
Setelah kepergian Paman Salman dan Doni, aku memilih untuk membuka album foto pernikahan ayah dan ibuku. Aku ingin memastikan sekali lagi, bagaimana rupa ayahku yang darahnya mengalir di dalam tubuhku.
Pandanganku menjadi buram ketika mataku mencoba untuk menahan tangis. Dan pada akhirnya, air mata itu luruh, tepat mengenai wajah ayahku. Sesak rasanya mengingat bahwa ibu bercerita bahwa ayah sudah tiada, namun hatiku malah meyakini satu hal.
Bolehkah aku tidak percaya dengan ucapan ibu tentangmu, Ayah. Jujur, hatiku selalu mengatakan bahwa kita masih berada di bumi yang sama.
Bahkan, untuk membuktikan bahwa kita memang tidak berada di dunia yang sama membuatku kembali bertanya, apa tidak ada sedikitpun yang tersisa tentangmu selain album ini?
Jasadmu ntah berada di mana. Yang aku tahu, kamu pergi untuk sesuatu yang begitu berharga. Apakah kehadiranku tidak berharga?
Jika memang kita tidak berada di dunia yang sama, maka izinkan aku untuk menemukanmu dalam wujud nisanmu, Ayah.
Sungguh, aku sangat merindukan sosoknya. Seseorang yang tidak pernah aku lihat, namun darahnya menjadi bukti akan kehadirannya.
Malam ini, langit cukup cerah dengan dihiasai kerlap kerlip bintang. Hembusan angin menerpa wajahku, menerbangkan jilbab yang ku kenakan. Ku tatap liontin yang sekarang berada di genggaman tanganku.
Aku yakin, liontin ini akan menjadi penghubung akan misteri yang akan aku ungkap nanti.
Ku hela nafas dalam dan kembali membulatkan tekad.
Oh Ya Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui, tuntun aku. Tunjukkan padaku rahasia di sebalik misteri ini. Ku serahkan semuanya pada-Mu. Apapun nanti, akan aku terima.
Pagi menjelang, suara azan subuh sudah mulai memasuki indra pendengaran. Ku langkahkan kaki menuju kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan kewajibanku.
“Sara, nanti ibu pergi ke pasar lebih awal. Kamu sendiri di rumah nggak apa – apakan, Sayang?”, ujar ibuku sambil membelai kepalaku.
Aku mengangguk sambil tersenyum manis.
“Tentu, Ibuku tersayang. Anakmu ini sudah bisa kok menjaga diri”.
“Bagus kalau gitu, jadi nggak merepotkan orang”, celetuk abangku sambil senyum mengejek seperti biasa yang datang entah dari mana.
“Terserah abang deh, tapi aku tahu bahwa sebenarnya abang takut nanti aku nggak butuh abang lagi. Takut dilupakan gitu”, balasku sambil tertawa penuh kemenangan.
“Iyain aja deh”.
__ADS_1
...***...
Setelah kepergian ibu dan bang Ariq, aku memutuskan untuk memasuki kamar ibu. Tujuanku adalah mencari sebuah petunjuk yang bisa membantuku mengungkap misteri ini. Tentunya sesuatu yang berhubungan dengan ayah. Setelah hampir sejam, aku masih belum menemukan petunjuk apapun.
Oh Ya Allah, sebenarnya apa yang aku cari. Gumamku mulai frustasi.
Karena sudah lelah, aku pun memutuskan untuk pergi dari kamar ibu. Namun, ketika aku hendak meraih gagang pintu, tiba – tiba aku melihat ada yang tidak biasa di bawah ranjang ibu. Aku raba bawah ranjang ibu hingga tanganku memegang sesuatu.
Semacam tombol. Pikirku sambil memastikan.
Tanpa pikir panjang, segera aku menekannya dan terbukalah ruang rahasia bertepatan dengan ranjang ibu yang bergeser.
Ruang rahasia? Oh, Bu, apa – apain ini. Aku merasa ibu sudah seperti seorang mafia saja.
Segera aku menuju ke bawah. Ruangan itu sangat sederhana dengan banyaknya photo ayah tergantung hampir di semua dinding.
Seperti museum saja. Tapi, kenapa ibu malah memajangnya di sini? Mungkinkah dugaanku benar?
Setelah menelusuri setiap sudut ruangan, aku menemukan secarik kertas usang. Aku ambil kertas tersebut dan membacanya. Seketika tubuhku menegang sambil menahan sesak di dada.
