Fake Nerd And Most Wanted Boy

Fake Nerd And Most Wanted Boy
Part 45


__ADS_3

"Udah, Key. Gak usah nangis." hibur Tasya.


"Iya. Lagian kenapa lo kayak gini sih? Rafa sama Nana kan cuma teman biasa. Kenapa lo sampai segitu cemburunya?"


Chilla langsung mendapat sikutan di perutnya dari Elly. Jelas-jelas Key sedang sedih dan Chilla seolah ikut menyudutkannya.


"Lo gak ngerti gimana rasanya jadi gue, Chil. Makanya lo semudah itu ngomongnya," kata Key datar.


"Gue emang gak ngerasain yang lo rasain. Tapi kalau gue jadi lo, gue gak akan secemburu itu. Rafa kan sayang sama lo, Key. Gak mungkin dia akan selingkuh dengan gadis itu." nasihat Chilla.


"Gak mungkin?? Apa yang gak mungkin di dunia ini, Chil? Seminggu ini gue lihat mereka tuh semakin dekat dan akrab. Kadang Rafa lebih memprioritaskan dia di banding gue. Gue cemburu, Chil. Semenjak gadis itu ada, Rafa berubah. Dia tidak seperti Rafa dulu. Rafa yang hanya mementingkan Key."


"Lo childish, Key. Coba lo ngertiin Rafa. Dia dan Nana cuma teman. TEMAN!" tekan Chilla.


Aura, Elly, dan Tasya hanya bisa menghela nafas dan berusaha melerai perdebatan kedua gadis itu.


"Udah-udah. Key nya lagi sedih nih. Jangan di buat tambah sedih lah." kata Elly.


"Iya, Elly benar. Udah ya, tenang." imbuh Aura.


Key tak memedulikan ucapan ketiga sahabatnya. Dia menatap Chilla tajam. "Lo mudah bilang gitu. Gak nyobain rasanya jadi gue. Jadi gak usah ikut campur lo!" desis Key marah.


Gadis itu berdiri dan berlari meninggalkan kelas dengan penuh amarah dan kesedihan. Gadis itu melangkahkan kakinya ke UKS.


Setibanya di sana, alangkah kagetnya Key melihat Rafa memeluk Nana.


"Hikss..." Isakan itu membuat kedua orang itu melepaskan pelukannya.


Rafa terlihat panik sementara Nana masih saja menangis.


"Teganya kamu, Raf." isak Key. Di hapusnya air mata yang dengan lancangnya membasahi pipinya.


"Key---"


"Diam! Aku sekarang sudah sadar. Aku sadar, Rafa. Kamu sudah berpaling ke dia. Makanya beberapa hari belakangan ini kamu berubah." lirih Key serak.


"Key. Ini tidak---"


"Tidak seperti yang kamu pikirkan? Haha! Jawaban yang klasik!" Key menatap Rafa tajam meskipun air mata menggenang di pelupuk matanya. Siap terjatuh kapan saja.


"Kita putus!"


"KEY---"


"APA HAH?? HARUSNYA KAMU SENANG KARENA AKU MUTUSIN KAMU! KAMU BISA PACARAN SAMA DIA SEKARANG. SELAMAT UNTUK KALIAN BERDUA!"


Key berlari keluar UKS. Dia menangis histeris di bawah pohon. Baru kali ini ia merasakan sakit karena cinta, ah tidak, maksudnya baru kali ini dia merasakan rasa sakit yang separah ini.


"Gue benci! Benci! Benci! Gue benci Rafa!!" Lirih Key. Tapi meskipun gue benci, gue juga cinta dia.

__ADS_1


****


"Haha, aku puas melihatmu hancur, Key." suara tawa terdengar begitu menggema di kamarnya yang girly sekali.


"Aku senang melihat kau menangis. Selama ini kau hanya tersenyum dan tertawa."


"Aku senang kau putus dengannya. Sekarang dia akan menjadi milikku. Sudah lama aku mengincarnya, Key. Dan dengan bodohnya kau memutuskan dia. Haha. Aku senang sekali."


"Sekarang, kau benar-benar akan hancur Key!"


****


"Raf. Mulai sekarang Nana akan tinggal di sini. Apakah kalian sudah saling kenal??" tanya Lia - mama Rafa- setibanya Rafa di rumah.


Rafa memang kembali tinggal di rumahnya karena Lia menangis-nangis di depan apartemen Rafa. Awalnya Rafa mendiamkannya saja tapi saat mamanya jatuh sakit Rafa mulai luluh dan kembali ke rumah.


Rico -papa Rafa- juga sudah meminta maaf kepada Rafa. Sekarang, keluarga Purnama sudah hidup dengan harmonis. Itu berkat Nana. Yah, gadis itu lah yang selama ini memberi Rafa nasihat-nasihat.


Tanpa sengaja, Rafa keceplosan tentang masalah keluarganya ke Nana. Nana yang mendengar itu tak tinggal diam, dia meminta Rafa untuk menceritakan semuanya. Lalu ia juga membujuk Rafa untuk memaafkan orangtuanya dengan memberikan nasihat-nasihat bijaknya.


