Fake Nerd And Most Wanted Boy

Fake Nerd And Most Wanted Boy
Part 23


__ADS_3

"Terkadang dengan melihat kekurangan orang lain lah yang membuat kita bersyukur dengan apa yang telah tuhan berikan."


°°°°°


Air mata Key menetes mendengar cerita ibu pemilik panti asuhan. Ibu Rika, namanya.


"Anak-anak yang tinggal di sini kebanyakan anak yang di buang orang tua mereka. Ibu tidak tahu siapa orang tua mereka karena mereka akan meninggalkan anak mereka di depan pintu panti. Anak-anak di sini kebanyakan anak yang berbeda dengan anak yang lainnya. Maksud ibu, mereka banyak yang cacat. Ada yang buta, tuli, tidak bisa jalan, dan bisu. Tapi biar pun begitu, ibu tetap menyayangi mereka dan menganggap mereka semua sebagai anak kandung ibu sendiri."


"Berapa jumlah anak yang berada di panti asuhan ini, bu?"


"Semuanya berjumlah 25 orang. Anak-anak berjumlah 23, sedangkan yang remaja berjumlah 2 orang."


"Bagaimana sekolah mereka, bu?"


"Mereka tidak bisa bersekolah karena kekurangan dana." jawab Bu Rika lirih.


"Apa pendonor di sini hanya sedikit, bu?"


"Iya, sayang. Pendonor panti ini hanya dua orang. Keluarga Anthanius dan Keluarga Sander."


"Bu, bagi anak yang ingin bersekolah nanti mereka bisa bersekolah di sekolah keluarga Key. Gratis kok, bu. Semuanya gratis. Buku, uang sekolah, seragam, dan peralatan sekolah lainnya," kata Key sungguh-sungguh.


"Gak usah, sayang. Kami tidak ingin menjadi beban orang lain."


Key mengenggam tangan Bu Rika. "Sama sekali tidak menjadi beban kok, bu. Key melakukan ini karena Key ingin harta Key bermanfaat bagi orang lain."


Kurang lebih begitu lah percakapan mereka tadinya. Di dalam hati Key bertekad akan ikut menyuntikkan dana di panti asuhan ini dan menyekolahkan anak-anak panti yang ingin bersekolah.


"Apa boleh Key bermain dengan anak panti, bu?"


"Tentu saja, sayang. Ayo ibu antar. Biasanya mereka akan berkumpul di ruang bermain."


Key mengikuti Bu Rika. Matanya membulat kagum saat melihat semua anak panti terlihat bahagia. Tidak ada raut kesedihan sedikit pun di wajah mereka.


"Anak-anak, Kakak Key ingin bermain dengan kalian semua. Ayo berkenalan dengan kakak Key."


Anak-anak yang awalnya berebutan mainan sambil tertawa seketika mengarahkan pandangan mereka ke arah Key yang berdiri canggung sambil tersenyum kecil. "Halo semuanya." sapa Key.


"Aaaa, kakak cantikk!!" seorang bocah tampan menghampiri Key dengan antusias. "Gendong, kak." rajuknya manja.


Bu Rika terkekeh. "Yoga memang suka sekali minta di gendong, sayang. Kalau kamu tidak ingin menggendongnya gapapa kok."


"Key ingin menggendongnya kok, bu."


Key langsung menggendong bocah kecil itu dengan cepat dan mengecupi pipinya gemas. "Ughh, kamu imut banget sih, sayang." Yoga memeluk leher Key manja.

__ADS_1


Anak-anak yang lainnya ikut menghampiri Key. Mereka semua menatap Key dengan tatapan yang sangat polos, membuat Key gemas sendiri.


"Ibu masak dulu ya, gapapa kan, sayang?" tanya Bu Rika.


"Iya, bu. Key pengen main sama mereka hehe."


"Kak cantik, nama kakak siapa?" tanya salah seorang anak laki-laki dengan malu-malu.


Key ikut duduk bersama mereka semua. "Hello, semua. Nama kakak Keyra. Sekarang kalian yang memperkenalkan diri, kakak ingin tahu nama kalian semuanya," kata Key dengan senyuman manis.


Senyum Key membuat anak-anak panti tidak lagi ragu-ragu mendekatinya dan berbincang dengan Key.


"Namaku Mia, kak."


"Aku Pira, kak."


"Aku Qurat, kak."


"Aku Putra, kak."


Semuanya memperkenalkan diri dengan semangat. Seorang bocah kecil tersenyum manis kepadanya dan menyebutkan namanya dalam bahasa isyarat. Key tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan bocah itu karena memang dia tidak pernah mempelajari bahasa isyarat.


