya lalu tersenyum saat mengingat wajah imut El di dalam mimpinya tadi.
"Apa aku harus mencarinya? Tapi bagaimana caranya?" yang Rafa ingat hanya warna mata dan warna rambut El. Biru laut dan pirang.
Di dunia ini banyak yang memiliki warna mata dan rambut yang sama.
Rafa menghela nafas kasar. Ia duduk dengan punggung yang menyandar ke sandaran tempat tidurnya. "El waktu kecil sangat imut, bagaimana rupanya sekarang ya? Pasti dia sangat cantik. Aku sangat merindukannya."
Rafa menatap keluar jendela. Petir menyambar-nyambar. Air hujan turun dengan begitu derasnya. Tak lama setelah itu listrik pun padam. Rafa yang merasa kesal berdecak kesal. Lalu ia kembali tidur. Lebih tepatnya memaksa matanya untuk tidur.
****
Key tidak bisa tertidur karena ia sangat ketakutan. Petir dan gemuruh terdengar sangat memekakkan telinga, hujan turun dengan derasnya, membuat jantungnya berdegup dengan sangat kencang.
Kilatan-kilatan putih terlihat sangat menakutkan di mata Key, kilatan putih itu seolah-olah hendak menyambar tubuhnya.
"AAAAAAA!!!" teriak Key ketakutan saat lampu mati hingga keadaan kamar Key menjadi gelap gulita.
Key sangat takut dengan yang namanya petir dan gelap sejak kecil tapi untungnya tidak sampai pada tahap trauma.
"MOMMY!! DADDY!!! BANG AXEL!!!!" teriak Key lagi sambil memeluk boneka kesayangannya serta menangis ketakutan. Namun, tidak ada satu orang pun yang datang ke kamarnya karena mungkin saja suaranya tidak terdengar gara-gara hujan dan petir.
Petir kembali muncul. Terdengar sangat memekakkan pendengaran.
"KEY TAKUT!!!" teriak Key lebih keras dari suaranya yang tadi.
Karena tidak ada satu orang pun yang datar ke kamarnya, Key turun dari tempat tidurnya dan memberanikan diri untuk menghampiri kamar orangtuanya karena Key yakin bahwa Axel tidak akan membukakan pintu karena tertidur pulas.
Key meneguk salivanya dengan kasar. Rumahnya benar-benar terlihat sangat gelap karena tidak ada cahaya satupun yang meneranginya. Dengan langkah yang gemetaran Key terus berjalan sambil memeluk boneka beruang yang sengaja di bawanya. Saat suara petir itu terdengar, maka Key akan menyembunyikan wajahnya ke bonekanya.
Key berjalan sambil meraba-raba dinding sementara tangannya yang satu lagi ia gunakan untuk memeluk boneka beruangnya.
Key tidak sengaja menjatuhkan sebuah barang yang Key yakini vas bunga. Pecahan kaca itu menimbulkan suara yang sangat berisik.
Key meringis kecil kala telapak kakinya tak sengaja menginjak pecahan vas itu.
"Aishh... Perih banget." umpatnya pelan dan kembali melanjutkan langkahnya dengan tertatih-tatih.
"Ya ampun... Gelap banget... Sekarang gue malah nyesel keluar dari dalam kamar." gumam Key ketakutan. Key terus melangkah dengan perasaan takut, kalut, dan gelisah.
"AAAAAA!!" teriak Key saat tubuhnya berguling-guling ke bawah. Rasanya sakit, tubuhnya, kepalanya, dan semua anggota tubuhnya terasa sakit. Sakit sekali... Hingga kesadarannya pun terenggut.
****
Ara bangun pagi-pagi sekali seperti biasanya, ia bergegas pergi ke dapur untuk memasakkan suami dan anaknya sarapan. Namun wajah Ara memucat saat dia melihat darah berceceran di atas lantai.
Ara menebak-nebak di dalam hati, darah siapakah itu? Apa ada pencuri yang masuk? Atau ada seorang psikopat yang baru saja membunuh salah satu anaknya.
Ara berlari ke kamar kedua anaknya, memastikan tidak seperti yang di pikirkannya. Jangan sampai ada psikopat yang membunuh salah satu anggota keluarganya. Jangan sampai!
Pertama, Ara membuka kamar Key. Matanya membelalak saat tidak menemukan Key dimana pun, bahkan ia sudah mencari Key di kamar mandi.
