For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 1 TABIR MISTERI


__ADS_3

Dunia yang berbalut dengan keindahan dari sang Maha Pencipta, membuatku selalu berdecak kagum dibuatnya. Di halaman rumah nan sederhana ini, aku dibesarkan oleh sang ibu bersama dua kakak laki – laki yang begitu menyayangiku. Tiada hari tanpa keusilan yang disertai gelak tawa membuatku semakin cemberut.


“Bang Ariq, bisa tidak jangan jadi orang yang menyebalkan”, ujarku sambil melotot kesal ke arahnya.


“Nanti kamu akan merindukan suasana seperti ini, Sara”, ujarnya dengan masih mempertahankan gelak tawanya.


Ibu yang melihat interaksi putra dan putrinya hanya tersenyum simpul dan memilih untuk menjadi penonton saja.


“Ibu, lihatlah Bang Ariq selalu membuatku kesal. Tidak seperti Bang Aziq, coba aja Bang Aziq ada di sini”, aduku kepada ibu dan tentu akan mendapatkan pembelaan dari sang ibu.


“Shariq putra ibu, jangan sering membuat adikmu kesal”, nasehat sang ibu yang langsung dibalas senyum oleh putranya.


“Aku hanya sedikit meledek, tapi Sara saja yang baper, Bu. Oh ya, Bu, Ibu masak apa hari ini?”, tanya abangku sambil menggandeng lengan ibuku masuk ke dalam rumah dan meninggalkanku sendiri di halaman rumah.


“Bang Ariq, kok aku ditinggal sih?”, gerutuku yang hanya dibalas senyum mengejek oleh abangku.


Aku Maisara Berlian. Seorang gadis remaja yang akan menginjak usia lima belas tahun dan selisih usiaku dengan Bang Haziq delapan tahun dan Bang Shariq lima tahun. Sebentar lagi, aku akan memasuki masa putih abu – abu.


Sungguh, rasanya aku dilema. Antara ingin tetap menjadi anak kecil atau berangsur tumbuh menjadi orang dewasa. Rasa takut menghantuiku ketika pikiran menjadi dewasa penuh dengan banyak masalah.


Ah, tapi bukankah hidup memang demikian. Sedari kecil, ibu dan abang selalu menjaga dan melindungiku. Selama aku hidup, belum pernah aku temui masalah yang sulit. Seolah hidupku aman tanpa terusik oleh masalah.


Aku pun memilih untuk masuk ke dalam rumah berhubung perut sudah merasakan lapar akibat aksi kejar – kejaran dengan sang abang. Ketika langkah kakiku hendak mencapai pintu, tiba – tiba terdengar suara seseorang dari halaman rumahku.


Dia adalah pamanku. Paman Salman, beliau adalah adik dari ayahku. Berbicara tentang ayah, mendadak suasana hatiku berubah menjadi mendung. Sungguh, rasa rindu ini sangat sulit untukku tepis.


“Assalamu’alaikum”, ujar Paman Salman dengan senyum yang meneduhkan.

__ADS_1


Segera ku singkirkan ekspresi sendu yang tadi sempat singgah dipelupuk mataku.


“Wa’alaikumsalam, Paman”, sahutku sambil tersenyum manis ke arah paman. “Ibu ada di dalam, Paman. Silahkan masuk”.


Sesampainya di ruang makan, kami makan sambil bercerita apa saja dan sesekali tertawa. Selesai makan, paman meminta ibuku untuk berbicara empat mata. Jujur, sudah biasa bagiku jika paman meminta bicara hanya berdua dengan sang ibu.


Namun, kali ini ada rasa penasaran mengganggu pikiranku hingga akhirnya aku memilih untuk menguping pembicaraan paman dan ibu dan berhubung Bang Ariq juga ada keperluan hingga aku bisa dengan leluasanya menguping pembicaraan dua orang dewasa itu.


Jika ada sang abang, tentu aku akan langsung diceramahi. “Sara kecil, jangan suka menguping pembicaraan orang. Ingat pesan ibu”, ujar abangku kala itu sambil membelai kepalaku yang tertutup oleh jilbab.


Maaf, Bu dan Bang Ariq, aku langgar ya nasihat kalian kali ini. Semoga, aku nggak dosa. Gumamku dalam hati sambil tersenyum sendiri. Ku langkahkan kaki menuju keberadaan ibu dan pamanku.


“Inara, aku yakin mereka pasti akan mengincar putrimu. Meskipun kamu menyembunyikannya, namun mereka tentu akan terus mencari keberadaan putrimu”, ujar pamanku yang terdengar menghela nafas panjang.


