
"Baru aja gue bahagia tapi kenapa kebahagiaan yang gue rasain terenggut dengan begitu cepatnya?!"
_Keyra_
°°°°°
KEYRA POV
Oh my gosh! Gue benar-benar gak habis pikir dengan bonyok gue. Bisa-bisanya mereka menjodohin gue dengan anak teman mereka. Memang mereka pikir ini zaman siti nurbaya apa?! Ini sudah zaman modern cuy!
Kalau di jodohin dengan Rafa sih gue mau-mau aja. Tapi ini dengan Davino. Cowok yang gak gue sukai sama sekali. Gue benar-benar gak terima dengan kenyataan ini.
Gue sering nonton drakor yang bertemakan perjodohan. Memang kebanyakan endingnya mereka bahagia dengan pria yang di jodohkan dengan mereka. Tapi,, oh ayolah! Ini dunia nyata. Gue hanya ingin hidup bersama dengan orang yang gue cintai.
Kata orang, cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Memang. Namun, setelah mengenal Rafa, hati gue hanya untuknya. Untuk saat ini tdak akan ada yang dapat menggantikan posisinya.
Selama beberapa bulan ini gue udah mendam perasaan ke dia. Kira-kira sudah satu bulan tiga minggu gue mendam perasaan untuk laki-laki yang tidak peka itu. Banyak hal yang kami lalui untuk sampai ke tahap pacaran. Lalu, sekarang daddy dan mommy ingin menghancurkan semuanya?
Pilihan orangtua memang yang terbaik bagi anak-anaknya akan tetapi tidak semua pilihan itu baik. Ingat! Orangtua juga manusia biasa yang bisa khilaf dan keliru.
Selama ini gue belum pernah melawan daddy dan mommy karena gue terlalu sayang mereka. Mereka ingin gue melakukan ini, gue lakuin dengan sepenuh hati. Mereka ingin gue begini, gue turutin. Tapi maaf, untuk yang satu ini gue gak bisa nurutin. Ini bersangkutan dengan hati. Untuk kali ini saja, biarkan gue memilih jalan sendiri.
Gue masih ingat dengan sangat jelas. Waktu itu, gue masih berumur 5 tahun. Cita-cita gue ingin menjadi pelukis tapi orang tua gue mematahkan impian gue. Mereka bilang lukisan gue jelek. Mereka bilang, gue harus bisa menjadi seperti mereka di masa depan. Menjadi seorang pengusaha yang sukses.
Anak kecil yang tak mengerti apa-apa seperti gue saat itu tentu menurut saja. Apalagi setelah lukisan yang gue buat dengan susah payah di nilai jelek oleh mereka. Gue juga menjadi trauma dengan hal-hal yang berhubungan dengan dunia lukisan.
Sampai saat ini, trauma itu masih ada. Mereka memang sangat menyayangi gue. Tapi di balik semua itu, mereka juga sering memaksakan kehendak. Entah mereka sadar atau tidak. Meskipun mereka begitu, gue gak ngeluh. Sebisa mungkin gue berusaha menjadi yang mereka inginkan. Mengenai perjodohan itu, bagaimana pun memaksakan kehendak mereka ke gue. Gak akan pernah gue terima. Yang gue inginkan hanya Rafa!
"Bagus ya. Kamu udah berani nolak permintaan daddy," kata daddy gue saat gue masuk ke dalam rumah. Gue diam aja. "Daddy melakukan ini karena dad ingin kamu mendapatkan yang terbaik."
__ADS_1
Emosi gue mulai terpancing mendengar ucapannya. "Terbaik bagaimana, dad? Asal dad tahu ya, sekarang Key udah punya pacar. Key gak mau di jodohin, kalau pun Key di jodohin, Key maunya sama Rafa bukan Davino!"
"Princess, pilihan orangtua lebih baik. Percayalah," kata mommy lembut.
Sekuat tenaga gue menahan air mata yang mendesak ingin keluar. "Terbaik bagi kalian tapi belum tentu terbaik bagi Key." kataku lirih.
"Pokoknya apa pun yang terjadi, kamu harus menerima perjodohan ini. Dad gak menerima penolakan!"
