
Siang kala itu, saat matahari tengah bersinar dengan teriknya. Di sebuah ruangan kerja terlihat seorang pria tampan yang menatap layar komputer dengan serius.
Ekspresi seriusnya semakin membuat aura ketampanannya bertambah. Mata tajam dan rahang tegasnya terlihat sangat menggoda.
Di kantor, ia menjadi idola para kaum hawa.
Wajah tampan dan boss perusahaan ternama.
Siapa kaum hawa di dunia ini yang tahan akan kesempurnaannya?
Siapa yang tidak akan mengidolakan sosok sepertinya?
Hanya satu kekurangan pria itu yaitu dingin dan tidak kenal ampun. Pria itu tidak akan mentoleransi kesalahan sedikit pun. Jika berbuat kesalahan, maka siap-siap saja akan mendapatkan teguran keras darinya.
Pria itu tak lain Rafa Aditya Purnama. Ya, Rafa.
Dia bukan lagi siswa kelas 12 tapi sudah menjadi boss di sebuah perusahaan. Sekarang dia sudah menggaji ribuan karyawan. Tanggungannya sudah besar, tidak bisa lagi bersantai-santai seperti dulu.
Ia memijit kepalanya yang terasa sedikit pusing.
Ini semua pasti karena bergadang semalam.
Ia menghela nafas. Kemudian menelpon seseorang untuk mengantarkan kopi ke ruangannya.
Tak membutuhkan waktu yang lama, office girl mengantarkan kopi pesanannya.
Tampaknya office girl itu ingin menggoda Rafa.
Tapi, coba tebak reaksi Rafa!
Apa kalian pikir dia tersenyum? Menyeringai? Dan langsung beraksi?
Oh no!
Rafa tidak melirik perempuan itu sama sekali. Dia hanya fokus ke berkas yang berada di atas meja kerja.
Beberapa tahun telah terlewati, namun di matanya hanya Key yang menarik. Hanya Key yang bisa membuatnya tidak bisa berpaling. Hanya Key yang bisa membuatnya betah menatap.
"Kenapa masih di sini?" Rafa bertanya begitu dingin hingga office girl itu tersenyum kecut.
Sia-sia sudah pakaian yang di buat seksi dan merias wajah sebaik mungkinnya.
Tidak ada gunanya!
Bos tampan nan dinginnya tidak meliriknya sama sekali!
Dia kalah saing oleh berkas.
Untungnya dengan sangat sadar diri, si office girl langsung mengundurkan diri. Meski keluar dari ruangan Rafa dengan wajah kesal setengah mati.
Rafa tetap fokus pada berkasnya meski tidak sepenuhnya fokus.
Pikirannya terbagi dua.
Ke berkas yang ditandatangani dan ke Keyra.
Rafa menghela nafas kesal. Berusaha untuk tetap fokus pada berkas. Ia harus profesional. Saat ini masih jam kerja.
Keningnya mengernyit heran ketika melihat berkas yang hendak di tandatanganinya.
__ADS_1
Membaca dengan teliti untuk kedua kalinya sebelum akhirnya ia mendengus keras.
"Panggilkan Azim pemimpin devisi keuangan ke ruangan ku sekarang! Cepat!" Titahnya pada sang sekretaris lewat telepon.
Rafa menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Berani sekali dia bertingkah ceroboh. Awas saja! Aku tidak akan melepaskannya!"
Tok tok tok!
"Permisi, pak. Ada apa bapak memanggil saya?" Azim bertanya dengan wajah pucat. Takut telah melakukan kesalahan dan berakhir di marahi habis-habisan.
"Mulai besok kau tidak perlu datang ke kantor lagi." Jawab Rafa dingin.
"Tapi, kenapa, pak?" Meski ketakutan dengan aura intimidasi Rafa, Azim tetap bertanya karena ia tidak tahu dimana kesalahannya. Perasaan dia selalu bekerja dengan baik.
"Kenapa kau bilang?!" Sentak Rafa seraya melemparkan berkasnya ke arah Azim, yang langsung di tangkap oleh bawahannya itu.
"Baca itu baik-baik!" Titah Rafa tak terbantahkan.
Azim menghela nafas, menguatkan diri sendiri, lalu membaca ulang laporan keuangan yang diberikannya. Tubuhnya menegang kaku ketika melihat kesalahan kecilnya yang berakibat fatal.
"Sekarang sudah mengerti dimana letak salahmu?!"
Azim menatap Rafa dengan tatapan memelas. "Maafkan saya, pak. Maafkan kesalahan saya. Saya janji tidak akan berbuat kesalahan untuk kedepannya. Saya mohon pak, jangan pecat saya." Pintanya begitu mengiba.
Rafa tersenyum sinis. "Aku tidak peduli."
Azim bahkan sampai berlutut di lantai. "Tolong jangan pecat saya, pak. Kasihanilah istri dan anak saya."
Seakan tak punya hati nurani, Rafa memutar bola mata malas. "Jangan banyak basa basi, cepat keluar dari ruangan ku dan ambil gaji terakhirmu."
"Tapi, pak. Saya--"
"Tidak ada tapi-tapian! Keluar!"
Tiba-tiba Rafa teringat dengan Key. Hal itu membuat hati nuraninya kembali dan kekesalannya hilang begitu saja.
"Karena aku sedang dalam mood baik hari ini, kau tidak jadi ku pecat."
Seketika wajah frustasi Azim berganti dengan wajah bahagia. Senyumnya tersungging begitu lebar hingga Rafa takut bibir itu akan robek.
