
Di ruangan yang bernuansa putih, terbaring lemah seseorang yang hingga saat ini masih belum membuka matanya. Hari demi hari, tubuh itu kian melemah seolah harapannya untuk bertahan hanya menyisakan angan semu.
Seorang gadis yang mengenakan almamater SMA Cakrawala, wajahnya tertunduk dengan netra yang sudah berkaca – kaca. Hatinya sakit tatkala melihat seseorang yang selalu menjadi tempatnya berlindung, seseorang yang sudah seperti ayah kandungnya sendiri harus mengalami hal yang begitu pilu.
Tangan mungilnya mulai meraba wajah yang mulai keriput itu dan membelainya pelan. “Paman, kapan paman akan membuka mata ini? Aku nggak punya siapa – siapa lagi, selain paman dan Ray. Dan kini, aku dengan Ray semakin menjauh. Aku sendirian, Paman”, lirih gadis itu dengan air mata yang mulai jatuh dari pelupuk matanya.
Di usapnya tangan pria paruh baya itu dengan lembut berharap tangan itu merespon dan menggenggamnya. “Tangan ini yang dulunya selalu membantuku ketika jatuh. Bibi yang selalu menyuapkanku makan, dia tak lagi di sini. Lalu, apa Paman juga akan pergi meninggalkan aku?”, dia kembali bergumam dengan pikiran yang mulai buruk.
Tidak lama, asisten dari pria itu masuk ke ruangan di mana Pak Badir dan Naya berada. “Bagaimana dengan kabar Dino?”, tanya Naya ketika melihat asisten pamannya masuk.
“Maaf Nona, asisten Anda, Dino masih belum diketahui keberadaannya”, jawab Victor.
Naya terdiam. Dia sendiri heran, sejak kejadian penyerangan itu, banyak hal yang terjadi. Dari kemarahan Ray, pamannya yang diserang, hilangnya Dino, dan kedekatannya denganku. Dino, sebenarnya kemana kamu? Apa yang kamu sembunyikan dariku? Sejak hari itu, tidak lagi aku dengar kabarmu? Siapa kamu sebenarnya, Dino?
Naya tidak bisa menjawab pertanyaan yang singgah dibenaknya. Laki – laki yang pernah menolongnya, ketika Regal lagi – lagi mengancamnya membuatnya meminta Dino menjadi asistennya. Dia pun sudah menyelidiki tentang Dino, tapi dia masih belum mengetahui sisi lain dari seorang Dino.
“Nona Naya, sebaknya kita pergi sekarang. Saat ini, Regal sudah berada di titik kekacauan. Mereka yang bertugas membuat kekacauan pun sudah ditangkap. Dan kini, Regal tengah memancing gadis bernama Sara itu dengan menyakiti temannya”, jelas Victor yang membuyarkan lamunannya.
Tangannya terkepal kuat dengan rahang mengeras. Dia menatap ke arah Victor yang segera menundukkan pandangannya, karena tidak berani menatap keponakan dari bosnya. “Kita pergi sekarang”, sahut Naya yang berniat untuk pergi dari sana.
Sebelum pergi, ia kembali membelai wajah pria paruh baya itu dan mengecup keningnya. “Paman, semoga Paman segera bangun. Di sini, kehadiran Paman sangat diharapkan”, setelah mengatakan hal itu, Naya segera pergi dari ruangan Pak Badir dan Victor mengikutinya dari belakang.
...***...
__ADS_1
Di beberapa titik sekolah, Raka dan Ghaly terus membuat kekacauan hingga menimbulkan kepanikan yang luar biasa. Sudut bibir mereka tertarik, ketika netra mereka menangkap pria paruh baya yang sudah mereka nantikan.
“Ghaly, bagus juga idemu dengan mendatangkan lebah – lebah itu”, puji Raka dengan tersenyum puas disebalik kain yang menutupi sebagian wajahnya.
Netra Ghaly fokus ke pria yang bernama Regal itu dengan sebuah busur dan anak panah yang sudah siap untuk meluncur mengenai sasarannya. “Idemu juga bagus, Ka. Dengan membakar beberapa gudang mampu mengalihkan perhatian banyak orang”, ucap Ghaly.
“Tapi, kenapa pria itu baru muncul? Bukannya dia sudah dari tadi meninggalkan ruangan yang ada di lorong misterius itu?”, ucapan Raka membuat kening Ghaly mengeryit.
Benar juga. Kekacauan sudah dari tadi, tapi kenapa baru sekarang dia muncul? Netra Ghaly semakin tajam menatap ke arah pria bernama Regal itu. “Apa mungkin ini jebakan?”, ujar Ghaly yang berusaha berpikir keras.