Gue terkekeh sinis. "Daddy egois!" bentak gue.
Maaf, dad. Maafkan anakmu yang membangkang ini.
"Keyra!" suara dad ikut meninggi.
"Tenang, dad. Kita bicarain baik-baik ya." bujuk mom sambil mengelus lengan daddy.
"Sekali enggak ya enggak, mom. Untuk kali ini saja, biarkan Key yang milih. Selama ini kalian lah yang mengatur hidup Key. Please, mom, dad. Biarkan Key memilih untuk kali ini saja." Pertahanan gue runtuh hingga air mata turun dengan sendirinya.
"Kami mengaturmu karena kami tahu apa yang terbaik untukmu, princess. Kamu tidak akan seperti sekarang jika bukan karena kami. Kami mengaturmu karena kamu anak kami. Kami mengaturmu karena kamu bisa hidup dengan baik berkat kami."
Gue mengusap air mata gue dengan kasar. "Putusin pacar kamu itu dan terima perjodohan ini. Kalau kamu nggak menerima perjodohan ini, maka semua fasilitas kamu akan daddy cabut. Termasuk angkat kaki dari rumah ini." ancam daddy.
"Dad!" tegur mommy.
Sumpah! Gue gak peduli sama sekali jika hidup gue sengsara tapi yang gak gue terima, ucapan daddy begitu menusuk. Dia mengusir gue dari rumah ini hanya karena tidak mau menerima perjodohan ini. Sakit. Sakit sekali rasanya.
"Gak, dad. Key gak mau putusin dia. Key sayang dia."
"Kalau begitu angkat kaki dari rumah ini! Jangan pernah kembali ke rumah ini sebelum kamu menerima perjodohan ini," kata dad sinis.
__ADS_1
"Alex!" bentak mom.
"Sudah lah, sayang. Biarkan saja dia yang memilih."
Gue hanya bisa tersenyum getir. Karena sebuah perjodohan sialan ini, hubungan gue dan dad memburuk. Gue benci perjodohan ini! Gue benci Davino!
"Key memilih untuk pergi, dad," kata gue mantap. Jika memang ini yang terbaik, gue hanya bisa pasrah. "Key gak mau hidup seperti boneka kalian lagi. Sudah cukup!" gue tersenyum miris. Ada rasa lega setelah mengungkapkan isi hati gue selama ini.
Plakkk!
Gue refleks memegang pipi kanan gue yang baru saja terkena tamparan daddy. Sakit. Hati gue yang sakit.
Selama ini dad gak pernah menampar gue, dia selalu menjaga gue, tapi sekarang dia yang menyakiti guw. Lagi-lagi dengan tidak tau malunya air mata gue turun semakin deras.
"Princess..." Gue menepis tangan Bang Axel yang hendak menyentuh pipi gue dengan terisak.
Gue menatap dad dengan pandangan yang memburam karena air mata yang berdesakan ingin keluar. "Dad jahat! Dad nampar Key hanya karena perjodohan sialan itu. Oke, kalau dad memang ingin Key pergi. Key akan pergi jauh dan gak akan kembali lagi ke sini."
Dengan beruraian air mata, gue segera berlari ke luar rumah. Gue sama sekali gak memedulikan teriakan mom dan Bang Axel yang menyuruh gue berhenti. Rasa kecewa dan sakit hati begitu menggerogoti gue sekarang.
Mobil-mobil berlalu lalang. Sementara gue, menyusuri tepi jalan dengan perasaan yang sangat terluka.
Kalau gue mati, apa dad akan menyesal? Gue tersenyum miris.
"Sepertinya menarik." Entah apa yang merasuki gue, tanpa rasa takut gue melangkah ke tengah jalan.
Mobil-mobil berlalu lalang dengan begitu cepat. Sungguh menantang sekali rasanya. Cahaya putih menyinari gue hingga gue refleks memejamkan mata dan mendekap tubuh gue erat. Salah! Gue salah! Kini rasa menyesal itu datang. Gak seharusnya gue berjalan ke sini. Tapi semuanya terlambat. Gue tersungkur ke tanah, orang-orang berteriak histeris, dan semuanya menjadi gelap seketika.
-Tbc-
__ADS_1