
Kicauan burung hantu di malam hari menambah aura mencekam suasana malam itu. Seberkas cahaya tamaram pun menjadi penerang di sebuah rumah yang terlihat cukup bagus. Lampu redup yang menerangi ruangan itu menambah kesan angker bagi yang datang ke sana.
Barang – barang terlihat berantakan dalam keadaan yang tidak lagi utuh. Pecahan kaca berserakan di mana – mana. Penjaga yang dikerahkan untuk mengawasi rumah itu, kini tergeletak tak sadarkan diri. Mereka pingsan untuk waktu yang cukup lama.
Seseorang yang datang ke rumah itu terlihat begitu murka. Sangat kentara aura kemarahan diwajahnya ketika mengetahui ada seseorang yang datang menyusup ke tempatnya dan mengambil tawanannya.
Bugh
Berkali – kali, ia menghajar penjaga yang tidak becus dalam bekerja. Bukan hanya sekedar menghajarnya, tapi ia bahkan nyaris membunuh penjaga itu.
“A-ampuni saya, Bos”, bergetar bibir pria itu berucap.
Pria itu dibanting hingga terbentur di dinding dengan kepala yang sudah mengeluarkan darah. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit.
“Bagaimana bisa keamanan di sini dibobol dengan begitu mudah? Tidakkah kalian bisa bekerja dengan baik, hah?”, bentak seseorang itu dengan aura membunuh yang mencekam.
“A-ampuni kami, Bos. Tiba – tiba, kepala kami merasa pusing dan akhirnya pingsan”, ucap penjaga lainnya dengan perasaan takut.
Seseorang yang dipanggil “Bos” itu hanya bisa meluapkan amarahnya tanpa bisa berpikir jernih.
“Bos, sepertinya penyusup yang datang ke tempat ini sudah lama melakukan pengintaian. Dilihat dari cara ia masuk ke sini tanpa meninggalkan jejak, sudah bisa menjelaskan bahwa penyusup itu bukanlah orang sembarangan”, terang Victor selaku tangan kanannya.
“Cari tahu keberadaan gadis itu sekarang dan bawa penyusup itu dalam keadaan hidup atau pun sudah mati”, ujar seseorang itu dengan tatapan membunuhnya.
Gadis yang mereka maksud tidak lain adalah Yira. Hari di mana gadis itu mendapatkan siksaan dari seorang pria paruh baya yang sudah dalam keadaan sekarat. Tidak lama setelah kepergian Pak Badir, Bu Yani, dan Victor, seseorang datang ke tempat itu dan membawa Yira pergi dari sana.
...***...
Hari demi hari pun berlalu. Dan selama itu pula, aku atau pun Doni masih belum menemukan petunjuk baru. Ditambah lagi beberapa hari belakangan ini, kami tengah disibukkan dengan persiapan festival sekolah yang selalu diselenggarakan setiap setahun sekali.
Beberapa siswa terbaik dari setiap kelas akan dikirimkan sebagai perwakilan kelas mereka. Dari kelas desain, aku menjadi salah satu siswa yang dipilih. Tepat, setelah pertemuanku dengan Doni pagi itu, namaku terpanggil ketika sedang melaksanakan apel pagi.
__ADS_1
Tidak ada hal unik yang aku temukan selama mengurus persiapan festival. Aku mendengus kesal, karena untuk mendapatkan sebuah petunjuk saja sangatlah sulit.
“Huft, kenapa sulit banget sih?”, gumamku sambil duduk di salah satu gazebo yang tidak begitu jauh dari aula sekolah.
Festival akan dilaksanakan di beberapa titik lokasi. Pertama, di aula sekolah untuk acara pembukaan. Kedua, di halaman sekolah yang amat luas yang sudak di dekor dengan sangat megah. Lalu terakhir, di sebuah perbukitan yang akan digunakan untuk kegiatan hiking dalam memeriahkan acara festival.
Ya Alllah, tunjukkan padaku di mana aku bisa menemukan sebuah petunjuk. Otakku mendadak buntu dan ingin pecah memikirkannya.
Sudah beberapa petunjuk yang ditemukan, tapi masih belum menemukan sebuah kejelasan. Sebenarnya, apa yang tersembunyi di balik megahnya gedung sekolah ini?
Ketika tengah asyik melamun, netraku menangkap seseorang yang tengah menatap ke arah aula dengan tatapan penuh kebencian.
