
"Penyesalan memang selalu datang di akhir."
°°°°
AXEL POV.
Gue paham dengan perasaan Key. Dia baru saja jadian dengan laki-laki yang dicintainya. Tapi kebahagiannya terancam terenggut ketika daddy menyuruhnya menerima perjodohan dengan laki-laki yang jelas tidak di cintainya.
Selama ini, gue peka dengan perasaan Key karena dia adek gue. Dia sudah mempunyai perasaan ke Rafa tapi bocah yang satu itu tidak peka juga dengan perasaan adik gue.
Gue pernah menawarkan bantuan ke Key untuk membantunya jadian dengan Rafa. Sayangnya, Key menolak hingga ia harus terjebak friendzone selama hampir dua bulan lamanya.
Gue tahu, Key pasti merasa kesal, sedih, dan kecewa tapi gue sama sekali gak menyangka dia akan senekat ini memilih keputusan yang membuatnya terusir dari rumah ini.
Mendengar ucapannya tadi, gue baru sadar kalau tidak semua hal yang dilakukannya atas keinginannya sendiri. Selama ini ia memang terlihat bahagia saja. Nyatanya di balik kebahagiannya terdapat luka. Dia begitu pintar menyembunyikan luka yang di rasakannya.
Gue gak habis pikir dengan daddy. Key sudah memberi tahu kan bahwasanya dia sudah memiliki pacar.
Namun, dengan keras kepalanya daddy tetap bersekukuh dengan keinginannya tanpa mempedulikan perasaan Key.
Saat daddy menamparnya, gue benar-benar gak habis pikir karena selama ini daddy selalu memanjakannya dan menjaganya.
Ketika Key berlari ke rumah rumah sambil menangis, gue langsung mengejarnya. Berulang kali gue meneriakkan kata berhenti akan tetapi dia tidak mempedulikan ucapan gue sama sekali.
Gue khawatir dia kenapa-napa. Gue takut dia berbuat hal yang lebih nekat nantinya.
Sialnya gue kehilangan jejaknya di tikungan. Tak putus asa, gue tetap mencari keberadaan Key tapi hasilnya nihil. Merasa usaha gue sia-sia, gue kembali ke rumah dengan lesu.
"Adek kamu udah ketemu, Xel?" tanya mommy dengan tangisannya.
Gue gak sanggup untuk menjawabnya sehingga gue hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Ya allah. Bagaimana nanti nasib adik kamu? Mommy sangat khawatir dengannya, Xel."
Mommy semakin menangis kencang, gue memeluk mommy, berharap pelukan gue membuat mommy merasa lebih tenang.
"Udahlah, mom. Nanti Key pasti balik lagi kok." hibur gue walau gue sendiri nggak yakin dengan apa yang gue ucapkan.
"Tapi tetap saja, mom khawatir. Nanti dia tidur dimana?" lirih mommy.
"Dia punya teman, mom."
Bagaikan air di padang tandus, gue langsung melepaskan pelukan gue dari mommy. Dengan cekatan, gue langsung menghubungi nomor para sahabatnya.
"Halo, Sya!"
"..."
"Key ada di sana gak?"
"..."
"Ok. Maaf ya udah ganggu."
"..."
"Besok aku jelasin."
Gue mematikan sambungan telepon dan menghubungi yang lainnya.
Sayangnya, Key tidak berada di rumah sahabat-sahabatnya mau pun di rumah Rafa. Sebenarnya kemana dia pergi?
"Adek kamu udah ketemu, Xel?" tanya daddy yang baru saja datang dengan penampilan yang sangat kacau.
"Belum." ketus gue.
Ini semua gara-gara daddy. Andai saja daddy tidak menjodohkan dan menampar Key, pasti sekarang Key masih di sini. Bercanda ria dengan gue.
"Daddy nyesal udah nampar princess." ucap daddy penuh penyesalan.
