
Malam semakin larut dengan langit malam yang terlihat mendung. Terlihat seseorang tengah melangkahkan kakinya menuju arah sekolah, tepatnya menuju sebuah gudang yang tidak lagi digunakan. Ia berjalan seorang diri sambil membawa sesuatu di tangannya.
Rahangnya terlihat mengeras dengan sorot mata yang begitu tajam. Langkahnya begitu lebar dengan tangan yang terkepal kuat menahan rasa marah yang sudah mencapai ubun- ubun. Ia tidak menyangka bahwa hal seperti ini akan terjadi dalam waktu dekat.
Segera ia memasuki ruangan tersebut dengan masih menggenggam benda yang sedari tadi ia pegang. Tatapannya tajam sambil menatap beberapa orang yang telah menunggunya di ruangan tersebut.
Brak
Terdengar bunyi meja yang dibanting hingga meja tersebut terbelah menjadi dua bagian. Seketika, atmosfer di ruangan tersebut mendadak menjadi dingin dan mencekam. Seseorang itu terlihat begitu marah.
“Apa yang kalian lakukan, hah?”, bentaknya dengan nada yang begitu keras.
Semua yang ada di sana memilih diam. Mereka takut untuk hanya sekedar menjelaskan.
“Apa yang kalian lakukan, hah? Apa kalian tuli?”, ulangnya lagi dengan mencengkram kerah baju salah seorang dari mereka.
“Maaf, kami sudah berusaha mencegahnya, tapi kejadian tadi siang di luar kuasa kami”,ujarnya sambil meringis menahan sakit.
Seseorang itu malah semakin marah dan hendak mencekik leher pria tersebut, namun seseorang berhasil mencegahnya.
“Ray, kamu bisa membunuhnya”, ujar seseorang itu sambil menjauhkan tangan laki – laki yang bernama Ray itu.
Iya, laki – laki itu adalah Ray. Laki – laki yang sama yang pernah melindungiku dari serangan perempuan yang menurutku sudah sakit jiwa itu.
Ray yang aku tahu adalah seseorang yang baik, walau sering berekspresi datar. Aku terkesan dengannya, ketika pertemuanku dengannya di taman kala itu. Masih ingatkan dengan laki – laki yang bertemu denganku hari itu?
Semua yang keluar dari bibirnya mampu membuat keyakinanku kembali utuh. Rasa putus asa yang tadi mengelilingi hatiku seolah sirna. Ucapannya begitu mampu membuatku tersihir. Aku masih mengingat jelas semua yang diucapkannya padaku.
“Jika ingin meraih matahari, maka kamu harus mampu melumpuhkan panasnya. Berusaha menghalau cahaya silau yang mengganggu penglihatanmu.
Jika ingin menggapai ribuan bintang yang bertebaran di langit malam, maka kamu harus mampu menaklukkannya satu.
Jika ingin menggenggam bulan yang menjadi penerang kegelapan, maka kamu harus bisa meyakinkannya untuk bersamamu.
__ADS_1
Jika kamu berhasil menaklukkan mereka, maka kamu bisa memiliki langit yang luas itu dengan perasaan lega”, ujarnya kala itu, ketika aku diliputi rasa rindu dan bersalah dengan sahabatku.
Setiap kalimat itu memiliki arti yang begitu dalam. Kalimat yang memantik semangat untuk tidak lemah. Menegakkan kepala sambil melangkah dengan penuh kepastian.
Namun kini, ia terlihat begitu berbeda. Sulit untukku percaya bahwa dia adalah Ray yang sama dengan Ray yang pernah merangkai setiap kata indah itu. Ray yang kini, terlihat begitu menyeramkan.
“Jangan mencoba menghalangiku, Raka. Mereka tidak bisa diandalkan”, Ray mengatakan itu sambil menghempaskan tubuh pria itu dengan kasar.
“Ray, tenanglah”, laki – laki bernama Raka itu berusaha menenangkan Ray yang terlihat tidak bisa mengontrol dirinya.
Semua yang ada di sana diminta pergi oleh Raka hingga hanya menyisakan dua insan yang memiliki karakter yang berbeda.
Terdengar helaan nafas berat yang keluar dari bibir Raka.
“Ray, ada apa denganmu? Kenapa kamu begitu marah ketika melihat gadis itu terluka?”, Raka bertanya sambil memperhatikan Ray yang sibuk menatap sesuatu yang masih ia genggam.