Lalu, aku memutuskan kembali naik ke atas setelah aku menemukan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk bagiku. Aku kembalikan keadaan kamar seperti sediakala dan segera pergi meninggalkan kamar ibu.
Malam harinya, Paman Salman dan Doni kembali bertamu ke rumah kami. Makan malam hari ini terasa lebih ramai dari biasanya.
”Sara, kamu sudah buat keputusan mau lanjut sekolah di mana? Biar Doni juga bisa satu sekolah denganmu”, tanya paman sambil mengunyah makanannya.
“Udah kok, Paman. Aku memutuskan untuk sekolah di SMA Cakrawala”.
“SMA Cakrawala?”, sontak jawabanku membuat ibu, paman, dan abangku terkejut.
“Kenapa memangnya? Bukannya itu termasuk salah satu SMA terbaik? Aku ingin belajar di sana dan kalian tenang saja, Doni kan juga ikut denganku”, ujarku menenangkan mereka.
“Ibu nggak setuju”, jawab ibuku penuh ketegasan.
“Beri aku satu alasan, maka akan aku lepas keinginanku, Bu”, ucapku sambil menatap ibu penuh harap.
__ADS_1
Ibu memilih memalingkan wajahnya. Hatiku kembali kecewa. Sudah ku duga akan reaksi yang ibu berikan. Dan itu semakin membuatku yakin untuk melangkah.
“Bibi Inara, percayalah aku akan menjaga Maisa, jadi bibi bisa membiarkan Maisa meraih impiannya”, Doni sepupuku berusaha meyakinkan ibuku.
Hening, hingga aku memutuskan untuk bertanya sekali lagi.
“Beri aku satu alasan, maka akan aku lepas keinginanku, Bu. Beritahu aku, apa yang membuat ibu tidak mengizinkanku, sedangkan anak perempuan di sini ada di antara mereka yang bersekolah di sana dan mereka baik – baik saja”, gemetar bibirku berucap, namun harus ku katakan.
...***...
Waktu itu pun tiba, waktu di mana aku akan memulai kehidupanku sebagai siswi SMA. Setelah perdebatan panjang, akhirnya ibu mengizinkanku pergi. Dan di sinilah aku sekarang berada. Ku tatap gedung yang akan menjadi tempatku untuk menggali ilmu.
SMA Cakrawala merupakan salah satu sekolah terbaik dan diperhitungkan. Banyak yang ingin bersekolah di sana, namun tentu dengan persaingan yang ketat. Tidak jauh dari gedung itu, ada gedung lain. Bila ku tebak, gedung itu pastilah gedung asrama.
Terpaan angin yang mengenai wajahku semakin melebarkan senyumku seolah aku tengah berada di tempat yang indah. Tak peduli banyak pasang mata yang menganggapku aneh, bagiku inilah aku.
Setelah puas, aku memutuskan untuk melakukan registrasi di asrama putri. Gedung asrama putri memiliki enam lantai. Setiap lantai memiliki pembina untuk mengontrol penghuni asrama tersebut.
Lantai 1 dan 2 diperuntukkan bagi siswa baru, lantai 3 dan 4 untuk siswa kelas XI, dan lantai 5 dan 6 untuk kelas XII. Sedangkan untuk asrama putra hanya terdiri dari tiga lantai.
Setelah mendapat kata sandi kamar, aku segera menuju kamar. Aku melihat di ujung lorong kanan dan kiri terlihat beberapa siswi yang berkumpul. Karena penasaran, aku memilih melangkahkan kakiku ke sana.
Rasa takjub kembali membuatku tersenyum. Bagaimana tidak, asrama ini ternyata menyediakan akses menggunakan lift.
Ya ampun, ini asrama atau hotel sih? Fasilitasnya nggak main – main. Pantesan banyak yang ingin sekolah di sini.
Ah aku sangat beruntung. Udah aku bisa sekolah di sini, gratis lagi. Aku benar – benar nggak sabar untuk hari esok. Teriakku dalam hati sambil tersenyum sendiri.
Setelah sadar dari lamunanku, aku melihat beberapa orang yang menatapku dengan sinis. Lalu, salah satu dari mereka maju tepat di depanku.
“Masih waras? Di sini bukan untuk pasien sakit jiwa”, tukasnya sambil berlalu bersama teman – temannya.
Aku terhenyak mendengar ucapan tersebut.
“Aku? Pasien sakit jiwa? Dia kali yang nggak waras?”.
__ADS_1
...***...