
Tiba – tiba, aku merasakan hawa dingin di wajahku. Aku terkejut ketika laki – laki itu sudah berada tepat di depanku dengan segelas coklat dingin di tangannya.
“Nih, diminum”, ujarnya sambil menyodorkan minuman tersebut.
“Dan ini ambil, anggap sebagai ucapan terima kasih”, ujarnya lagi dengan menyodorkan sebuah gelang padaku.
Aku pun mengambil gelang itu sambil meminum coklat dingin. Sejenak, aku memperhatikan gelang tersebut.
Satu kata untuk gelang ini. Cantik.
Ketika aku mengangkat kepalaku untuk melihat si pemberi gelang tadi, hanya hembusan angin yang menyapaku karena sosok yang tadi berdiri di hadapanku sudah menghilang.
Hais, dasar. Udah kayak jailangkung aja main pergi tanpa pamit.
Aku hanya bisa menggerutu sambil kembali melihat ke arah gelang yang sudah melingkar indah dipergelangan tangan kiriku yang tertutupi oleh manset tangan.
Gelangnya cantik banget. Tapi, kok aku merasa familiar gitu ya sama desain gelangnya? Kayak pernah lihat gitu. Tapi di mana ya?
Hari sudah mulai menggelap. Warna jingga yang tadi menghiasi langit sore, kini sudah mulai mengabur. Aku pun bergegas menuju asrama, karena sebentar lagi waktu solat magrib akan datang.
...***...
Langit malam terlihat begitu indah dengan paduan lampu – lampu taman yang berjejer rapi. Kerlap – kerlipnya bintang menambah kesan cantik pada langit sembari mengelilingi bulan yang bersinar dengan terang.
Suasana malam menemaniku dalam mengerjakan tugas pertamaku sebagai siswa di sini. Sesekali aku melihat ke arah jendela sambil tersenyum memandangi langit yang membuat hatiku berdesir.
Ku lihat Yira, teman sekamarku yang juga sibuk dengan tugasnya. Sesekali terlihat keningnya berkerut yang menandakan bahwa ia tengah berpikir, lalu sekejap kemudian ia tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
“Psst, Yira. kamu buat apa sih?”,
Yira yang merasa namanya terpanggil segera menoleh ke arahku dengan tersenyum bahagia seolah baru mendapatkan voucher diskon.
“Hehe, aku lagi merancang sebuah lukisan”, jawabnya dengan diakhiri tawa kecil.
“Terus kamu mau lukis apa?”,
“Rencananya sih, aku mau lukis sebuah desa gitu. Dari tadi aku coba searching buat jadi referensi. Nah, dari beberapa yang aku dapat, sekarang aku udah terpikir mau lukis desa yang kayak apa”, jelasnya yang membuatku mengangguk – anggukan kepala.
“Eh, Sa. Cowok yang sama kamu di taman sebelah selatan itu pacar kamu”, tanya Yira yang seketika membuatku menghentikan aktivitasku.
“Pacar? Hahaha, nggak kok bukan pacar. Dia itu sepupuku, anak dari adik ayahku”, jawabku sambil tertawa.
__ADS_1
“Aku sih tadinya juga nggak yakin. Kalau aku boleh tahu, sejak kapan kamu berjilbab, Sa dan bahkan jilbabmu dalam loh? Kalau di mata laki – laki mah, calon istri idaman”, celutuknya yang membuatku menggeleng.
“Aku diajarkan udah dari kecil, Ra”, jawabku sambil kembali fokus dengan tugasku.
Malam semakin larut, Yira pun sudah duluan tidur. Tinggal aku sendiri yang masih berjaga. Aku lihat jam di dinding yang sudah hampir menunjukkan pukul sepulum malam.
Astaughfirullah, kok bisa kebablasan gini sih. Gawat, bentar lagi bakalan ada yang cek ke kamar.
Tugas juga belum selesai. Lagian, peraturannya agak aneh menurutku. Masa iya, harus di cek ke kamar, berasa tinggal di pesantren aku tuh. Terus juga, inikan privasi seseorang.
Aku pun memilih untuk pura – pura tidur agar bisa mengelabui pembina yang melakukan kontrol malam. Tidak lama kemudian, terdengar suara seseorang masuk ke dalam. Aku pun mengintip sedikit untuk memastikan siapa yang masuk.
Ya ampun, Bu Yani. Nggak capek apa pake acara cek kamar segala, udah kayak ronda malam aja.
Udahlah, Bu. Balik sana, pengap ini nggak bisa nafas akunya, karena selimut yang tengah menggulung tubuhku tebal banget.
Ya ampun, itu ngapain lagi sih, itukan privasi seseorang. Kepo banget sama kegiatan orang lain.
