
Aku hanya diam dengan terus meminum coklat dingin tersebut. Apa salah jika aku memang menyukainya? Tapi, aku tidak akan egois membiarkan dia terluka, jika tetap berada di dekatku. Aku memilih melepaskannya agar dia baik – baik aja.
“Terkadang, apa yang menurut kita baik, sejatinya belum tentu, Sa. Ketika aku berpikir bahwa hari itu adalah saat yang tepat untuk membalas orang yang telah menghancurkan hidup banyak orang, tapi sayangnya keputusan itu malah membuatku kehilangan seseorang”, terdengar suara Yira yang sedikit bergetar ketika mengatakan hal itu.
Aku menoleh ke arahnya dengan berbagai pertanyaan mulai mengganggu pikiranku. Kedua tanganku terangkat untuk memegang kedua bahunya seraya menatap matanya yang menyiratkan banyak luka di sana.
“Ra, kehilangan adalah hal yang paling aku benci. Tapi, kehilangan juga mengajarkan kita untuk lebih peduli dan tidak hanya mementingkan ego yang bisa menghancurkan kita perlahan. Tepat pada hari penyerangan itu, aku juga kehilangan seseorang. Seharusnya, aku mendengarkannya bukan mengabaikan perkataannya”, ujarku sembari berusaha menarik sudut bibir yang terasa berat.
“Dia, hingga sekarang tidak kunjung aku dengar kabarnya, Ra. Situasi sekolah ini, layaknya nggak ada masalah yang terjadi sebelumnya. Padahal, hari itu adalah kekacauan yang cukup besar. Tapi, mereka semua hilang dan aku sama sekali nggak bisa mendeteksi keberadaanya”, lanjutku lirih dengan kedua tanganku yang mulai jatuh ke pangkuanku.
Riuknya air laut yang menemani soreku dengan Yira terasa begitu dingin. Padahal, aku tidak menyentuh airnya. Lambaian angin di sore itu, mulai menerbangkan jilbabku dengan harapan bahwa angin juga membawaku pergi bersamanya. Gulungan ombak pun terus menerus berdatangan hingga menimbulkan dentuman yang tidak lagi menembus gendang telinga.
Hening dan sepi. Aku mulai hanyut dengan pikiranku. Sepupu, kenapa sampai sekarang, kamu belum menghubungiku? Apakah mereka membawamu pergi? Tapi, mereka siapa yang membawamu?
Pikiranku mulai melayang pada kenangan beberapa tahun yang lalu. Kala itu, aku tengah marah dengan Bang Ariq, sehingga aku memilih pergi dari rumah untuk menenangkan pikiranku. Tujuanku adalah menemui Doni. Berkeluh kesah dengannya yang selalu setia mendengarkan ceritaku.
Namun, aku mendapati dirinya tengah melamun dengan setangkai bunga yang berada dalam genggamannya. Aku urungkan niat untuk menemuinya dan memilih pergi dari sana. Namun, suaranya membuat langkahku tertahan.
“Bunga yang dijaga dengan sepenuh hati, pada akhirnya dia akan memilih mengikuti takdir yang sudah diperuntukkan untuknya. Layu terkikis bersama waktu. Dan aku merindukannya”, suara lirih itu mampu membuat netraku menitikkan air mata.
Kicauan burung di siang hari itu menemani kesedihan seseorang yang jarang aku lihat terukir diwajahnya. Dia yang selalu tersenyum, kini begitu menyayat hati. Netranya memancarkan kerinduan yang belum pernah aku lihat.
Doni, aku belum pernah melihatmu dengan raut wajah itu. Kamu begitu pandai dalam memanipulasi, sehingga aku selalu menyangka bahwa kamu adalah sosok yang kuat. Di balik kerinduanku dengan ayah, tentu kamu juga merasakannya. Merindukan dia yang tidak pernah kamu lihat. Sepupu, maafkan aku yang selalu menyusahkanmu. Maaf, tidak bisa menjadi tempatmu berbagi dikala rindu itu menerpa.
__ADS_1
Aku pun memilih pergi dari sana. Membiarkan Doni dengan kerinduannya hingga hatinya membaik. Taman bunga yang selalu ia rawat membuatku memahami satu hal bahwa dia sangat merindukan ibunya.
Bayangan kenangan itu membuatku kehilangan arah. Aku larut dengan semua memori itu hingga dekapan hangat Yira memulihkan kesadaranku.
“Sa, seseorang yang kamu maksud adalah Doni kan?”, Yira bertanya setelah melepas pelukannya.
Aku menganggukkan kepala membenarkan ucapan Yira. “Dia terluka dan dibawa pergi ntah kemana. Dia pergi bersamaan dengan kesadaranku yang mulai hilang. Lalu, aku terbangun dengan seseorang yang mengenakan topeng diwajahnya tengah menjagaku hingga pulih”, ujarku dengan menghembuskan nafas kasar dengan kembali menatap langit yang mulai menggelap.
“Seseorang yang mengenakan topeng?”, Yira bertanya dengan bayangan kejadian sebelum penyerangan dimulai, kembali terlintas dipikirannya.
