
Key menggaruk lehernya yang tidak gatal sama sekali sambil menyengir. "Hehe... Gapapa kok."
"Ke bawah yuk, pasti mereka udah nungguin kita." Key mengangguk.
Rafa merangkul bahu Key menuju ke ruang bawah.
"Morning all." sapa Key dengan suara yang normal, tidak berteriak seperti biasanya.
"Tumben..."
"Tumben apa, bang?" Key bertanya dengan nada herannya.
"Tumben nggak teriak hahaa..."
Key menatap Axel dengan tatapan datarnya. Lalu duduk di atas kursi, begitu pun dengan Rafa.
"Kalian nggak melakukan
apapun kan semalam?" celetuk Axel dengan jahilnya.
Key tersedak ludahnya sendiri sementara itu Rafa malah mengusap tengkuknya karena canggung. Ia berdehem pelan sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Nggak kok."
"Jujur nih?"
Key mencubit tangan abangnya karena kesal. "Ck. Abang!! Kami nggak melakukan apapun. Jadi biasa aja dong ekspresi abang." pekik Key.
Axel tertawa mendengar pekikan Key. Sementara itu Ara dan Alex hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan tiga anak remaja itu.
"Udah. Jangan goda Key dan Rafa lagi. Sekarang ayo kita makan. Kali ini Rafa yang memimpin doa ya." tutur Alex.
"Tapi lepasin dulu cubitan kamu dari tangan aku, princess." Key yang mendengarnya menyengir lalu melepaskan cubitannya. Ia mengusap tangan Axel dengan lembut. "Sakit ya, bang?" Axel tersenyum lalu mengecup puncak kepala Key. "Enggak kok."
"Kalian ini..." gemas Ara. "Oh ya, ayo pimpin doanya, Raf."
Rafa menjadi iri melihat kehangatan keluarga Key. Rafa mulai membaca doa sebelum makan dan setelah itu mereka makan.
"Kamu suka soup ayam, Rafa?" tanya Ara memecah keheningan.
"Suka, mom."
Ara mengangguk lalu menyendokkan soup ayam ke piring Rafa. Tidak susah bagi Ara untuk mengambilkan Rafa soup karena ia berada tepat di samping Rafa. "Ini, makan yang banyak ya biar makin gendut kayak Key." canda Ara.
Key melotot ke arah Ara. "Mom ngatain Key gendut? Sungguh terlalu..." kata Key mendramatis. "Seharusnya daddy tuh yang gendut." lanjutnya yang membuat Alex menatap anaknya dengan tatapan tidak suka. "Peace, daddy. Key hanya bercanda." ucap Key cepat sambil menyengir.
"Padahal tubuh daddy nggak gendut kok, tubuh daddy itu atletis hingga mommy kamu aja betah memegang abs di perut daddy." kata Alex dengan sombongnya.
"Kalau begitu... Tubuh Bang Axel yang gendut haha..."
"Enak aja. Tubuh abang itu bagus tau." bantah Axel.
"Jangan di dengerin ya, Raf. Kadang mereka memang suka gitu." kekeh Ara. "Mau nambah apalagi, Raf?"
"Segini aja, mom. Makasih, mom."
"Nggak perlu berterimakasih, Raf."
"MOMM!!! KOK CUMA RAFA YANG DI AMBILIN SOUP? KEY JUGA MAU DONG..." teriak Key tidak terima.
"Haha... Ada-ada aja kamu, princess. Soupnya kan juga ada di dekat piring kamu. Ambil aja sendiri." ledek Ara.
"Ihh... Key maunya mom yang ambilin biar rasanya lebih enak."
"Enak karena apa, princess? Kan sama aja."
"Yah, sup yang di ambilin mommy lebih enak karena mommy kan mengasihnya ke Key penuh kasih sayang."
"Sttt... Jangan bicara lagi. Ayo makan semuanya." tegur Alex. Mereka akhirnya makan dengan tenang.
****
"Rafa?"
"Apa?"
"Kita mau kemana nih? Dari tadi kita mutar-mutar terus tanpa arah tujuan." dengus Key.
Rafa terkekeh. "Nggak tau."
"Yah. Kok nggak tau sih?" cemberut Key. "Gimana kalau kita ngajak yang lain?" usulnya.
"Nggak."
"Kenapa?"
