
Rafa yang sedang bersantai di ruang tamu sambil bermain game di hpnya langsung mendongakkan kepalanya saat mendengar suara orangtuanya.
"Sayang! Kami pulang!" kata Lia, mamanya Rafa dengan senang.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Rafa datar. Kemudian ia kembali sibuk dengan hpnya.
"Dimana sopan santunmu, Rafa?!" marah Rico, papanya.
Rafa mendengus kasar lalu berdiri. Ia menatap kedua orangtuanya dengan tajam. "Masih ingat rumah kalian?" tanyanya angkuh sembari bersidekap.
"Rafa?!"
"Apa, pa? Papa mau marah?? Emang itu kan kenyataannya. Kemana aja kalian selama beberapa bulan belakangan ini?! Saya pikir kalian sudah lupa dengan anak kalian yang satu-satunya ini." Ia tertawa sarkas.
Rico yang baru saja pulang dengan keadaan lelah langsung tersulut emosi mendengar ucapan anaknya yang sarkas. "Kemana kamu tanya? Papa kerja di London. Kerja buat kamu. Biar kamu bisa kayak anak-anak lainnya. Memang kamu pikir kamu hidup pakai apa selama ini? Pakai uang papa, kan? Tanpa uang papa kamu tidak akan bisa hidup Rafa."
Rafa tertawa meremehkan. "Iya, saya tau kalau kalian kerja buat saya. Tapi bukan kah selama ini pencapaian kalian sudah banyak?! Uang kalian banyak. Sampai 20 keturunan pun tidak akan habis. Bagi saya, harta bukanlah segalanya. Yang saya butuhkan di sini adalah perhatian kalian, bukan harta kalian!"
Kedua orang tua Rafa terdiam.
"Dari dulu saya selalu kalian abaikan. Tapi saya diam. Saat penerimaan lapor, kalian pun tidak bisa hadir. Saat saya sakit, kalian tidak ada di sisi saya. Saya sendirian selama ini. Yang kalian berikan kepada saya hanya lah sebatas kebutuhan hidup bukan perhatian." Rafa mengambil nafas kasar. "Camkan baik-baik. Yang saya butuhkan hanyalah perhatian, bukan harta kalian." desis Rafa.
Ia menendang meja kaca yang berada didepannya dengan penuh emosi. Lalu berjalan meninggalkan kedua orangtuanya. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara papanya.
"Kamu tidak butuh harta kami? Wow, hidup dengan apa kamu nanti hah??" sarkas Rico.
Lia terlihat panik, "Mas---"
"Diam, sayang."
"Ya! Saya tidak butuh harta kalian. Tanpa harta kalian pun saya masih bisa hidup." sinis Rafa.
Rico tersenyum sinis dan mengangkat alisnya sebelah. "Oh ya? Coba buktikan kalau begitu." tantang Rico.
Tangan Rafa mengepal erat.
"Mas, sudah---"
"Oke," Rafa tersenyum sinis. "Saya menyesal punya ortu kayak kalian. Ortu yang lebih mementingkan harta daripada anaknya," kata Rafa tajam dan berjalan cepat. Meninggalkan rumah yang selama ini di tempatinya.
"Mas, anak kita..." panik Lia.
"Tenang, lagipula nanti dia pasti kembali ke sini," kata Rico tenang.
"Tapi---"
"Tenang saja, sayang. Memangnya nanti dia mau makan dan tinggal dimana kalau dia tidak kembali ke sini?"
Lia terdiam. Di dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Lia sadar, ia sudah egois. Mementingkan pekerjaannya daripada anaknya sendiri.
"Mas, aku menyesal udah mentingin pekerjaan daripada anak kita." Lia menangis, menyesali perbuatannya selama ini.
****
"Tidak bisa hidup tanpa harta mereka? Wow! Mereka pikir gue semalas itu ya? Tanpa uang mereka pun gue bisa bertahan hidup dengan usaha-usaha yang gue jalanin saat ini."
Rafa tersenyum miris. Ia mengendarai mobilnya secepat kilat. Untung saja dia selamat sampai ke tujuan. Yaitu disebuah cafe yang ramai pengunjungnya. RK Cafe's namanya.