Keduanya pun sudah siap dengan busur mereka masing – masing. Tepat ketika anak panah itu hendak melesat, seorang gadis datang dengan ekspresi datar miliknya. “Sara”, gumam Ghaly dan Raka bersamaan dengan mata yang membulat sempurna.
Masih belum terlepas dari rasa keterkejutan, Ghaly dan Raka pun pingsan, karena ada yang memukul mereka dari belakang. Segera mereka dibawa ke ruangan bawah tanah, tempat di mana sepupuku, Doni ditahan.
Tidak lama, dua orang laki – laki yang mengikutiku sudah berada cukup dekat di belakangku. Aku sendiri heran dengan kedatangan dua orang itu. Tatapanku tidak lepas dari menatap pria bernama Regal, lalu sesekali melihat ke arah dua laki - laki itu. Laki – laki bertopeng itu lagi? Dan siapa laki – laki berpakaian ala ninja itu?
Sudut bibirnya tertarik dengan menatap aneh ke arahku. Dia mulai melangkah maju ke arahku dengan aku yang masih tetap berdiri tanpa berniat bergerak. Tanpa aku duga, dua laki – laki yang tadinya berada di belakangku, kini sudah berdiri tepat di hadapanku selayaknya perisai bagiku.
Terdengar gelak tawa dari pria itu, ketika melihat aku yang tengah dilindungi. “Hahaha, ternyata kamu punya perisai ya, gadis kecil. Pantasan gadis bodoh itu bilang bahwa kamu bukanlah lawan yang mudah”, ucapnya disela gelak tawanya.
“Jangan berani menyentuhnya”, terdengar suara berat seseorang yang cukup familiar olehku.
Deg
__ADS_1
Suara itu? Kenapa suara mereka mirip?
Keningku berkerut berusaha mengingat kembali suara Rauf dengan laki – laki bertopeng itu. Apa mungkin dugaanku benar?
“Ternyata, ada dua orang yang menjadi perisaimu?”, tanya pria bernama Regal dengan senyum sinisnya. “Kamu mendatangiku, karena temanmu, Yira atau sepupumu, Doni?”, lanjut pria itu lagi yang membuat tanganku terkepal kuat.
“Hadapi kami”, ujar laki – laki yang berpakaian ala ninja itu yang berusaha melindungiku.
Seringai jahat kembali terbit dibibir pria itu. “Jika kamu menginginkan nyawa teman dan sepupumu, maka serahkan dirimu secara sukarela, gadis manis”, ucap pria itu sembari memberi isyarat kepada asistennya untuk membawa Yira dan Doni ke tempat itu.
Terlihat seorang gadis dengan pelipis yang sudah mengeluarkan darah. Beberapa bagain tubuhnya mengalami luka memar. Dia di dorong dengan cukup kasar hingga gadis itu terduduk tepat di hadapanku yang terhalang oleh dua laki – laki itu.
“Yira”, gumamku. Yira menatapku dengan seulas senyum seolah memberitahukanku untuk jangan khawatir. Lalu, jari telunjuk tangan kanannya tampak bergerak ke kanan dan ke kiri yang mengatakan bahwa ini adalah jebakan. Sebelumnya, kami berdua sudah membuat isyarat tubuh sehingga aku paham maksud Yira.
“Maaf, Bos. Laki – laki bernama Doni, dia tidak ada”, ucap sang asisten yang membuat rahang pria itu mengeras.
Samar – samar aku mendengar bisikan itu. Itu artinya ada yang menyelamatkan Doni. Sekarang, aku hanya perlu menyelamatkan Yira. Netraku tidak terlepas dari menatap Yira seolah memberitahunya bahwa aku punya rencana untuk menolongnya.
“Kalian berdua, tidak perlu melawan mereka. Ketika hitungan ketiga, kita akan melarikan diri dari sini”, ucapku yang membuat keduanya heran.
Tidak lama, seseorang yang ku tunggu pun akhirnya tiba. Seorang gadis berpakaian serba hitam, topi yang menutupi sebagian matanya, dan kain yang menutupi setengah wajahnya. Dia melangkah seorang diri dengan sesuatu berada dalam genggamannya. Tanpa berucap apapun, gadis itu segera menaburkan bubuk yang tadinya ia bawa setelah membuka bungkusnya.
Seketika, pria bernama Regal dan semua orang suruhannya mulai terbatuk – batuk dengan pandangan kabur. Dengan isyarat mata, aku segera membantu gadis itu untuk membawa Yira dan segera melarikan diri. Diikuti oleh kedua laki – laki itu.
__ADS_1
Sedangkan pria itu hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dan setelah itu pingsan. Adapun Victor, dia bergerak ke tempat di mana Ghaly dan Raka ditahan. Dan segera membawa mereka keluar dengan dibantu oleh beberapa anak buahnya.
...***...