
"Kita tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain."
°°°°°
5 months later...
Setelah satu minggu penuh melaksanakan ujian kenaikan kelas, baru lah sekarang murid-murid bisa bernafas lega. Tinggal menunggu hasil ujian dan setelah itu mereka akan libur selama sebulan penuh.
"Untung ujian udah selesai. Otak gue udah capek banget menghafal huh."
"Lo pikir, lo aja yang capek Chil? Gue juga elah." renggut Elly.
"Apalagi gue. Selama ujian gue kagak bisa liat oppa DO Kyungsoo gue." Tasya pun ikut-ikutan.
Sementara Key dan Aura sibuk memakan nasi goreng mereka. Mereka berdua sudah seperti orang yang tidak makan selama sebulan saja.
"Kalian ini lapar apa rakus sih?" celetuk Elly melihat cara makan kedua sahabatnya.
"..."
"Segitu fokusnya sama makanan mereka, sampai-sampai gue di cuekin."
Rafa dkk tiba-tiba saja menghampiri meja mereka dengan membawa makanan dan minuman di tangan mereka masing-masing. Mereka duduk di dekat pasangan mereka masing-masing.
"Princess, princess. Segitu laparnya dia." Axel geleng-geleng kepala sendiri jadinya melihat Key makan dengan lahap.
Rafa terkekeh dan mencium pipi Key dengan gemas. "Kamu lucu banget sih,makannya belepotan kayak anak kecil, emang udah berapa lama nggak makan?"
Tasya berseru dengan hebohnya."Woyyy! Ini tempat umum." Elly mengeluh. "Jangan mengumbar kemesraan kalian disini dong."
Chilla menyandarkan kepalanya di bahu Kelvin. "Aku gak kuat melihat kemesraan mereka." katanya mendramatis hingga pacarnya terkekeh geli.
"Kamu gak makan?"
"Melihat kamu makan aja, aku udah kenyang kok."
Key memutar bola mata malas mendengar gombalan Rafa dan kembali makan. Rafa di buat geleng-geleng kepala heran jadinya.
"Aura."
"Hm."
"Sayang."
"Hm."
"Ih, jangan cuekin aku dong."
Aura mengangkat kepalanya dengan malas dan menatap Mike dengan tatapan jijik. "Please deh. Jangan ngerengek gitu. Kayak cewek aja."
Bukannya marah, Mike justru tertawa kencang.
"Kamu masih waras, kan?" tanya Aura polos.
"Gak! Aku gak waras karena kamu!"
"Cieeeee!!" sorak sahabat-sahabatnya hingga Aura malu sendiri jadinya.
"Kalian heboh banget deh. Sakit kuping gue." ketus Key yang tidak ikut menyoraki Aura.
"Biasanya suara lo yang bikin kuping kami sakit." celetuk Elly yang di sahut anggukan setujui oleh yang lainnya.
Key mengendikkan bahu tak acuh dan kembali fokus ke makanannya. Rafa gemas sendiri jadinya. Dia di duakan dengan makanan. Sungguh, menyedihkan.
"Kita liburan yuk, guys!" usul Tasya antusias setelah mereka semua selesai makan.
__ADS_1
"Kemana?"
"Ke Korea! Ketemu future husband gue!" jawab Key antusias.
"Ke Jepang aja! Sekarang sedang musim semi loh. Kapan lagi gue foto di bawah pohon sakura." jawab Elly sambil membayangkan berfoto ria dengan pacarnya di bawah pohon sakura. Pasti sangat romantis, pikirnya.
"Gak! Ke swiss aja! Kita main sky di sana." bantah Chilla.
"No! No! No! Kita ke Papua aja!" kata Aji.
"Hah?!" cengo para sahabatnya.
Aji terbahak. "Biar bisa cari emas gitu. Lebih bermanfaat juga, kan."
Axel menjitak kepala Aji dengan gemas, di susul oleh yang lainnya. Aji yang ternistakan oleh para sahabatnya hanya bisa merenggut kesal dan mengusap dahinya yang nyut-nyutan.
"Gue maunya ke Bali!" cetus Aura.
"Dekat banget. Mending ke Korea!" bantah Key.
"Ke Jepang!"
"Bali!"
"Korea!"
"Swiss!"
"Paris!"
"Gak!! Pokoknya Koreaa! Titik!!"
