
Siang kala ini begitu panas, membuat keringat menetes dan kerongkongan terasa kering. Seperti halnya yang dirasakan Tasya. Wanita cantik itu menuruni tangga dengan wajah yang lesu. Mendekati dapur dan mencari sesuatu yang sekiranya bisa membuat tubuhnya adem.
Pilihannya jatuh pada ice cream vanilla yang dibelinya beberapa jam lalu bersama anak bungsunya, Bintang. Namun, belum sempat ice cream tersebut mendarat di dalam mulutnya, ice cream itu sudah jatuh karena kecerobohannya. Bibirnya mencebik kesal, ya, hanya itu lah yang bisa dilakukannya untuk saat ini selain meratapi nasib malang ice creamnya.
Dengan kaki yang sedikit dihentak-hentakkan kesal, ia berjalan mendekati meja makan. Menuangkan air putih ke gelas yang tersedia di sana dan meneguknya hingga tandas. Meletakkan gelas kaca tersebut ke atas meja sembari menatap anak keduanya yang sibuk membaca buku di ruang tengah.
Alam Alexander, namanya. Alam ini sangat berbeda dengan kembarannya Alan Alexander.
Alam sering bersifat cuek dan dingin ke orang lain sementara Alan sangat hangat dan friendly.
Alam hobi membaca sedangkan Alan hobi memasak.
Alam bercita-cita seperti Axel sedangkan Alan bercita-cita sebagai chef. Alasan Alan ingin menjadi chef adalah agar bisa memasakkan makanan enak untuk sepupu kesayangannya, Queen.
Tidak hanya sifat, hobi, dan cita-cita yang berbeda tapi juga wajah mereka. Kembar tapi tidak identik.
Kesamaan mereka hanya lah, sama-sama menyayangi keluarga dan Queen Angelia Purnama. Sepupu kecil mereka yang sangat lucu dan menggemaskan.
Dulu, sewaktu Queen baru lahir, mereka lah orang pertama yang begitu bersemangat. Saking semangatnya mereka selalu mengatakan ke setiap orang yang lewat di dekat mereka bahwa adik sepupunya telah lahir.
Tak hanya itu, mereka juga sering menginap di rumah Key dan Rafa hanya untuk melihat Queen. Mereka tidak akan mau pulang jika belum puas melihat sepupu menggemaskan mereka. Mereka juga sering membelikan Queen pakaian, aksesoris, makanan, dan lain-lainnya setiap kali pergi ke mall atau pun bepergian.
Prangggg!!!
Lamunan Tasya tentang kedua anak kembarnya buyar kala gelas terjatuh ke lantai dan menimbulkan suara yang cukup keras. Pecahan gelas tersebut mengenai kakinya sehingga menciptakan aliran sungai kecil.
Lagi-lagi ia bersifat ceroboh. Melamun di dekat meja dan berakhir menyenggol gelas yang terletak di pinggir meja. Ia hendak berjongkok tapi tertahan kala seorang pria tampan datang dan berjongkok di depannya. "Kaki kamu berdarah, sayang. Ini pasti sakit." paniknya.
"Ti--"
Tanpa sempat Tasya meneruskan ucapannya, Axel sudah lebih dulu berdiri dan menggendongnya ala bridal style ke sofa. "Kamu tunggu sebentar, aku ambil kotak P3K dulu."
Tasya geleng-geleng kepala sendiri jadinya melihat kepanikan suaminya. Padahal kakinya tidak terluka parah. Ya, perih sih tapi tidak terlalu sakit.
Semenjak melahirkan anak bungsunya-Bintang Alexander, Axel menjadi lebih protektif, posesif, dan parnoan. Hal itu dikarenakan ia sempat mengalami koma selama seminggu setelah melahirkan. Karena kejadian itu pula Axel menjadi takut untuk punya anak lagi. Axel tidak sanggup kalau sampai kehilangan Tasya.
"Eh??" Tasya tersentak ketika Alam tiba-tiba datang dan membersihkan lukanya.
Tasya masih cengo melihat tingkah putranya yang berusia 10 tahun itu. Tidak menyangka putranya bisa setanggap ini.
"Ma, Alam pergi dulu. Lain kali mama hati-hati ya? Alam gak mau melihat mama terluka."
Tasya tersenyum mendengar ucapan penuh perhatian anaknya itu. "Iya, sayang."
Alam tersenyum tipis dan langsung pergi.
"Anak itu.. Dari siapa sih nurun sifatnya??" gemas Tasya.
__ADS_1
"Padahal aku dan Axel tidak memiliki sifat dingin sepertinya," decaknya lagi. "Anehnya, hanya ke Queen dia tidak bersifat dingin."
"Sayang, kok luka kamu udah diobati? Siapa yang ngobatin??" Axel datang dengan kotak P3K di tangannya.
"Ohh itu, Alam yang ngobatin."
"Pintar sekali dia."
"Ya, wajar aja sih. Kerjaannya kan berkutat dengan buku terus."
"Hehe, iya juga sih."
Axel duduk di samping Tasya lalu membawa wanita cantik itu ke atas pangkuannya.
"Ih, jangan gini dong. Nanti anak-anak lihat." protes Tasya.
