
"Hai, Key. Gue duduk samping lo ya? Gapapa, kan?"
"Eh?!" kaget Key, melihat Angel, siswi yang terkenal ramah dan pintar di dalam kelas.
"Boleh, kan? Lagian Tasya kan lagi sakit."
"Uhm, boleh kok." sahut Key singkat.
Selama dua minggu dia bersekolah di AHS, anak-anak kelasnya selama ini tidak pernah membullynya. Hanya saja mereka terkesan acuh dan tidak peduli dengan keberadaan Key, kecuali siswi yang bernama Angel. Beberapa hari belakangan ini Angel selalu mendekatinya, ingin berteman dengannya. Tentu saja Key menerima permintaan pertemanan Angel dengan senang hati.
"Oh ya, hari ini kan pembagian nilai ujian matematika. Menurut feeling lo, ujian lo tuntas gak? Kan kemarin tuh soalnya sulit banget."
Key menopang dagunya dengan tangan. "Menurut gue sih tuntas."
"Lo belajar pas sebelum ulangan?"
"Tentu aja enggak hehe."
Angel geleng-geleng kepala sendiri jadinya. "Gue yang belajar aja agak kesulitan menjawabnya."
Saat Key ingin menyahut ucapan Angel, bu guru terlebih dahulu masuk ke dalam kelas.
"Anak-anak, sekarang ibu akan menyebutkan nama siswa yang nilai hariannya paling tertinggi." kata bu guru setelah membaca doa menurut kepercayaan masing-masing.
"Pasti Angel nih yang paling tinggi nilainya." tebak salah seorang siswa.
Key terkekeh mendapati wajah Angel bersemu senang. Gadis itu memang begitu polos. Selama dua minggu mereka bertemanan, ia sedikit mengerti sikap Angel. Gadis itu sedikit polos, ramah, baik, dan suka menolong.
"Nilai tertinggi kali ini adalah Keyra Angelia. Maju ke depan dan ambil kertas ulanganmu."
Ucapan bu guru mendapat desahan kecewa daripada murid-murid karena tebakan mereka salah.
"Wah, selamat kalau begitu. Lo hebat banget deh."
Key hanya terkekeh dan maju untuk mengambil kertas ulangannya. "Kamu hebat sekali, nak. Bisa menjawab semua pertanyaan ibu dengan sangat baik. Ibu akan mencalonkanmu untuk mengikuti olimpiade matematika jika kamu mau."
"Terimakasih sebelumnya, bu. Tapi saya tidak ingin mengikuti olimpiade hehe. Saya cukup sibuk soalnya."
"Yah, padahal ini adalah kesempatan emas bagimu, nak."
Dalam hati Key menjawab kalau dia sudah memenangkan banyak olimpiade. Dia saja mempunyai banyak piagam penghargaan. Tidak hanya bidang akademik tetapi juga bidang non akademik.
"Ibu cari saja siswa lain, Angel contohnya bu."
"Iya, nak."
__ADS_1
Key kembali duduk ke kursinya.
"Nilai tertinggi kedua Angel Dirnata."
Angel maju ke depan dan melihat nilainya. Ternyata nilainya hanya 98.
"Berapa nilai lo, Key?" tanyanya setelah duduk.
"100. Kalau lo?"
"Kurang dua poin dari lo."
"Ohh."
Nilai ulangan dibagikan secara satu persatu oleh bu guru berdasarkan dari nilai tertinggi ke nilai yang terendah.
"Dan nilai ulangannya yang paling rendah adalah Aura. Dia hanya mendapatkan nilai 30. Apa kamu tidak belajar, Aura?"
Yang dipanggil meringis dan menggeleng. Setelah itu, Aura diomeli oleh bu guru sampai gadis itu bosan mendengarnya.
Angel mengajak Key berbicara sewaktu jam pelajaran. Mereka berdua dihukum membersihkan lapangan karena ketahuan bu guru. Dengan pasrah mereka keluar dari dalam ruangan.
"Nyapu lapangan seluas ini? Oh my god!" keluh Key. Daun-daun banyak yang berguguran di atas tanah.
Key menatap bagian Angel. Terdapat banyak dedaunan dan juga sampah plastik. Key menatap bagiannya, hanya sedikit dedaunan yang bertebaran disana. Lihatlah, betapa baiknya si Angel.
Sebelum sempat menjawab, Angel sudah lebih dulu menyapu bagiannya. Mau tidak mau, Key juga ikut menyapu bagiannya. Sesekali ia melirik Angel. Awalnya gadis itu terlihat begitu semangat, namun lama kelamaan gadis itu terlihat sangat lesu. Key yang merasa khawatir langsung saja menghampiri Angel. "Lo kenapa?"
