
"Jangan menghilang seperti ini."
°°°°°
Key menghela nafas lesu ketika tidak satu orang pun yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.
Di rumah, mommy dan daddynya terlihat tak acuh saja. Di sekolah, sahabat-sahabatnya juga terlihat tak acuh. Padahal ini adalah sweet seventennya. Tidak berkesan sama sekali.
Rafa sendiri tidak masuk sekolah. Entah karena apa. Dia telah mengirim banyak chat ke laki-laki itu tapi pesannya tidak di read sama sekali padahal online, sungguh nyesek.
Laki-laki tampan itu menghilang begitu saja hari ini tanpa kabar.
"Gue pulang duluan ya, gaes." pamit Chilla yang sudah menyandang tasnya.
"Sama dong ke parkir." sahut Aura.
"Gue juga bareng kalian ke parkir. Males gue jalan sendirian." imbuh Elly.
"Teman-teman Key yang cantik tapi tidak lebih cantik dari Key. Kalian lupa hari ini hari apa?" pancing Key dengan bertopang dagu.
"Hari sabtu?"
Key merenggut mendengar jawaban polos Aura. "Gue juga tau kali hari ini hari sabtu. Maksud gue, kalian gak ingat sesuatu yang penting gitu di hari sabtu ini?"
"OH MY GOD! SORE INI MAMA NGAJAK GUE KE SURABAYA." teriak Chilla tiba-tiba histeris. "Gue cabut yak! Bye!"
"Gue juga duluan deh. Tadi mama juga berpesan untuk cepat pulang."
Elly dan Aura ikut menyusul Chilla. Meninggalkan Key dan Tasya di dalam kelas yang mulai sepi.
"Woi, lo juga kagak ingat hari ini hari apa?" tanya Key dengan bibir yang cemberut.
"Gue mau ke mall deh. Lo temenin gue ya. Gak nerima bantahan gue." Tasya tidak menyahut ucapan Key sebelumnya. Ia langsung menyeret Key ke parkiran dan memasukkan Key ke dalam mobilnya.
Key semakin merenggut kesal. "Gue mau pulang aja." protesnya.
"Gak bisa gitu dong. Lo harus nemenin gue. Tenang aja, gue traktir kok."
Bibir Key seketika melengkung indah. "Baiklah!"
"Yee, giliran traktiran lo cepat banget."
"Ya iyalah!"
Dalam hati Key tertawa devil. Lihat saja, dia akan menguras uang sahabatnya itu. Salahkan saja sahabatnya yang lupa akan hari ulang tahunnya. Padahal Tasya sudah mengenalnya 17 tahun lamanya.
Selama di dalam perjalanan, Key dan Tasya karoke. Mereka menggila di dalam mobil. Apalagi sewaktu macet. Mereka semakin menggila hingga musik mereka terdengar oleh pengendara lainnya.
Setengah jam kemudian baru lah mereka sampai di mall. Tasya langsung menarik tangan Key memasuki toko perhiasan.
"Lo mau beli yang mana? Ntar gue beliin deh. Tenang aja. Gue kan kaya," kata Tasya dengan songongnya. Rambutnya ia kibaskan ke belakang.
Key tersenyum devil. Matanya mencari-cari perhiasan yang akan dibelinya. Pilihannya tertuju ke sebuah gelang yang terbuat dari berlian. "Gue mau ini!"
Tasya tercengang melihat pilihan sahabatnya. Berlian cuy! Pasti mahal sekali. Belum lagi gelangnya terlihat sangat indah dan elegan.
__ADS_1
"Kenapa? Lo gak mau beliin gue ini? Katanya tadi traktir."
Tasya menelan salivanya kasar mendengar sindiran Key. "Kalau gak bisa gapapa deh. Gue pakai uang sendiri." Tapi pantang bagi seorang Tasya menjilat ludahnya sendiri.
"Tenang aja! Gue kan holkay!" sombongnya.
"Mbak, gelang ini satu. Dibungkus dengan indah ok?"
Mbak-mbak yang dimaksud menatap Tasya dan Key dengan tatapan tidak percaya. Masalahnya mereka masih memakai seragam. Anak sekolahan beli berlian. Wow! Gak mungkin! Jangan-jangan mereka ingin mencuri. Pikirnya dangkal.