Pria paruh baya bernama Azim itu membungkuk dan mengucapkan terimakasih berkali-kali dan berjanji tidak ada mengulangi kesalahan di masa yang akan datang.
Rafa tersenyum miring melihat tingkah berlebihan pria itu. "Bekerja lah sebaik-baiknya agar istri dan anakmu mendapatkan kehidupan yang layak." Ceramahnya begitu saja.
Azim mengangguk pasti. Setelah itu, Rafa menyuruh Azim keluar karena ingin melanjutkan kerjaan yang tertunda.
Rafa menyeruput kopi manisnya. "Entah kenapa aku menjadi tidak tega memecatnya. Aku tidak tega membayangkan keadaan istri dan anaknya setelah dia diberhentikan dari sini." Meneguk kopinya sekali lagi dan menyugar rambutnya. "Semoga saja dia tidak melakukan kesalahan lagi."
Rafa kembali bekerja.
Namun, baru beberapa menit dia fokus bekerja, pelukan seseorang telah menghentikannya.
Aroma familiar orang yang memeluknya membuat Rafa tersenyum manis. Ia menoleh ke samping dan mencium pipi orang itu.
Dan seseorang itu adalah wanita yang sangat dicintainya sejak dulu. Keyra Angelia Purnama.
Sudah bertahun-tahun Rafa melewati kejadian demi kejadian bersama Keyra tapi rasa bosan itu tidak pernah di rasakannya. Apalagi sekarang dia sudah punya dua malaikat kecil yang selalu menghiasi hari-hari panjangnya.
Dua malaikat kecil yang menjadi motivasi dan semangatnya dalam bekerja.
__ADS_1
"Kamu jangan sibuk bekerja terus, Rafa." Omel Key yang sudah duduk di atas pangkuan Rafa.
Rafa tersenyum geli. "Kenapa memangnya? Kamu merasa kesepian? Kamu merindukanku?"
Key menggeleng sembari mengelus pipi Rafa.
"Anak-anak, Rafa. Mereka selalu menanyai kapan kamu akan pulang. Mereka sudah sangat merindukanmu. Kamu tahu sendiri 'kan? Mereka paling tidak bisa berpisah lama-lama darimu.
Rafa memejamkan matanya bersalah. Terbayang olehnya dua malaikat kecilnya bertanya dengan wajah polos kapan dirinya akan pulang. Membuat hatinya terasa tercabik-cabik saja.
Pria tampan itu membuka matanya. Menatap Key dengan tatapan sangat bersalah. "Maafkan aku, sayang. Maafkan aku yang terlalu sibuk bekerja di kantor. Maafkan aku yang terlalu disibukkan oleh proyek besar kali ini."
Wanita itu tersenyum maklum. Ia menangkup tangan Rafa di depan dadanya. "Tidak perlu merasa bersalah begitu. Aku paham. Hanya saja, aku harap kamu tidak sampai lupa pulang. Lagipula tidak ada salahnya kan bekerja di rumah? Aku tidak akan menganggu kerjaanmu sama sekali."
Rafa tiba-tiba menyeringai hingga Key mengernyit aneh.
"Tentu saja aku tidak bisa bekerja dengan fokus di rumah karena kamu terlalu menggoda, sayang. Melihatmu membuatku tidak sanggup untuk tidak memakanmu."
"YAK! DASAR RAFA MESUM!" seru Key kala sadar akan maksud ucapan Rafa.
"Seperti tidak tahu aku saja." Kikik Rafa menyebalkan. Sementara Key menghela nafas sebal. Ya, Rafa memang pria yang tidak pernah puas dengan tubuh sexynya. Meski sudah lama menikah tetap saja Rafa sering meminta jatah dengannya.
"Oh ya. Aku membawakan makanan kesukaanmu. Kamu pasti belum makan siang 'kan?"
Rafa mengecup bibir sang istri sekilas. "Perhatian banget sih istrinya Rafa."
"Iya dong. Aku kan memang perhatian . Gak kayak kamu yang cuek."
"Loh, kapan aku cuek?"
"Pikir aja sendiri."
Tak mau menciptakan perdebatan, Rafa mengiyakan saja. Sementara Key turun dari pangkuan Rafa.
"Nah, sekarang makan dulu agar suami tampanku satu ini tidak jatuh sakit." Ucap Key penuh perhatian.
Rafa mengulum senyum.
Wanita di hadapannya adalah moodbosternya. Wanita yang sangat dicintai dan disayanginya di dunia.
Rafa sangat bersyukur Tuhan tidak mengambil Key nya.
Waktu itu...
Bukan jasad Key yang dimakamkan dan ditangisinya karena tubuh asli Key yang sebenarnya berhasil keluar dari mobil dan diselamatkan oleh seseorang.
Namun, dia tidak langsung bertemu dengan Key karena orang yang menyelamatkan Key tidak mengetahui identitas Key sama sekali.
Pertemuannya dengan Key saja terjadi di sebuah universitas.
Awalnya ia berpikir Key itu perempuan lain yang berwajah serupa namun hatinya tidak bisa dibohongi.
Hatinya terus berteriak bahwa Key itu , Key yang asli. Key yang dicintainya.
Usut demi usut. Rafa menemukan fakta yang sesuai dengan harapannya.
Rafa sangat bersyukur atas karunia yang Tuhan berikan.
Sekarang, ia sudah bahagia dengan keluarga kecilnya. Keyra dan dua malaikat kecilnya.
__ADS_1
Rafa harap kebahagiaan selalu melingkupi keluarga kecilnya.
-Selesai-