"Karena aku mau menghabiskan waktu seharian ini bersama kamu."
Key tersenyum mendengar ucapan Rafa. "Baiklah..."
"Oh ya. Aku tau kita harus kemana."
"Kemana?"
"Secret..."
Key menden
__ADS_1
gus kesal mendengar ucapan Rafa yang sok misterius. "Ih, kasih tau dong, Raf."
"Nggak. Nanti kamu juga tau."
"Ish."
Key mengambil handphone yang berada di dalam tas kecilnya. Kemudian ia membuka aplikasi instagram dan melakukan siaran langsung. Sebelumnya ia meletakkan handphonenya di kaca mobil bagian depan.
"Hai semuanya! Kembali lagi bersama saya Keyra Angelia Alexander. Ada yang kangen?" sapa Key mengawali siaran langsungnya bak host di tipi-tipi.
Penonton semakin banyak yang melihat siaran langsungnya. Banyak juga yang mengiriminya pesan.
Hai juga Key cantik...
Kyaaaaa!!! Ada Rafa ganteng.
Hai juga cantik...
Aku kangen kamu cantik...
Aku juga...
Hai juga manis...
Key nambah cantik aja deh...
"Makasih pujiannya." sahut Key.
Alhamdulillah. Gue di notice.
Mau kemana, Key?
"Gak tau." sahut Key.
Say 'hai devan' please...
"Hai Devan!!"
Sama siapa itu, Key?
"Orang."
Mau jalan bareng Kak Rafa ya, kak?
"Iya nih Risma, lagi sama Rafa hihi."
"Kamu ngapain, sayang?" tanya Rafa heran melihat Key sibuk sendiri dengan handphonenya.
Oh my god! Itu suara Kak Rafa. Manly banget.
"Oh."
Key menatap Rafa. "Kok oh doang sih?" Bibirnya maju beberapa centi.
"Terus aku harus apa, sayang?" Dicubitnya pipi Key dengan gemas.
"Ya, gak tau..."
"Kamu nih." Rafa mengacak-acak rambut Key dengan gemas.
"Rafa!!! Rambut aku." pekik Key kesal dan bersidekap dada.
Rafa mengecup pipi Key cepat. "Udah, jangan ngambek. Smile dong." bujuk Rafa namun Key tetap mencemberutkan bibirnya.
"Jadi ngambek beneran nih?" goda Rafa sambil mencolek pipi Key.
"Siapa yang ngambek coba?" bantah Key.
"Tentu saja perempuan cantik yang berada di sampingku ini."
"Siapa?" tanya Key pura-pura bego.
"Ya kamu lah, sayangku." gemas Rafa.
Key mengangkat dagunya dengan angkuh. "Oh. Aku kan memang cantik, imut juga, dan ngangenin tentunya," kata Key dengan percaya dirinya. "Perhatiin jalan dengan baik. Nanti kita malah kecelakaan. Kan nggak lucu." lanjutnya.
"Iya, iya, sayangku."
"Raf, pengen makan ice cream deh." rengek Key.
"Ya udah. Aku beliin ice cream buat kamu nanti."
"Maunya sekarang." rengek Key lagi.
"Ya udah. Nanti kalau ada toko ice cream aku akan berhenti."
"Asikk!!"
"Kayak anak kecil aja kamu." ledek Rafa.
"Biarin. Yang penting jangan munafik."
"Lah? Apa hubungannya sayang?" heran Rafa.
"Ya. Kalau anak kecil kan polos dan bebas dari dosa gitu, dan kalau orang gede kebanyakan munafik." jawab Key santai.
__ADS_1
"Ada-ada aja kamu." kekeh Rafa.
"Ah! Ya ampun! Aku sampai lupa." jerit Key.
"Lupa apa, sayang?" Rafa melirik Key sekilas.
"Aku kan sedang melakukan siaran langsung." Key menepuk jidatnya. Lalu kembali fokus ke handphonenya.
Key!! Aku akan ke Indonesia 2 minggu lagi. Dan aku juga akan menginap di rumah kamu. -Ellicia.
Ellicia, sepupu jauh Key. Biasa di panggil El.
"Ok. Aku menunggu kedatanganmu."
Key menghela nafas. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan Ellicia.
