
Gemericik air yang berjatuhan terdengar seperti senandung yang menenangkan hati. Udara dingin di pagi hari, lagi – lagi membuatku menarik selimut setelah selesai menunaikan solat subuh. Ku ambil salah satu jaket itu dan memakainya.
“Huft, dingin banget, Ya Allah”, gumamku yang sudah bergelung indah di bawah selimut.
Rasa kantuk mulai membuatku kehilangan kesadaran. Aku tertidur di bawah pendaran cahaya remang – remang. Di kala aku sudah lama terlelap, tiba – tiba aku merasakan ada siluet seseorang yang berdiri di hadapanku. Silaunya cahaya itu, membuatku sulit untuk melihat wajah seseorang itu.
“Berlian, setiap kali kamu melangkah, jangan lupa untuk memohon perlindungan kepada Dia Yang Maha Kuasa, Allah. Ayah akan menunggumu. Ingat, Nak, seseorang yang kamu anggap musuh, bisa jadi dialah orang yang ada dipihakmu. Perhatikanlah musuhmu, Nak”, ujar seseorang yang mengaku sebagai ayahku.
Tubuhku sama sekali tidak bisa bergerak. Mulutku seolah terkunci, walau aku ingin sekali berlari dan memeluk sosok itu. Seseorang yang begitu ku rindukan perlahan menjauh bersamaan dengan sinar yang menyilaukan mata mulai mengabur.
Aku terbangun dengan keringat bercucuran di kening dan membasahi tubuhku. Mimpi yang berlangsung sebentar, cukup menguras energiku. Aku terdiam dengan berusaha mengingat lagi mimpi itu.
Seseorang yang aku anggap musuh, berada dipihakku. Aku bergumam sambil berusaha memahami maksud mimpi itu. Fokusku pecah, ketika suara seseorang di balik pintu mulai mengusikku.
Dengan langkah malas, aku buka pintu itu dengan jilbab yang sudah aku pakai. Keningku berkerut mendapati Naya sudah berada di depan kamarku. “Ada apa, Nay?”, aku bertanya dengan alis yang naik turun.
“Aku mau pergi sekarang”, ucapan Naya membuatku merenung.
“Tinggallah sebentar, Nay. Ada yang ingin aku bicarakan”, ujarku yang membuat Naya terlihat mempertimbangkan ucapanku.
Naya menggelengkan kepalanya. “Aku harus segera menemukan penawar racun untuk Paman. Jika terus di sini, aku takut terjadi sesuatu dengan paman. Terlebih, pria bernama Regal itu masih terus mengincar aku dan paman”, jelas Naya yang membuatku mengukir seulas senyum.
“Aku tahu penawarnya”, ucapku yang membuat Naya menatap tajam ke arahku.
Aku terkekeh melihat ekspresi Naya yang terlihat ingin memakanku hidup – hidup. “Naya, semakin ke sini, mataku semakin terbuka. Tidakkah kamu menyadari, jumlah kita semakin bertambah?”, aku bertanya dengan senyum jahil yang membuat Naya jengah melihatku.
“Jangan mudah percaya”, tukas Naya yang membuatku memegang kedua bahunya.
__ADS_1
“Memang, kita tidak boleh terlalu percaya. Tapi, di sini kuncinya”, ucapku yang mengambil salah satu tangan Naya dan meletakkannya tepat mengarah ke hatinya. “Jalan terlalu berliku dengan kerikil kecil perlahan berubah menjadi bebatuan besar. Terlalu naif, jika memilih menyingkirkannya sendiri”, lanjutku lagi dengan masih tersenyum.
Naya terdiam dengan sorot mata melemah. “Aku sudah kehilangan banyak hal, Ra. Aku hanya takut”, aku pun segera memeluk Naya. “Kita pecahkan bersama – sama, Nay”, ujarku dengan tangan yang terus mengusap punggung Naya.
...***...
Di kamar lainnya, terlihat seorang gadis yang berdiri di sisi balkon kamarnya dengan tubuh yang masih lemah. Di pandangnya langit pagi yang menurunkan rintik hujan itu dengan pikiran melayang.
Bang, maaf. Aku masih saja ceroboh hingga tidak menyadari bahwa mereka mengincarku. Lagi dan lagi, aku gagal memahami situasi.
Tidak lama, ponselnya bergetar yang menandakan ada notifikasi pesan masuk. Yira, gimana keadaanmu? Maaf, aku belum sempat menjengukmu. Rencananya, aku akan ke kamarmu sepuluh menit lagi, hehe.