Aku bisa melihat dengan jelas arti dari sorot mata tersebut. Sesekali, ia terlihat mengepalkan tangannya sambil terus menatap ke arah aula.
Wajah seseorang itu mengenakan masker, sehingga aku tidak bisa melihat dengan begitu jelas bagaimana wajahnya. Ditambah dengan hoddie yang dikenakannya membuatku tidak bisa menebak siapa orang itu.
Tanpa aku tahu, seseorang itu terus bergumam di dalam hati yang hanya dirinya sendiri yang mendengarkan.
Kalian adalah manusia yang tidak punya hati. Begitu tega kalian melakukannya tanpa rasa bersalah.
Mengabaikan sebuah pertanggungjawaban yang seharusnya kalian lakukan. Tidakkah kalian tahu bahwa banyak yang mengalami kehilangan?
Setelah bergumam, seseorang itu segera bergegas pergi ketika ia menyadari kedatanganku yang sedang menuju ke arahnya.
“Siapa orang itu? Mengapa dia terlihat begitu mencurigakan?”, tanyaku sendiri sambil masih mengamati punggung orang itu yang mulai menjauh.
Acara pembukaan pun dimulai. Terdengar suara pembawa acara yang sudah mulai berkoar – koar, lalu tidak lama terdengar ucapan kata sambutan, dan setelahnya terdengar gema tepuk tangan yang membuatku tidak nyaman.
Aku tidak pernah lagi menyukai sekolah ini, setelah aku menemukan beberapa hal yang mencurigakan.
Aku melamun sembari menatap ke arah aula dengan wajah datar. Tanpa aku sadari, seseorang datang dan duduk di depanku.
__ADS_1
“Lagi mikirin apa, Sa?”, ujar seseorang yang suaranya sangat familiar.
“Entahlah, Don. Aku sendiri bingung dengan semua yang telah terjadi”, ucapku dengan mengalihkan pandanganku ke arah langit pagi.
“Bagaimana dengan Yira? Apa masih belum ada kabar?”, Doni kembali bertanya yang hanya aku jawab dengan gelengan kepala.
“Sa, kamu belum cerita tentang malam kepergian Yira. Sebenarnya, apa yang terjadi dengannya? Dan apa rumor yang beredar itu benar?”,
Aku kembali menggeleng dan beralih menatap Doni.
“Memang malam itu, Bu Yani memperlihatkan kepadaku sebuah video. Di dalam video itu, aku melihat bahwa gadis yang mirip dengan Yira terlihat tengah menggoda seseorang yang ku yakini adalah Pak Badir. Tapi, aku sama sekali tidak percaya, Don”, ucapku dengan nada sendu.
Doni terdiam setelah mendengar penuturanku.
“Kamu tahu, Don. Mereka yang memiliki sebuah ambisi akan berusaha untuk meraihnya. Namun apa jadinya, jika ambisi itu malah berubah menjadi sebuah obsesi yang bisa menghalalkan segala cara”,
“Kamu benar, Sa. Awalnya, aku ragu dengan rumor itu. Tapi, mengingat sikap Pak Badir aku menjadi yakin, jika Yira hanyalah tameng untuk menutupi kebusukannya”,
Aku hanya mengangguk menyetujui ucapan Doni.
“Atau mungkin, Yira mengetahui sesuatu tentang Pak Badir atau sekolah ini sehingga ia segera disingkirkan oleh kumpulan bedebah itu”, ucapan Doni membuatku membeku.
Disingkirkan?
Aku kembali menatap Doni dengan raut wajah sangat serius.
“Mungkin dugaanmu benar, Don. Aku mulai teringat akan sesuatu setelah seminggu kepergian Yira. Pagi itu, tanpa sengaja, aku menguping pembicaraan semua pembina yang berkumpul di lantai dasar. Dan salah seorang dari mereka mengatakan bahwa Yira telah mereka bereskan dan akan lenyap sendirinya”,
“Kenapa kamu nggak pernah bilang itu ke aku, Sa. Itu adalah informasi yang sangat penting bagi kita, Sa”, ujar Doni yang terlihat begitu semangat.
“Apa rencana kamu, Don?”, aku bertanya dengan rasa penasaran yang begitu tinggi.
__ADS_1
Doni hanya tersenyum tanpa membalas ucapanku. Aku pun tidak begitu mempermasalahkannya. Aku sangat mengenal bagaimana karakter seorang Doni. Tentu, dia memiliki rencana besar yang akan meledak menjelang detik –detik misteri ini terungkap.
...***...