Dan satu pertanyaan muncul tiba-tiba di kepala Key. Apakah Ellicia dan Azra masih menjalin hubungan? Tapi. Kalaupun iya, dia tidak peduli. Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak suka Ellicia datang ke Indonesia apalagi menginap di rumahnya.
Entahlah... Dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Mungkinkah karena masa lalu??
Key sama Rafa sweet banget...
Mau dong punya pacar kayak Rafa.
Kapan ya aku punya pacar kayak Kak Rafa?
Kalian mau kemana?
Aku dan Kelvin di mall nih. Ikut nggak? Ada Elly dan Aji juga.
"Nggak deh. Ngomong-ngomong Aura kemana?" tanya Key.
Nggak tau. Nomornya tidak bisa di hubungi.
Tak lama kemudian Key mematikan siaran langsungnya. Rafa ternyata sudah berhenti di sebuah toko ice cream.
Mata Key berbinar saat menyadari bahwa ia berada di depan toko ice cream. Key langsung bersorak kegirangan seperti anak kecil lalu keluar dari dalam mobil. "Yeayyy... Ice cream."
Kayaknya gue pacaran sama anak kecil nih, batin Rafa geli. Rafa menggeleng-gelengkan kepalanya heran, keluar dari dalam mobil, lalu mengikuti Key ke dalam toko ice cream.
Lagi-lagi Rafa menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Key memesan ice cream dengan semangatnya. Namun Rafa mendengus kesal saat melihat penjual ice cream yang sedang melayani Key. Penjual ice creamnya terlihat masih muda dan juga tampan.
"Rasa apalagi, dik?" tanya Danu-penjual ice cream itu.
"Coklat, vanilla, strawberry, dan banana." sahut Key setelah melihat rasa-rasa yang di jual.
"Btw, mas umurnya berapa? Kayaknya masih muda deh. Trus ini toko ice cream punya mas sendiri ya?" tanya Key mendadak seperti wartawan yang sedang mewawancarai seseorang.
"Umur saya masih 19 tahun, dik. Trus toko ice cream ini memang toko yang saya dirikan sendiri." Danu mengambilkan ice cream sambil menjawab pertanyaan Key, lalu tersenyum sekilas.
"Ohh gitu. Hebat ya punya toko ice cream sendiri di umur yang masih muda."
"Lebih hebat kamu dari pada saya. Kamu bahkan berhasil mendirikan perusahaan sendiri." imbuh Danu.
"Eh, ternyata mas kenal saya ya." kekeh Key.
"Kenal lah. Masa saya nggak kenal sama Keyra Angelia Alexander."
"Hm, trus apa alasan mas mendirikan toko ice cream ini?"
"Saya mendirikan toko ice cream ini karena saya suka sama anak kecil. Suka aja gitu ngelihat mereka memesan ice cream dengan antusiasnya."
"Berarti mas gak suka dong melihat saya membeli ice cream?" celetuk Key yang membuat Danu mengerutkan dahinya bingung.
"Loh? Kenapa kamu ngomong seperti itu?"
"Kan tadi mas bilang sukanya cuma sama anak kecil."
"Oalah. Saya pikir apaan." kekeh Danu.
Key terkekeh juga. "Canda, mas. Jangan di anggap serius."
"Ekhem." dehem Rafa yang membuat sepasang insan manusia itu mengalihkan pandangannya ke asal suara.
"Eh, Rafa." kikuk Key.
Rafa menatap Key dengan datar. "Masih lama ngobrolnya, sayang?"
"Ini udah selesai kok." cengir Key.
"Berapa semuanya, mas?"
"Nggak usah bayar, dik."
"Lah kok gitu?" bingung Key.
"Nih uangnya." Rafa meletakkan uang 100 ribu sebanyak 5 lembar di hadapan Danu. Tanpa di duga Rafa menarik tangan Key kembali ke mobil. Untungnya kresek yang berisi ice cream sudah berada di genggaman Key.
"Pacarnya posesif ya, dik," kata Danu keras sambil tertawa.
Key yang mendengarnya juga ikut tertawa namun saat mendapatkan tatapan tajam dari Rafa ia langsung terdiam.
'Rafa serem deh kalau natap gue kayak gitu. Eh, tapi lucu juga sih saat mendengar orang lain ngatain dia posesif.' batinya geli.
-Tbc-
__ADS_1