
Terangnya cahaya di ruangan bernuansa putih, terlihat seorang laki – laki yang tengah menatap ke arah pria paruh baya yang masih belum sadarkan diri. Tubuhnya hari demi hari semakin melemah akibat racun yang menyerang organ internal tubuhnya.
Racun yang bersarang ditubuhnya masih belum diketahui. Dokter yang ahli dibidangnya pun telah didatangkan, namun masih belum bisa menemukan penawar dari racun tersebut. Dua anak panah yang berhasil menembus tubuh pria tersebut bukanlah masalah utamanya, melainkan racun yang berada pada anak panah itulah yang menjadi permasalahannya.
Seorang pria yang begitu ia sayangi, tengah berbaring lemah dengan berbagai alat untuk menopang kehidupannya. Sudah seminggu lamanya, namun pria itu masih enggan membuka matanya.
Ray meraba wajah pria paruh baya itu dengan menyeka air mata yang mulai singgah dipipinya. Rasa sakit ditinggalkan sang ibu kembali ia rasakan tatkala mengingat keadaan sang ayah yang mulai sekarat.
Dia tatap mata yang terpejam itu hingga bulir air mata ikut menyapa pipi pria yang tengah berbaring tersebut. Dikecupnya kening pria itu dengan perih dihati yang semakin membuatnya lemah.
“Papa”, ucapnya dengan suara serak menahan tangis.
Dibelainya wajah sang ayah yang begitu ia rindukan dekapannya. Sejak kematian sang ibu, dekapan hangat sang ayah tidak lagi ia rasakan. Ayahnya berubah dari sosok yang begitu lembut menjadi sosok yang sangat kejam.
“Pa, aku merindukanmu”, bergetar bibirnya mengatakan itu sambil menggenggam tangan sang ayah dengan hati penuh luka.
Melihat adegan pilu yang menyayat hati membuat Raka yang berdiri di sebelah Ray berinisiatif untuk menenangkan sang sahabat dengan menepuk pelan pundaknya. Ikut merasakan bagaimana rasa sakit yang Ray rasakan.
“Mengapa harus jalan ini yang kamu pilih, Pa? Kenapa, Pa? Kenapa?”, lirih Ray menatap sendu wajah sang papa.
Segera Ray menghapus air mata yang membasahi pipinya dan mulai menegakkan kepalanya, lalu beralih menatap Raka yang juga tengah menatapnya dengan raut penasaran.
“Orang itu, dia harus menanggung semua penderitaan Papa. Dialah yang harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Terlahirnya sebuah dendam berawal dari dia. Aku akan buat perhitungan dengannya”, ujar Ray yang telah dikuasai oleh amarah dengan tangan terkepal kuat.
Raka menatapnya dengan tatapan nanar. Dia tidak menyangka bahwa Ray yang jarang memperlihatkan kemarahannya, kini semakin sering memperlihatkan raut mengerikan tersebut. Raka mengalihkan tatapanya ke arah jendela sambil tersenyum kecut.
“Ray yang ku kenal adalah sosok yang penuh dengan pertimbangan atas segala tindakan yang akan dilakukannya”, ujarnya sembari kembali menatap Ray yang masih menunjukkan raut kemarahan.
“Bisakah kamu mengurungkan niatmu yang tidak masuk akal itu sekarang? Pernahkah kamu berpikir bahwa siapa lawan kamu, Ray? Datang menemuinya itu sama saja dengan kematian. Kamu tahu, betapa takutnya aku melihatmu harus kembali dalam keadaan berdarah – darah, tidakkah kamu peduli dengan dirimu sendiri? Kita butuh rencana untuk itu, Ray”, lanjut Raka dengan sedikit meninggikan suaranya.
__ADS_1
Setitik air mata ikut menetes dipipinya. Bayangan kejadian ketika Ray berumur sepuluh tahun mulai kembali berputar dibenaknya. Ray kecil yang hanya ingin membawa sang ayah, namun harus berakhir dengan pulang dalam keadaan yang begitu memilukan.
Kala itu, langit sudah mulai menggelap. Tebaran warna jingga dilangit sore semakin memudar seriring dengan kegelapan yang mulai mengambil alih keadaan. Rintik air hujan pun mulai berjatuhan membasahi wajah Ray kecil yang masih banjir air mata.
Berada disisi kanan makam sang ibu sembari menatap sendu bunga yang baru saja ia bawa. Hari itu adalah hari peringatan kematian ibunya yang meninggal ketika dirinya berusia lima tahun. Hal yang membuatnya sakit adalah ketika ia meminta sang ayah agar pergi bersamanya, namun ayahnya lebih memilih ambisinya.
“Ma, apa kabar? Mama bisa dengar Ray bicarakan?”, gumam Ray lirih sembari berusaha untuk tersenyum.
Raka yang berada di sebelah Ray berusaha untuk menahan air mata yang hendak ikut menyapa pipinya. Ia memeluk sang ibu yang berada didekatnya dan berusaha menenangkannya. Hatinya sakit melihat Ray yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri harus mengalami hal pahit itu sejak ia kecil.
“Bunda, kenapa Allah nggak adil dengan Ray? Dia sudah kehilangan mamanya, sekarang dia harus kehilangan kasih sayang dari papanya. Kenapa Allah nggak adil, Ma?”, bisik Raka disela pelukan itu.
Perlahan, bundanya melepas pelukannya dan membelai wajah sang putra yang sudah berderai air mata. Dia usap wajah itu dengan penuh kasih sayang, lalu mulai berkata dengan penuh kelembutan berharap agar sang putra memahami perkataannya.