Akhirnya terjadi lah perdebatan antara Elly, Key, Chilla, Aura, Tasya, dan Aura. Elly dengan negara pilihannya Jepang, Aura dengan Balinya, Key dengan Koreanya, Chilla dengan Swissnya, dan Tasya dengan Parisnya. Para cowok hanya bisa mengelus dada.
"Udah! Udah! Kalian jadi pusat perhatian tuh." lerai Mike sambil membekap mulut pacarnya.
"Gak bisa gitu dong!" serobot Axel.
"Enak aja lo pergi liburan berdua bareng adek kesayangan gue." Rafa menatap Axel kesal.
"Dan kalau liburan itu harus sama-sama. Kalau gak sama-sama, gak akan terasa." imbuh Aji.
"Ekhem!"
Mereka semua terdiam mendengar deheman Kelvin dan menatap laki-laki itu dengan tatapan bertanya.
"Biar adil, kita kunjungi saja semuanya." Kelvin mengeluarkan buku dari dalam tasnya. "Dan sekarang kita buat plannya."
Chilla memeluk lengan Kelvin manja. "Tumben banget kamu pintar," katanya, antara memuji dan menghina.
"Untung sayang." gumam Kelvin yang mendapat kekehan dari Chilla. "Oke. Jadi kapan kita akan pergi?"
"Besok!" seru Key semangat.
"Kok besok? Besok kan masih ada acara classmeeting?"
"Kelvinku sayang, cuma classmeeting doang. Gak penting."
Rafa menatap Key tajam karena pacarnya itu menambahkan kata sayang di belakang nama Kelvin. Yang di tatap menyengir tanpa merasa bersalah.
"Kita akan kembali lagi ketika menerima rapor." lanjut Key.
"Boleh juga tuh. Gue setuju." kata Mike.
Kelvin mengangguk dan mulai menulis di buku tulisnya.
__ADS_1
Tempat yang akan di kunjungi:
Bali - Aura
Korea -Key
Swiss -Chilla
Paris -Tasya
Jepang -Elly
"Apa ada lagi usulan?" tanya Kelvin. Saat melihat para sahabatnya menggeleng, baru lah Kevin melanjutkan.
"Liburan kita selama sebulan plus classmeeting 2 minggu. Jadi, kita bisa berada di negara yang akan di kunjungi selama 1 minggu penuh. Yang satu minggunya lagi gue pribadi yang nambahin, ke Lombok. Setuju gak?"
"Setuju!"
"Biar adil kita kalian cabut lot saja." Kelvin membagikan potongan kertas yang sudah di berinya nomor tersebut ke para cewek.
"Siapa yang dapet nomor 1?"
"Gue." jawab Tasya.
Kelvin menatap puas kertas yang berisi plan mereka.
Paris : 1 minggu
Bali : 1 minggu
Lombok: 1 minggu
Swiss: 1 minggu
Jepang: 1 minggu
Korea: 1 minggu
"Ah, gak asik! Masa iya Korea yang paling terakhir." Key berdiri dari duduknya. Dia tidak terima jika mereka akan mengunjungi Korea paling terakhir. "Pokoknya gue gak terima Korea paling akhir! Mending gue liburan sendiri." ketus Key.
Aura menatap Key dengan tatapan kesal, begitu pun yang lainnya. "Gak bisa gitu dong, Key! Kita kan tadi udah sepakat." ujar Aura berusaha tidak ngegas dalam berbicara. Takutnya Key tersinggung.
"Aura benar. Lo harus terima dong, Key." nasihat Tasya.
"Gak. Kalian pergi aja liburan tanpa gue."
"Key! Lo gak bisa gitu dong! Lo harus menghargai keputusan kita semua!" kata Chilla kesal setengah mati.
"Lo jangan egois dong, Key!" seru Kelvin tak suka dengan Key yang tidak mau menerima keputusan.
"Princess. Kamu ikut ya. Kamu tau kan, kita gak boleh memaksakan pendapat kita ke orang lain." Axel menarik tangan Key lembut untuk duduk kembali.
"Sayang, jangan gitu oke. Aku jamin, kamu nantinya akan merasa ketagihan deh selama liburan di tempat-tempat tadi." bujuk Rafa.
"Jangan jadi egois ya, princess. Terima keputusan ini. Lagipula, liburan akan terasa menyenangkan jika di nikmati secara bersama-sama."
Key menghembuskan nafasnya pasrah. Mau tak mau, suka tak suka, ia tetap akan pergi. Lebih tepatnya terpaksa pergi.
__ADS_1
-TBC-