"Kepala aku pusing, Key." ringis Angel sembari memijit kepalanya.
"Ya udah. Lo ke UKS aja. Istirahat di sana."
"Tapi kamu?" Angel menatap Key cemas.
"Gue gapapa kok. Lagian gue juga udah biasa kerja kek gini." Bohong sekali! Mana pernah dia menyapu. Di rumah, ada pembantu yang akan membersihkan rumahnya.
"Ehm, tapi gue gak enak sama lo."
"Yaelah. Gapapa kali. Sana, sana! Lo ke UKS!" tegas Key. Membuat Angel menghela nafas kasar.
"
Ya udah deh. Gue pergi dulu ya. Bye."
Key kembali menyapu lapangan yang luasnya minta ampun. Pinggangnya terasa encok karena menunduk terlalu lama.
__ADS_1
"Aish, sial amat sih gue hari ini." desisnya sambil memijat pinggangnya sebentar dan kembali bekerja.
Mata Key teralihkan ke sosok anak laki-laki yang terlihat sedang memainkan basket dengan lihai.
Laki-laki itu terlihat seperti bad boy. Kenapa? Laki-laki itu memakai anting hitam, kalung, baju yang dikeluarkan, rambut yang diwarnai, dan aura-aura bad boy.
"Eh, ngapain juga gue menilai penampilan dia. Mau dia bad boy kek, good boy kek, preman kek, maupun bencong sekali pun. Mending gue bersih-bersih lagi." Ia kembali sibuk bersih-bersih sambil bernyanyi. Tiba-tiba bola basket berhenti tepat di dekat sepatunya.
"Heh, lo! Ambilin bola basket gue!"
Key mendengus kesal mendengar perintah laki-laki itu. Dia memilih tak menanggapinya.
"Lo tuli ya?!" sentak sebuah suara, tak jauh dari tempatnya berdiri. Ternyata laki-laki itu mendekatinya dan menatapnya tajam.
"Lo ngomong sama gue?" tanya Key sok polos.
"Ya iyalah sama lo, nerd. Emang siapa lagi di sini selain lo?" decak laki-laki yang ber name tag Sean tersebut.
"Oh."
"Ngeselin banget sih lo, nerd." Sean menarik kepangan rambut Key gemas.
Key menepis tangan Sean dari rambut indahnya. "Jangan tarik-tarik rambut gue, ntar gak cantik lagi." kesalnya.
"Btw, kenalin nama gue Sean."
"Udah tau." sahut Key cuek dan kembali menyapu.
"Oh, pantesan sih. Secara gue salah satu most wanted di sini." ujar Sean dengan pedenya.
Key diam saja. Sean yang merasa diacuhkan menggeram tak terima hingga terbesit ide jahil di otaknya. Dia menjauh dari Key dan mulai memporak-porandakan tumpukan sampah yang disapu Key tadi. Semuanya kembali berantakan seperti semula. "Hei, nerd. Lo kok nyapunya gak benar sih? Lihat nih. Masih banyak sampah dimana-mana, padahal udah dari tadi lo menyapu disini." tegur Sean sambil melipat tangan di depan dada.
Key berbalik dengan jengkel. "Lo gak liat apa? Udah banyak noh tumpukan sam---" Key menutup mulutnya terkejut melihat semuanya kembali berantakan. "SIALAN LO, SEANNNN!!" umpatnya kesal dan berlari ke arah Sean. Tanpa kasihan ia memukuli tubuh Sean dengan sapu membabi buta.
"Woi, woi, gue kakak kelas lo elah. Sopan dikit sama gue napa sih?!" protes Sean dan berusaha melarikan diri dari amukan Key.
"Sialan lo! Lo jahat! Padahal gue udah capek-capek nyapunya dari tadi dan lo dengan seenak jidatnya aja menghancurkan semua pekerjaan gue." marah Key, bercampur kesal.
"AAAAAAAAA!! POKOKNYA GUE GAK MAU TAU. BALIKIN SEMUANYA KAYA TADI!" amuk Key dan menarik-narik kerah baju Sean.
Sean yang puas dengan hiburan singkat tersebut akhirnya menangkap tangan Key. "Kalau gue gak mau?" tantangnya.
Key menunduk, merasa lelah dengan segalanya. "Yaudah." Nada suaranya terdengar gemetar.
-Tbc-
__ADS_1