
Suasana di dalam gedung aula semakin tidak kondusif. Para hadirin mulai tersulut emosi dan banyak di antara mereka yang melempar berbagai jenis barang ke arah di mana Pak Badir duduk. Mereka merasa telah ditipu oleh Pak Badir dan meminta uang yang mereka donasikan untuk dikembalikan.
“Balikin uang kita, nggak sudi rasanya harus donasi lewat kalian. Bisa – bisa, uangnya malah kalian seludupkan sebagian”, teriak salah satu hadirin sambil melempar botol parfum yang dibawanya.
“Iya, kasih lagi uang kita. Dasar penipu, gayanya aja kayak orang baik, padahal aslinya tidak lebih dari seorang tindak kriminal”,
“Cepat mati aja sekalian, bumi ini sudah tidak mau menampung manusia munafik seperti Anda”,
Begitulah teriakan para hadirin yang meminta uang yang telah mereka donasikan untuk dikembalikan. Mereka memilih untuk melakukan donasi sendiri, karena sudah sangat muak dengan drama sok baik dari Pak Badir.
Aku perhatikan keadaan di dalam aula yang sudah kacau – balau. Kursi dan meja sudah berhamburan dan berserakan di mana- mana. Aku alihkan pandanganku ke arah Pak Badir yang terlihat tengah dilindungi oleh beberapa pria berbadan besar.
Pria berbadan besar dan tinggi itu, aku belum pernah melihatnya. Satpam yang berjaga pun tidak semenyeramkan mereka.
Sebenarnya, orang yang seperti apa yang berada di belakang Pak Badir?
Ketika mataku masih fokus dengan Pak Badir, aku melihat ada gelagat yang tidak beres yang aku rasakan. Segera ku alihkan pandanganku dan mencari sesuatu yang mungkin terlihat mencurigakan.
“Siapa mereka?”, aku bertanya dengan diriku sendiri, namun Doni yang berada di sebelahku mendengarnya.
“Cukup kita lihat saja, Sa. Pastinya, musuh Pak Badir bukan hanya kita saja”, jawab Doni sambil memperhatikan gerak – gerik orang yang mencurigakan itu.
Aku memilih diam dan mendengarkan saran Doni. Lagi pula, apa untungnya bagiku untuk peduli dengan apa yang akan terjadi dengan Pak Badir. Bahkan, dia pantas mendapatkan semua ini.
Dua orang misterius yang mengenakan pakaian serba hitam dengan masker menutupi setengah wajah mereka terlihat mengendap – endap di balik kerumunan orang – orang yang sudah tidak terkendali.
Mereka bergerak menuju ke arah Pak Badir berada. Sudut bibirku sedikit tertarik dengan sorot mata mulai tajam. Tidak lama, aku melihat mereka mengeluarkan sesuatu yang tidak aku ketahui.
Apa yang akan mereka lakukan?
Cukup jauh jarak antara aku dengan mereka berdua berada. Namun, masih bisa dengan jelas aku melihat tindakan mereka. Tidak lama kemudian, sesuatu melesat ke arah Pak Badir.
__ADS_1
Srak
Terdengar bunyi seperti kulit yang robek. Sontak, semua orang terdiam menyaksikan fenomena tak terduga itu. Darah terlihat mengalir dari tubuh pria yang sudah memisahkan aku dengan ayahku. Sedangkan dua orang misterius itu sudah hilang tanpa jejak.
“Cari orang itu”, terdengar suara teriakan yang begitu nyaring keluar dari mulut yang aku yakini adalah bawahannya Pak Badir.
Terlihat jelas, pria paruh baya itu tengah menahan rasa sakit akibat dua anak panah yang berhasil menembus tubuhnya dan hampir saja mengenai jantungnya. Pria itu terlihat mulai kehilangan kesadarannya.
“Bos, kita ke rumah sakit sekarang”, ujar seseorang yang mulai memapah tubuh Pak Badir.
“Jangan sampai kehilangan jejak, Victor. Saya ingin orang yang menyerang saya merasakan apa yang saya rasakan bahkan lebih”, ucap Pak Badir dengan suara yang lirih.
Laki – laki yang bernama Victor itu segera membawa bosnya menuju rumah sakit terdekat lewat pintu keluar lainnya. Sebelum pergi, ia pun memerintahkan seluruh penjaga bayangan bosnya untuk memperketat keamanan dan membereskan keributan yang terjadi.
Setelah kepergian Pak Badir, aku melihat bahwa kawanan pria berbadan besar itu semakin banyak. Aku sedikit mundur, karena keadaan di sini semakin tidak kondusif. Semua tamu undangan segera berlarian keluar dari gedung aula dengan keadaan kacau.