“Menurut Raka, kira – kira ranting itu adil nggak sama daun yang sudah mengering dan akhirnya jatuh ke tanah?”, ujar sang ibu sembari meminta sang anak untuk melihat ke arah yang ia tunjuk.
Raka terdiam dan berusaha memahami maksud sang ibu. Lalu, tatapannya beralih menatap sang ibu yang masih menatap ke arah dedaunan tersebut. Perlahan, ia mendaratkan bibirnya dikening sang ibu dan setelah itu ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan ibunya.
“Takdir, Bunda”, ujarnya yang mulai membelai kepala sang ibu yang tertutup oleh jilbab, lalu beralih kewajah sang ibu dan beralih mengecup pipi ibunya. “Sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah Allah rencanakan jauh sebelum manusia itu diciptakan. Raka masih ingat dengan segala yang Bunda ajarkan ke Raka. Maaf, Bunda”, lanjut Raka, lalu beralih melihat ke arah Ray yang masih terisak dalam diam.
“Ray, pulang yuk. Kamu lihat nggak, berada di pemakaman dengan kondisi gelap itu seram loh”, ujar Raka sedikit bergurau sambil meminta Ray memperhatikan keadaan sekitar pemakaman.
“Bunda, tolong bawa aku ketemu sama papa. Ray rindu dengan papa, Bunda. Ray mohon”, Bunda Laiba yang melihat sebuah pengharapan dikedua bola mata Ray tidak kuasa untuk menolaknya.
Ia pun menyetujui permintaan Ray. Mereka bertiga bergegas masuk dengan Bunda Laiba yang mengemudikan mobil. Jalanan mulai lengang, karena waktu sudah menunjukkan waktu solat magrib. Sesekali, Ray mengulurkan tangannya sembari menangkap rintik air hujan yang masih setia menemani langkahnya.
Tidak lama, mobil yang membawa Ray tiba disebuah halaman rumah yang sangat ia kenali. Dengan tergesa- gesa, Ray keluar dari mobil dan mengabaikan panggilan dari Raka.
“Ray”, teriakan Raka yang hanya dijawab oleh hembusan angin.
__ADS_1
Ray kecil berlari dan mencoba menerobos masuk. Sesaat, ia mematung diambang pintu dengan raut penuh kerinduan yang menghiasi wajahnya. Segera ia berlari menuju sang ayah dan mengabaikan tatapan banyak pasang mata yang menatapnya.
“Papa”, lirih Ray yang berhasil memeluk sang ayah yang tengah duduk disofa.
Tangan Pak Badir pun terulur mengelus punggung sang putra. Jauh di lubuk hatinya, ia begitu merindukan putra satu – satunya itu. Tidak terasa, air mata pun ikut jatuh membasahi pipinya. Hatinya terasa perih mengingat bagaimana ia memperlakukan sang putra.
“Pa, kita pulang sekarang ya. Makan malam dan tidur bareng. Apa Papa nggak kangen sama Ray?”, pertanyaan Ray berhasil menggoyahkan keyakinan Pak Badir hingga deheman seseorang membuatnya segera melepaskan pelukan sang putra.
“Ray, kamu pulang sekarang. Urusan Papa masih banyak dan bukan hanya tentang kamu”, ucapan sang Papa membuat tubuh Ray membeku, namun membuat seseorang tersenyum miring.
Ray melihat jelas wajah seseorang yang tengah tersenyum aneh itu sembari berkata di dalam hatinya. Kamu adalah orang yang telah membuat Papa menjadi sosok yang kejam. Aku tidak akan pernah melupakan itu.
Ketika Ray mengalah dan mulai berjalan menjauhi sang papa, baik Pak Badir maupun Ray tidak menyadari bahwa seseorang itu mengambil sebuah vas bunga berukuran kecil dan melempar ke arah Ray yang sudah berada di ambang pintu.
“Ray”, teriak Raka yang menyaksikan sahabatnya terluka dari dalam mobil yang segera ditahan sang ibu.
Tangan Ray meraba bagian belakang kepalanya yang mulai mengeluarkan darah. Pak Badir berniat untuk melihat keadaan Ray yang segera dihadang oleh seseorang itu. Dia berjalan menuju ke arah Ray yang mulai limbung. Berjongkok di hadapan Ray sembari membisikkan sesuatu.
“Sebaiknya, kamu tidak berada di sini. Tatapan yang kamu berikan, kamu pikir saya tidak tahu, hah?”, ujarnya dengan tersenyum smirk.
Dengan sekuat tenaga, Ray bangkit berdiri. Dengan penuh keyakinan, dia membalas ucapan seseorang tersebut.
“Akan ada masa di mana Anda akan merasakan apa yang dirasakan oleh banyak orang. Saya, Arrayan Badir Hanif Abbad, putra semata wayang Badir Hanif Abbad, cucu dari Hanif Abbad akan melawan Anda. Membawa Anda terhadap hukum yang berlaku”, ucap Ray setengah berteriak sembari menahan rasa sakit, lalu berlalu dari hadapan pria tidak manusiawi tersebut.
Dengan tertatih, Ray berjalan menuju mobil Bunda Raka dan segera masuk ke dalam mobil dengan dibantu oleh Raka. Mobil pun segera meninggalkan halaman rumah tersebut dengan Raka yang memeluk Ray erat.
“Bertahanlah, Ray”, ucap Raka ketika Ray mulai kehilangan kesadarannya.
...***...
__ADS_1