“Aku hanya tidak ingin ada korban yang kembali berjatuhan. Cukup peristiwa belasan tahun silam yang memakan banyak korban jiwa”, ucap Ray begitu pelan sambil menatap sebuah foto yang terpajang di sana.
“Bukan karena kamu menyukainya kan?”.
Ray hanya diam tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Raka. Hal itu semakin membuat Raka yakin bahwa sahabatnya itu memang menyukai gadis yang bernama Sara itu.
...***...
Hal yang sama juga tengah terjadi di suatu tempat, tepatnya di sebuah bangunan tua yang berada jauh dari pemukiman penduduk. Terlihat seorang perempuan tengah melampiaskan kemarahannya kepada semua orang suruhannya yang telah gagal menjalankan tugas mereka.
Berkali – kali, terdengar suara barang – barang yang dilemparkan. Bunyi pecahan kaca pun ikut andil dalam bunyian yang ada di ruangan itu. Namun, hal itu tidak membuat kemarahan perempuan itu mereda.
“Dasar tidak berguna, kalian!”, teriak perempuan itu sambil melempar sebuah vas bunga yang ada di dekatnya kepada salah satu orang suruhannya.
Darah mengalir dipelipis pria itu dengan penglihatan yang mulai buram. Sesekali, ia menyeka keringat bercampur darah yang mulai menutupi matanya. Dengan bibir gemetar, ia memberanikan diri untuk berucap.
“Ma-maafkan kami, Bos. Persiapan yang telah kami rancang sudah sesuai dengan perintah, Anda. Namun, ada dua kelompok yang berhasil menggagalkan rencana yang telah kami susun”, ujar pria itu sambil berusaha menahan perih.
__ADS_1
Sorot mata perempuan itu terlihat semakin tajam. Ia menatap pria itu dengan tatapan membunuh miliknya.
“Dua kelompok?”, tanya perempuan itu dengan menekan setiap kata – katanya.
“I-iya, Bos. Salah satu kelompok itu adalah dua orang yang menyerang kami tadi, sedangkan kelompok satu lagi, kami tidak tahu”,
“Dan kenapa kalian bisa kecolongan, hah?”, bentak perempuan itu lagi sambil mencekik leher pria yang sudah mengeluarkan banyak darah.
“Ka-Karena, laki – laki yang me-mengenakan topeng itu berhasil mengelabui ka-kami dengan me-menyuruh seorang perempuan untuk menyamar menjadi A-anda, Bos”, jawab pria itu dengan nafas yang hampir terputus.
Perempuan itu segera menarik tangannya dari pria tersebut.
“Lalu, bagaimana bisa kalian tidak mengenal atasan kalian sendiri? Dan apa yang dilakukan perempuan suruhannya itu hingga kalian percaya?”, perempuan itu bertanya dengan nada dingin dengan eskpresi datar.
Pria itu menghirup oksigen dengan rakus untuk menetralisir rasa sesak, akibat dicekik oleh atasannya itu.
“Perempuan itu mengenakan pakaian yang sama persis dengan yang Anda pakai, Bos. Hanya saja, ia mengenakan sebuah kacamata yang belum pernah kami lihat. Tapi, kami tidak curiga, karena suaranya sangat mirip dengan Anda, Bos”,
“Hanya itu yang dia lakukan?”, tanya perempuan itu dengan tersenyum sinis.
Pria itu menggeleng lemah.
“Dia mengatakan secara detail bagaimana rencana yang akan dilakukan. Hal itulah yang membuat kami percaya dengannya. Karena kami tahu, rencana detail itu hanya Anda, orang kepercayaan Anda, dan kami yang tahu, Bos”, jawab pria itu yang mulai kehilangan kesadarannya.
Perempuan itu tersenyum smirk dan menatap pria yang sudah tidak sadarkan diri itu dengan tatapan meremehkan.
“Dino, urus pria itu dan jangan biarkan ada orang suruhan kita yang kehilangan nyawanya”, perintah perempuan itu yang sebenarnya hanya malas mencari orang suruhan baru.
“Baik, Bos”, jawab laki – laki yang bernama Dino itu.
Setelah itu, perempuan itu segera keluar dari ruangan yang sudah seperti kapal pecah itu. Masuk ke dalam mobilnya dan segera menginjak pedal gas meninggalkan bangunan tua itu. Kini, Dino pun mulai melaksanakan perintah bosnya itu.
...***...
__ADS_1