Fake Nerd And Most Wanted Boy

Fake Nerd And Most Wanted Boy
Part 41


__ADS_3

Rafa yang melihat kepergian Key mengacak-ngacak rambutnya kesal.


Dia merasa sangat bersalah telah membentak Key. Sungguh, ia tidak sengaja membentak Key. Dia hanya tidak mau Key menjadi orang yang kasar. Hanya itu, tidak ada maksud lain.


Axel mencengkram kerah baju Rafa. "Raf! Kok lo ngebentak adek gue sih? Adek gue itu gak bisa di bentak orangnya."


Rafa menghela nafas lesu. "Sorry. Gue gak sengaja."


Axel melepaskan cengkramannya dengan kasar. "Bukan ke gue minta maaf tapi ke Key." Axel keluar dari dalam kelas dengan wajah yang menahan emosi.


"Gue kecewa sama lo, Raf." ketus Aura.


"Gue apalagi. Gak seharusnya lo bentak Key cuma karena Nana cupu itu." imbuh Tasya.


Sekarang tinggal Rafa dan Nana yang berada di dalam kelas. Sedangkan yang lain sudah ke lapangan. "Aku minta maaf." Nana menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Bukan salah lo kok." sahut Rafa lalu pergi meninggalkan Nana.


Pertama, Rafa mencari Key ke rooftop tapi dia tidak menemukan Key karena Key bersembunyi di bawah meja yang di tutupi oleh kursi-kursi. Karena tak menemukan gadis yang dicintainya di roftoop, Rafa memutuskan mencari Key ke perpus. Dan ke tempat-tempat selanjutnya. Rafa tak berhenti mencari Key walau upacara sudah di mulai.


****


Key terduduk termenung di atas sofa. "Apa iya gue terlalu kasar sama tuh cewek cupu?" gumam Key. "Tapi kan gue kesal sama tuh cewek cupu." Key mengembungkan pipinya kesal.


"Siapa suruh dia duduk di dekat Rafa? Padahal gue yang duluan." Dia berdecak. "Ah, sabodo lah. Gak peduli gue."


Sekarang Key antara menyesal dan tidak setelah kejadian tadi. Dan masalah Rafa dia cuma kesal saja. Tidak lebih. "Kek nya gue harus kerjain tuh cewek cupu." Smirk muncul di bibir manis Key. Ia turun ke bawah, menuju kantin. Dia sudah mendengar suara bel istirahat sejak tadi.


Setibanya di kantin dia langsung di seret oleh Rafa ke mejanya. "Sayang, maafin aku ya udah bentak kamu," kata Rafa penuh penyesalan.


"Iya, iya. Aku maafin." gerutu Key.


"Aaaa,, yang bener kan? Kamu gak marah?" Rafa menangkup pipi Key.


"Gak. Cuma kesal aja."


"Ekhem. Tadi pergi marah-marah gak jelas, sekarang balik lagi kek gak ada masalah." sindir Aura.


"Masalah buat lo?" sinis Key.


"Padahal tadi kita udah ikutan marah ke Rafa." gerutu Tasya.


"Ho oh. Eh ternyata yang marah-marah tadi cuma ngambek sebentar." cetus Elly.


"Gue ketinggalan apaan nih? Ceritain dong?" cecar Chilla.


Chilla memang terlambat datang tadi. Jadi, dia tidak menyaksikan pertujukan Key Rafa.


"Anak kecil gak boleh tau." kekeh Tasya.


"Sok an gaya lu."


"Jadi ada apa ni?" tanya Chilla masih kepo.


"Gak ada apa-apa."


"Sayang, kamu mau pesan apa? Biar aku pesanin." kata Rafa akhirnya.


"Aku mau bakso sama teh es. Tapi yang banyak cabenya, awas kalau gak banyak, kita putus."


Rafa berdecak kesal. "Oke." Ia pergi memesan makanan. Sementara Key menatap sekelilingnya. Mata Key bersinar jahil saat melihat cewek cupu dikelasnya tadi berjalan ke arahnya.


Bruk!


Prank!


Key menyandung kaki cewek cupu itu dengan sengaja hingga makanan yang di bawa cewek itu jatuh berhamburan.


"Nana!" pekik Chilla yang melihat Nana terjatuh.