"Lagian daddy dan mommy ngapain sih pakai acara jodoh-jodohin Key segala." kesal gue.
Kalau gue yang berada di posisi Key, mungkin gue juga akan minggat dari rumah karena gue gak suka dijodoh-jodohin.
"Kami hanya ingin yang terbaik buat princess." ucap daddy dengan sorot mata yang sendu.
"Dia udah besar, dad. Biarin aja dia yag menentukan hidupnya sendiri." ucap gue lalu hendak pergi ke kamar.
"Dad nyesal karena selama ini tanpa sadar dad sudah memaksakan kehendak ke princess.." samar-samar gue dapat mendengar ucapan dad.
Yeah, penyesalan memang selalu datang di akhir.
*****
Gue berangkat ke sekolah dengan lesu. Biasanya gue pergi sekolah dengan bersemangat karena ada Key tapi sekarang gak. Sumber semangat gue hilang.
Biasanya ketika sarapan, suara Key selalu menghiasi acara sarapan kami. Tetapi, ketika makan tadi pagi suasana di meja makan sangat hening. Semua orang terlihat tidak bersemangat dan memakan sarapan dengan ogah-ogahan. Suasana di rumah terasa tidak berwarna karena tidak adanya keberadaan dia.
Sewaktu istirahat, kami berkumpul di kantin. Mereka (para cewek) memberondong gue dengan banyak pertanyaan. Gue menceritakan semuanya. Mereka semua terkejut, terutama Rafa.
__ADS_1
Gue kasian lihat Rafa, baru aja kemarin mereka jadian tapi sudah di timpa masalah.
"Kasian sekali, Key."
"Dia pasti kecewa berat sama Om Alex karena menjodohkannya dengan laki-laki yang tidak di sukainya."
"Kekecewaannya pasti bertambah ketika Om Alex menamparnya."
"Semoga Key tidak melakukan hal-hal nekat lainnya."
"Maksud lo apa, Sya?"
"Ya, bisa aja kan dia nekat bunuh diri karena frustasi."
"Iya sih."
"Amit-amit dah! Jangan sampai Key melakukan hal itu."
Gue dan yang lainnya hanya terdiam, mendengarkan mereka (para cewek) berceloteh.
"Gimana kalau kita mencari Key bersama-sama biar lebih mudah."
"Gue setuju sama usulan lo. Gue akan menyewa orang untuk menemukan keberadaannya." sahut Rafa setuju dengan usulan Elly.
"Gue juga akan menyewa orang untuk melacak keberadaannya." imbuh Chilla.
"Huaaaaa, Key... Bagaimana caranya lo makan? Dimana lo tidur? Kalau lo kurus nanti gimana?" oceh Aura.
Gue juga khawatir asal kalian tahu. Dia pergi dari rumah tanpa uang sepersen pun. Bagaimana dia akan bertahan hidup di luar sana? Dimana dia akan berteduh? Memikirkannya saja sudah membuat hati gue sesak..Oh god! Tolong lindungi dia, dimana pun ia berada. Lindungi lah my princess selalu.
****
"Tuhan memberikan ujian kepada setiap makhluknya dengan berbagai macam cobaan. Tergantung bagaimana cara kita menyikapinya lagi."
°°°°°
"Nona kalau mau bunuh diri jangan di tengah jalan karena itu akan menyebakan arus lalu lintas tidak berjalan lancar. Harusnya kalau nona mau bunuh diri terjun aja dari jembatan. Mayat nona akan hanyut dan tidak akan menyusahkan orang lain." omel seorang pria asing padanya saat ia baru saja membuka mata.
"Siapa lo?"
"Ketus amat si, nona. Untung Rey baik hati."
"Kenapa gue bisa ada di sini?" Key mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia menebak di dalam hati kalau dia berada di dalam sebuah kamar. Kamar yang sangat kecil baginya.
