For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 19 PERISAI BAYANGAN


__ADS_3

Aku berusaha mengingat – ingat kembali. Mengumpulkan kepingan memori selama aku sekolah di sini. Belum sempat aku menemukan jawabannya, aku mendengar keributan yang tidak jauh dari tempatku berdiri.


Sangat jelas aku melihat, ada dua orang yang tengah bertarung dengan anak buah perempuan yang ada di depanku ini. Dua orang harus melawan sepuluh orang, bukanlah lawan yang seimbang. Masing – masing musuh menggenggam sebilah pisau di tangan mereka.


Sedangkan dua orang itu bertarung hanya menggunakan tangan kosong. Tatapan mataku terfokus kepada laki – laki yang mengenakan topeng yang menutupi setengah wajahnya, tepatnya hanya bagian matanya. Hoddie yang melekat di tubuhnya membuatku sulit untuk mengenalinya.


Siapa dua orang itu? Terlebih, laki – laki yang mengenakan topeng itu, siapa dia? Topeng itu membatasi ruangku untuk mengenali seseorang lewat mata.


Aku tidak bisa melihat matanya dengan jelas. Topeng itu benar – benar mengganggu fokus mataku.


Aku berdecak kesal, karena tidak bisa melihat mata laki – laki itu. Biasanya, dengan menatap mata seseorang aku mampu mengenali seseorang, meskipun tidak melihat wajahnya secara utuh. Berulang kali aku mencoba, namun tetap saja aku tidak bisa melihat bagaimana matanya.


Aku pun beralih menatap seseorang yang tadi bersamanya. Temannya itu hanya mengenakan masker di wajahnya dengan mengenakan topi dikepalanya. Dengan leluasa, aku bisa melihat bagaimana mata teman laki – laki itu.


Mata itu, aku belum pernah melihatnya. Itu artinya aku tidak mengenalnya. Tapi, mengapa mereka membantuku dan darimana mereka tahu tentang keberadaanku di sini?


Mungkinkah mereka sama dengan sekolahku yang tengah mengadakan kegiatan hiking? Tapi yang aku tahu, hari ini yang melaksanakan kegiatan hiking hanyalah dari sekolahku.


Lalu, siapa mereka?


Pertarungan begitu sengit. Orang – orang misterius itu, dengan gesitnya memainkan pisau ditangan mereka. Berusaha untuk melukai lawannya, namun lawan mereka sangatlah tangguh. Pisau – pisau mereka masih bersih tanpa adanya noda darah yang mengotori.


Laki – laki bertopeng itu benar – benar cekatan. Dengan lincah, ia mengelak setiap serangan yang ditujukan padanya. Berkali – kali, pisau itu hendak menembus tubuhnya dan menghujam jantungnya, namun berhasil ia hindari.


Mereka berdua sangat menakjubkan. Tanpa senjata, mereka berhasil melumpuhkan satu persatu lawan mereka. Ketika fokusku hanya tertuju pada mereka berdua, terutama laki – laki bertopeng itu, tanpa aku sadari perempuan yang menjadi ketua kumpulan orang misterius itu berlari ke arahku.


Ia menyerangku tanpa bisa aku hindari.


Perempuan itu berhasil melukai lengan kananku yang membuatku terlonjak kaget.


“Astaugfirullah, sakit”, aku berucap dengan suara cukup besar.

__ADS_1


Laki – laki bertopeng itu mengalihkan pandangannya ke arahku yang tengah merintih menahan rasa sakit yang mulai menjalari tangan kananku. Rahangnya terlihat mengeras dan menggertakkan giginya.


Matanya berubah tajam dan sangat nyalang. Ia pun mempercepat gerakannya untuk menumbangkan lawan – lawannya. Fokusnya mulai terganggu ketika ia mendengar pertarungan antara aku dengan perempuan itu.


“Akan aku singkirkan kalian yang mencoba melukainya”, ujar laki – laki itu sambil menatap lawan – lawannya dengan aura membunuh.


Aku berusaha mengimbangi serangan perempuan itu sambil berusaha menahan sakit dilengan kananku. Aku hanya bisa menggunakan tangan kiriku untuk menghalau dan menyerang perempuan itu.


Darah semakin deras mengalir dilengan kananku, karena ia kembali berhasil melukai lenganku. Meskipun aku tengah terluka, aku masih bisa melawan perempuan itu. Menyerangnya dan sesekali melayangkan tendangan diperut perempuan itu hingga ia jatuh tersungkur.


Tatapannya nyalang menatap ke arahku. Dengan bengis, ia kembali menyerangku. Lagi – lagi, aku menangkis serangannya yang membuat pertahananku melemah akibat luka yang aku terima dari perempuan itu.


“Siapa kamu, hah?”, tanyaku disela pertarunganku dengannnya.


