For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 14 SECARIK KERTAS


__ADS_3

Beberapa hari setelah pertemuanku dengan Doni, baik aku maupun Doni masih belum menemukan petunjuk lain. Di tambah lagi dengan aktivitas sekolah yang sudah mulai padat dengan tumpukan tugas yang sudah menyamai tingginya gunung.


Waktu istirahat pun sudah berakhir. Aku pun segera pergi meninggalkan kantin setelah berpamitan dengan Doni.


“Sa, kita harus lebih bersabar lagi. Teka – teki yang akan kita pecahan tidak sesederhana yang kita bayangkan. Bahkan, dengan beberapa petunjuk saja masih belum menemukan titik terangnya”, ujar Doni sambil menatap langit siang yang sedikit dipenuhi gumpalan awan.


“Aku paham, Don. Aku pamit ke kelas sekarang”, balasku sambil berlalu meninggalkan Doni yang menatapku dengan perasaan sendu.


Aku tahu rasanya kehilangan, Sa. Kamu kehilangan sosok seorang ayah dan aku kehilangan sosok seorang ibu.


Setibanya di kelas, aku segera menuju tempat dudukku. Kembali ku tatap langit siang dari sebalik jendela. Tidak ingin kembali bersedih, aku pun memilih untuk membaca ulang materi hari ini, kebetulan hari ini ada kuis.


Ketika resleting tasku sudah terbuka, aku dikejutkan dengan sesuatu yang sudah berada di dalam tas ranselku. Secarik kertas yang begitu asing bagiku.


Kertas tersebut masih terlihat baru. Tulisan di dalam kertas tersebut adalah hasil ketikan. Artinya, seseorang baru saja membuatnya. Aku mulai membuka kertas itu dengan perasaan heran.


Lorong misterius memiliki akses khusus yang hanya bisa dimasuki oleh orang – orang tertentu saja. Siswa biasa tidak akan bisa memasukinya bahkan untuk sekedar menemukannya saja mereka tidak akan berhasil. Namun, ada sebuah benda yang dapat membuat akses menuju lorong itu terbuka secara otomatis. Dengan jarak beberapa langkah saja, lorong itu akan terbuka tanpa kamu sadari. Dan benda itu sekarang ada padamu.


Begitulah isi pesan singkat yang ada di dalam kertas tersebut. Aku membolak – balikkan kertas itu guna mencari nama si pengirim surat. Namun, tak kunjung ku temukan nama seseorang di sana.


“Kira – kira, siapa pengirim surat ini? Bahkan, dia tahu tentang lorong misterius ini. Lalu, benda apa yang dia maksud? Siapa dia sebenarnya?”, gumamku pelan.


...***...


Di sudut bumi lain, di sebuah rumah yang masih terlihat bagus terdapat seorang gadis dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Selain itu, juga terdapat seorang lelaki paruh baya yang tengah tertawa sembari menatap seorang gadis yang sangat ia kenal. Gadis itu dalam keadaan basah kuyup.


Beberapa waktu sebelumnya, gadis itu ditenggelamkan ke dalam kolam renang yang ada di rumah itu dalam keadaan tangan yang masih terikat. Ia ditenggelamkan oleh seseorang yang menjadi tangan kanan pria paruh baya tersebut.


Gadis itu ditenggelamkan selama hampir sepuluh menit. Kini, ia diikat di sebuah kursi dengan masih dalam keadaan basah kuyup.

__ADS_1


“Hahaha, bagaimana? Apakah sekarang kamu sudah berubah pikiran?”, tanya pria itu dengan senyum jahatnya.


Gadis itu menggeleng lemah sembari menahan rasa dingin yang sudah menguasai tubuhnya. Ia menatap pria itu dengan tatapan penuh kebencian.


“Sampai kapan pun, saya tidak akan pernah berubah pikiran”, ucap gadis itu dengan tegas.


Rahang pria itu mengeras. Ia terlihat tidak suka dengan respon yang diberikan oleh gadis di depannya ini.


“Saya tanya sekali lagi, apakah kamu akan terus menutup mulutmu itu?”, bentaknya sambil menggebrak meja yang ada di ruangan itu.