"Mungkin princess ada di kamar Axel." gumam Ara meyakinkan dirinya sendiri guna menenangkan hatinya yang gelisah tak karuan.
__ADS_1
Ara segera berlari ke kamar Axel. Lagi-lagi matanya membelalak kaget saat tidak melihat keberadaan Key di dalam kamar Axel.
"TIDAK!!!" jerit Ara yang berhasil membangunkan Axel yang sedang tertidur nyenyak.
Axel langsung melompat dari tempat tidurnya, lalu menghampiri Ara dengan tatapan yang sangat khawatir.
"Kenapa, mom?" tanya Axel panik.
"Princess nggak ada di kamar, Xel.
Tadi sebelum ke sini, mommy melihat darah bercucuran di lantai. Mommy takut princess di culik seseorang atau lebih parahnya princess di bunuh." Ara menangis keras hingga Axel reflek memeluk Ara untuk menenangkannya.
"Kenapa mommymu, Xel?" tanya Alex ikut panik melihat Ara menangis.
"Princess hilang." sahut Axel singkat namun terdengar sedih dan panik.
Alex membelalakkan matanya kaget. "Gimana ceritanya, Xel?" tanya Alex panik. Axel menceritakan kejadiannya seperti yang di ceritakan Ara tadi.
"Baiklah. Kita pastikan keberadaan Key dulu di ruang bawah. Siapa tahu princess sedang makan," kata Alex berusaha berpikir positif dan mengenyahkan rasa gelisahnya.
"Daddy benar." Axel membenarkan. Bisa-bisanya dia tidak kepikiran ke sana.
"Ayo, mom. Kita ke bawah." Ara mengangguk, mengiyakan ajakan Axel.
Mereka bertiga berjalan ke ruang bawah.
Di dekat tangga mereka berteriak panik saat melihat Key terbaring tidak sadarkan diri dengan darah yang menggenang disekitarnya.
Mereka bertiga lari ke lantai bawah dan menghampiri Key yang sedang tidak sadarkan diri.
"Princess!!!" jerit Ara sambil memangku kepala Key yang berlumuran darah.
"Aaaaa!!! Bangun, princess."
Axel mengusap-ngusap bahu Ara guna menenangkan mommynya. "Tenang, mom."
****
"Gimana keadaan putri saya, dok?" tanya Alex berusaha tenang.
"Syukurlah putri tuan tidak kenapa-napa. Putri anda hanya mengalami luka ringan di kepalanya dan juga kakinya yang sepertinya menginjak pecahan kaca. Lagipula putri anda sudah sadar."
"Syukurlah. Makasih, dok."
"Sama-sama, tuan."
Dokter pergi. Sementara Alex langsung bergegas masuk. Di susul oleh Axel dan Ara.
"Daddy..." panggil Key lirih.
"Gimana keadaan kamu, princess? Apa ada yang sakit?"
Key mengenggam tangan Alex. "Key baik-baik aja kok, dad. Gak ada yang sakit." bohong Key karena pada nyatanya kaki dan kepalanya berdenyut sakit. Tapi Key tidak mau membuat orang-orang yang disayanginya khawatir.
"Syukurlah."
"Mom khawatir banget sama kamu, princess." Ara langsung memeluk tubuh anak gadis satu-satunya dengan penuh kasih sayang.
"Mom gak usah khawatir. Key gapapa. Key kan strong."
"Iya. Kamu kan putrinya mommy." Ara mengecup kening Key dan menjauhkan tubuhnya.
"Btw, kenapa kamu bisa kayak gini princess?" tanya Axel yang sedari tadi terdiam.
"Tadi malam Key sangat takut, bang. Hujan deras, petir, dan mati lampu. Key takut. Key kalut. Key berjalan keluar kamar untuk menuju kamar mom tapi Key malah gak tau jalannya karena semuanya gelap. Trus Key gak sengaja nyenggol vas kaca, jadi pecah deh. Key juga gak sengaja menginjaknya. Walaupun sakit, Key tetap lanjut jalan karena Key takut. Tapi setelah itu Key malah guling-guling di tangga." cerita Key dengan mata yang berkaca-kaca, mengingat kejadian semalam.
Ara memeluk Key guna menenangkan Key yang tampak masih terguncang akibat kejadian semalam.
"Mulai sekarang abang akan tidur bareng kamu. Abang gak mau kejadian ini terjadi lagi." putus Axel.
"Dad setuju. Dad gak mau princess kenapa-napa lagi." ujar Alex.
__ADS_1
-Tbc-