
"Nggak usah pedulikan orang yang iri dan sinis kepadamu. Anggap saja keberadaan mereka sebagai makhluk halus."
°°°°°
"Rafa..." panggil Key yang berada di gendongan laki-laki tampan itu setelah dirasanya keluar dari dalam rumah hantu tersebut.
Jika kalian pikir Key pingsan beneran, maka kalian salah besar. Ia hanya berpura-pura pingsan agar cepat keluar dari sana tanpa memintanya terlebih dahulu. Pintar kan dia? Hehe.
"Syukur lah kalau kamu sadar."
"Kita mau kemana?"
"Pulang."
"Tapi aku masih pengen di sini. Turunin." Dengan sangat terpaksa, Rafa menurunkan Key yang merengek.
"Sekarang kita ke Magic Castel. Aku mau foto-foto." Belum sempat Rafa mengangguk, Key sudah menariknya. Di sana sudah banyak orang yang mengantri untuk berfoto karena tempat berfoto itu paling instagramable.
Key menjadi tidak sabar untuk memasukkan fotonya ke instagram miliknya.
"Sayang, yang lainnya panik mencari kita. Ayo kita samperin mereka lagi." Key yang sedang melihat-lihat foto langsung mengangguk.
"WOII! KALIAN KEMANA AJA SIH?! KAMI PANIK CARI KALIAN TAU!" Teriak Chilla ketika mereka berdua baru saja sampai di sana.
"Key pi--"
"Tadi gue kebelet pipis, jadi gue keluar duluan deh." potong Key cepat. Bisa diejek dia jika para sahabatnya tau kalau dia pingsan. Walaupun hanya akting sih.
"Sekarang kita makan dulu. Trus nanti kita nonton pertunjukan amphitheater." Mata Key berbinar senang layaknya anak kecil yang mendapatkan hadiah dari ortunya.
****
Myeongdong Street, Seoul N Tower, Insadong, Itaewon Street, Pasar Namdaemun, Istana Changdeokgun, Dragon Hill Spa, Namsan Park (taman namsan), Noraebang, Sungai Hangang, Cheonggyecheon Stream, semuanya Key kunjungi bersama para sahabatnya dalam kurun waktu satu minggu. Setelah itu mereka berlibur ke Bali selama satu minggu pula.
Beberapa jam yang lalu mereka baru saja selesai menerima rapor kenaikan kelas. Hasilnya sangat memuaskan. Key mendapat peringkat pertama begitu pun dengan Axel dan Rafa. Kok bisa? Nilai Axel dan Rafa sama jumlahnya.
Liburan mereka habiskan dengan mengunjungi negara tujuan mereka. Hari-hari mereka dipenuhi dengan penuh canda tawa dan kebahagiaan.
Waktu terasa berjalan begitu cepat, hari ini sudah masuk sekolah saja. Hari pertama sekolah sebagai murid sekolah menengah atas tingkat akhir.
"KEYYY!! KITA SEKELAS LAGI!!" teriak Aura bahagia.
"YEAYYY!! SEKELAS LAGI!" sorak Elly tak kalah bahagia. Semua pasang mata terarah ke mereka. Tatapan kagum, iri, sinis, dllnya. Para sahabatnya yang gesrek langsung memeluk Key kuat hingga yang dipeluk merasa kesusahan bernapas.
"Huaaa!! Gue bahagia banget gak pisah sama kalian." Aura melompat-lompat saking senangnya.
"Apalagi kita juga sekelas dengan pacar-pacar kita." ucap mereka lagi dengan nada senang.
"Iya, iya. Tapi lepasin pelukan kalian deh. Gue susah napas." protes Key hingga para sahabatnya langsung menjauh sambil cengengesan.
__ADS_1
"Oh ya, kita kelas berapa?" tanya Key.
"Kelas 12 IPA 1." jawab Chilla.
"Ke kelas yuk." ajak Key pada mereka. Dia malas menjadi pusat perhatian dalam jangka waktu yang lebih lama. Mereka menuju kelas baru mereka sambil mengobrol ria. Setibanya di kelas mereka mengambil tempat duduk di belakang sekali. Ternyata sudah ada Rafa dan yang lainnya duduk manis di dalam kelas.
"Sayang, kita duduk bareng ya." Key menyanggupi ajakan Rafa sambil tersenyum manis.
"Kita juga duduk bareng." cetus Axel dan menarik lengan Tasya untuk duduk.
Kelas yang awalnya heboh seketika menjadi hening ketika seorang guru cantik memasuki kelas dengan anggun.
