
Tebaran bintang di langit malam memberi kesan betapa cantiknya langit itu. Berpadukan dengan cahaya rembulan yang semakin membuatnya tampak indah. Hawa dingin tersapu oleh semilir angin malam yang menyapa wajahku, tatkala aku masih berdiri di taman yang ada di vila tempat kami menginap.
Bunyi jangkrik di malam itu semakin memperjelas bahwa suasana di sana sangatlah sepi. Banyak pasang mata yang sudah memejamkan mata tatkala lelah menerpa. Kejadian di sekolah, cukup menguras energi dan pikiran. Ditambah jarak sekolah dengan vila ini yang cukup jauh semakin membuat tubuh lelah.
Ketika sore menjelang, aku dan yang lainnya tiba di vila milik keluarga laki – laki berpakaian ninja itu. Tidak ada percakapan di antara kami yang segera menuju kamar yang sudah disiapkan. Aku tatap bintang – bintang itu dengan rindu yang kembali mendera.
Aku rindu menghabiskan malam dengan ibu dan abang.
Tanpa aku sadari, ada dua pasang mata yang tengah menatapku. Saat yang bersamaan, dua jaket cukup tebal terpasang di pundakku yang membuatku segera menoleh ke belakang. Dahiku mengeryit ketika melihat keberadaan dua laki – laki itu.
“Kalian ngapain di sini?”, aku bertanya sambil memperhatikan kedua jaket yang sudah ada dipundakku.
“Kembalilah ke kamar. Udara malam kurang bagus”, ucap laki – laki yang masih saja setia mengenakan topengnya.
Netraku beralih menatap laki – laki yang masih menyembunyikan sebagian wajahnya disebalik kain, meskipun pakaian ala ninja miliknya sudah terlepas. “Kenapa dengan wajah kalian? Apa nggak bisa, jika kalian lepas saja penghalang wajah kalian itu?”, tanyaku dengan menatap mereka silih berganti.
Hanya hembusan angin yang masuk ke gendang telingaku. Mereka memilih bungkam yang membuatku menghela nafas pasrah. “Baiklah, aku ke dalam”, ujarku tanpa menoleh ke arah mereka.
Sepanjang perjalanan menuju kamar, pikiranku hanya tertuju pada laki – laki bertopeng itu. Jaket yang terlampir dipundakku membuat seulas senyum terlukis dibibirku. Biasanya, abang atau Doni yang akan meletakkan jaket dipundakku. Tapi, kenapa dia yang nggak aku kenal malah membuatku senang.
Aku pun segera masuk ke kamar dan merebahkan tubuhku. Ku pandang kedua jaket yang baru saja aku gantung di dinding kamar dengan senyum yang masih menghiasi bibirku. Dia, kenapa lagi - lagi membuatku ingat dengan Rauf? Padahal, aku sudah lama tidak melihat Rauf.
Mataku sulit untuk sekedar memejam. Rasa kantuk sama sekali enggan menyinggahi mataku. Hembusan angin yang masuk ke kamarku membuat sesuatu yang tidak tersimpan sempurna di saku salah satu jaket itu tampak terjatuh. Aku pun segera bangkit dan mengambil sebuah kertas yang terjatuh di sana.
“Sebuah foto”, gumamku, ketika melihat foto seorang anak laki – laki dengan perempuan yang ku yakini adalah ibunya.
Deg
__ADS_1
Dia? Bukankah anak laki – laki yang menolongku hari itu?
Pikiranku kembali ke masa di mana aku masih duduk dibangku sekolah dasar. Kala itu, ada seorang pria paruh baya yang bila ku tebak hampir seusia dengan kakekku, jika beliau masih hidup. Wajah pria itu tidak begitu jelas aku ingat, tapi aku masih ingat bagaimana perawakannya bila nanti kembali bertemu dengannya.
Ketika pria itu datang, satu sekolah menjadi kacau. Kepanikan pun melanda seisi sekolah. Guru, teman – temanku, dan juga pedagang yang berjualan berhamburan melarikan diri dari sekolah untuk menyelamatkan diri. Aku yang ketiduran saat kelas berlangsung tidak menyadari ada kekacauan di sekolah.
“Sepupu, bangun”, teriak Doni yang hampir membuat gendang telingaku pecah.
Dengan perasaan dongkol, ku buka kedua mataku. Ku lihat Doni dengan wajah paniknya membuatku mengedarkan pandangan ke semua sudut. Aku menganga dengan mulut sedikit terbuka. “Apa yang terjadi?”, gumamku ketika mendapati keadaan kelas yang begitu kacau.
“Ayo, Sa”, ucap Doni, tapi aku hanya diam. “Maisara Berlian, buruan nanti dia datang”, Doni kembali berteriak dengan menarik paksa tanganku.
Dia siapa?
Doni terus menarikku dan membawaku melewati jalan yang dirasa aman. Ketika sudah mencapai pagar belakang sekolah, aku dan Doni dikejutkan dengan kehadiran pria paruh baya itu. Jarak yang cukup dekat membuatku bisa melihat dengan jelas bagaimana mata pria itu.