Salah satu cafe yang Rafa buka baru-baru ini. Rk adalah kesingkatan dari Rafa Key. Rafa turun dari motor ninjanya. Ia masuk ke dalam cafe.
Di sana ia menjadi pusat perhatian kaum hawa. Bagaimana tidak menjadi pusat perhatian kaum hawa?
Dia memiliki wajah yang tampan, bentuk tubuh dan tinggi yang proposional, dan di tambah lagi cara berpakaian yang terkesan bad boy.
Rafa hanya bersifat tak acuh. Ia menuju ke ruangan pribadinya.
Setibanya di sana, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Matanya menerawang jauh.
Selama ini Rafa merasa hidupnya biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Hari-hari-harinya terasa hambar dan sepi. Tapi itu dulu.. Sebelum Key hadir ke dalam hidupnya. Dengan kehadiran Key, hari Rafa terasa lebih berwarna dan lebih hidup.
Meskipun Rafa laki-laki, bukan berarti dia tidak merindukan kasih sayang orangtua. Dia merindukan kasih sayang itu. Dia ingin merasakan di cintai dan disayangi oleh orangtuanya sendiri. Terkadang Rafa iri melihat teman-temannya yang begitu di sayangi oleh ortu mereka. Sedangkan dia? Hah, dia cuma di anggap sebagai bahan pajangan di rumah yang besar dan mewah itu.
__ADS_1
****
Di suatu ruangan yang begitu minim cahaya, foto seorang gadis cantik terpampang di dinding-dinding ruangan namun tidak dengan kondisi utuh. Maksudnya di foto itu terdapat cakaran, sobekan di sebagiannya, pisau, darah, dllnya.
Seorang gadis berpakaian serba hitam sedang menghisap rokoknya sembari mengamati salah satu foto yang terpampang di dinding.
"Lo itu sempurna. Lo punya wajah yang cantik, banyak orang yang suka ke lo, punya keluarga yang harmonis, kaya akan harta, begitu banyak kelebihan lo."
Gadis berpakaian serba hitam itu melobangi bibir gadis yang sedang tersenyum di lembar foto.
"Selama ini lo selalu tersenyum. Yah, karena hidup lo kan bahagia." Gadis berpakaian serba hitam itu tersenyum menyeramkan. "Tapi itu dulu. Sekarang gue akan membuat lo merasakan arti penderitaan karena gue akan menghancurkan kebahagiaan yang lo miliki saat ini. Gue akan membuat lo hancur sehancur-hancurnya hingga lo gak sanggup untuk bangkit dari keterpurukan lo."
Gadis itu tertawa mengerikan. Dia layaknya psikopat yang hendak memangsa korbannya. "Tunggu aja tanggal mainnya sebentar lagi, KEYRA ANGELIA ALEXANDER."
****
"ABANG!!! CEPETAN!! KITA UDAH TERLAMBAT NIH. KEY TUNGGU DI MOBIL." Teriakan terdengar menggema di seisi mansion.
Suara teriakan itu berasal dari Key yang sudah tidak sabaran untuk sekolah.
Setelah beberapa hari berlalu, Key kembali masuk ke sekolah. Hari ini mereka akan mengadakan upacara bendera karena hari ini hari senin. Hari yang dibenci oleh kebanyakan siswa.
"Udah nih. Kamu udah pakai sabuk pengaman?" Axel masuk ke dalam lamborghininya dengan nafas yang ngos-ngosan karena berlari menuju mobilnya yang sudah terparkir di halaman.
"Udah. Cepetan, bang."
"Aduh, princess. Masih ada waktu 10 menit lagi."
"Gak mau tau. Pokoknya cepetan!!"
Axel mengalah dan segera melajukan lamborghi nya. Di sepanjang perjalanan, Key malah asik melihat mv biasnya, yaitu MV EXO.
"Princess, udah sampe." tegur Axel sembari menarik hp yang di pegang Key hingga gadis itu berteriak protes.
"NGGAK USAH AMBIL HP KEY JUGA KALI."
Axel mengusap-ngusap kupingnya yang terasa berdengung akibat teriakan adik kesayangannya. "Nggak usah teriak-teriak, princess. Telinga abang sakit nih."
