For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 18 PESONA ALAM


__ADS_3

Semilir angin hangat begitu kentara aku rasakan. Meski cuaca hari ini begitu panas, namun hembusan angin itu mampu meluluhkan hawa panas itu ketika menerpa kulit wajahku. Langit biru dengan gumpalan awan yang begitu indah membuatku berkali – kali berdecak kagum.


Jalan terjal yang sempat ku lalui tadi tidak terasa sudah mengantarkanku menuju puncak. Dan di sinilah aku sekarang. Berada di puncak bukit yang lagi – lagi membuatku terpesona. Pemandangan yang membuatku merasa sangat bersyukur, karena dizinkan untuk bisa mengaguminya secara langsung.


Ya Allah, pemandangan alam hasil karyamu, sungguh tidak ada yang bisa menandinginya. Semua yang Engkau ciptakan terlihat begitu sempurna.


Salju yang hanya bisa turun di tempat tertentu akan terasa berbeda dengan salju yang manusia ciptakan. Rasanya berbeda.


Hamparan bumi yang luas ini semakin menambah keindahan alam yang membuat mataku enggan untuk hanya sekedar berkedip.


Aku sangat bersyukur, Ya Rabb. Penglihatan yang Engkau amanahkan untukku, tidak semua orang memilikinya.


Berkali – kali aku mengaguminya hingga seseorang datang ke arahku dan berdiri beberapa jarak denganku.


“Hijaunya dedaunan mampu membuat mata nyaman untuk memandanginya. Mengaliri rasa sejuk dan damai yang membuat hati semakin nyaman dalam meresapinya”, ujar seseorang itu dengan menatap ke arah yang ku tatap.


Deg


Jantungku berdegup ketika mendengar suara yang begitu aku rindukan. Segera ku menoleh dan dugaanku benar.


“Rauf, ngapain kamu di sini?”, aku bertanya sambil berusaha berekspresi sedatar mungkin.


“Mengagumi hasil karya dari pemilik alam semesta. Mensyukuri segala nikmat yang telah ia karuniakan”, jawab Rauf tanpa menoleh ke arahku.


Aku memilih diam dan hendak pergi dari sana. Kedatangan Rauf semakin membuat hatiku tidak menentu. Ada sejumput rasa yang sulit aku definisikan.


“Tetaplahh di sini, karena aku tidak akan mengganggumu. Aku hanya ingin memandangi alam dari sini. Pemandangan di sini terlihat lebih indah dibandingkan sudut mana pun. Jadi, anggap saja aku tidak di sini”, ucapnya yang membuatku menganga.


“Hah”,


“Nggak usah bengong, bisa – bisa cicak masuk ke mulutmu”, ujar Rauf sembarang yang berusaha menahan senyum di wajah datarnya.


“Mana ada cicak di sini”,


Aku terus menggerutu di dalam hati ketika mengingat setiap ucapan yang ia lontarkan.

__ADS_1


Tidak mengganggu dari mananya? Jelas – jelas, dia mengganggu ketenangan hatiku. Kebanyakan gaya sok mandang dari sini, bilang aja modus.


Terus, anggap dia nggak ada gitu? Dia pikir dirinya malaikat apa yang nggak bakalan kelihatan. Makhluk sebesar ini nggak kelihatan? Dia pikir aku buta apa.


Aku kembali memandangi alam yang semakin indah bila diterpa oleh sinar matahari. Pepohonan terlihat menari dengan seirama mengikuti alunan nada – nada yang angin hembuskan. Aku menggeser tubuhku beberapa langkah ke kiri agar sedikit menjauh dari Rauf.


Saking terlenanya aku dengan mahakarya Sang Pencipta membuatku hanyut dengan pikiranku sendiri. Tanpa aku sadari, Rauf tengah menatap ke arahku dengan senyum yang begitu manis dan menenangkan.


Jika aku menyadari tatapannya, mungkin sulit untukku menolak pesona yang ada pada dirinya. Seorang laki – laki yang Allah ciptakan dengan bentuk yang sangat baik. Wajah tampan yang meneduhkan, alis tebal, dan senyum yang semakin menambah indahnya ciptaan Allah yang satu ini.


Kamu tepat berada di dekatku, tapi sangat sulit untukku gapai. Jika aku mendekat, maka aku akan kehilangan dirimu.