Mengincarku? Siapa? Apa maksud, Paman Salman? Gumamku dalam hati.


“Aku tahu itu, Salman. Tapi, aku belum siap jika putriku harus mengetahui penyebab dan dalang dari kematian ayahnya”, ujar ibuku frustasi.


Seseorang yang begitu aku percaya ternyata menyembunyikan sesuatu yang begitu besar. Ayah. Kata itu berhasil membuatku tak mampu lagi berkata. Oh Ya Allah, sungguh cobaan semacam apa yang Engkau hadirkan dalam hidupku dan keluargaku.


“Dengar, sebaiknya kamu bawa putrimu pergi dari sini. Orang – orang itu sudah mengetahui di mana lokasi semua penduduk desa saat itu mengungsi, termasuk kalian. Jadi, kemungkinan tempat ini tidak lagi aman”, ujar pamanku dengan sedikit menekan kalimatnya.


Hening sebentar, hingga beberapa saat kemudian suara ibuku memecah kesunyian.


“Aku tidak bisa melepas putriku. Jika mereka datang, maka sebisa mungkin diriku akan menjadi tameng bagi putriku”, jawab ibuku dengan sangat yakin.


“Inara, aku tahu kamu khawatir, tapi hanya Saralah yang bisa menyingkap tabir misteri ini”, balas pamanku sedikit meninggikan suaranya.

__ADS_1


Lagi. Aku kembali mematung mendengar kata demi kata yang memasuki gendang telingaku.


Ibu, misteri semacam apa yang dimaksud oleh Paman Salman? Mengapa ibu harus bertaruh nyawa? Jika aku adalah kunci dari misteri yang terjadi, maka izinkan aku untuk mengungkapnya. Beri tahu aku, Bu. Ujarku dalam hati dengan mata yang sudah sembab.


Lalu, aku memilih kembali ke halaman rumah. Duduk di sana sambil menatapi setiap bunga yang menghiasi halaman rumahku. Sungguh, aku tak sanggup mendengarkan lanjutan dari percakapan mereka.


Ketika aku tengah melamun, tiba tiba seseorang duduk di dekatku sembari memberikanku sebatang coklat. Ku lirik ke arah sumber coklat itu berada, terlihat seorang remaja laki – laki tengah tersenyum kepadaku.


Dia adalah Doni, sepupu laki – laki yang paling dekat denganku yang merupakan anak dari Paman Salman.


“Maisa, kenapa melamun, kayak orang lagi putus cinta aja”, celetuknya sambil menaik turunkan alisnya.


Aku memilih diam. Jujur, moodku sedang tidak baik – baik saja saat ini. Berbagai perasaan tengah berkecamuk dalam pikiranku. Inginku tanya langsung kepada sang ibu, tapi aku yakin ibu pasti tidak akan memberitahu dan justru akan memarahiku atas sikapku yang kurang sopan.


Doni yang melihat aku hanya diam, dia kemudian duduk tepat dihadapanku sambil menatapku penuh tanya.


“Maisara, jika ada yang mengganggu pikiranmu, ungkapkan. Mungkin, aku bisa membantumu”, ujar tulus Doni.


Jantungku berdetak lebih cepat. Ragu bercampur rasa takut mulai memenuhi hatiku.


Apa aku ceritakan saja pada Doni tentang yang aku dengar tadi. Selama ini, Doni selalu menjadi teman sekaligus sahabat yang merangkap menjadi saudara bagiku.


Ku yakinkan hati untuk mulai bercerita. Sungguh, sejak dulu aku masih penasaran tentang kematian ayahku. Mungkin, inilah saatnya bagiku untuk mulai mengungkap semua rahasia yang tersembunyi.


“Bisakah kamu menjaga rahasia ini dan memilih membantuku, Don? Sungguh, aku benar – benar bingung harus berbuat apa nantinya”, ujarku sembari menatap ke depan.


“Seperti halnya kalung liontin yang selalu kamu jaga, maka aku akan menjadi perisai dan bayangan yang akan membantu dan menjagamu. Sungguh, kamu sama seperti liontin itu”, jelas Doni sembari memberikan coklat yang ia bawa tadi.

__ADS_1


Sungguh, hatiku lega. Setidaknya untuk menyelesaikan misi ini, selain Allah, aku masih memiliki seseorang yang bisa menemani langkahku.


“Akan aku ceritakan nanti”.


__ADS_2