Axel tersenyum tidak peduli. "Biarkan saja." Mencuri kecupan kecil di bibir mungil Tasya yang selalu menjadi tempat favoritnya dari dulu.
Melihat Tasya yang melototinya Axel menjadi semakin terkekeh geli. Wajah kesal Tasya adalah suatu hiburan tersendiri baginya.
"Aku menjadi ingin memakanmu sekarang." gumam Axel, mencubiti pipi berisi Tasya.
"Aduh, sakitt. Jangan kenceng-kenceng kek cubitnya."
Teriakan Tasya membuat Axel tertawa kecil. Cubitannya berhenti dan berganti dengan ciuman bertubi-tubi di pipi istri cantiknya itu.
Axel memang berhenti menciumi pipi Tasya, tapi ciumannya malah beralih ke bibir Tasya. Wanita cantik itu tidak bisa protes karena Axel menciumnya dengan begitu menggebu-gebu seolah tidak ada hari esok.
"Uncle, kenapa bibir aunty di makan??"
Pertanyaan polos dengan nada yang imut itu membuat Tasya mendorong dada Axel kuat. Mereka berdua saling bertatapan dengan tatapan horor.
"Uncle, Aunty. Queen bertanyaa. Jangan cuekin Queen."
Kedua manusia dewasa itu segera menatap gadis kecil yang memergoki kelakuan mereka. Mereka tertawa kecil dan berusaha terlihat biasa-biasa saja.
Gadis kecil yang tak lain Queen itu melipat tangan di depan dada. Bibirnya cemberut. Rambut pirangnya yang di kepang dua membuat gadis kecil itu tampak semakin imut.
"Queen sama siapa ke sini??" tanya Axel mengalihkan pembicaraan. Sementara Tasya turun dari pangkuannya.
"Sama mama papa, uncle."
"Trus sekarang mama papamu dimana? Kok gak kelihatan?" Tasya celinguk-celinguk mencari keberadaan sahabat sekaligus adik iparnya.
"Setelah mengantarkan Queen ke sini, mereka langsung pergi. Kata papa, mereka ingin liburan ke Bali bersama mama. Hanya berdua." Queen menunjukkan jarinya dua ke arah mereka.
"Mereka gak membawa Queen ke Bali bareng??" tanya Axel tak percaya.
__ADS_1
Queen mengangguk dengan antusias.
"Iya. Kata papa, papa ingin berduaan dengan mama disana dan papa janji akan membawakan Queen ice cream yang banyak."
"Hpmu bergetar, sayang." cetus Tasya tiba-tiba.
Axel mengambil ponselnya. Sebuah pesan.
Princess: Bang, Key dan Rafa liburan ke Bali. Kami titip Queen. Jaga Queen ya, bang. Thank youuu my brother. Eh, jangan lupa kasih anak Key makan hehe.
Axel menggeleng geli. Mana mungkin dia tidak akan memberi makan keponakan kesayangannya.
"Siapa yang ngirim pesan, sayang?" tanya Tasya.
"Key."
Axel mengalihkan pandangannya ke arah Queen yang masih berdiri lurus di depan mereka dengan tatapan yang sangat polos.
"Kamu gak mau duduk, Queen??" kekeh Axel.
"Paman gak menyuruh Queen duduk, jadi Queen berdiri aja."
Axel dan Tasya tertawa. Karena terlalu gemas Axel langsung mengangkat Queen ke atas pangkuannya.
"Kenapa kamu semenggemaskan ini hm?? Uncle jadi pengen karungin kamu."
"Huhu, Uncle jahat. Masa Queen dikarungin? Nanti mama sama papa nangis loh trus Bang Raka nanti juga ngamuk ke uncle."
"Uncle gak takut tuh sama amukan abang kamu." ledek Axel.
"Apa uncle gak ingat? Dulu Bang Raka ngamuk ke uncle dan hampir membakar rumah, uncle??"
Pikiran Axel langsung melayang ke beberapa bulan silam. Ia menggoda Raka dan mengatakan akan membawa Queen jauh darinya sehingga Raka ngamuk dan hampir membakar mansionnya.
Axel bergidik ngeri. "Uncle gak jadi berani deh sama abang kamu."
Queen terkikik. Axel yang melihat keponakannya menertetawakannya tersenyum misterius. Queen yang merasa ada yang aneh langsung mengunci bibirnya dan hendak turun tapi tertahan.
"Queen berani menertetawakan uncle ya, uncle balas Queen."
Axel langsung menggelitiki pinggang Queen sampai gadis kecil itu menjerit kegelian dan memohon untuk berhenti. Sayangnya Axel sudah terlampau gemas dengan Queen sehingga tidak semudah itu menghentikannya.
Tasya yang melihat reaksi keduanya tersenyum. Dulu ia sangat ingin memiliki anak perempuan tapi tidak kesampaian gegara Axel takut untuk punya anak lagi. Tapi, dengan terlahirnya seorang Queen mampu membuat keinginannya terpenuhi.
Meski Queen tidak terlahir dari rahimnya, ia sangat menyayangi Queen dan menganggap gadis kecil itu sebagai anaknya sendiri. Tidak apa dia tidak punya anak perempuan karena Queen sering main ke rumahnya dan membuatnya merasakan mempunyai seorang anak perempuan.
#4
__ADS_1