Cukup lama, akhirnya Bu Yani pun keluar dari kamarku. Aku pun segera menghempaskan selimut hingga jatuh ke lantai.
“Benar – benar aneh ini asrama. Semua yang berada di kawasan sekolah ini, aneh bin mencurigakan”, aku terus menggerutu sambil melangkahkan kaki menuju arah balkon kamar.
Ternyata lebih indah, jika dilihat dari arah balkon dibanding hanya di sebalik jendela.
Senyumku semakin mengembang tatkala ku lihat bintang – bintang masih setia di atas sana seolah tengah menungguku dan menyapa malamku.
Hei, bintang. Kamu yang jauh di sana terlihat begitu indah dan menawan bagi setiap mata yang memandang.
Rasanya mataku begitu betah menatapmu lama – lama hingga rasa kantuk pun enggan untuk menyapa diriku.
Mendadak hatiku menjadi sendu. Bayangan ibu tiba – tiba melintas dipikiranku. Menari indah seolah tengah berada di pentas teater.
Hampir setiap malam, aku akan memandangi langit malam yang berhiaskan bintang – bintang sambil sesekali tertawa, lalu aku tertidur dalam dekapan ibu.
Bu, apa kabar? Sara rindu dengan ibu. Rindu dekapan hangat yang selalu menghantarkanku ke alam mimpi sembari mengelus puncak kepalaku.
Ada rasa yang sulit aku jabarkan. Rasa yang mengalir, lalu meninggalkan jejak ingin bertemu. Mengorek memori lama, membuatku semakin merasa terlena dengan lamunan yang sejenak menyapa.
Sebuah rasa yang membuat dada dan hatiku sesak. Tapi, hidup tentang pilihan dan aku memilih untuk pergi darimu sejenak.
Inikah rasa rindu yang orang – orang ceritakan? Bisakah aku bertahan dalam waktu yang cukup lama?
__ADS_1
Akankah semua akan selesai dengan akhir yang sesuai dengan harapanku? Bolehkah aku mengharapkan sesuatu yang terdengar mustahil?
Tidak terasa, air mata itu tumpah membasahi pipiku. Sebuah rasa yang benar membuatku semakin sesak. Aku menangis dalam diam sembari menatap langit malam, berharap bisa meredakan rindu yang semakin membuncah.
Hiks… hiks… hiks…
Sesak, Ya Rabb. Bisakah aku bertemu dengannya?
Bisakah Engkau kabulkan permintaanku, walau itu hanya bayangan semu?
Bisakah Ya Allah, hiks…
Langit yang tadinya cerah mendadak mendung, lalu turun hujan yang cukup deras seolah mengerti suasana hatiku.
Aku ulurkan salah satu tanganku untuk menangkap rintik air hujan yang mulai membasahi bagian bumi yang ku singgahi. Dingin. Itulah yang aku rasakan, ketika air itu menyentuh telapak tanganku.
Jiwaku seolah melayang, terbang bersama angin dan jatuh bersama dengan air hujan. Terbang menemui sebuah harapan, lalu terjatuh oleh kenyataan yang semakin membuat pertahananku lemah.
Hiks
Ayah… ayah… ayah…
Hanya kata – kata itu yang mampu terucap dari bibirku. Rasanya berat hanya untuk sekedar berucap. Berteriak pun suaraku tercekat dan seolah lenyap bersamaan dengan kepergian salah satu malaikat berhargaku.
Bisakah aku melihatmu? Membelai wajahmu? Menyapamu? Lalu tersenyum padamu? Bisakah kamu melihat senyumku, walau itu sesaat? Tidak bisakah, Ayah?
Mengapa kepergianmu menyisakan luka yang dalam untukku. Rindu yang sulit ku cegah. Untuk mengikhlaskanmu saja aku tak mampu.
Jujur, aku tak percaya, jika kamu benar – benar sudah pergi, Yah. Aku tak percaya itu.
Adakah secercah harapan bagiku untuk kita bertemu? Adakah kesempatan itu?
Hiks… hiks… hiks…
Aku mohon izinkan aku bertemu denganmu, walau itu hanya dalam khayalan semu milikku. Setidaknya, aku bisa merasakan dekapan hangat milikmu yang terasa nyata, bukan hanya dekapan milik ibu.
Bisakah takdir ini sesuai dengan harapanku, Ya Rabb? Bisakah?
Rasanya hatiku kembali dipatahkan oleh sebuah kenyataan bahwa ayah sudah pergi. Dan fakta itulah yang harusnya aku pahami. Bukan memaksakan sesuatu yang tak mungkin aku miliki.
...***...
__ADS_1