"Tentu saja, ma. Dia sahabat Rafa."


"Oh, baguslah kalau begitu." Lia tersenyum lega. "Oh ya, kamu mau di masakin apa? Kamu pasti laper kan?"


"Gak, ma. Tadi aku udah makan di cafe."


"Baiklah."


"Iya, sayang."


Rafa masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang nyamannya. Matanya menatap kosong langit-langit rumahnya.


Rafa merasa hancur kala mendengar kata putus yang keluar dari mulut Key. Rafa mencintai gadis itu tapi dia tidak suka dengan sikap Key yang selalu menaruh curiga kepadanya.


"Bodo amat lah!" Rafa akhirnya bersikap masa bodo dengan hubungannya dengan Key.


Di lain sisi. Key tidak pulang ke rumahnya hingga malam harinya. Dia begitu terpuruk dengan yang terjadi hari ini. Dia tidak pernah menyangka hubungannya akan berakhir dengan Rafa.


Key mengikuti balapan mobil untuk mengalihkan rasa sakitnya. Dan sekarang di sinilah dia. Di garis start. Sewaktu balapan di mulai, Key mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan. Melewati tingkungan yang tajam tanpa mengeremnya.


Key menginjak rem mobilnya kala dia merasa mobilnya sudah terlalu kencang. Dia takut tak bisa mengendalikan laju mobilnya nantinya. Namun sayang, ternyata rem mobilnya blong.


Key hanya bisa pasrah saat melihat pohon yang berada tak jauh darinya. Dan terjadilah kejadian naas itu, Key menabrak pohon tersebut. Mobil bagian depannya hancur dan mengelurkan asap. Sementara Key sendiri terluka cukup parah di dalam mobil.


Pandangan Key mengabur. Dia membuka mobilnya dengan tenaga yang tersisa.


Ledakan dahsyat terdengar begitu memekakkan telinga. Dari kejauhan seseorang tersenyum sinis. "Akhirnya kau musnah, Keyra! Ku ganti rencana awalku, bukankah rencana yang kali ini tidak terlalu menyakitkan? Haha. Aku harap kau tidak tenang di alam sana, Keyra." Orang itu pun pergi dengan senyuman puasnya.


****

__ADS_1


"Mom, kenapa Key belum pulang juga? Dari semalam dia tidak ada kabar dan pulang ke rumah. Aku khawatir sama dia mom," kata Axel cemas.


Saking cemasnya dia tidak pergi ke sekolah. Padahal dia ada ulangan harian.


"Mom juga gak tau, Xel. Mom juga khawatir sekali sama adik kamu." Ara meremas rambutnya frustasi.


Alex menenangkan istrinya. "Apa kamu sudah menghubungi semua teman-teman adik kamu, Xel?"


"Sudah, mom."


"Apa mereka tau dimana Key?"


"Mereka gak tau, mom."


Ara hampir saja meluruh ke lantai jika saja Alex tidak memeluk pinggangnya.


"Jangan khawatir, sayang. Aku yakin Key baik-baik saja."


"Tapi perasaan aku gak enak, dad." lirih Ara dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mungkin itu hanya perasaan kamu, sayang."


"Kata orang ikatan batin antara ibu dan anak-anaknya begitu kuat. Aku takut terjadi apa-apa sama Key, dad." isak Ara.


Axel yang mendengar ucapan Ara semakin gelisah dan ketakutan. Dia juga ikut merasakan apa yang di rasakan momnya. Hatinya tak tenang. Firasatnya mengatakan jika terjadi sesuatu yang buruk sama Key.


Bunyi bel dari luar membuat keluarga kecil itu saling menatap dengan bingung.


"Apa itu princess?" Tebak Axel.


"Tidak mungkin, princess tidak akan membunyikan bel. Dia pasti akan langsung masuk." sahut Ara.


"Ya udah. Axel buka dulu ya, mom."


Axel beranjak dan membukakan pintu. Dahinya berkerut bingung melihat dua orang pria berpakaian seragam polisi.


"Ada apa ya, pak?"


"Dimana orangtua, Anda?"


Pikiran Axel berkelana kemana-mana. Polisi itu mencari orangtuanya? Apa mungkin orangtuanya melakukan sesuatu yang melanggar hukum?


"Mari masuk, pak." Ajak Axel setelah tersadar.


Polisi itu masuk. Alangkah terkejutnya orangtua Axel melihat polisi tersebut.


Belum sampai di situ keterkejutan mereka, mereka mendengar berita yang membuat mereka syok setengah mati.


"Nona Keyra Angelia Alexander mengalami kecelakaan parah pada hari rabu, pukul 10 malam. Kecelakaan itu membuat nona tewas. Untuk sementara di duga adanya seseorang yang menjadi dalang dari kecelakaan yang di alami nona. Sampai saat ini kami masih menyelidiki siapa dalang itu."

__ADS_1


-Tbc-


__ADS_2