Dengan penuh keyakinan, gadis itu menjawab dengan lebih tegas lagi.


“Apapun yang akan Anda lakukan terhadap saya, itu sama sekali tidak akan menggoyahkan pendirian saya. Saya tidak akan pernah mengatakan apapun pada, Anda”.


“Baiklah, itu artinya kamu memilih kematian Yira”, ucap pria itu dingin dengan tatapan tajamnya.


Ia beralih menatap bawahan setianya. “Ambil alat itu sekarang, Victor”, ujarnya sambil kembali menatap Yira yang semakin terlihat menyedihkan.


“Ini alat yang Anda minta, Bos”, ucap seseorang yang bernama Victor itu.


“Pasangkan ke kepala gadis itu. Biarkan gadis itu mati secara perlahan dengan menahan rasa sakit yang luar biasa”, ucap pria itu sambil terus menatap gadis itu yang semakin melemah.


Seseorang itu segera melakukan perintah bosnya. Ketika alat itu akan dinyalakan, seorang wanita datang dari arah luar rumah dengan tergesa – gesa.


“Hentikan, Bos”, teriak wanita itu yang segera menghentikan tindakan Victor.


“Yani”, gumamnya dengan menatap wanita yang sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya.


“Jangan bunuh gadis ini, Bos. Gadis ini bisa kita jadikan umpan untuk memancing kehadiran seseorang. Saya sangat yakin, jika sekarang ada yang tengah mencari gadis ini”.

__ADS_1


Ucapan Bu Yani barusan membuat degup jantung Yira berdetak sangat cepat.


Deg


Tidak, itu tidak boleh terjadi. Jika mereka menjadikanku umpan mereka, tentu cepat atau lambat mereka akan mengetahui identitas Aisa yang sebenarnya.


Mereka akan menangkap Aisa, lalu membunuh gadis itu. Tidak, mereka tidak boleh mengetahui siapa Aisa sebenarnya.


Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana caranya aku melindungi Aisa, jika diriku saja tidak mampu aku lindungi.


Ku mohon, Ya Rabb. Izinkan seseorang untuk datang menolongku.


Raut kekhawatiran Yira terlihat begitu jelas oleh Bu Yani hingga ia tersenyum smirk ke arah gadis itu.


“Lihatlah ekspresi wajahnya, Bos. Dia terlihat sangat khawatir dan takut. Pastinya, dia sudah menebak apa yang akan terjadi nantinya”, ujar Bu Yani tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Yira.


“Kamu benar. Dia bisa menjadi umpan berharga kita. Victor, suruh orang untuk menangani gadis itu nanti”, ujar pria itu, lalu berlalu pergi. Diikuti oleh Victor dan Yani.


Sebelum pria itu berhasil mencapai pintu, langkah kakinya terhenti ketika Yira berteriak kepadanya.


“Anda sangat kejam, Pak Badir. Saya yakin, dia akan berhasil mengungkapkan tabir misteri ini. Dan saya, tidak akan mati sebelum Anda mati, Pak. Anda harus mendapatkan hukuman yang setimpal setelah merenggut nyawa banyak orang, termasuk kedua orang tua saya.”


Pria yang dipanggil Pak Badir itu hanya tersenyum sambil menatap gadis itu dengan tatapan meremehkan.


“Justru, kamulah yang akan segera menyusul kematian gadis itu, setelah saya berhasil melenyapkannya dari muka bumi ini”, setelah berucap demikian, ia pun segera meninggalkan ruangan itu.


Kini, tinggallah Yira seorang diri. Menangis sembari menahan sesak dan rasa dingin semakin membuatnya tidak berdaya.


“Aisa, aku percaya padamu”, ucapnya dengan netra yang mulai terpejam.

__ADS_1


Setelah itu, Yira pun tidak sadarkan diri. Ia pingsan dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Jika saja aku berada di sana, pasti aku sudah meraung sejadi – jadinya. Menyalahkan diriku yang telah menyebabkan orang terdekatku harus mengalami hal tragis ini.


...***...


__ADS_2