"Pagi, anak-anak! Perkenalkan nama ibu adalah Mila Kumala Sari. Panggil aja Bu Mila dan ibu adalah wali kelas kalian semua. Ibu mengajar di mapel Biologi. Apa ada yang ingin bertanya?"
"Ibu orang mana?"
"Sudah punya suami?"
"Berapa jumlah mantan ibu?"
"Ibu mau gak jadi pacar saya?"
Bla bla bla.
Bu Mila sampai pusing sendiri mendengar pertanyaan anak didiknya. "Satu-satu bertanya nya. Yang ingin bertanya silahkan angkat tangan." lerai Bu Mila. Anak muridnya yang tidak terlalu bandel menurut.
"26 tahun."
"Ibu orang mana?"
"Payakumbuh."
"Kalau gak salah itu di Sumatra Barat kan, bu?"
"Iya."
"Sudah punya suami belum, bu?"
"Alhamdulillah sudah."
"Yahhh!!" sorak para cowok kecuali Rafa dkk tentunya.
"Suami ibu orang mana? Kerja apa?"
"Orang Jakarta. Direktur perusahaan."
"Udah punya anak belum, bu?"
"Alhamdulillah sudah."
__ADS_1
"Umur berapa, bu?"
"Baru 3 bulan, nih di dalam perut ibu."
"Wah, berarti walas kami bumil dong. Tenang, bu. Kami tidak akan membuat ibu emosi. Jika ibu ngidam jangan segan-segan buat minta ke kami."
"Semoga dedek bayi lahir dengan selamat nantinya."
"Nanti kalau perempuan kasih nama Cantika ya, bu. Biar anak ibu akan secantik saya kalau sudah besar."
"Huuuu!! Pede lo!!" sorak seisi kelas.
"Makasih semuanya," kata Bu Mila terharu.
Selama teman-teman sekelasnya mewawancarai walas mereka, Key menyandarkan kepalanya ke bahu Rafa. Tangan pria itu mengelus puncak kepala Key dengan lembut.
Dunia terasa milik berdua! Untung saja mereka berdua duduk di paling sudut dan belakang.
"Kak Key, aku pengagum kakak. Tolong terima ini ya, kak," kata seorang laki-laki yang berkaca mata dengan malu-malu ke Key yang baru saja keluar kelas bersama para sahabatnya.
Tingkah berani laki-laki itu membuat mereka jadi tontonan murid yang berlalu lalang. Mereka mulai menghina laki-laki tersebut karena berani menampakkan diri ke Key.
"Pfttt. Dia culun banget, gaes." Chilla berusaha menahan tawanya melihat penampilan laki-laki yang memberikan coklat batang ke Key. Seragam sekolah kebesaran yang di masukkan ke dalam celana, kacamata tebal, dan di tangannya yang satu lagi memegang buku paket yang cukup tebal.
Sahabat Key yang lainnya mau tak mau juga ikut tertawa melihat penampilan culun laki-laki itu.
"Jangan dengerin mereka ya. Mereka kadang emang suka asal nyeplos aja." kata Key merasa bersalah.
"Gapapa kok, kak. Aku kan emang culun." sahut laki-laki itu tertunduk malu.
"Oh ya ampun, maaf mengabaikan coklatmu. Makasih ya, aku suka. Dan siapa namamu?"
Perlahan wajah laki-laki tersebut terangkat. Ia tertegun melihat mata biru Key yang berbinar. Baginya Key adalah sosok bidadari nyata yang turun dari langit. Dia sudah mengagumi Key semenjak gadis itu menjadi murid baru. Dia menyukai Key dalam bentuk nerd maupun tidak.
Terdengar aneh memang, tapi percaya atau tidaknya ia memang sudah mengagumi Key sejak lama. Tapi baru sekarang ia menyiapkan dirinya menghadap ke Key langsung. Jika boleh jujur, lututnya terasa sangat lemas sekarang. Ia serasa mau pingsan.
"Hei!"
Laki-laki itu terhenyak ketika Key menjentikkan jari lentiknya di depan wajahnya. "Siapa namamu?"
"Aku Boy, kak. Aa aaku pergi dulu, kak. Sekali lagi terima kasih."
Key menatap kepergian laki-laki yang bernama Boy itu dengan kekehan gelinya. Orang-orang yang berada disekitar Key semakin memuji Key karena baik hati.
Rafa merasa cemburu akibat Key yang mendapat hadiah dari si Boy.
"Gak usah cemburu kali. Ini tuh hanya hadiah." celetuk Key ketika menyadari raut wajah tak suka Rafa.
-Tbc-
__ADS_1