"Siapa nama gadis manis kita ini?" tanya Key ke Prima.


"Namanya Ratu, kak."


Gadis kecil yang bernama Ratu tersebut langsung tersenyum lebar. Ia merangkak mendekati Key dan menarik-narik tangan Key lembut.


"Ada apa, sayang?" tanya Key lembut.


Ratu mengetuk-ngetuk pipinya dengan jari telunjuk. Mata dan senyumnya terlihat begitu polos sehingga Key semakin merasa sangat gemas. Dengan perlahan Key menurunkan Yoga dari pangkuannya karena bocah tampan itu sudah tertidur nyenyak.


Sekarang Key menarik Ratu ke atas pangkuannya dan menciumi pipi Ratu dengan gemas. "Kamu mau kakak cium, kan? Ini kakak cium sampai puas." tawa Key dan terus menciumi Ratu. Ketika Ratu memberontak dari pelukannya baru lah ia melepaskan Ratu seraya tertawa geli melihat bibir Ratu yang maju beberapa senti meter.


Key semakin tertawa lepas melihat tatapan iri dari anak-anak lainnya.


"Kenapa kalian semenggemaskan ini?" erang Key frustasi dan merengkuh mereka ke dalam pelukannya.


"Kami sayang kakak." bisik Iqbal.


"Kakak juga sayang kalian semua." balas Key lirih.


****


Hari-harinya Key habiskan di dalam Panti Asuhan Kasih. Menjalani harinya bersama anak panti. Banyak pengajaran yang didapatkan oleh Key selama ia bersama anak panti.

__ADS_1


Sekarang Key terlihat sedang mengajari Riko belajar menulis, mengajari Rea belajar membaca, mengajari Sita berjalan, dan mengajari anak-anak panti lainnya.


Gadis cantik itu terlihat begitu sibuk, meski begitu ia terus tertawa lepas melihat kelakuan anak panti yang menurutnya sangat menggemaskan itu.


"Kakak pergi sebentar ya. Kakak ingin membelikan cemilan untuk kalian semua."


Anak-anak panti bersorak bahagia.


"Kalian ingin apa? Nanti kakak belikan." Key mengulum senyum.


"Ice cream." sahut mereka kompak sehingga Key tertawa.


"Tapi ini masih pagi loh." kekeh Key.


"Kami akan memakannya kalau sudah siang, kak."


"Hah, baiklah." Key mengalah.


"Aku ikut ya, kak." Rayu Yoga.


"Baiklah."


Key membungkuk dan menggendong Yoga menuju mobilnya. Sebelumnya ia berpamitan dengan Bu Rika.


Mobil Key berhenti di sebuah minimarket. "Pilih lah barang yang ingin kamu beli, sayang. Apa pun yang kamu sukai."


Yoga mengangguk dengan senyuman lebarnya. Key mengambil sebuah troli dan mendorongnya. Sementara Yoga berjalan di sampingnya sambil memegangi celananya. Key membiarkannya saja.


Key memasukkan berbagai macam cemilan, bahan-bahan makanan, buah-buahan, susu, peralatan mandi, popok bayi, dan barang-barang lainnya.


"Ehm, kamu tidak membeli sesuatu, sayang?" Key mengusap puncak kepala Yoga. Bocah kecil itu hanya mengikutinya kemana pun ia pergi.


"Tidak, kak."


Key menghela nafas. "Pilih lah barang yang kamu ingin kan, sayang."


Yoga menggeleng dengan cengirannya. "Kita pulang saja, kak. Yang lainnya pasti sudah menunggu kita."


Key mencubit pipi Yoga gemas sekilas dan mendorong barang belanjaannya ke kasir. Ia membayar barang belanjaannya yang berjumlah tujuh ratus lima puluh ribu. Dengan susah payah ia membawa barang belanjaannya ke dalam mobil. Yoga ikut membantu Key membawanya meski Key sudah menolak.


Key menepuk jidatnya ketika lupa membeli ice cream. "Kamu tunggu di sini, ya. Kakak mau kembali ke dalam."


"Ikutt..." rengek Yoga.


Akhirnya mereka masuk lagi ke dalam minimarket dan memilih-milih ice cream. Mereka keluar setelah membayarnya. Key meletakkan barang ice cream di jok belakang.

__ADS_1


Ketika Key mengedarkan pandangannya ke dalam minimarket, matanya bersirobok dengan mata Axel. Dengan panik, Key langsung masuk ke dalam mobil.


-Tbc-


__ADS_2