Pesan singkat yang aku kirimkan barusan membuat gadis itu menghela nafas. Dia pun mulai membenahi dirinya agar tidak terlalu menyedihkan. Tidak lama, terdengar suara pintu diketuk yang membuat Yira segera membuka pintunya dengan kening berkerut.
Aku hanya tersenyum dengan menarik seseorang yang masih mengenakan sepotong kain menutupi sebagian wajahnya. Menariknya hingga duduk di sofa yang ada di kamar itu. Yira pun duduk tepat di hadapanku.
Sedangkan Naya hanya bisa mengepalkan tangannya menahan amarah, ketika mengetahui bahwa gadis yang ia tolong kemarin adalah orang yang sudah mencelakai pamannya. Namun, aku berhasil meyakinkannya hingga Naya bisa menekan kemarahan itu.
Tangan Naya terangkat membuka kain itu dan terlihat rupa seseorang yang bersembunyi disebalik kain itu. Netra Yira membola dengan menatap tajam ke arahku.
“Yira, awalnya aku sama denganmu, menganggap bahwa Pak Badir adalah dalang kegaduhan ini. Tapi, dia hanyalah pion yang digunakan untuk membuat kita terperangkap dengan dugaan kita sendiri. Intinya, seseorang yang kita tuju adalah seorang pria paruh baya yang aku perkirakan seusia dengan kakekku”, jelasku dengan terus memperhatikan perubahan ekspresi Yira.
“Aku baru menyadarinya. Tadi malam, sesuatu mengingatkanku dengan sebuah kejadian yang baru sekarang aku pahami”, lanjutku lagi yang mulai menceritakan insiden di mana pria itu ingin membawaku dan mengambil kalung yang selalu aku kenakan.
“Jadi, Naya hanyalah umpan awal?”, Yira bertanya sambil menatap Naya.
Aku pun menganggukkan kepala membenarkan ucapan Yira. “Sekarang, kita harus mengungkap kematian Cyra terlebih dahulu untuk membuat pria bernama Regal itu merasa tidak nyaman. Aku yakin, lambat laun pria yang pernah mendatangiku dulu pasti akan segera muncul”.
__ADS_1
Naya yang masih mengkhawatirkan keadaan pamannya, segera bersuara. “Lalu, bagaimana dengan penawar racun itu?”, tanyanya dengan menatap tajam ke arah Yira.
Yira enggan untuk menjawab. “Penawar racun itu hanya abangnya Yira yang tahu. Jadi, kita juga harus segera menemukan keberadaan abangnya”, ujarku lagi.
...***...
Gemuruh perut mulai mengeluarkan protesnya. Hawa dingin pagi ini membuat aku dan yang lainnya terlambat sarapan. Laki – laki ala ninja itu sudah meminta pekerja di sana menyiapkan sarapan pagi.
Selesai sarapan, aku pun mulai memecah keheningan yang tercipta sepanjang sarapan di mulai. “Apa kalian memiliki visi dan misi yang sama denganku?”, aku bertanya sembari menatap keempat laki – laki itu.
Seseorang di antara mereka menjawab pertanyaanku. “Sepertinya begitu. Lebih tepatnya, mereka berdua”, ucapnya sembari menunjuk ke arah laki – laki bertopeng dan laki – laki berpakaian ala ninja secara bergantian. Yang menjawab adalah Raka.
Aku menghela nafas, karena wajah mereka berempat masih saja tersembunyi. “Baiklah, yakinkan aku satu hal bahwa kita memiliki tujuan yang sama, maka kita bekerja sama”, ucapku tegas.
Tanpa aku sadari, sudut bibir laki – laki bertopeng itu tertarik sedikit, namun tidak jelas. Aku rasa, tabir misteri ini akan segera pecah. Melihatmu yang sekarang membuatku yakin bahwa kamu sudah sangat siap dengan berbagai kejutan.
“Insiden belasan tahun yang lalu. Melenyapkan banyak nyawa dan memanipulasi keadaan”, laki – laki bertopeng yang tidak lain adalah Rauf segera mengeluarkan jawabannya.
“Kematian yang dialami mereka yang tidak bersalah, bukannya pelaku harus bertanggung jawab?”, jawab laki – laki berpakaian ninja yang tidak lain adalah Ray.
Aku tersenyum cukup lebar yang membuat kedua laki – laki itu tertegun.
Cantik.
Pujian itu, sama – sama mereka utarakan dihati mereka masing – masing. “Baiklah, deal”, ucapku yang membuyarkan lamunan sesaat mereka. Sebenarnya, aku sudah mempercayai laki – laki bertopeng itu, karena keyakinanku bahwa dia adalah penyelamatku dulu. Terlebih, dia sudah beberapa kali menolongku.
...***...
__ADS_1