
Aku kembali menatap langit malam, lalu mengalihkan pandanganku ke arah di mana sekolahku berada. Aku tatap lekat – lekat dari kejauhan, hatiku kembali berdesir mengingat bahwa tempat ini menyisakan sebuah misteri.
“Baiklah, aku akan selesaikan semua ini”, gumamku penuh tekad kembali tersenyum menatap sedikit bintang yang bertebaran di langit sana.
...***...
Hembusan angin pagi kembali menyapa wajahku, sesekali ia terkena pantulan sinar mentari pagi yang hangat. Ini sudah hampir seminggu, sejak Yira pergi.
Aku berjalan sambil menegakkan kepala dengan ekspresi datar menghiasi wajahku. Tak ada lagi wajah ramah yang ku tampakkan setelah insiden tadi pagi yang membuatku semakin dingin. Tak ada lagi senyum yang tersungging dibibir ini.
Beberapa waktu lalu, ketika aku melewati kamar pembina lantai dasar, aku tak sengaja mendengar pembicaraan sesama mereka, ketika pintu kamar itu sedikit terbuka. Peristiwa yang melibatkan Yira membuatku curiga dengan gerak – gerik mereka.
“Yani, sudah kamu bereskan siswa perempuan itu?”, tanya Bu Lea, yang aku ketahui sebagai pembina lantai dua.
“Tentu, anak itu harus segera disingkirkan. Dia sangat lancang telah mengusik pimpinan kita”, sahut Bu Yani dengan nada dingin.
“Benar, tapi aku yakin masih ada yang berani main – main di sini”, balas Bu Kia sambil membanting pintu kamar mandi dengan cukup keras.
Aku pun terlonjak kaget ketika mendengarnya.
Astaugfirullah, mereka benar- benar manusia berlapis topeng. Gerutuku sambil mengelus dadaku.
Terus ku dengar pembicaraan mereka dan semakin ku tajamkan pendengaranku hingga dua kata itu berhasil membuatku mematung.
“Rauf selanjutnya”,
Deg
Rauf? Apa maksud mereka? Apa tujuan mereka? Dan siapa pemimpin mereka?
“Mungkin hanya Yira dari asrama putri yang harus disingkirkan dan dari asrama putra, Rauf, dialah target selanjutnya”, balas Bu Mina.
“Lalu, gadis itu amankan?”, tanya Bu Jasmin sambil memakai skincare di wajahnya.
“Sangat aman, dia tidak akan berkutik lagi dan perlahan akan menghilang dari muka bumi ini”, jawab Bu Yani sambil meneguk air mineral miliknya.
“Bagus, singkirkan siapa saja yang datang untuk mengusik”, ucap Bu Rona.
Mengingat kejadian tadi pagi semakin membuatku tidak tenang. Tanganku terkepal untuk menetralisir rasa marah yang tengah datang menderaku. Tatapanku semakin tajam dan aura dingin pun menguar dari tubuhku.
Banyak pasang mata yang menatapku heran, takut, ngeri, sinis, dan masih banyak lagi akibat perubahanku yang drastis. Aku tak peduli. Bagiku, menyingkirkan lalat yang mengganggu adalah prioritas.
“Itu Aisa kenapa? Kok beda banget”, ujar salah satu siswa ketika aku melewatinya.
__ADS_1
“Iya, dia kenapa ya? Padahal sebelumnya, dia yang paling ramah dan murah senyum diangkatan kita”, balas siswa lainnya sambil menggeleng tak percaya menatap punggungku.
“Bahkan aku mengaguminya”,
“Apakah terjadi sesuatu padanya hingga dia berubah?”,
Masih banyak kasak – kusuk yang membicarakan perubahanku. Namun, aku sama sekali tidak peduli. Rasanya, aku tidak bisa untuk tersenyum seperti biasa setelah mendengar perbincangan para pembina itu.
...***...
Di sebuah taman yang cukup jauh dari hiruk pikuk suasana sekolah, aku memilih berada di sana. Sendiri sambil menatap langit siang yang begitu cerah. Hari ini, para guru kembali mengadakan rapat untuk membahas kasus yang menerpa Yira.
Pikiranku semakin tak terarah. Masalah demi masalah mulai bermunculan. Yira, teman sekaligus sahabatku ketika berada di sini, sekarang dia tak lagi di sini. Memang sangat jarang kami menghabiskan waktu berdua karena sibuk dengan tugas, tapi kami sangat dekat.
Ya Allah, sebenarnya apa yang terjadi pada Yira? Aku sangat yakin ada yang tidak beres di sini. Tapi apa, Ya Rabb?
Mungkinkah, misteri yang ingin ku pecahkan ini, ada kaitannya dengan kasus yang menimpa Yira?
Siapa sebenarnya pemimpin mereka? Apakah Pak Badir orangnya? Dia, bukankah pemilik sekolah ini dan tentu saja siapa lagi yang menggerakkan semuanya kalau bukan dia.
