Fake Nerd And Most Wanted Boy

Fake Nerd And Most Wanted Boy
Extra Part 6 : Intinya, Pria Itu Harus Setia!


__ADS_3

‍Bagaikan makan cabe se-tong besar, wajah Key memerah sempurna. Giginya bergemeletuk. Tangannya mengepal sempurna. Dadanya kembang kempis. Nafasnya tidak beraturan. Hatinya terasa panas melihat sang suami dipeluk wanita lain di depan matanya.


Senyuman mengejek yang wanita itu layangkan padanya semakin membuat amarahnya memuncak. Otak warasnya seolah dikikis habis melihat pemandangan menganggu mata tersebut.


Berjalan mendekat ke dua sejoli yang tengah berpelukan itu dengan langkah besar, meninggalkan kedua anaknya tanpa menoleh sedikit pun, menarik kerah baju si wanita, lalu melemparkannya kuat hingga terhuyung dan menabrak meja kerja. Vas bunga yang sempat disenggolnya ikut jatuh. Serpihannya mengenai kaki putih mulus jenjangnya.


Bukannya merasa bersalah melihat keadaan terluka wanita itu, Key malah menginjak luka wanita tersebut dengan high heels 10 cm nya. Menatap wanita tersebut dengan tatapan mengintimidasi dan dingin.


"Bukan kah sudah pernah kuperingatkan sebelumnya untuk tidak menggoda suamiku, jalang?" Bertanya penuh penekanan.


"Aku tidak menggodanya."


Key mengibaskan tangannya di udara. Wajahnya terlihat begitu muak mendapati tingkah sok polos wanita itu.


Wanita itu tak lain tak bukan sekretaris Aji, Laura.


"Pak, tolong saya. Kaki saya sakit." Dengan mimik wajah tersakitinya, Laura mulai beraksi. Air mata menetes dari sudut matanya, membuat keadaannya terlihat semakin menyedihkan. Namun, Rafa tidak mengulurkan tangan untuk membantu seperti yang dia harapkan. Rafa terlalu cuek. Pria itu malah memalingkan wajah dan mengajak kedua anaknya duduk di sofa ruangan.


"Haha. Kau harap suamiku akan menolong wanita murahan sepertimu?"


Key tertawa mencemooh melihat wajah kesal wanita murahan di hadapannya. Terlihat jelas wanita itu berharap Rafa akan menolong dirinya dan meninggalkan Key demi dirinya. Sayangnya, realita tak seindah ekspetasi.


"Sangat menyedihkan sekali nasibmu. Cantik tapi pelakor, seperti wanita yang tidak laku saja hingga nekat menganggu milik orang lain."


Laura mendengus keras. Melemparkan pecahan vas ke arah Key dengan sembarangan. Key menghindar dengan sigap.


"Wah, berani melawan rupanya. Kalau begitu, bangun! Ayo lawan aku secara sportif!" Tantang Key sembari menyingsingkan lengan bajunya bak preman.


Meski sudah menjadi ibu rumah tangga, itu bukan berarti kemampuan bela diri Key melemah atau bahkan hilang. Kemampuannya tetap lah seperti dulu, kuat dan tidak terkalahkan. Ia selalu berlatih jika ada waktu luang. Tak lupa mempelajari ilmu baru. Itu semua dia lakukan demi melindungi diri sendiri dan juga keluarga kecilnya.


"Kau ini seorang istri atau preman sih?" Laura yang telah berdiri tegak mencibir Key.


"Seorang istri tentunya. Bukan pelakor sepertimu."


Skak mat!!


Laura terdiam membisu dengan wajah kesal tak terkira. Tidak terima dikatakan pelakor meski pada nyatanya dia memang pelakor. Hanya saja aksinya tidak berhasil karena si pria setia. Tidak mudah digoda dengan kecantikan dan kemolekan tubuh seperti pria diluaran sana.


Wanita itu menatap Rafa yang tampak tak acuh saja sehingga dia menghela nafas jengkel. Kembali menatap Key yang menatapnya seperti harimau yang siap menerkam mangsa. Lagi-lagi dia mendengus kesal. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung pergi begitu saja dari dalam ruangan. Ia pergi karena tahu tidak akan memiliki peluang meski secuil untuk memiliki Rafa yang kaya raya.


Key menatap kepergian wanita itu dengan tatapan melongo. Bisa-bisanya wanita itu pergi di saat amarahnya sudah diubun-ubun dan minta dipuaskan.


Lalu, sekarang, kepada siapa kah dia harus melampiaskan amarahnya?

__ADS_1


Tidak baik bukan memendam amarah karena itu hanya akan menjadi Boomerang untuk diri sendiri. Tapi tidak baik juga melampiaskannya ke orang yang tidak bersalah.