Dengan penuh drama, Key berdiri dan menghampiri Nana. "Maaf, Na. Gue beneran gak sengaja nyandung kaki lo." Key berucap dengan mata yang berkaca-kaca seolah menunjukkan dia sangat menyesal.


Nana mendongak, hingga matanya bersirobok dengan mata Key. "Iya, gapapa." Nana membersihkan makanan yang berhamburan.


Key menarik pundak Nana. "Udah, gak usah di bersihin."

__ADS_1


"Maaf ya." mohon Key dengan tangan yang menyatu di depan dada.


Nana mengangguk pelan.


"Ada apa ini?" tanya Rafa yang baru saja datang.


Key menarik tangan Nana lalu mendudukkan Nana dengan kasar tanpa sepengetahuan siapa pun. "Aku gak sengaja nyandung kaki dia, sayang. Trus makanannya jadi berhamburan deh. Aku sungguh-sungguh menyesal."


"Oh, begitu." Rafa manggut-manggut mengerti.


"Siniin bakso aku." Rafa meletakkan bakso di depan Key.


"Nah, karena aku sudah membuat makananmu terbuang percuma. Kamu makan aja baksoku." Key tersenyum manis.


"Ta---"


"Udah, gak usah ngebantah. Cuma ini caraku menebus kesalahanku padamu." lirih Key.


"Baiklah." cicit Nana.


"Ta---"


"Diam, sayang. Kamu memang mau membuat aku di hantui rasa bersalah terus menerus? Aku merasa bersalah ke Nana, Raf."


Rafa terdiam dan menatap Key lembut. "Kamu gak laper emangnya?"


"Gak terlalu sih."


"Makan yang banyak ya, Na," kata Key manis.


Nana semakin gugup dan memakan bakso yang seharusnya untuk Key.


"Huwa pedas..." ringis Nana.


Key berpura-pura gelagapan, dan tangannya dengan sengaja menyenggol segelas teh es yang di bawakan Rafa tadi hingga membasahi rok Nana.


"Aduh, gimana ini." panik Key.


"Minum punyaku saja." tawar Mike.


"Hehe..."


Nana terisak. "Aku ke wc dulu." ia kemudian berlari ke wc.


Rasain lo! Makanya jangan berani mengusik gue dan Rafa, batin Key.


"Aduh, Rafa gimana dong?! Aku beneran gak sengaja." panik Key dengan mata yang berkaca-kaca.


"Gak papa, sayang. Kamu kan gak sengaja."


"Raf, tiba-tiba aku laper." cengir Key. Ingin mengalihkan pembicaraan.


"Aku pesanin mau?"


"Gak. Aku makan punya kamu aja. Kan masih banyak." Akhirnya mereka makan berdua dengan Rafa yang terus menyuapi Key. Mereka seolah lupa dengan kejadian tadi. Kejadian dimana Nana di buat sial oleh Key.


Awas aja kalau si baNana sialan itu menganggu lagi. Batin Key.


****


Key memasuki kamar mandi. Di sana ia melihat Nana yang basah kuyup.


"Kenapa lo? Dibully?" kekeh Key.


Bukannya merasa kasihan, Key malah terhibur dengan keadaan Nana.


"Rasain tuh! Cewek cupu aja belagu lo." Key mendekat ke arah Nana. Sedangkan Nana berjalan mundur dengan wajah tertunduk. "Gue peringatin ke lo. Jauhin Rafa atau lo tau akibatnya." Key mendorong bahu Nana dengan jari telunjuknya. "Dan jangan coba-coba buat ngasih tau Rafa dan yang lainnya. Kalau mereka tau, lo akan hilang di telan bumi semenjak hal itu terjadi." Key mengangkat dagu Nana.


Ia memberi Nana senyuman mautnya. Nana menatap Key dengan tatapan takut dan juga tatapan yang sulit Key mengerti. "Ngerti kan?" Key mencengkram dagu Nana agak kuat.


"I..iya ng..ngerti." sahut Nana terbata-bata.


Key tersenyum puas dan menghempaskan dagu Nana. Key menyempatkan tangannya menepuk-nepuk puncak kepala Nana.


"Camkan itu." Key keluar dari dalam kamar mandi. Di dalam hatinya dia bercakap-cakap. "Kok gue merasa jadi orang jahat ya?"