Seseorang itu? Aku juga melihatnya. Pandangannya tidak pernah terlepas dari Aisa. Apa mungkin, dia adalah orang yang memutarkan video yang menimbulkan kericuhan yang membuatku mudah dalam menyerang?
“Yira, kenapa?”, tanyaku yang melihat Yira hanyut dengan lamunannya.
“Jangan bilang, orang yang menyerang Pak Badir adalah kamu?”, aku bertanya untuk memastikan apakah analisaku benar.
Yira mendengus dengan wajah cemberut menghiasi wajahnya. “Memang aku yang melakukannya. Kericuhan yang ditimbulkan atas video itu membuatku leluasa, tapi ketika aku berhasil meloloskan diri, seseorang berhasil menangkap abangku”, jelas Yira.
“Itu artinya Doni dan abangmu, mereka berada di tempat yang sama. Aku yakin, mereka berada di suatu tempat dan menjadikan mereka sebagai umpan untuk memancing kemunculan kita”, Yira terlihat menganggukkan kepalanya.
“Lorong misterius itu, aku akan masuk ke ruangan rahasia yang ada di dalam sana. Dan kamu, Ra, mencari tempat di mana Doni dan abangmu ditahan. Jangan sampai kehilangan itu menjadi nyata”, lanjutku lagi yang mulai menyusun rencana.
...***...
__ADS_1
Malam yang sepi dengan hawa dingin mulai membuat tubuh menggigil. Rintik hujan masih terdengar jatuh di luar sana dan membasahi tanah yang tadinya kering. Bunyi – bunyian yang ditimbulkan oleh beberapa burung hantu membuat suasana malam itu semakin mencekam.
Terdengar rintihan seseorang yang berharap mendapatkan kehangatan, karena tubuhnya yang begitu kedinginan. Bibirnya yang pucat dengan sorot mata lemah menatap nanar ke arah jeruji besi yang menjadi penghalang dirinya untuk pergi. Tangannya terus memeluk dirinya untuk mengurangi hawa dingin yang menusuk tulangnya.
“Sepupu, apa kamu juga kedinginan sepertiku?”, ujarnya dengan tubuh yang semakin gemetar.
Di saat seperti itu, dia masih sempat memikirkan diriku. Padahal, dirinya sendiri sangat memprihatinkan. Tidak ada selimut hangat yang dapat menggulung tubuhnya, hanya menyisakan robekan kain yang masih menempel di tubuhnya. Berbaring dengan tanah yang menjadi alas tidurnya dengan mata yang mulai terpejam.
Ketika mata itu baru terpejam, seseorang dengan kasarnya membuka pintu sel tersebut dan menyiramkan air dingin ke tubuh seseorang yang sudah diambang kematian. Netranya terbuka menatap seseorang yang sudah berdiri menatap tajam ke arahnya.
“Gadis itu bahkan tidak datang menemuimu. Meninggalkanmu dengan rasa sakit yang membuatmu akan bertemu dengan kematian. Tidak bisakah kamu melihat bahwa dia hanya mementingan dirinya sendiri?”, ujar seseorang itu yang terdengar sinis.
Seseorang yang selalu mengkhawatirkan keadaanku berusaha untuk duduk dengan menyandarkan tubuhnya di dinding. “Justru sebaliknya, aku sangat senang dengan keputusannya. Jika dia datang, itu sama saja dengan dia menyerahkan nyawanya dengan sukarela”, jawabnya dengan ekspresi yang begitu tenang.
“Saya tidak akan pernah membiarkan orang seperti Anda menyentuhnya, apalagi menyakitinya. Nyawanya adalah keselamatan banyak orang. Jadi, dia tidak boleh berakhir”, lanjutnya lagi dengan nada tegas yang membuat lawan bicaranya mengepalkan tangannya.
“Doni, seharusnya kamu tidak mengambil pilihan itu. Menjalin kerja sama dengan saya akan membuat kamu terbebas dari rasa sakit ini”, ujar seseorang itu yang berusaha bernegosiasi dengan sepupuku, Doni.
Sepupu yang begitu ku nanti kabarnya, kini dia masih berusaha menjadi tameng untukku. Melindungiku dengan rasa sakit yang begitu pilu. Jika aku melihat derita itu secara langsung, maka aku akan sangat membenci diriku yang telah membuat dia kesakitan.
“Lebih baik saya berakhir dengan rasa sakit ini. Dan Anda akan semakin sulit mendapatkannya, karena dia bukan lawan yang mudah untuk Anda. Terlebih, jika dia tahu bahwa Anda adalah dalang kematian saya, maka Anda tidak akan bisa mengelak. Tunggu dan saksikan hari itu”, Doni menjawab dengan sorot mata penuh kemarahan.
Seseorang itu tertawa dan kembali menyiramkan air dingin itu ke tubuh Doni yang semakin melemah. Tidak lama, netra yang selalu menatapku teduh ketika bercerita, kini mulai terpejam. Nafasnya mulai tidak stabil dengan denyut nadi yang kian melemah.
__ADS_1
...***...