"Kemari lah, sayang. Makan jeruk bersama kami." Ajak Rafa.


Key menghela nafas berat. Kemudian mengatur nafasnya sendiri agar dirinya menjadi lebih tenang. Namun, kala melihat kedua anaknya, amarahnya langsung reda begitu saja. Seolah debu yang tersapu angin.


Melangkah cepat ke arah ketiganya, lalu duduk di samping Raka yang sedang asyik memainkan kepangan rambut Queen yang dipangku Rafa.


Queen terlihat menikmati permainan tangan Raka sambil melahap jeruk yang dikupaskan sang ayah.


Pemandangan yang sangat menghangatkan hati Key.


Keluarga kecilnya yang bahagia...


Ini semua berkat Rafa yang bisa setia pada dirinya.


Karena Rafa setia, dia dan anak-anaknya merasakan kebahagiaan ini.


Coba saja Rafa tidak setia, sudah pasti mereka tidak akan sebahagia ini.


Jika seharusnya Rafa sedang menemani mereka, kalau berselingkuh tentu saja Rafa lebih memilih selingkuhan dan menelantarkan mereka.


Intinya, pria itu harus setia. Baru bisa bahagia.


"Hei, sayang. Kenapa malah melamun? Kamu merasa terasingkan oleh kami ya?" Tanya Rafa menggoda seraya mencolek pipi Key yang sedang melamun. Akibatnya, wanita cantik itu gelagapan karena tidak mendengar apa yang dikatakan pria itu.


"Apa kamu bilang? Aku gak dengar hehe."


Melihat cengiran Key, Rafa menggeleng-gelengkan kepalanya malas. "Tidak ada siaran ulang, sayang."


"Papa tadi bilang; mama jelek kalau sedang melamun."


Dua orang dewasa itu sontak melotot kaget mendengar penuturan Raka.


Key menatap Rafa geram dan mencubit pinggang pria itu dengan cubitan kepitingnya sehingga pria tersebut menjerit kesakitan.


Queen dan Raka yang melihat papa mereka tersiksa malah tertawa riang.


Tertawa di atas penderitaan papa sendiri.


Anak durhaka memang.


"Raka bohong, sayang!! Mana mungkin aku bilang kamu yang cantik seperti bidadari ini jelek waktu melamun."

__ADS_1


Key bergidik ngeri. "Gak usah ngegombal. Gak cocok."


"Aku gak ngegombal, sayang."


"Pa, ma, Queen pengen ice cream."


Kedua orang dewasa itu mengalah dan melupakan masalah sebelumnya. Mereka menatap si bungsu penuh perhatian.


"Gak boleh makan ice cream ya, honey. Kamu baru sembuh flu."


"Papa kamu benar. Jangan makan ice cream dulu ya. Queen boleh minta yang lain asal jangan ice cream."


Si bungsu yang cantik dan imut itu memang baru sembuh dari flu. Penyebab flunya masih sama, yaitu terlalu banyak makan ice cream.


Akan tetapi, rupanya gadis kecil satu itu tidak ingin mendengarkan nasihat kedua orangtuanya. Ia merajuk dengan mata yang terlihat berkaca-kaca. "Pengen ice cream."


Raut wajah nan meyedihkannya membuat keduanya luluh. Mereka saling berpandangan, seolah bisa berkomunikasi lewat sana.


"Tunggu, Queen gak boleh makan ice cream," kata Raka serius.


Queen menoleh kesal ke arah sang kakak. Kakaknya bisa saja membuat niat orangtuanya batal.


"Queen pengen ice cream." Rengeknya semakin menjadi. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rafa dan menangis keras di sana.


Raka menggeleng pelan. Adiknya benar-benar tidak ingin dibantah jika sudah menginginkan sesuatu.


"Kakak punya coklat untuk Queen."


Telinga kecil Queen mulai aktif. Tangisannya terhenti karena fokus mendengarkan ucapan sang kakak.


"Queen gak mau coklat?"


'Tentu saja Queen mau.' Jeritnya dalam hati.


"Kalau Queen gak mau, kakak kasih ke mama loh. Mama mau coklat Raka, kan?"


"Tentu saja mau, sayang. Sini, mama makan dulu."


Queen segera menjauhkan wajahnya dari dada bidang papanya dan menatap Raka dengan tatapan berbinar. "Queen mau! Queen mau coklat!!"


Semuanya tertawa geli mendengar nada penuh semangat Queen. Raka menyuapi potongan coklat ke mulut Queen dengan penuh perhatian. Rafa dan Key yang melihat tingkah anak mereka mengulum senyum. Hanya satu harapan mereka; keluarga kecil mereka bisa bahagia selalu seperti sekarang ini.


-Selesai-

__ADS_1


__ADS_2