Lalu tiba - tiba, seekor kucing datang mendekat ke arahku. Tanganku terulur untuk mengambilnya dan mengelusnya hingga membuatnya merasa nyaman. Aku tersenyum sambil mengangkat kucing itu, lalu mendekapnya erat.
Buliran bening itu kembali menyapaku. Senyum dan gelak tawa Yira membuatku kembali bersedih. Aku begitu merindukannya
Kamu tahu, dia sudah pergi. Dan aku, tidak tahu dia di mana. Bagaimana keadaannya.
Apakah dia tidak mengalami kesulitan. Aku sama sekali nggak tahu.
Teman macam apa aku ini.
“Tentu, kamu teman yang baik”, ujar seseorang yang sudah duduk di bangku taman sebelah kananku.
Aku menoleh ke arahnya dengan kening yang bertaut. Wajahnya terasa familiar olehku. Dia tersenyum sambil memberikanku satu cup coklat dingin.
“Pasti sedang berusaha mengingat – ingatkan”, ujarnya yang seolah mengetahui pikiranku.
Aku hanya diam tanpa berminat meraih coklat dingin yang ia berikan. Aku alihkan tatapanku ke arah langit dengan ekspresi yang kembali datar. Air mata itu pun sudah mengering.
“Ray”, lanjutnya kembali dengan memperkenalkan dirinya.
Dia juga menatap ke arah tujuanku menatap. Langit siang yang cerah, namun terasa sendu di hidupku.
...***...
__ADS_1
Perjalanan kembali ke kelas, aku tidak sengaja berpasasan dengan Rauf. Jika beberapa waktu sebelumnya, aku bisa menghindarinya, maka saat ini aku sama sekali tidak bisa menghindarinya. Bisa – bisa aku terlambat masuk ke kelas.
Ketika berpasasan dengannya, aku bisa melihat bahwa Rauf tengah tersenyum ke arahku, walaupun pandanganku hanya lurus ke depan.
“Ra”, panggilnya ketika aku hanya mendahuluinya.
Namun, aku tetap melanjutkan langkahku tanpa menjawab atau pun menoleh ke arahnya.
“Ada apa dengan kamu, Ra?”, dia bergumam sendiri sembari masih menatap ke arahku hingga menghilang dari pandangannya.
...***...
Langit jingga kembali menyapa soreku. Tidak lupa dengan semilir angin yang senantiasa menemani perjalananku. Langkahku lebih cepat dari biasanya. Ada rasa khawatir, jika nanti aku akan bertemu kembali dengan Rauf.
Namun, baru saja merasa khawatir, kini kekhawatiran itu menjadi kenyataan. Di tempat biasa dengan posisi yang sama, ia menungguku sambil memegang satu cup coklat dingin ditangan kanannya.
Kali ini, sulit bagiku untuk menghindar. Ini adalah jalan satu – satunya menuju asrama. Aku yakinkan diriku agar tidak goyah nantinya.
“Hei, Ra. Cepat amat jalannya, kayak dikejar rentenir aja”, celetuknya sambil menghadang jalanku.
Aku hanya diam sambil menatapnya datar.
“Ya ampun, serius amat tuh muka. Jangan galak – galak sama teman sendiri, nggak baik”, lanjutnya lagi sambil menyodorkan coklat dingin itu ke arahku.
Aku memilih mengabaikannya dengan kembali melangkah ke sisi jalan lain. Berjalan semakin cepat agar segera tiba di asrama.
“Kamu menjauhiku, Ra?”, pertanyaannya berhasil membuat langkahku terhenti.
Bisa ku lihat dari tatapannya bahwa ia merasa kecewa dengan perubahanku. Tapi, itulah yang harus aku lakukan. Rauf berjalan beberapa langkah mengikis jarak yang ku ciptakan tadi.
“Apapun alasannya, aku tahu bahwa itu bukan hanya sekadar alasan. Awalnya, aku berpikir bahwa akhir – akhir ini mungkin kamu sibuk atau tidak melihatku. Tapi kini, aku tahu bahwa menjauh adalah hal yang harus dilakukan”, ujarnya sambil menatap langit senja.
Ada yang mengiris hatiku ketika ucapan itu berasal darinya. Sebuah rasa sakit yang baru pertama kali aku rasakan.
“Mungkin, langit senja tidak akan lagi sama, meski warna jingganya masih membersamainya”, lanjutnya lagi sambil mengalihkan pandangannya padaku yang balik menatap langit senja.
“Ambillah, jika dibiarkan akan mubazir. Aku tak menyukainya”, ia kembali menyodorkan coklat dingin itu padaku.
Aku alihkan pandanganku ke arah coklat dingin itu dan mengambilnya, lalu segera berbalik dan kembali melangkah. Rauf hanya menatapku dengan ekspresi sendu, lalu melangkah menuju asrama tempatnya tinggal.
Maaf, Rauf.
...***...
__ADS_1