
"Semuanya berubah 180° semenjak dia pergi dari hidup kami."
_Axel_
°°°°°
"Axel pergi dulu, mom, dad."
Axel keluar dari dalam rumah dengan langkah yang cepat. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan menghembuskan nafas kasar.
Semenjak Key tidak ada di rumah, Axel menjadi malas untuk makan bersama kedua orang tuanya. Sarapan selalu ia lewatkan. Siangnya dia akan bermain bersama teman-teman dulu. Makan malam yang selalu mereka lakukan bersama sekarang tidak lagi. Malam tadi ia lebih memilih pergi ke rumah Rafa daripada berdiam diri di dalam rumahnya yang sepi. hanya Keyra yang selalu berhasil membuat suasana rumah menjadi hidup dan berwarna.
Dulu, setiap pagi akan ada sang mommy yang mengomel-ngomel. Kini, tidak ada lagi.
Dulu, sang daddy selalu ekspresif tapi semenjak Key pergi sang daddy berubah menjadi pria yang berwajah datar.
Semuanya kacau saat Key pergi dari rumah. Padahal ini belum genap tiga hari. Bagaimana jadinya kalau Key tidak pulang untuk selamanya? Mungkin kedua orang tuanya akan gila. Sebab Key adalah sumber kebahagiaan keluarga mereka.
Hidup tanpa kehadiran seorang Keyra Angelia Alexander di tengah-tengah mereka benar-benar tidak berwarna karena tidak ada lagi gadis yang lucu, imut, ceria, humoris, manja, cerewet, suka teriak-teriak, dan masih banyak lagi tentangnya yang tidak dapat di jabarkan dengan kata-kata.
Key ibarat pusat tata surya di keluarga Alexander. Key di umpamakan matahari yang menerangi keluarga Alexander dengan cahayanya. Kalian sendiri tahu jika sinar matahari itu tidak ada. Gelap.
Key adalah segala-galanya bagi Axel. Laki-laki itu rela menukar apa pun yang ada di dunia ini agar tidak kehilangan Key. Bahkan ia rela kehilangan nyawa sekali pun jika itu membuatnya tidak kehilangan Key.
Axel berusaha fokus mengendarai mobilnya meski selalu kepikiran tentang Key. Ia tidak ingin kecelakaan karena itu hanya akan menghambatnya mencari keberadaan Key.
Pria tampan itu berhenti di sebuah minimarket untuk membeli cemilan. Hari ini dia dan yang lainnya akan mendiskusikan masalah Key di rumah Tasya. Untuk berjaga-jaga ia akan membeli cemilan yang banyak.
Setelah memborong cemilan, Axel hendak membayarnya. Ia mengedarkan pandangannya ke luar minimarket ketika petugas di kasir menghitung barang belanjaannya.
Matanya membulat kala melihat seseorang yang sangat mirip dengan Key terlihat sedang berjalan dengan anak kecil. Entah bagaimana ceritanya, mata mereka saling bertubrukan.
"Tunggu sebentar, mbak."
Axel langsung berlari ke luar minimarket untuk mengejar gadis yang di sangkanya Key tadi.
Sayangnya setiba di luar minimarket, ia tidak melihat gadis itu sama sekali.
"Apa gue hanya berhalusinasi?" kekehnya miris. Dengan bahu yang merosot, ia kembali masuk ke dalam untuk membayar barang belanjaannya.
__ADS_1
****
"Gue heran kenapa gak ada yang bisa melacak keberadaan Key. Semua informasi tentangnya benar-benar tertutup seolah-olah ada seseorang yang membantu menutupi keberadannya." Rafa menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan lesu.
"Berarti orang yang sering lo sewa karena kemampuan hebatnya itu tidak bisa menemukan keberadaan Key dong." celetuk Mike.
"Ya enggak lah, goblok." desis Axel emosi dengan kegoblokan sahabatnya.
"Ya elah. Sans aja keles." kekeh Mike sembari menyeruput jus jeruknya.
"Key yang misterius." Aji mengelus-ngelus dagunya seolah ada jenggot di dagunya.
Byurr!
"Anjir, Aji kena sembur mbah dukun." tawa Chilla.
"Pacar lo kena sembur tuh, bersihin kek." celetuk Aura.
"Ogah." ketus Elly.