"Ya bisa lah, nona. Ngomong-ngomong kenapa nona mau bunuh diri? Nona di putusin pacar? Di lilit hutang? Nona, apa pun masalah yang menimpa nona. Nona harus bersabar dan menjalani semuanya dengan lapang dada. Jangan mengakhiri hidup hanya karena merasa frustasi."
Key menghembuskan nafas kesal mendengar ceramahan pria asing di depannya. "Dengar ya! Gue sama sekali gak bunuh diri jadi stop ceramahin gue." kesalnya.
"Gajian? Emang Rey kerja? Kerja apa?" Key bertanya dengan lembut. Dia merasa sikapnya yang tadi terlalu bar-bar.
"Menjadi kuli di pasar, nona."
"Kenapa lo jadi kuli? Lo gak sekolah? Emang berapa umur lo?" tanya Key penasaran.
"Umur Rey baru 15 tahun, nona."
"Oh."
"Nona membuat hati saya tersakiti." ucap Rey mendramatis.
"Cih! Jangan alay deh!"
"Jleb banget ucapanmu, nona." kekehnya.
"Ini, makan dulu nona."
Perutnya yang sudah minta di isi segera membuatnya melahap bubur yang disuguhkan Rey. "Btw, ortu lo mana? Dia ngebolehin gue tinggal di sini?"
"Ortu Rey udah meninggal, nona."
"Uhuk! Uhuk!" Key tersedak makanannya seketika.
"Minum, nonaa." Rey menyodorkan gelas yang berisi air putih dengan panik.
Setelah merasa agak baikan, Key menatap Rey dengan tatapan penuh penyesalan. "Maafin gue."
"Untuk apa, nona?" heran Rey.
"Sudah menanyai masalah ortu lo."
Rey tersenyum, tanpa beban. "Tenang saja, nona. Rey sudah merelakan kepergian mereka karena Rey gak mau menjadi alasan ortu Rey gak tenang di alam sana."
Key tersenyum salut. Rey, pria itu masih saja bisa tersenyum. Padahal ia kesulitan untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Saat ortu menjadi tempat bersandar dari kejamnya dunia, ia malah kehilangan ortunya. Namun, hal itu tidak membuatnya tidak bersemangat atau pun menyalahkan tuhan.
****
Key menatap sikunya yang tergores. Ia tersenyum kecil. Rey, pria itu lah yang menyelamatkannya. Jika tidak, mungkin tidak hanya sikunya yang terluka tapi sekujur tubuhnya.
"Nona sudah merasa lebih baik?" Key tersentak kala Rey menanyainya. Remaja tampan itu baru saja pulang dari sekolahnya.
__ADS_1
"Yah, begitu lah." Key mengendikkan bahunya tak acuh. "Rey, mulai sekarang lo gak usah kerja jadi kuli lagi. Lo yang akan mengolah salah satu cafe gue."
Rey menatap Key dengan tatapan melongonya. "Hah? Maksud, nona?"
"Lo yang mengolah salah satu cafe gue. Trus lo akan gue pindahin ke Alexander Junior School."
"Bukan kah itu salah satu sekolah terfavorit di Indonesia, nona?"
"Yap."
"Rey gak bisa, nona."
"Kenapa? Gue liat nilai sekolah lo hampir sempurna. Trus dari info yang gue dapetin lo selalu menjadi juara umum sejak sd."
Lagi-lagi Rey melongo ketika Key sampai mencari tahu asal usulnya. Ia sampai bertanya-tanya di dalam hati siapa Key sebenarnya.
"Rey, gue udah anggap lo sebagai adik gue sendiri. Secepatnya cafe itu akan gue ubah menjadi hak milik lo."
"Gak, nona! Rey gak mau. Kalau untuk membantu mengelola Rey mau tapi kalau untuk menjadi pemiliknya maaf Rey tidak mau, nona," kata Rey lirih.