“Siapa aku tidak penting untuk kamu tahu. Yang perlu kamu tahu adalah kematianmu hari ini”, ucapnya yang kembali berhasil melukai lengan kananku untuk ketiga kalinya.


Aku terhuyung dan mulai kehilangan keseimbangan tubuhku.


Dia tersenyum sinis dibalik masker yang ia kenakan. Namun, aku bisa melihat dengan jelas senyum sinis itu melalui pancaran matanya.


“Kenal atau tidak, kematianmu adalah harapanku agar tidak ada yang mengganggu rencanaku”, ujarnya sambil berjalan maju ke arahku.


Aku terus berjalan mundur hingga tanpa aku sadari aku sudah berada ditepi jurang.


“Sekarang, kamu tidak bisa menghindar, Sara”, ucapannya ketika menyebut namaku membuat jantungku berdegup.


Dia mengetahui nama panggilanku. Itu artinya dia adalah orang yang sangat mengenal diriku.


Bahkan, panggilan yang hanya keluarga dan orang terdekatlah yang akan memanggilku dengan sebutan “Sara”. Dan dia memanggilku dengan sebutan “Sara”?


Wajah yang seperti apa yang tersembunyi dibalik masker itu. Apakah aku juga mengenalnya? Ya Allah, lindungi aku.

__ADS_1


Aku berdoa kepada Sang Pencipta, pemilik kehidupan setiap manusia. Mengharapkan pertolongannya agar aku bisa selamat dari perempuan yang memiliki niat jahat kepadaku.


Situasi yang ku hadapi sangatlah tidak adil. Aku berada ditepian jurang, dengan satu langkah saja aku mundur, maka aku akan langsung terjun bebas menuju dasar jurang yang bahkan tidak diketahui dasarnya di mana.


Perempuan itu, semakin bergerak mendekat ke arahku membuatku tidak bisa berkutik. Melangkah untuk melarikan diri saja, tidak bisa aku lakukan. Aku pejamkan kedua netraku ketika rasa sakit dilenganku kembali meruntuhkan pertahananku.


Ya Allah, sungguh aku tidak ingin menyerah. Namun, luka dilengan ini sangat menguras energiku. Aku tak lagi mampu, walau hanya untuk sekedar berdiri.


Rasa sakit itu mulai menjalar disekujur tubuhku. Perih akibat sayatan pisau yang berhasil menyayat kulitku, tidak lagi bisa ku tahan.


Darah yang terus mengalir keluar dari lapisan kulitku, tidak mampu lagi aku bendung dan membuat kesadaranku mulai menghilang.


Apakah aku telah jatuh ke dasar jurang itu dan menghilang dari muka bumi ini? Jika iya, izinkan aku untuk bisa melihat wajah ayahku.


Bersamanya, meski tidak di bumi ini lagi. Setidaknya, aku tidak akan sendiri, walau dekapan hangat ibu dan senyum kedua abangku tidak lagi aku miliki.


Cukup lama aku memejamkan mata hingga aku merasakan ada tangan seseorang yang menarik tanganku hingga tubuhku tertarik ke depan. Belum sempat aku mencerna apa yang terjadi, teriakan seseorang membuatku reflek melihat ke arah tepian jurang tempat aku berdiri tadi.


Tubuhku membeku ketika melihat siapa yang menarik tanganku tadi. Laki – laki yang mengenakan topeng diwajahnya, kini dalam keadaan bersimbah darah. Pisau perempuan tadi berhasil menusuknya dibagian perut.


“Tidaaaakkk!”, aku berteriak sangat keras ketika melihat laki – laki itu mulai kehilangan kesadarannya.


Dia menatap ke arahku dengan memperlihatkan seulas senyum yang sangat aku kenali. Hatiku sakit dan pertahananku semakin melemah. Aku menangis dan berusaha berlari ke arahnya untuk membantunya agar tidak terjatuh.


Belum kaki ini berhasil mendekat ke arahnya, tangan seseorang telah lebih dulu menahanku. Dan tidak lama, laki – laki bertopeng itu terjatuh dengan punggung yang menghadap ke dasar jurang. Sebelum terjatuh, ia masih sempat tersenyum padaku.


“Tidaaaakkk, kembalilah”, kembali aku berteriak dengan berusaha melepaskan tanganku dari teman laki – laki bertopeng itu. Justru, tangannya semakin mencengkram tangan kiriku dengan cukup kuat.


“Tenanglah, jika kamu maju, maka sia – sia pengorbanan sahabatku untuk menjadi perisai untukmu. Perempuan itu akan dengan mudah membunuhmu dengan kondisimu yang sangat parah ini”, ujar laki – laki itu dengan nada yang begitu dingin.


... *** ...

__ADS_1


__ADS_2