"Haha. Aji yang malang." kekeh Tasya.
"Sorry. Habisnya gaya lo sok an banget sih," kata Mike acuh dan kembali meminum jus jeruknya.
"Ya abisnya, Key misterius banget. Jangan-jangan dia mafia. Makanya keberadannya tidak bisa di lacak."
Byur!!!
Aji menggeram kesal kala kena semburan lagi. Ia menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya dengan kasar, kemudian menghampiri Mike. Ia mencekik Mike karena terlalu kesal. "Mati lo kampret."
"Woi, jangan bunuh pacar gue. Gue belum siap jadi mamud." Aura berusaha menarik tangan Aji dari leher Mike.
"Hah? Marmut? Kok jadi marmut sih?" tanya Tasya polos.
"MAMUD TASYA PINTERR!" sahut Aura ngegas.
"Wes, selow say."
"Stop!" seru Chilla.
__ADS_1
"Stop, kau mencuri hatiku... Hatikuu..." nyanyi Kelvin.
"KELVINN!!"
"APA SAYANG?"
"Ini kenapa jadi absurd semua sih?" Axel memijit-mijit keningnya yang tiba-tiba saja merasa pusing melihat kelakuan teman-temannya.
Aji yang mencekik Mike, Aura yang berusaha menarik tangan Aji, Elly yang terlihat sedang membersihkan wajah Aji dengan kain lap, Kelvin yang terlihat menggoda Chilla, dan Rafa yang terlihat mengotak-atik hpnya dengan wajah murung.
****
Tidak terasa sudah tiga minggu Key menghilang. Keadaan rumah Axel semakin sepi dan mencekam.
Teman-temannya tak pernah menyerah untuk mencari keberadaannya.
Sementara di tempat lain, di panti asuhan, Key menjalani harinya dengan penuh semangat. Setiap harinya ada saja pembelajaran yang dapat di petiknya. Mulai dari kesabaran, kekompakan, dan lain-lainnya.
Semenjak tinggal di panti, Key menjadi bisa memasak karena Bu Rika mengajarinya. Yah, meski pun tidak jago. Ia hanya bisa memasak nasi goreng, sayur-sayuran, dan kue kering.
Sekarang, Key sudah memutuskan untuk pulang ke rumahnya karena tidak tega mendengar keadaan orang-orang yang di sayanginya.
Ortu yang sibuk mencari keberadaannya hingga jatuh sakit. Axel yang bersifat dingin ke ortunya. Serta para sahabatnya yang mencari keberadaannya tanpa menyerah.
Key mendapatkan berita tersebut dari orang kepercayaannya. Perjodohan yang di rencanakan ortunya juga sudah di batalkan.
Setelah mendapatkan ceramahan dari Bu Rika, Key menjadi sadar bahwa yang dilakukannya salah. Bu Rika menyuruhnya untuk meminta maaf ke orang-orang yang di sayanginya karena sudah membuat mereka khawatir.
Key sedikit menyesal karena sudah melakukan hal yang kekanak-kanakan. Ia sudah memutuskan untuk kembali ke sekolah besok pagi. Lagipula ia sudah merindukan keluarganya meski pun sang daddy pernah membuatnya kecewa.
Mengenai anak-anak panti, mereka sebenarnya tidak rela melepaskan kepergian Key, bahkan mereka menangis keras tapi Bu Rika berhasil menenangkan mereka. Key merasa terharu karena keberadaannya sangat berarti bagi anak-anak panti yang sudah di anggapnya adik sendiri itu.
Merasa bosan dengan keadaan hening apartemennya, Key membunyikan musik dan mulai mewarnai rambutnya dengan warna coklat keemasan.
Keesokan harinya Key pergi ke sekolah dengan style andalannya. Seragam yang sedikit kekecilan, rok di atas lutut, rambut coklat keemasan yang digerai, kaus pendek berwarna abu-abu, dan sepatu berwarna putih.
Ia mengendarai lamborghini kesayangannya ke sekolah dengan ugal-ugalan. Gadis cantik itu sudah tidak sabar melihat ekspresi sahabat-sahabat tercintanya.
Baru selangkah Key keluar dari dalam mobil, para murid sudah menggumankan kata-kata pujian yang membuatnya risih.
__ADS_1
-Tbc-