Sara, aku akan selalu menjadi tameng dalam senyap hingga kamu tidak pernah menyadari kehadiranku dalam kesadaranmu.


Biarlah begini, asalkan aku selalu bisa melindungimu tanpa takut orang – orang itu menyakiti dan membunuhmu.


Sejujurnya, bukan hanya aku saja yang tidak kuat dengan dia yang berada cukup dekat denganku. Rauf pun sama. Sebisa mungkin, ia menekan egonya agar tidak mengancam keselamatanku.


...***...


Perjalanan pun kembali dilanjutkan. Aku sudah berada di kelompokku dengan terus mendengar ocehan dari Doni. Ia tidak berhenti – hentinya bicara ketika tadi dia tidak berhasil menemukanku.


“Iya, tadinya aku mau ngajak kamu. Eh, kamunya malah asyik ngobrol, makanya aku pergi aja sendiri”,


“Tetap aja, aku nggak bisa maafin diriku sendiri, jika kamu kembali dalam keadaan tidak utuh, Sa”,


“Kamu doain aku celaka, Don”, sungutku tidak terima dengan ucapan Doni.


Doni hanya menghela nafasnya, berusaha untuk menetralisir rasa cemas dan takut yang tadi mengganggu pikirannya. Ia menatapku dengan ekspresi sendu.


“Maaf, aku tidak bermaksud, Sa. Aku hanya khawatir, jika orang – orang yang ibumu maksud ada di sini”,


Bisa ku lihat tatapan sendu yang penuh kekhawatiran dari bola mata Doni. Aku tersenyum sambil kembali meyakinkannya satu hal.


“Aku akan selalu aman di bawah perlindungan Rabbku. Dia telah mengirimkanku perlindungan melalui kamu, Don sebagai perantara-Nya”.

__ADS_1


Tidak lama, terdengar suara teriakan seseorang yang membuatku dan Doni terkejut dan segera berlari ke arah sumber suara tersebut. Bisa ku lihat, semua siswa tengah berkumpul untuk mengerubungi sesuatu.


Doni pun segera bertanya kepada salah satu di antara mereka.


“Amir, ada apa?”, tanya Doni sedikit tidak sabar.


Laki – laki yang dipanggil Amir itu segera menoleh ke arah Doni.


“Ada siswi yang tidak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari pelipisnya”, jawaban Amir sontak membuat aku dan Doni terkejut bukan main.


“Pingsan dan berdarah?”, tanyaku yang dibalas anggukan kepala oleh Amir.


“Kita lihat ya, Don”, ajakku yang dibalas anggukan kepala oleh Doni.


Ketika aku hendak mencapai tempat di mana semua orang berkumpul, tiba – tiba netraku menangkap sesuatu yang aneh.


Deg


Siapa mereka?


Tatapanku lurus ke arah mereka yang berada tidak jauh dari lokasi kami berada. Netraku bertemu dengan netra salah satu anggota mereka. Lalu tidak lama, mereka segera meninggalkan tempat tersebut.


Mungkinkah mereka yang menyebabkan kekacauan ini?


Aku pun segera mencari keberadaan Doni untuk memberitahunya tentang orang – orang misterius itu. Namun, aku tidak bisa melihat Doni yang sudah berada di antara kerumunan itu.


Langkahku cepat mengikuti mereka. Terus aku ikuti mereka hingga tanpa aku sadari aku sudah berada di suatu tempat yang bukan bagian dari rencana perjalanan hiking ini. Orang – orang itu sudah menghilang ntah kemana.


“Aku di mana?”, aku bertanya dengan berusaha untuk tidak panik.


Aku perhatikan lingkungan sekitar, lalu terdengar suara tepuk tangan seseorang dari arah belakangku. Aku membeku di tempat dengan memberanikan diri untuk melihat ke belakang.


Prok… prok… prok…


Netraku bertemu dengan netra seseorang yang tidak bisa ku lihat wajahnya. Ia terlihat mengenakan masker dan topi yang menutupi sebagian matanya.

__ADS_1


“Ternyata, sangat mudah memancing mangsa dengan umpan yang begitu receh”, ujarnya dengan tatapan meremehkan.


Jadi, dia seorang perempuan? Dan suaranya, kenapa begitu familiar ya?


__ADS_2