For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 9 JANGAN JATUH HATI


__ADS_3

Seminggu sudah aku menjadi siswa di SMA Cakrawala ini. Namun, belum ada hal yang menarik lainnya yang berhasil aku dan Doni jumpai, selain lorong rahasia dan potongan video yang memperlihatkan seorang laki – laki yang mirip dengan ayah penuh dengan darah.


Selama itu jugalah, hubunganku dengan Rauf semakin dekat. Bagiku, Rauf adalah seseorang yang begitu tulus dalam membantu seseorang. Dia adalah pribadi yang hangat yang selalu terlihat bahagia.


Sosok yang selalu menghiburku dikala aku mulai dipusingkan dengan berbagai tugas yang mulai menumpuk. Ketika bersamanya, sejenak aku bisa melupakan beban besar yang tengah ku pikul. Jujur, aku bersyukur mempunyai teman seperti dirinya.


Iya, teman. Karena saat ini, aku tak ingin menggunakan hati dalam menanggapi segala bentuk kebaikan dan perhatian darinya. Menurutku, seorang laki – laki memang diciptakan untuk melindungi dan menjaga seorang perempuan.


Aku menepis sebuah rasa yang mulai hadir dihatiku. Aku tepis agar nanti aku tak dikecewakan oleh sesuatu yang tidak diharapkan.


Ya Allah, jangan biarkan aku menaruh hati pada salah satu makhluk ciptaanmu sekarang. Jangan biarkan dia menggenggam hatiku, Ya Rabb.


Ku mohon, Ya Rabb. Cegahlah rasa ini agar ia tidak tumbuh dengan subur. Ingatkan aku agar tak menaruh harap padanya.


Fokusku sekarang adalah ayah, biarkan aku selesaikan semua teka – teki ini dengan tenang agar aku bisa memikirkan yang lain.


Jangan biarkan aku jatuh hati, Ya Allah.


Aku melamun ketika kelas sedang berlangsung. Lalu tiba- tiba, sebuah buku mendarat tepat mengenai keningku, membuat lamunanku seketika buyar.


“Sakit Rauf”, keluhku sedikit berteriak sambil mengelus keningku untuk mengurangi rasa sakitnya.


Sejenak aku terdiam, karena menyadari bahwa sekarang aku sedang berada di kelas. Ingatan tentang Rauf membuatku lupa dengan keadaanku sekarang.


Ya Allah, aku salah sebut. Ucapku sambil menutup mulutku dengan perasaan takut.


Ku tegakkan kepala sembari melihat siapa yang melemparkan buku ke arahku. Aku mematung ketika mendapati tatapan tajam dari seorang pria paruh baya. Aku baru ingat bahwa hari ini pemilik sekolah ingin melihat perkembangan dari kelas desain.


“Maaf, Pak”, hanya kalimat itu yang mampu ku ucapkan.


Ya Allah, Pak Badir pasti marah banget sama aku. Dan dia juga pemilik sekolah ini. Gimana nasib aku nantinya. Gumamku cemas dalam hati sambil meremas ujung jilbab yang ku kenakan.


“Berdiri”, ucapnya tegas dengan masih menatapku tajam.


Tatapanku segera beralih pada Bu Manda yang sedang mengajar di kelasku. Ia terlihat menganggukkan kepala agar aku menuruti perintah dari pemilik sekolah tersebut. Dengan perasaan takut, aku berdiri dari tempatku duduk.


“Bisa kamu jelaskan apa yang baru saja saya katakan?”, tanyanya sambil melangkah ke arahku.


Glek

__ADS_1


Aku menelan ludah dengan paksa. Langkah itu semakin mendekat membuat nyaliku menciut. Ketika aku hendak menjawab pertanyaannya, tiba – tiba pintu terbuka dan memperlihatkan seorang siswa laki – laki tengah berjalan masuk ke kelasku.


“Maaf, Pak. Saya ke sini ingin mengantarkan tas milik Bapak yang tertinggal di ruang laboratorium tadi”, ujar siswa tersebut yang tidak lain adalah Rauf.


“Kamu kenal gadis ini, Rauf?”, tanyanya pada Rauf yang membuatku semakin cemas.


Rauf melihat ke arahku. Terlihat bahwa ia begitu bingung dengan keadaan yang sedang terjadi di dalam kelas ini. Cukup lama ia menatapku, lalu mengalihkan tatapannya pada Pak Badir.


“Saya kenal, Pak. Apa dia buat masalah?”, Rauf bertanya sambil kembali menatap ke arahku.


“Hanya teman, saya pikir dia adalah pacarmu”, jawab Pak Badir dengan dingin.


“Ingat Rauf, jangan bergaul dengan siswa yang tidak bisa fokus dengan belajar. Dan kamu, saya bisa mengeluarkan kamu dari sini, jika hanya menjadi benalu yang menghancurkan sekolah ini”, lanjutnya lagi dan segera berlalu dari kelas tersebut.