"Mata lo bisa di jaga gak? Asal lo tau ya, gue anak holkay! Mall ini aja bisa gue beli kalau gue mau." desis Tasya kesal.
"Lo gak pernah lihat tv?" tanya Key sinis. "Dia ini anak pemilik perusahaan ternama."
"Kak, aku saja yang melayani mereka. Mereka bukan anak remaja sembarangan. Jangan sampai membuat masalah dengan mereka." bisik temannya.
Mbak-mbak yang menatap mereka dengan remeh tadi langsung melongos pergi.
"Maafkan rekan kerja saya, nona."
"Ya."
"Tolong bungkus kan gelang ini. Cepat!" perintah Tasya dengan tangan terlipat di depan.
Salahkan saja mbak yang membuatnya kesal tadi.
Selepas membayar, mereka berdua langsung melongos pergi. Di dalam hati mereka berdua berjanji tidak akan memasuki tempat itu lagi.
"Kesel gue, Key. Kirain gue kismis kali ya."
"Serah gue dong."
Key memasang wajah datar.
"Okey, sekarang kita ke toko pakaian." Tasya menyeret Key masuk ke salah satu toko pakaian. Yang di tarik hanya bisa pasrah. Tasya dengan semangat mencarikan dress untuk Key. Lagi-lagi Key hanya bisa pasrah.
"Wow. Ini bagus. Cocok sama lo." Tasya menyodorkan salah satu dress berwarna hitam ke Key.
"Punggungnya terlalu terbuka. Gue gak suka." protes Key.
"Kalau gak ini aja deh."
"Warnanya terlalu terang. Sakit mata gue lihatnya."
"Ini deh."
"Oh no! Lo mau gue kayak ******, heh?"
"Canda kok, sayangku." Tasya cengengesan sambil mengangkat dua jarinya.
"Ini?"
"Bahunya terbuka."
"Tapi bagus loh."
__ADS_1
"Gak!"
Tasya kembali mencarikan dress untuk Key. "Ini ini! Oh my! Ini bagus banget! Pasti cocok dengan lo."
Key memutar bola mata malas.
"Apanya yang bagus? Terlalu pendek!"
Tasya mendengus. "Lo mau dress panjang? Sekalian aja pakai gamis!"
"Emang gue mau ikut pengajian apa?"
"Kali aja, kan."
"Oke deh. Serah lo. Gue aja yang membeli dress ini." Tasya mendekap dress berwarna coklat muda itu di depan dadanya. Ia kembali mencarikan dress yang cocok untuk sahabatnya yang terlalu pemilih.
Pilihan Tasya kali ini jatuh pada dress berwarna biru laut dengan taburan berlian di sekitar pinggangnya.
Bawahnya terlihat mengembang dan panjangnya mencapai lutut. Tidak berlengan hingga jika di pakai akan menampilkan bahu sahabatnya yang seputih susu.
"Bagus. Ini aja deh."
Tasya menghela nafas lega.
"Setelah ini kita ke toko sepatu."
"Eh, lo ada acara apa sih?"
"Maksud lo?"
"Ya, lo membeli sesuatu kayak akan pergi pesta aja."
"Oh, emang. Gue akan pergi ke suatu pesta."
"Pesta apa?"
"Ulang tahun. Dan lo harus nemenin gue."
"Kenapa gak sama Abang Axel aja?"
"Dia lagi sibuk sama temannya. Huh." Key mengangguk saja. Setelah itu mereka pergi ke toko sepatu.
Tasya memilihkan high heels berwarna biru untuk Key dan warna coklat untuk dirinya sendiri. Setelah itu mereka pulang ke rumah Tasya.
Mereka merias diri setelah selesai mandi. Tasya membantu Key memakai make up. Rambut Key dibuat bergelombang. Key sebenarnya ingin memakai make up sendiri akan tetapi Tasya tidak membiarkannya. "Dia pasti akan terpesona melihat penampilan lo." gumam Tasya puas.
"Dia? Siapa?"
Tasya seketika gelagapan.
"Siapa?"
"Bukan siapa-siapa kok hehe. Oh ya, gue ke kamar mandi bentar ya. Lo duluan aja ke mobil."
-Tbc-
__ADS_1