Sudut bibir pria itu tertarik dengan sorot mata yang membuatku bergidik ngeri. Dia maju dengan tatapan tidak beralih dariku. Aku semakin mundur dan menyembunyikan tubuhku di belakang sepupuku. “Serahkan gadis itu”, ujar pria itu dingin yang membuatku semakin ketakutan.
“Doni, apa dia yang kamu maksud tadi?”, bisikku ditelinga Doni.
Doni mengganggukkan kepala, karena dirinya memang mendengar kasak – kusuk orang menyebut pria paruh baya itu. “Sa, jika keadaan tidak memungkinkan, maka segeralah berlari sekencang - kencangnya. Dan jangan khawatir, karena aku akan melindungimu”, ucapan Doni membuat air mataku jatuh.
Terdengar kembali suara dari pria paruh baya itu.“Dan juga berikan kalung itu, jika kamu ingin sepupumu ini selamat”, ucap pria itu padaku.
Keadaan yang semakin tidak menentu, membuat Doni segera mendorongku hingga aku berhasil meloloskan diri. “Lari!”, teriak Doni yang mulai dipukuli oleh anak buah pria itu.
Dengan tubuh gemetar, aku berlari sekencang – kencangnya dengan wajah, tangan, dan kaki yang terluka oleh kawat kecil yang melilit di pagar tersebut. Air mata pun semakin deras mengalir dengan ketakutan yang semakin besar.
__ADS_1
Ya Allah, apa yang terjadi? Mengapa semua terjadi dengan tiba – tiba? Lindungi Doni, Ya Allah. Hanya kepada-Mu aku memohon perlindungan. Aku terus berdoa dengan kaki yang mulai lelah berlari.
Tiba di jalan yang sangat sepi, aku terduduk dengan rasa lelah dan haus yang datang bersamaan. Jilbab dan pakaianku sudah mulai terkena noda darah. Peluh bercucuran dengan nafas yang terengah – engah.
Ketika netraku melihat ke belakang, pria itu sudah berada cukup jauh dariku. Aku terjebak, karena ternyata pria itu sudah mengepung semua tempat. Jadi, ke manapun aku berlari, aku akan tertangkap. Begitu jelas aku melihat, ia mengarahkan sebuah pistol ke arahku.
Seketika, mataku terpejam dengan air mata yang jatuh dipelupuk mataku. Aku berserah diri pada pemilik tubuh ini, jika aku mati saat itu juga.
Ya Allah, jika jiwa ini memilih untuk pergi dari raga ini sekarang, ku mohon jagalah orang – orang yang ku sayangi. Jika kematianku adalah kedamaian bagi banyak orang, aku menerimanya, Ya Allah. Aku serahku jiwa dan raga ini pada-Mu, wahai sang pemilik kehidupan. Ku mohon, jagalah ibuku, ketika nafasku benar - benar berhenti. Aku sungguh tidak sanggup lagi untuk berlari. Aku ikhlaskan diri ini, Ya Allah.
Terdengar suara tembakan dan peluru yang menembus kulit, tapi tidak ada rasa sakit yang aku rasakan. Melainkan, ada tubuh seseorang yang menimpa tubuhku. Ku buka mataku dengan keterkejutan luar biasa. Seorang anak laki – laki yang seusia denganku tengah tersenyum dengan darah yang membanjiri tubuhnya.
Tidak lama, bala bantuan pun datang dengan netra anak laki – laki itu yang mulai terpejam. Segera dia dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. Cukup lama di ruangan operasi, akhirnya dokter keluar dengan berita baik.
Beruntung, peluru itu tidak merenggut nyawanya. Setelah keadaannya membaik, aku pun mulai berbicara dengannya. “Gimana keadaan kamu? Apa masih sakit?” , aku bertanya dengan perasaan bersalah.
Lagi – lagi, dia tersenyum. “Aku sangat baik, Lian kecil”, ucapannya membuatku terdiam. “Seisi sekolah mengenalmu sebagai gadis yang lihai dalam beladiri. Dan selalu memenangkan berbagai pertandingan”, lanjutnya lagi yang membuatku tersenyum malu.
“Tapi ternyata, kamu masih belum bisa menghadapi situasi yang sesungguhnya”, ucapnya yang membuatku tertunduk.
“Aku takut, jika berhadapan dengan suara tembakan dan sejenisnya”, ucapku. “Makasih”, lanjutku lagi.
Ingatan tentang kejadian itu membuatku menyadari satu hal. Anak laki – laki yang menolongku saat itu, sebenarnya selalu berada di dekatku. Wajahnya yang samar, kini sangat jelas ku ingat. Aku pun kembali teringat dengan Rauf yang pernah memanggilku dengan sebutan “Lian kecil”. Kepingan puzzle itu, perlahan menyatu dibenakku.
“Apa mungkin, mereka adalah orang yang sama?”, gumamku, ketika bayangan wajah anak laki – laki itu menari – nari dibenakku, lalu beralih ke wajah Rauf, dan terakhir wajah disebalik topeng itu.
...***...
__ADS_1