Key terkekeh geli. "Serah lo aja deh. Tapi mulai sekarang lo tinggal di cafe aja. Di sana ada satu kamar di lantai bagian atas. Hari ini juga kita pindah. Soalnya gue udah beresin semua barang-barang lo hehe."
Wajah rey memerah sempurna. "Semuanya, nona?"
Key mengangguk dengan seringaiannya. "Termasuk pakaian dalam?"
"Hooh."
"Ya ampun, nona. Rey malu."
Key terkikik geli mendapati tingkah Rey yang begitu polos. "Untuk apa malu." kekeh Key melihat Rey menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
"Nona.." rengek Rey.
Key terkekeh dan tersenyum jahil. "Gue gak nyangka, ternyata lo suka dengan hello kitty." seringainya.
"Nona!!!" teriak Rey malu.
****
Sepulang dari mall, Key langsung menyusun barang-barang Rey meski pun laki-laki itu melarangnya. Ia hanya tidak ingin laki-laki itu kelelahan.
Key menyusun baju yang dibelikannya untuk Rey tadi di dalam lemari. Sepatu dan sandal di susunnya dengan rapi di atas rak sepatu. Baju sekolah baru Rey juga sudah tersusun dengan rapi di dalam lemari. Key memang selalu mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya dengan mudah.
"Makasih, nona," kata Rey terharu. Mata laki-laki itu bahkan sudah berkaca-kaca.
"Rey, panggil gue kakak ya. Gue kurang suka dengan panggilan nona." ringis Key.
Rey mengangguk semangat dan memeluk Key dengan erat. "Makasih, kak. Makasih sudah mau repot-repot. Rey pasti akan membalas jasa kakak suatu hari nanti."
Key tersenyum sendu ketika air mata Rey membasahi bahunya. Segitu bahagianya kah Rey? Pikirnya.
"Lo cukup belajar dengan rajin dan menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa aja. Gak usah pikirin gue." Key menepuk-nepuk punggung Rey pelan.
****
Setelah pamit pulang ke Rey, Key langsung pergi ke apartemennya. Ia sudah tidak sabar untuk beristirahat di kasur empuknya. Namun, di tengah perjalanan menuju apartemennya ia menghentikan mobilnya secara mendadak hingga kepalanya membentur stir.
Key turun dari mobil dengan cepat dan memeriksa keadaan anak kecil yang tiba-tiba saja melintas di depan mobilnya tadi. Ia menghela nafas lega saat anak kecil itu tidak kenapa-napa.
"Dek, lain kali kalau menyebrang itu lihat-lihat ya." nasihat Key sembari membantu anak kecil itu berdiri.
"Hikss... Maaf, kak."
"Iya, gapapa kok, dek." Key mengelus kepala anak kecil itu. "Sudah ya, jangan menangis. Nanti cantiknya hilang loh." bujuk Key.
Anak kecil tersebut mendongak, menatap Key dengan mata bulat indahnya. "Imutnya." gemas Key dan mencubiti pipi embul anak kecil tersebut. "Nama kamu siapa, dek?"
"Namaku Lana, kak."
"Kamu ngapain tadi? Kamu sendirian?"
"Lana cuma mau beli es krim di sebrang sana, kak. Dan Lana sendirian, kak."
"Mama papa kamu mana?"
"Mama papa Lana udah gak ada, kak."
Key membulatkan matanya kaget.
"Kamu tinggal sama siapa?"
"Lana tinggal di panti asuhan, kak. Di sana Lana punya banyak teman. Kakak mau ikut Lana gak?"
Melihat mata berbinar Lana, Key menyetujui ajakan Lana. "Tempatnya jauh, dek?"
"Iya, kak."
"Kalau begitu kita ke tempat tinggal kamu pakai mobil ya."
__ADS_1
Lana mengangguk senang. Key tersenyum dan membantu gadis kecil itu masuk ke dalam mobilnya.
-Tbc-