Sementara itu, Axel cuma bisa geleng-geleng kepala sembari berdecak dan ikut keluar menyusul adiknya. Tak lupa pula merangkul adik kesayangannya.
"Pagi Axel."
"Aw aw,, sibling goals kita."
"Manisnya mereka."
"Pengen punya abang juga deh."
"Good Morning, My Keyra."
Berbagai sapaan dan pujian memasuki gendang telinga mereka. Namun mereka cuek saja. Setibanya di kelas Key langsung duduk di dekat Rafa. Sementara itu, Axel duduk di dekat Tasya.
"Pagi sayang." sapa Rafa saat Key sudah duduk manis di atas kursi.
"Kamu udah baikan? Gak ada yang sakit lagi, kan?" Ia mengelus puncak kepala Key dengan lembut. Key menjawab dengan gelengan.
"Syukurlah kalau begitu."
"Woi, Key!"
"Apaan?!" tanya Key ke Elly yang baru saja memanggilnya.
"Di kelas ini ada anak baru loh. Nerd."
"Trus apa peduli gue?" cuek Key lalu melongos ke arah Rafa.
"Anjir." umpat Elly.
"Haha.. Rasain lo!" kekeh Aura.
Elly berjalan ke arah Key. Lalu berbisik. "Hati-hati loh. Nanti dia rebut Rafa dari lo, soalnya dia keliatannya suka ke Rafa." Setelah membisikkan itu, Elly lari keluar kelas.
__ADS_1
"ELLY!!!" teriak Key kesal.
"Apa yang dia bisikan ke kamu, sayang?" Kepo Rafa.
"Gak ada."
"Masa?"
"Iya."
Tak lama setelah mengatakan itu datang seorang gadis yang berpenampilan cupu. Baju yang kedodoran, kacamata yang bulat, dan rambut di kepang dua.
"Permisi. Ini tempat duduk saya." kata perempuan itu dengan suara yang terdengar gugup.
Key menatap gadis cupu itu dengan raut wajah yang datar. "Maksud lo apa?"
Melihat raut wajah tak suka dari pacarnya, Rafa segera menenangkannya. "Jadi gini sayang, selama kamu gak sekolah dia duduk disamping aku karena semua bangku di kelas ini kan sudah terisi penuh." Rafa mengelus pipi Key lembut.
"Oh."
Key kembali menatap gadis cupu itu. "Ini tempat gue. Jadi lo cari aja tempat duduk yang lain."
"Ta---"
"Gue yang lebih dulu sekolah dan duduk di sini. Jadi lo gak punya hak untuk mengusir gue." cetus Key.
"Tapi kata bu guru saya duduk di sini." Tangan gadis cupu itu saling bertautan.
Key yang pms trus di tambah ucapan Elly tadi mengebrak meja kasar. "Ini tempat gue! Jadi lo jangan ngebantah mulu! Cari tempat lain noh."
"Sayang, kok kamu jadi kasar gini sih?" tanya Rafa tak suka.
"Kamu bela dia?!"
"Bukan ngebela, sayang."
"Lalu apa?!"
"Aku cuma gak mau kamu kasar ke dia."
Key tertawa sinis. "Kasar? Rafa sayang, aku cuma ngomong gitu doang di bilang kasar? Ckck.." decak Key. Ia menyeringai. "Yang kasar tuh kayak gini nih." Di dorongnya bahu gadis cupu itu hingga terjatuh ke atas lantai.
"Awhh.."
"KEY!! KAMU KETERLALUAN!"
"Kamu bentak aku gara-gara gadis cupu ini?!" tanya Key tak percaya.
"Sa---"
"TUTUP MULUT LO!" Key berlari keluar dari dalam kelas dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia berlari ke tempat yang di sukainya. Roftoop. Setibanya di sana, ia menendang kursi yang ada di sana.
"Kesal gue!"
"Rafa belain cewek cupu itu di banding gue?!"
"Arghhh!!! Pengen gue cakar-cakar wajah tuh cewek cupu."
"AAAA!!! NGESELIN!!!"
"RAFA NGESELIN!! DIA UDAH GAK SAYANG SAMA GUE LAGI!!"
"CEWEK CUPU PELAKOR!"
Setelah puas ngumpat, Key nangis.
-Tbc-
__ADS_1