__ADS_1


"Itu gak jahat kok."


"Masa sih?"


"Iya. Salahkan saja dia yang mencari masalah duluan."


"Iya yah. Dia pantas di gituin."


Key menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengusir imajinasinya sendiri. "Jahat? Bodo amat!" kekeh Key pelan.


"Lagipula dia pantas mendapatkan itu karena berani mengusikku."


Key terlonjak kaget ketika bahunya ditepuk oleh Tasya.


"Darimana lo?!"


"Wc. Why?"


"Tidak why why."


"Gaje."


"Ayo ke parkiran. Mereka udah nungguin kita."


"Okeh." Mereka berdua berjalan ke parkiran. Hari ini mereka memutuskan untuk main ke mall.


****


"Lo lihat? Yang pake baju berwarna biru itu target lo."


"Iya. Gue lihat."


"Gue mau, lo masukin barang mahal ke dalam tasnya. Gue gak mau tau pokoknya. Barang apa pun terserah asal mahal."


"Okeh boss."


Salah satu orang asing itu melangkah, mendekati target. Targetnya tak lain adalah Key. Orang itu melakukan aksinya hingga akhirnya berhasil tanpa Key sadari. Key dan Tasya yang asik-asikan memilih sepatu, tiba-tiba di grebek oleh security. Mereka menjadi pusat perhatian seketika.


"Loh ada apa ini?" kaget Tasya.


"Kami mendapat laporan kalau nona ini mencuri salah satu barang."


Key yang mendengar itu protes tak terima. "Hello!! Gue di tuduh mencuri di sini! Siapa yang nuduh gue?" kesal Key marah.


"Periksa tasnya!" kata security yang satu lagi.


Security itu menggeledah tas Key. Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah jam tangan. Mata Key melotot, begitu pun dengan Tasya. "Wah, gak benar ini! Pasti ada yang ngejebak gue!" kesal Key dan menghempaskan tangan security itu dengan kuat.


"Cepat telpon polisi!"


"Wah, diakan si Keyra yang terkenal itu. Masa dia mencuri sih?"


"Jangan-jangan dia mencuri kerjaannya makanya bisa sukses."


"Foto! Foto! Masukin insta! Pasti jadi viral nih."


Banyak ocehan-ocehan yang membuat telinga Key panas. Key mengibaskan rambutnya ke belakang. "DENGER YAH SEMUANYA!!! SAYA GAK MENCURI!! SAYA DI JEBAK OLEH SESEORANG. BAGI SIAPA SAJA YANG BERANI MENJELEK-JELEKKAN SAYA ATAU MEMASUKKAN KEJADIAN INI KE SOSMED AKAN SAYA JAMIN HIDUP KALIAN AKAN MELARAT SAMPAI MATI. DAN SATU LAGI MALL INI MILIK SAYA. CAMKAN ITU!!"


Semua orang terdiam mendengarnya. Mereka yang awalnya heboh menjadi diam karena takut dengan ancaman Key yang tidak main-main.


Key menghela nafas kesal lslu menelpon seseorang. "Tolong periksa cctv di lantai 6. Cari tau orang yang memasukkan barang ke dalam tas saya. Kasih saya kabar dalam 30 menit paling lama. Kalau tidak, anda saya pecat." marah Key.


"Halo! Ke lantai 6 cepetan! Kalau gak, mall ini saya bakar habis!" kata Key seenak jidatnya. Gadis itu merasa kesal dan marah sekarang ini. Masa dia yang kaya raya di tuduh mencuri. Kan gak elit banget. Tidak menunggu lama, turun lah pemimpin mall yang di telpon Key tadi.


"Tolong pecat 2 security itu. Gue gak mau liat wajah mereka lagi. Gara-gara mereka gue di tuduh yang enggak-enggak." kata Key datar.


Katakan saja Key kejam, tapi sungguh. Gara-gara ke dua security itu membuatnya malu.


Kedua security itu mendadak lemas. "Tapi nona, kami cuma menjalankan tugas."


"Gue gak mau tau."


"Salahkan saja kalian yang sudah membuat saya jengkel."


Entahlah, Key sekarang menjelma menjadi perempuan sadis sejak tadi pagi. Mungkin karena faktor PMS. Jadi dia mudah terbawa emosi.

__ADS_1


-Tbc-


__ADS_2