...***...


Langit siang terlihat sedikit mendung seolah mengerti dengan suasana hatiku. Aku memilih untuk duduk di gazebo dekat kelasku daripada ke kantin. Perkataan Pak Badir membuat hatiku sakit. Dan hal itu semakin membuatku curiga dengan sekolah ini. Aneh saja bagiku.


Mengapa ia begitu marah hanya karena aku melamun? Dan mengapa ia malah memilih mengancamku dibandingkan menasehatiku


Ada apa dengan sekolah ini? Sungguh, sekolah ini terlihat abnormal bagiku. Aku tahu dia khawatir dengan reputasi sekolahnya, tapi aku hanya melamun.


Aku pun tak ingin larut memikirkannya, lalu memilih untuk membaca sebuah novel yang aku bawa dari asrama. Belum lama membaca, tiba – tiba seseorang duduk tepat di hadapanku dengan segelas coklat dingin bersamanya.


“Jangan khawatirkan ucapan Pak Badir. Ia hanya tidak senang ketika ada siswa yang tidak mendengarkannya”, ujar Rauf yang seolah mengerti dengan pikiranku.


“Minumlah”, lanjutnya lagi sembari menyodorkan minuman tersebut padaku.


“Makasih”, ucapku sambil berusaha untuk tersenyum.


“Maisara, Singkirkan rasa khawatir dan takut yang bersemayam dihatimu. Hilangkan dari pikiranmu. Yakinkan dirimu bahwa apa yang akan kamu hadapi bukanlah sesuatu yang sulit”,


Aku terdiam dengan kening mengernyit mendengar ucapannya.


“Bertindaklah dengan hati – hati. Bergeraklah hingga bayanganmu pun tidak terlihat. Seperti nama yang tersemat dalam dirimu, kamu selayaknya berlian bagi mereka yang menyayangimu. Bagai bintang yang menyinari gelapnya langit malam”.


Keningku semakin mengernyit, karena tidak memahami ucapan yang Rauf lontarkan.


“Aku yakin, kamu pasti bisa memecahkan misteri ini, Lian kecil”, ujarnya lalu segera pergi.

__ADS_1


Deg


Jantungku berdetak ketika ia memanggilku dengan “Lian Kecil”.


Siapa kamu sebenarnya Rauf? Panggilan itu mengingatkanku dengan seseorang yang bahkan aku tak lagi ingat dengan wajahnya.


Namun, ntah kenapa aku senang mendengar semua yang kamu ucapkan.


Aku hanyut dengan pikiranku sembari memegangi pipiku ketika bayangan wajah Rauf mulai menyapaku. Asyik dengan pikiranku sendiri hingga aku tak menyadari bahwa Doni sudah duduk di hadapanku dengan ekspresi bingung.


“Ehm”, deheman dari Doni berhasil membuyarkan lamunanku.


“Ya Allah, Doni. Bisa nggak sih kalau datang itu nggak ngagetin?”, sungutku sambil meminum coklat dingin pemberian Rauf.


Hilang sudah senyum yang tadi menghiasi wajahku. Doni memperhatikanku dengan intens membuatku risih dengannya.


“Ngapain lihatnya gitu, Don? Ada yang salah?”


“Kamu menyukainya?”, tanya Doni yang membuatku tersedak.


“Ngawur kamu, Don”, jawabku sambil melambaikan tangan pertanda tidak.


“Sekali pun iya, aku nggak masalah, Sa. Rauf adalah laki – laki yang baik. Aku cukup dekat dengannya. Tapi untuk sekarang, bukanlah waktu yang tepat”, jelas Doni yang terlihat khawatir.


Aku terdiam mendengar ucapannya.


“Fokus, Maisa. Kendalikan hati dan pikiran kamu. Terkadang, cinta bisa membuat seseorang lupa dengan tujuannya. Aku tak melarang asal masih dalam batasan”,


Aku kembali terdiam tanpa bisa berucap apapun. Apa yang dikatakan Doni benar, aku mulai lupa dengan tujuan awalku ke sini.


“Kamu bukanlah anak kecil lagi, melainkan seorang perempuan yang kini tumbuh menjadi sosok remaja yang mulai mengenal apa itu cinta. Itu wajar dan normal, Sa. Aku yakin kamu paham maksudku”,


“Maaf, Don. Aku yang memintamu membantuku, tapi malah aku yang lupa dengan hal itu”


Doni tersenyum padaku sambil memberikan semangkuk ice cream kesukaanku.


“Seperti ice cream ini, ketika dibiarkan lama di ruangan terbuka, maka ia akan mencair. Begitu juga dengan hati, semakin dibiarkan ia akan semakin meleleh”,


Aku hanya mengangguk sembari memakan ice cream tersebut.

__ADS_1


“Jangan jatuh hati sekarang, Sa”, lirih Doni pelan padaku.


__ADS_2