Sedangkan di sudut lain, terlihat seorang laki – laki yang terduduk lemah dengan tatapan nanar menatap kepergian pria paruh baya tersebut. Raut wajahnya menyiratkan kesedihan dan rasa iba yang ingin segera berlari memeluk dan menanyakan keadaan pria tersebut.
“Dia pasti akan baik – baik saja”, ujar seseorang yang berada di dekatnya sambil menepuk pelan pundaknya.
Kedatangan pria berbadan besar itu semakin membuat atmosfer di dalam ruangan tersebut semakin mencekam. Dengan gesit, mereka membawa paksa beberapa tamu undangan dan siswa yang masih berada di sana.
“Sa, sebaiknya kita pergi dari sini sekarang”, ujar Doni sedikit berbisik dengan tatapan yang tidak beranjak dari kumpulan pria berbadan besar itu.
Ketika aku dan Doni sudah berhasil keluar, kami berdua dikejutkan dengan kehadiran pria berbadan besar yang sudah berada di halaman aula. Aku dan Doni menatap mereka dengan penuh waspada sambil bersiap – siap untuk menyerang.
Kalian tahu tidak? Sejak kecil, aku sudah diperkenalkan dengan seni bela diri. Aku dilatih untuk menjadi perempuan yang tangguh dan bisa melindungi diri sendiri. Ibu melakukan semua itu, karena tidak ingin terjadi sesuatu denganku, terlebih tidak adanya seorang ayah disisiku.
“Maisa, cukup kamu diam saja dan tidak perlu menyerang mereka. Biar aku saja yang melawan mereka”, ucap Doni.
“Jangan gila kamu, Don. Jumlah mereka tiga kali lipat lebih banyak dari kita. Dan aku akan berusaha sebisaku”,
__ADS_1
“Jangan membantah, Maisa. Jika kamu terluka, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri”, Doni berucap dengan menekankan setiap kata – katanya.
Namun, aku memilih untuk mengabaikan perintah Doni. Mana mungkin aku membiarkan orang yang aku sayangi terluka karena melindungiku.
Maaf, Don. Mungkin, aku tidak cukup mampu untuk melumpuhkan mereka, tapi setidaknya kita bisa lepas dari mereka.
“Menyerahlah dan ikut dengan kami, maka kalian akan baik – baik saja”, ucap salah satu dari mereka.
Rahang Doni mengeras dan sorot matanya terlihat begitu bengis. Tidak lama, aksi serang – menyerang pun terjadi. Doni terlihat begitu gesit dalam menghindari serangan dan juga berbalik menyerang.
Aku pun mulai maju melawan mereka yang membuat kedua bola mata Doni melotot tajam ke arahku.
Dasar gadis keras kepala. Gerutu Doni di dalam hatinya.
Lawan yang tidak imbang dengan jumlah yang tidak sebanding, membuatku sulit untuk sekedar melarikan diri. Cukup lama aku bertahan dengan masih melawan mereka yang berjumlah tiga orang, hingga sesuatu berhasil menancap dipunggungku.
Aku terduduk dengan pandangan yang mulai buram. Sekilas, aku melihat ke arah Doni yang sudah berhasil mereka kalahkan. Doni kehilangan fokusnya ketika melihat aku terluka. Sayup – sayup aku mendengar suara seorang gadis yang tengah tertawa.
“Hahaha, akhirnya kali ini aku berhasil menyingkirkanmu”, ujar seorang gadis disela tawanya yang suaranya sangat aku kenali.
Naya?
Dengan sekuat tenaga, aku segera menoleh ke arahnya yang sudah berada tepat di depanku. Tatapannya penuh dengan kebencian dengan senyum sinis yang tersungging dibibirnya.
“Kamu akan segera berakhir, Maisara Berlian”, bisik Naya tepat ditelingaku.
Setelah itu, aku pun mulai tidak sadarkan diri dengan rasa sakit yang mulai menjalar ditubuhku. Semuanya menggelap tanpa adanya cahaya yang menerangiku. Naya pun segera memerintahkan orang – orang itu untuk membawaku pergi.
Namun, belum berhasil mereka menjangkau tubuhku, tiba – tiba pandangan mereka mendadak menjadi tidak jelas akibat debu yang mulai mengelilingi mereka. Setelah debu itu menghilang, mereka dikejutkan dengan hilangnya diriku.
“Kejar orang itu”, teriak Naya yang membuat orang – orang berbadan besar itu segera berhamburan pergi.
__ADS_1
“Sara, kamu harus lenyap, meskipun Ray nantinya akan menghabisiku”, ucap Naya dengan kebencian yang semakin besar dan segera berlalu dari tempat itu.
...***...